THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
AMYGDALA(4)


__ADS_3

Hadalon, Marc of Canadia


Suara kecil terdengar dari sebuah bangunan tua yang mengisi kesunyian malam. Itu seperti suara seseorang sedang memakan roti keras dan kering. Bangunan itu awalnya adalah sebuah rumah sederhana tetapi kini pintu dan jendela telah hancur. Itu akibat kericuhan oleh masyarakat yang panik dan mulai melakukan aksi perampokan secara masal. Penyebabnya tentu disebabkan oleh penyakit yang muncul tiba-tiba yang menimbulkan efek kelangkaan pangan dan ketidakjelasan hukum.


"Kak, rotinya tidak enak. Ella tidak bisa makan lagi."


Seorang anak gadis yang berusia sekitar 5 atau 7 tahun dengan berpakaian lusuh dan rambut pendek kusut menangis sedih kepada seorang anak lelaki yang berada di dekatnya. Matanya yang jernih yang bagaikan langit malam mengeluarkan air mata sedih. Kaki kecilnya yang kurus terus bergetar menahan rasa dingin di malam hari.


"Bersabarlah, Ella. Kakak akan mencari makanan yang lebih enak. Makan rotimu, jika tidak, kamu bisa  sakit. Kakak mohon."


Bocah lelaki yang lebih tinggi dari bocah perempuan yang bernama Bella itu menegurnya dengan lembut. Bocah lelaki itu juga kondisinya tidak jauh berbeda dengan Bella, bahkan mungkin lebih buruk. Kulitnya dihiasi oleh luka kering yang berbentuk garis di kaki, lengan, dan sebagian pipinya dapat terlihat dengan jelas di balik kulitnya yang pucat. Rambutnya yang pirang kini menjadi kecoklatan akibat kotoran dan debu yang menumpuk.


"Hiks ... hiks ... Bella tidak mau makan roti. Bella mau makan bubur! Bella mau bubur masakan ibu ... hiks .., hiks!"


Bella mulai menangis ketika mengingat kenangan bersama dengan ibunya. Ia merindukan masakan yang setiap pagi dibuat oleh ibunya. Namun kini, ia tidak lagi dapat berjumpa dengan ibunya.


"Bella, jangan menangis. Hikss ... hiks ... Jangan menangis."


Anak lelaki itu kemudian memeluk Bella. Dia memeluknya dengan erat. Keduanya menangis merindukan kehidupan mereka sebelumnya. Mereka merindukan rumah yang hangat dengan senyum kedua orang tua mereka yang cerah.


"Ayah, ibu, kalian dimana? Bella merindukan ayah. Bella merindukan ibu. Bella janji menjadi anak baik. Bella tidak akan mengompol lagi. hiks ... hiks ...."


"Kakak juga merindukan mereka. "


Kedua masih terus menangis. Bagaimanapun keduanya masihlah anak-anak yang butuh perhatian orang dewasa. Kini mereka harus berusaha hidup dengan mandiri. Semua itu bermula ketika penyakit aneh itu muncul. Kedua orang tuanya terkena penyakit itu dan perlahan kesehatan mereka turun drastis hingga akhirnya keduanya meninggal dunia.


Ternyata tidak hanya rumah mereka saja. Semua rumah tetangga mereka juga mengalami hal yang sama. Banyak yang mati akibat penyakit itu kemudian anak-anak yang tidak terkena penyakit itu pada akhirnya meninggal dalam kondisi kelaparan ataupun sakit karena tidak ada seorang pun yang mengurus mereka. Sementara orang-orang yang masih sehat segera pergi dari pemukiman itu menuju tempat lain entah ke pemukiman lain atau lari dari kota.


Mereka tinggal di sebuah pemukiman padat yang penuh dengan bangunan-bangunan tua dan semi permanen. Pemukiman itu adalah tempat kumuh yang kotor dengan banyak gang-gang sempit yang tidak dapat dimasuki oleh sinar matahari karena dihalangi oleh bangunan-bangunan di sekitarnya.


Ayah kedua anak itu adalah seorang buruh kasar di pasar. Ia tiap hari bekerja memikul barang-barang dagangan para pedagang. Sementara ibu mereka adalah seorang buruh di pabrik garmen.


Mereka awalnya memang sudah hidup susah tetapi sekarang semakin sulit karena kematian kedua orang tua mereka.


kresek ... kresek ....


