THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
THE SLAVE GIRL(4)


__ADS_3

Alex bertemu dengan ibunya untuk melaporkan semua kejadian ini. Dia merasa terlalu implusif membeli budak. Dia memang tuan muda tetapi dia juga memikirkan apa mungkin terdapat batasan yang bisa ia lakukan. Bagaimanapun dia baru saja membeli seseorang dan paling parah, itu adalah seorang anak di bawah umur.


Di kamar Clara, keduanya duduk di sofa empuk dengan ditemani coklat hangat dan kue kering berisi madu. Clara sangat tahu bahwa kesukaan anaknya adalah makanan manis sehingga ia memerintahkan untuk menyiapkan segala sesuatu yang manis. Sangat jarang bagi Alex untuk terlebih dahulu menemuinya. Ini membuat Clara sangat senang.


"Sayangku, apa kamu menyukainya?"


"Iya Ibu, ini semua sangat enak."


Alex tersenyum dan bahkan tidak sadar terdapat bekas remah kue di sekitar mulutnya.


Clara tertawa geli melihat kelucuan dan keluguan anaknya ini. Dia mengambil sapu tangan berwarna putih dengan corak emas kemudian melapnya di mulut Alex.


"Makanlah perlahan."


"Iya Ibu."


Namun Alex tetap memakan semuanya secepat kereta express.


Clara tidak bisa menahan dorongan untuk menyubit anaknya ini. Walau Alex terkadang bersifat dewasa tetapi sekali ia menunjukkan wajah dan perilaku kekanak-kanakannya, maka bayi sekalipun akan terlihat seperti om-om.


"Ibu."


Alex mendesak kesakitan. Pipinya memerah akibat cubitan penuh kasih sayang keibuan.


"Baik-baik, jadi ada apa? Kenapa Sayangku mau menemui ibunya hari ini. Apa kamu mau membeli sesuatu? Apa anakku diganggu? Katakan saja pada ibu."


Clara mengangkat tinggi kepalanya seolah menunjukkan kebanggaannya sebagai seorang ibu yang kuat dan siap melindungi anaknya dari semua hal.


"Ibu ...."


Alex sedikit ragu. Ia menatap ibunya dengan mata berbinar.


"Ada apa Alex-ku?"


Clara menjadi semakin tidak sabar melihat sikap memelas anaknya ini. Ini mungkin untuk pertama kalinya Alex seperti ini setelah ia sudah dapat berjalan.


"Ibu ... di pasar, Alex membeli seorang budak."


Secara perlahan senyum Clara menjadi agak surut.


Budak? Tapi kita sudah punya banyak di taman. Apa ini budak petarung? Tapi Alex sama sekali tidak suka berkelahi! Apa jangan-jangan!?


Clara menelan ludahnya. Ia secara perlahan bertanya walau ia menekannya, nada khawatir tetap ada di suaranya.


"Sayang, apakah budak itu seorang wanita?"


Alex mengangguk.


"Iya ibu, dia adalah gadis yang lebih muda dari Hazel."


Hati Clara langsung hancur mendengarnya.


Tidak!! Kenapa ... kenapa aku tidak sadar kalo Alex sudah berada di usia itu! Dia sekarang sudah tertarik dengan lawan jenisnya.


Clara merasa gagal sebagai seorang ibu. Ia sadar bagaimana ia tidak pernah mendidik anaknya dalam pelajaran seksual sejak dini. Clara tahu, pasti saat ini Alex sedang berada pada tahap mencari jati diri dan sulit menahan keinginan biologisnya.


Tapi dari sekian banyak jenis wanita, kenapa dia menyukai anak-anak?!


Clara merinding memikirkan bagaimana jika anak kesayangannya adalah seorang pedofil.


Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Anakku yang imut ini tidak mungkin seperti itu.


"Ada apa Ibu?"


Alex merasakan kekhawatiran ibunya.


"A-Alex, kenapa kamu membelinya?"


Walau Clara masih memasang senyum tetapi jantungnya sudah berdetak lebih kencang seolah akan meledak. Dia betul-betul panik dengan jawaban yang akan disampaikan anaknya.


"Ibu, aku merasa kasihan padanya."


"Sungguh?"


Clara terkejut dengan jawaban Alex yang sangat berbeda dengan yang ia pikirkan.

__ADS_1


"Iya Ibu. Alex tidak tahan dengan keadaannya yang menyedihkan. Jadi Alex membelinya. Apa ibu marah?"


Untuk sekian kalinya hati Clara tertusuk oleh sentuhan haru dan bangga kepada anaknya.


