THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
HANDKERCHIEF(2)


__ADS_3

Terlepas dari semua masalah itu dan setelah Alex akhirnya pergi berburu, Merry kembali ke kehidupannya yang membosankan. Bagi Merry sosok Alex adalah warna dari dunianya. Dia rela apabila dunia hanya seluas kamar 3 × 4 asalkan ia bersama dengan Alex, itu tidak akan menjadi masalah. Namun sekarang, sosok Alex sama sekali tidak terlihat dari pandangan Merry. Selama berjam-jam gadis kecil itu hanya melihat ke arah hutan dengan mata yang selalu terfokus, menunggu dan terus menunggu sosok yang paling ia cintai kembali.


Justin adalah orang yang ditugaskan untuk tetap bersama dengan Merry selama tuannya pergi. Dari waktu ke waktu ia menyadari bahwa nona muda ini tidak akan mempedulikan apa pun kecuali Alex.


Hah ... tuanku, anakmu sudah menjadi seorang father complex.


Justin sangat tidak nyaman dengan kecanggungan ini. Ia tidak berharap Ryana ataupun Lacey ada di sini. Saat ini kedua orang itu sedang berada di tempat yang berbeda, tepatnya sedang berada di lokasi para rohaniawan berkumpul. Acara dies natalis ini juga dihadiri oleh sosok High Priestess Feodora dan beberapa orang kuil lainnya. Adapun untuk Clara, dia juga sedang disibukan dengan obrolan para wanita bangsawan lain. Justin memang tidak mendengar tetapi ia tahu bahwa Clara pasti sedang bergumam tentang seberapa hebatnya Alex.


Hah ... tuanku, kenapa banyak sekali orang yang fanatik denganmu?


Justin tidak tahu apakah ini bagus atau tidak. Namun setidaknya ia mengetahui sampai sekarang ada 3 orang yang akan selalu menganggap Alex adalah sosok obsesi yang berlebihan.


Nyonya Clara, Nona Merry, dan Tuan Muda Regis. Kenapa ... kenapa kalian sangat terobsesi dengan Tuanku?


Justin mungkin bisa memaklumi Clara yang merupakan ibu tuannya sehingga menjadi sangat fanatik atau Merry yang dulunya kekurangan kasih sayang kini menjadi sangat manja kepada tuannya. Namun kenapa sosok seperti Regis juga bisa tertular?!


[Hei pelayan, apa kau tidak melihat Tuanmu ingin duduk? Kenapa kau tidak memberinya kursi?]


[Ada apa dengan kursi ini? Kenapa sangat kasar? Apa kau ingin tuanmu kena ambeien karena duduk di kursi ini?]


[Hei kenapa kau meletakan kursinya di tempat panas seperti itu? Kau ingin kulit tuanmu terbakar? Kenapa kau malah meletakan kursinya di sana? Itu tempatnya berangin, kau mau tuanmu kena flu?]


Dan pada akhinya Alex sama sekali tidak duduk ....


Hah ... sungguh, apa mungkin ketiga orang itu terkena Alex Complex? Apa itu semacam penyakit baru?

__ADS_1


Kini bukan hanya Merry yang terjebak kesedihan, bahkan Justin juga sedih memikirkan ketiga orang yang fanatik ini. Ia berharap semoga tidak adalah lagi penyandang Alex Complex yang bertambah.


Justin bukanlah orang yang ingin terus berkubang pada kesedihan. Dia mungkin tidak bisa menghibur orang lain tetapi dia bisa menghibur dirinya sendiri. Dia berharap mungkin metode untuk menghibur dirinya sendiri bisa efektif untuk orang lain.


Justin adalah orang yang sangat menyukai sejarah. Tatkala dia galau, dia lebih senang membaca buku-buku sejarah. Itu sebabnya di kamarnya buku sejarah dari berbagai masa dan lokasi cukup banyak di sana. Awalnya dia sebenarnya ingin menjadi mahasiswa di Augustus' Royal University dan mengambil Jurusan Sejarah. Sejak kecil Justin ingin menjadi sejarawan, dia terinspirasi dari kakeknya yang alih-alih ikut dalam suksesi warisan sebagai Lord of Chanstel , kakeknya justru menjadi seorang sejarawan yang memiliki wawasan luas. Kakeknya sering menceritakan banyak hal kepada Justin kecil, sehingga itulah alasan kenapa ia bercita-cita menjadi seorang sarjawan.