Tiba-tiba suara aneh terdengar dari luar. Anak laki-laki menyadarinya dan langsung berhenti menangis serta dengan cepat menutup mulut Bella.


"Diam Bella, jangan berisik," bisik anak laki-laki itu.


Bella menangguk. Walaupun masih anak-anak tetapi karena ia hidup di lingkungan yang keras, Bella terkadang menjadi sangat sensitif dengan lingkungan sekitarnya. Terutama saat ini dia dapat melihat kakaknya sangat gugup.


Dari balik pintu dan jendela yang tak lagi dapat ditutup, keduanya dapat melihat gelapnya malam. Namun mereka tahu, saat ini terdapat sesuatu yang sedang mendekat. Mereka dapat mendengarnya semakin keras seolah semakin mendekati mereka.


"!"


Anak laki-laki itu melihat sosok makhluk aneh. Walaupun saat ini sedang gelap tetapi berkat sinar rembulan yang redup, kedua anak itu dapat melihat wujud makhluk itu. Dengan tubuh kurus,nya layaknya kulit yang hanya membalutkan tulang. Namun apa yang mengejutkan adalah kaki yang dimilikinya. Makhluk itu berjalan dengan empat kaki dengan panjang masing-masing kaki adalah  dua meter sementara tubuhnya mungkin hanya sepanjang  1 meter. Makhluk itu memiliki kepala besar yang berbentuk aneh. Ia tidak memiliki mata tetapi di sekujur kepalanya memiliki lubang-lubang layaknya motif dari sarang lebah. Kulit makhluk itu berwarna putih pucat layaknya kulit mayat dan terdapat bekas jahitan di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Anak laki-laki itu perlahan mulai menjauhi pintu. Dia dengan adiknya di pelukannya bergerak perlahan menuju kamar mereka.


Jaraknya tidak terlalu jauh hanya butuh beberapa langkah kecil. Keduanya menahan napas untuk tidak membuat keributan. Walaupun ini pertama kalinya mereka melihat makhluk itu, tetapi itu makhluk yang berbahaya.


Sayangnya cahaya rembulan tidak dapat menembus seluruh ruangan dalam rumah itu. AKibatnya anak itu tidak bahwa ia baru saja menginjak remahan roti yang berada di lantai.


Suara itu cukup keras untuk didengar oleh makhluk itu.


Makhluk itu segera menyadari keberadaan kedua anak itu.


Dengan cepat anak laki-laki itu segera berlari ke dalam kamarnya dan langsung menguncinya.


"RAAARRR!!"


Makhluk itu berusaha memasuki rumah. Walaupun tubuhnya kecil tetapi ia memiliki kaki yang panjang sehingga mempersulit dirinya untuk masuk.


Ia pada akhirnya berusaha memperbesar lubang pintu dengan menghancurkan dinding kayu.


Walaupun kaki makhluk itu terlihat kurus, ternyata ia memiliki kekuatan yang tidak sedikit. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menghancurkan pintu.


Kedua anak itu dapat mendengar suara kayu yang hancur. Mereka berpelukan dan menangis ketakutan.


Keduanya dapat mendengar makhluk itu telah memasuki rumah. Detak jantung kedua semakin cepat. Tubuh mereka menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuh mereka. Mereka sangat takut. Ini bukanlah masalah yang bisa dihadapi oleh dua anak kecil


Lalu ...


*Boom


Mereka dapat melihat makhluk itu yang menyeramkan dengan gigi-gigi gergajinya yang tersusun rapi di mulutnya.


"Ibu!"


Keduanya menangis sambil memanggil ibu mereka. Dari peristiwa keputusasaan kedua anak itu, keduanya dapat mendengar seseorang dari luar berteriak.


"Itu disana! Kita menemukannya."


Berselang kurang dari sedetik setelah teriakan itu, semburan api tiba-tiba muncul dan mengenai tubuh monster itu.


***


Seperti biasa, Warfoy berada di tendanya. Sudah dua hari setelah operasi eksplorasi dan evakuasi Hadalon diberlakukan. Walaupun kini sudah larut malam, Warfoy masih terlihat sibuk membaca berbagai dokumen. Dahinya selalu berkerut ketika ia membaca statistik kematian di Kota Hadalon.


"Haahh ... para terjangkit telah menurun jumlahnya, tapi jumlah orang yang tewas terus bertambah."


Warfoy bersandar lemas di kursinya. Ia merasa tekanan batin setiap kali laporan mengenai jumlah kematian di kota ini.