Siapa bilang anakku sampah?


Hatinya seluas samudera!


Air mata bahagia mengalir di pipi Clara. Dia memeluk anaknya dengan sangat erat. Sambil terisak-isak, ia berusaha memanggil nama anaknya.


"Ibu, apa Ibu marah? Maaf ibu."


"Tidak anakku. Tidak mungkin ibumu ini marah dengan dirimu yang sesempurna ini. Kamu adalah berkah terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada ibu."


Clara mengelus pelan punggung anaknya dan ia bersandar di bahu anaknya yang sudah semakin kokoh sejak terakhir kali ia melihatnya.


Sekarang tingginya pun sudah berada di atasku. Aku menyesal tidak bisa mengendongnya lagi.


"Terimakasih, Ibu."


Alex memeluk ibunya. Alex merasakan perasaan tulus dari Clara. Sebagai seorang archdeus mungkin pendekatan Alex yang manja dan memelas kepada Clara adalah aib baginya. Bagaimanapun seorang archdeus adalah sosok yang angkuh, gagah, dan mendominasi. Ia tidak boleh menunjukkan sikap yang selemah ini. Namun mengingat dirinya saat ini tidak lebih dari remaja normal yang bahkan tidak dapat menggunakan mana, maka pendekatan ini kepada Clara adalah hal yang paling efektif.


"Nah, sekarang siapa nama gadis kecil itu, sayang?"


Setelah puas menangis dan haru, Clara melepas pelukannya tetapi bekas air mata masih ada di wajahnya.


"Aku tidak tahu ibu. Aku belum berbicara kepadanya."


"Alex, ibu bangga pada sikapmu yang senang membantu orang lain. Namun ketika kamu sudah berniat membantu seseorang, kamu harus melakukannya sampai akhir, jangan setengah-setengah. Gadis itu masih sangat muda, dia mungkin stres karena berada di tempat baru. Walaupun dia adalah budak, tetapi kita juga harus dapat menjaga keamanan tubuh dan mentalnya."


"Baik Ibu."


"Tapi Ibu, itu artinya budak itu akan berada pada tanggung jawab Alex sepenuhnya?" sambung Alex.


"Iya Alex. Tapi ibu juga akan membantumu jangan khawatir."


"Terimakasih ibu. Aku akan merawatnya dengan baik."


Clara tersenyum. Ia ingat, sekarang Alex sudah berusia 15 tahun yang merupakan usia untuk seseorang yang telah dewasa. Alex kini harus belajar bertanggung jawab jadi dengan adanya gadis kecil itu, Alex pasti bisa melatih sikap kepemimpinan dan tanggung jawabnya.


"Upacara Kedewasaan?"


Clara mengangguk. Awalnya ia berencana membuat acara meriah itu ketika Alex tepat berumur 15 tahun tetapi karena Alex harus mengikuti pelatihan di barak maka ia menundanya hingga Alex selesai. Sekarang adalah waktu yang tepat, jika tidak maka Alex akan segera berumur 16 tahun.


"Sebenarnya ibu mau melaksanakannya satu setengah bulan lagi tetapi ibu punya kenalan yang mau pergi ke ibukota juga. Makanya ibu mempercepatnya, apa tidak masalah?"


Alex menggelangkan kepalanya.


"Tidak masalah ibu. Baik, mari kita pergi ke ibukota. Alex belum pernah ke sana."


Alex tersenyum dan menunjukkan antusiasnya. Itu tentu saja membuat perasaan Clara semakin  membara sehingga ia tidak sabar untuk dua minggu ke depan.


***


Selepas pertemuannya dengan Clara, Alex ditemani Justin pergi menemui budak yang baru ia beli.


Dari perkataan Clara, Alex mendapat petunjuk bahwa kondisi mental seseorang yang telah lama tersakiti sangat tidak stabil terutama ketika orang itu adalah seorang anak-anak. Alex sejak awal telah berkomitmen pada dirinya sendiri untuk merawat gadis itu hingga setidaknya ia menjadi dewasa dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri kemudian Alex akan membebaskanya dan menjadikannya orang yang merdeka.


"Lewat sini Tuan Muda."


Justin menuntun Alex. Sebagai orang yang menjadi tangan kanan tuan mudanya, Justin tahu lokasi kamar budak itu dari laporan pelayan lain. Namun bagaimana proses pembersihannya tentu saja itu di luar pengawasan Justin.


Mereka semakin mendekati tujuan. Sampai ... mereka mendengar suara amarah.


"TIDAK BERGUNA!!"