Sayangnya Tuhan memiliki kehendak lain. Semenjak saudara kakeknya berhasil mewariskan gelar Viscount of Chanstel, maka praktis kakek Justin tidak punya warisan yang mampu digadaikan sebagai biaya kuliah.


Untunglah ayah Justin bekerja sebagai knight di ibukota dengan penghasilan yang besar. Sedikit demi sedikit ia mulai menabung untuk biaya kuliah Justin ke depannya. Namun semua berubah ketika ayahnya dikirim ke medan pertempuran antara Cephareae Kingdom melawan Archantolia Kingdom-Artchania Kingdom.


Di sana, ayahnya mengalami luka parah dan akibatnya kaki kanannya diamputasi. Penyebab utamanya adalah ayahnya terkena serangan dari magic cannon. Tidak ada yang tahu apakah itu di sebabkan oleh serangan lawan atau friendly fire. Namun yang jelas karena serangan itu sang ayah pun mengundurkan diri dari ordo kesatria.


Tunjangan pensiun dini ayahnya memang masih bisa memenuhi kehidupan mereka tetapi ketika pertempuran dengan Cephareae Kingdom semakin alot dan banyaknya fief wars yang terjadi, menyebabkan tunjangan pensiunan para ksatria dipotong hingga setengahnya dengan alasan untuk biaya perang dan sebagainya. Semenjak itulah krisis keuangan keluarga Justin tidak lagi terbendung. Sedikit demi sedikit tabungan untuk pendidikan Justin digunakan sebagai biaya sehari-hari.


Sebagai anak tertua, Justin mengambil tanggung jawab untuk membesarkan dua adiknya dan merawat kedua orang tuanya. Dari sekian banyak pekerjaan yang ia ambil, ia sangat bersyukur dapat diterima sebagai pelayan di House of Fertiphile. Hebatnya bukan sebagai pelayan biasa tetapi pelayan pribadi.


"Nona Muda Merry, apa Anda tahu nama hutan ini?"


Merry yang mendengar pertanyaan Justin menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak tahu dan tidak tertarik mengetahuinya. Baginya itu tidak penting.


"Nona Muda, Hutan ini bernama Le Chant yang berarti Nyanyian. Dahulu ada seorang penjelajah yang memasuki hutan dan dia mendengar suara yang sangat merdu. Awalnya dia ketakutan tetapi dia sadar bahwa nyanyian itu penuh dengan ucapan doa dan keinginan yang kuat. Apabila seseorang berdoa sambil mengikuti nada nyanyian itu, maka hutan akan ikut mengaminkan doa orang itu. Bukankah itu menakjubkan?"


"Betulkah? Doa apa pun? Bagaimana dengan doa untuk keselamatan ayah?"


"Tentu saja Nona Muda, itu pasti bisa. Apa Nona ingin mencobanya?"

__ADS_1


Jujur, Justin belum pernah mendengar hutan ini mengeluarkan nyanyian. Dia hanya membacanya di buku. Soal benar atau tidak, dia sama sekali tidak yakin. Namun dia sering pergi ke pinggiran hutan dan ia belum pernah mendengar apa yang disebut sebagai nyanyian hutan. Sehingga praktis ia menganggap bahwa semua cerita mengenai Forest of Le Chant hanyalah mitos. Namun tujuannya bukanlah untuk membuktikan mengenai benar atau tidaknya cerita. Dia hanya ingin membuat perhatian nona mudanya teralihkan untuk sementara. Justin yakin dengan berjalan-jalan di pinggiran hutan pasti akan banyak hal menarik.


"Iya, ayo kita ke sana!"


Merry menjadi bersemangat. Jika itu dapat meningkatkan peluang keselamatan ayahnya walau hanya beberapa persen, dia akan tetap melaksanakannya. Prioritas utama Merry adalah bisa melihat ayahnya sehat dan kembali secepat mungkin.


"Tapi Nona, kita tidak bisa pergi terlalu dalam."