"Seperti yang kuduga. Pada akhirnya mereka mati karena ditelantarkan pemerintah sendiri."

__ADS_1


Warfoy tahu. Saat ini jumlah terjangkit penyakit aneh memang telah menurun tapi tingkat kematian terus meningkat. Penyebabnya tidak lain adalah masalah yang timbul akibat isolasi kota, yaitu masalah kelaparan dan kesehatan. Saat ini Kota Hadalon mengalami krisis pangan dan tak adanya pelayanan kesehatan masyarakat menyebabkan penyakit lain muncul.


Setiap malam, Warfoy selalu membuat surat. Surat itu ia buat untuk diberikan kepada para kapten dari serikat penyihir yang berada di divisi-divisi yang telah dibentuk selama misi isolasi kota diberlakukan. Tentunya ia mengirimnya tanpa sepengetahuan pihak manapun, sebab ini adalah rahasia yang harus disimpan untuk kepentingan serikat penyihir. Jika ada yang mengetahui atau membocorkannya, maka para penyihir dari serikat penyihir tak segan membunuh mereka dan memberi cap kepada pelanggar itu sebagai pengkhianat.


Warfoy mengambil secarik kertas dan pena. Ia mulai menulis surat seperti biasanya. Kali ini dia menulis surat kepada Norchaster Ibukota Archentioch.


"Pak, izin melapor."


Suara anak buahnya menghentikan tangannya menulis. Orang itu terlihatu sedikit lebih kencang dan cepat dari biasanya. Ia merasa orang yang berbicara itu sedang buru-buru.


"Masuklah."


Setelah diizinkan Warfoy, orang itu segera langsung masuk. Ia adalah seorang penyihir wanita cantik dan menjadi salah satu asisten Warfoy. Biasanya dia akan tampil elegan dan cantik, tapi kali ini wajahnya penuh ketakutan dan keringat yang membasahi wajah dan tubuhnya.


"Tuan!"


Penyihir wanita itu terlalu panik sehingga ia tidak bisa memberikan laporannya. Warfoy menyuruhnya untuk tenang terlebih dahulu dan menarik napas. Setelah resepsionis itu sedikit lebih rileks, Warfoy pun bertanya.


"Ada apa? Apa yang ingin kamu laporkan."


"Pak ... Tuan Baron ingin bertemu dengan Anda."


"Baron? Bukankah sebelumnya kami baru saja bertemu kemarin? Apa yang ingin dia bahas? ."


"Saya tidak tahu Pak tetapi ia juga memanggil seluruh kepala fraksi dan perwakilan divisi ke tendanya."


"Apa?!"


Warfoy sontak berdiri. Ini belum pernah terjadi. Biasanya untuk membuat sebuah rapat besar seperti ini haruslah direncanakan selama berhari-hari. Maka apa yang saat ini sedang terjadi adalah pembentukan rapat darurat.


Dengan cepat Warfoy bersiap-siap. Ia mengenakan seluruh perlengkapannya dan juga membersihkan wajahnya. Ia dengan diikuti oleh asistennya segera menaiki kuda menuju tenda Alex.


Sesampainya di sana, Warfoy terkejut ketika ia melihat atmosfer ruangan ini. Sepertinya semua orang sudah hadir kecuali dia. Artinya hanya dia yang terlambat.


Namun ada yang aneh yakni mereka terlihat murung, Warfoy tidak dapat memikirkan  satu jawaban pun.


Dengan sopan, Warfoy menyapa semua orang di sana lalu lantai meminta maaf atas keterlambatannya.


Warfoy memasang senyum bisnisnya. Ia bagaimanapun tidak boleh menunjukkan sikap permusuhan kepada bangsawan. Namun apa yang ia dapat tidak seperti yang diharapkan.


"Kamu! Apa yang kamu lakukan selama ini?!"


Alex berteriak dengan tampang penuh kemarahan. Warfoy tidak tahu mengapa Alex masih marah padahal ia sudah meminta maaf sebelumnya.


"Maaf Tuan, apa sekiranya yang saya lakukan sehingga membuat Anda marah?" ucap Warfoy tetap memasang senyum bisnisnya.


Emosi Alex tidak mereda. Namun ia tahu, sepertinya Warfoy selaku pemimpin fraksi serikat penyihir belum mendapat berita. Ia pun memilih untuk menceritakan semuanya kepada Warfoy.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu? Saat ini kota sedang diserang oleh sekelompok undead."


"Apa?!"


__ADS_2