"Ada apa denganmu ********?! Bahkan kau masih belum mandi! Dan beraninya kau tertidur sementara aku menunggu dari tadi!"


Budak itu bergidik setiap kali pelayan wanita yang sebelumnya menuntunnya ke kamar memarahinya. Air mata budak itu terus mengalir dan ia terisak-isak tetapi pelayan itu tidak peduli.


Ia terus dimarahi dan dicemooh.


"Dasar tidak berguna!"


"****** kotor!"

__ADS_1


Itu adalah kalimat yang paling sering ia dengar dari tuannya terdahulu. Gadis itu menyadari, di manapun dia berada dan siapa pun tuannya, statusnya sebagai seorang yang tidak berguna dan kotor tidak pernah berubah.


"Hiks ... hiks m-maaf."


Gadis itu berusaha berbicara tetapi napasnya tersendat akibat tangisannya.


"Ada apa ini?"


Suara Alex mengagetkan kedua orang itu. Alex dan Justin telah mempercepat langkah mereka setelah melihat hal yang tidak beres. Keduanya berdiri di ambang pintu dan melihat dua orang di dalam kamar.


Orang pertama adalah seorang pelayan wanita yang terlihat marah dan kedua adalah seorang gadis kecil yang menangis.


"Aku tanya, ada apa?"


Alex mengerutkan kening karena dia harus bertanya untuk kedua kalinya.


Menyadari kelalaiannya, pelayan wanita itu langsung membungkuk dan memohon maaf.


"Tolong maafkan hamba, Tuan Muda. Hamba yang rendah ini tidak menyadari kedatangan keagunganmu. Hamba tadinya sedang melakukan pendisiplinan kepada budak yang telah kurang ajar ini."


"Apa yang dia lakukan?"


Pelayan itu menjawab dengan tegas dan jelas.


"Budak ini tidak melaksanakan perintahmu. Dia menolak untuk mandi dan berganti pakaian. Selain itu, dia telah tidur dan tidak memerdulikan perintahmu untuk menemui Anda."


"T-tidak  hik ...."


Budak itu berusaha membantah tetapi suaranya tersendat akibat berusaha menahan tangisannya.


"Hmm ...."


Alex tentu saja tidak langsung membuat keputusan. Walau dia bukanlah archdeus yang berperan sebagai hakim atau yang maha adil, tetapi dia bukan berarti tidak tahu prosedur mencari keadilan. Dia juga harus mendengar kesaksian dari banyak pandangan. Namun gadis ini masih kesulitan berbicara akibat cegukan yang juga muncul setelah tangisannya.


Alex masuk ke kamar, mendekati gadis itu kemudian dia berjongkok sehingga pandangannya lurus ke mata gadis itu. Dia melembutkan pandangannya dan memberi senyuman.


"Jangan takut."


Alex mengacak pelan rambut gadis itu. Ia berusaha menenangkannya.


Adapun Justin tidak bisa tidak kaget, bagi seseorang yang tergila-gila dengan kebersihan kenapa tuan muda mau memegang kepalanya? pikir Justin.


Justin tahu kepala budak itu kotor dan ia tidak menyangka tuannya mau memegang kepala gadis itu.


Gadis itu secara naluriah perlahan mulai tenang. Walau masih ada cegukan tetapi napasnya perlahan stabil. Dia dengan cegukan, keraguan dan rasa malu mulai menceritakan pembelaannya.


"hiks aku ... hiks tidak tahu hik mandi."


Walau terkesan samar, Alex tahu penjelasan gadis ini.


"Kamu tidak tahu apa itu mandi?"


Gadis itu menganggukan kepalanya.


Alex mengerutkan keningnya. Dia kembali mengelus rambut gadis itu, kemudian Alex berdiri. Dia menatap tajam pelayan itu.


"Apa kamu tidak mengajarinya?"


Wanita itu mulai merasa ada yang tidak beres seolah kesalahan jatuh kepadanya. Namun ia tetap menjawab.


"Budak itu tidak mengatakan apa pun, Tuan Muda."


"Kenapa kau tidak berinisiatif bertanya?"


Pelayan itu terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Ia telah tahu kalau budak ini sangat pemalu dan penakut jika dilihat dari penampilan dan gerakannya. Namun ia tidak terlalu memerdulikan itu pada awalnya.


"Mohon maaf Tuan-"


"Tidak perlu."


Alex memotong ucapan pelayanan itu. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya kepada gadis budak dan berbicara dengan lugas.


"Aku yang akan memandikannya."


 

__ADS_1


 


__ADS_2