Merry mengangguk. Dia memang tidak terlalu mengerti dengan bahaya hutan tetapi jika banyak orang yang membawa jimat keselamatan bukankah itu berarti hutan cukup berbahaya?


Justin sudah cukup mengenali karakteristik Forest of Le Chant. Dulu dia sering mengelilingi pinggiran hutan dan di sana dia hanya menemukan hewan normal atau magic beast tingkat rendah. Selain itu berdasarkan cerita dari banyak prajurit dan rakyat, tingkat tertinggi magic beast yang tinggal di hutan ini hanyalah Middle Class. Jadi ia sama sekali tidak perlu khawatir. Selain itu, mansion belum pernah mendapat serangan dari magic beast dari hutan ini sehingga ia yakin bahwa hutan ini sebenarnya sangat aman. Namun tidak ada salahnya menyiapkan payung sebelum hujan. Untuk berjaga-jaga, ia sudah memanggil Erline untuk melindungi mereka.


Semenjak Erline sering ditugaskan untuk melindungi tuan muda Alex, seiring berlalunya waktu hubungan Eline dan Justin juga semakin dekat. Mereka bahkan sudah berada ditahap untuk memanggil nama depan, sehingga tidak perlu terlalu sopan.


Erline yang merupakan wanita yang berjiwa maskulin tentu saja langsung setuju dengan permintaan Justin. Ia sebenarnya sangat bosan dengan pesta ini, di mana para wanita hanya saling ngerumpi dan tertawa sambil memamerkan harta mereka. Ini bukan gaya Erline yang liar dan suka menunjukkan kekuatan fisik. Baginya kehidupan yang penuh ketegangan itu sangat menyehatkan jantung dan pikiran.


Ketiga orang itu pun pergi ke hutan dengan riang. House of Fertiphile memiliki banyak jenis kereta kuda di garasi. Mereka mengambil satu kereta kecil dengan atap terbuka. Kereta ini ditarik oleh seekor kuda dan hanya bisa membawa maksimal dua penumpang ditambah satu kusir. Merry adalah satu-satunya penumpang sementara Justin adalah kusir. Adapun Erline lebih memilih menaiki kuda hitam kesayangannya.


Seperti yang diharapkan dari hutan yang alami, cukup banyak aneka tumbuhan di sini. Selain itu tempatnya juga cukup sejuk ditambah oleh kicauan burung yang saling sahut menyahut. Mereka hanya pergi ke pinggiran hutan sehingga mereka belum melihat satupun magic beast. Namun ada beberapa magic plan tingkat rendah yang tumbuh subur di sini.


Justin melihat satu tanaman yang familiar lantas menunjuk tanaman yang seperti semak-semak itu kepada Merry.


"Nona Muda, Anda tahu, itu adalah Pyrithiplan, magic plan tingkat E. Tuan Muda Alex sering menggunakan tanaman itu untuk membuat sampo. Tuan Muda adalah orang pertama yang mengetahui manfaat tanaman itu untuk menjadi sampo."


"Benarkah?"

__ADS_1


Mata Merry berbinar mengetahui fakta menarik itu. Dia semakin bangga kepada ayahnya. Dia tidak sabar untuk melihat secara langsung bagaimana ayahnya membuat sampo yang sangat harum itu. Semenjak ia menggunakan produk yang bernama sampo, rambutnya menjadi halus dan tidak lagi kering ataupun apek. Seperti yang diduga, ini adalah keajaiban dari ayahnya. Hanya ayahnya yang bisa melakukan itu.


Justin awalnya sering bingung karena ia dan beberapa pelayan lain sering diperintah untuk membawa magic plan ini. Namun ketika ia menyadari efek dari tanaman ini setelah tuannya meramu semua bahan, ia tidak lagi bingung. Ia akhirnya sadar bahwa tanaman ini bisa menghilangkan penyakit kepala legendaris yang bernama ketombe. Setelah Justin percaya bahwa mandi dan keramas sangat bermanfaat untuk kesehatan, dia sering mengajak orang lain untuk memberlakukan kebiasaan yang serupa. Namun sayangnya tidak ada yang mendengarkan. Ia sadar bahwa seperti itulah keadaan tuannya yang sering diremehkan karena memiliki pandangan yang berbeda dari kebanyakan orang.


__ADS_2