THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
ALLIANCE(4)


__ADS_3

Mengawali awal musim panas tahun ini. Sekumpulan prajurit berjalan bergerombolan melewati barisan pepohonan dan tanjakan bebatuan.


Suara nyaring dari logam berbenturan dan suara pukulan dari genderang perang adalah soundtrack yang terus mengisi waktu musim panas ini.


Ravouille, ibukota dari County of Otilia telah dipenuhi oleh kepanikan selama berminggu-minggu.


Kejatuhan Kota Lyouse ke tangan musuh menjadi pertanda bahwa bencana besar akan segera datang ke ibukota county.


Semenjak itu, arus pedagang dan turis terus berkurang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi regional terjadi di County of Otilia. Para pedagang berhenti berjualan sehingga terjadi kelangkaan di pasar yang menyebabkan peningkatan harga. Berkurangnya injeksi dana untuk investasi secara agregatif menyebabkan PHK besar-besaran akibat penutupan pabrik.


Bahkan jika Otilia bisa memenangkan fief war, mereka akan menghadapi resesi ekonomi sehingga jika mereka gagal dalam hal ini, itu dapat berakhir pada kekacauan.


Di salah satu menara tinggi yang menjadi menara pengawas, sekumpulan orang dengan equipment perang mahal berkumpul.


Pemimpin mereka, seorang wanita dengan full armor berwarna silver sedang memandang kumpulan prajurit musuh di luar benteng kota.


Wanita itu adalah Eugenie de'Pauline Otilia, sang Countess of Otilia.


Di pinggangnya, tergantung sebuah pedang yang menjadi senjata warisan turun-temurun dari dinastinya. Senjata itu juga menjadi simbol countess yang saat ini sedang berkuasa.


Sebagai seorang eques, Eugenie dapat menggunakan sihir penglihatan jarak jauh.


Dengan sihir itu, dia dapat melihat prajurit musuh tidak hanya dari March of Candia, bahkan prajurit dari anaknya yang memberontak yakni Peter juga dapat ia ketahui hanya dengan melihat bendera yang dikibarkan.


Walau telah berumur hampir setengah baya, wajahnya masih tetaplah cantik walaupun terdapat kerutan di kening akibat kemarahannya.


"My Lady, saya Viscount of Breakssex melaporkan bahwa semua anak-anak dan wanita telah dibawa ke tempat pengungsian dengan aman."


"Baik, kembali ke postmu."


Eugenie menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.


"Siap, Nyonya."


Kota Ravouille berbeda dari kota-kota yang telah ditaklukkan sebelumnya. Ini adalah kota besar yang menampung lebih dari 50% penduduk county. Sehingga dapat dikatakan bahwa semua pertahanan county terkonsentrasi di sini. Apabila ibukota jatuh, maka kehancuran dinasti telah dipastikan terjadi.


Namun tentunya ini tidak akan mudah.


Penyerangan kali ini berbeda dari penyerangan kilat yang pernah dilakukan di Kota Lyouse maupun Kota Lenastronople.


Musuh lebih memilih strategi pengepungan kota.


Mereka ingin kota tersebut kehabisan makanan sebelum menyerang.


Strategi ini dapat dianggap baik tetapi dapat pula dianggap buruk.


Keuntungan dari strategi ini adalah kemungkinan besar dapat mengurangi korban nyawa yang tidak perlu bagi pihak musuh karena pihak Otilia telah berada pada kondisi lemah dan kelaparan.


Namun buruknya adalah waktu penaklukkan membutuhkan waktu lama sehingga pihak penyerang membutuhkan logistik yang banyak dan itu juga berarti bahwa Otilia dapat lebih siap dalam menghadapi perang yang akan meledak karena telah diberikan waktu.


Pada intinya, musuh selama awal pengepungan hanya memberikan serangan berupa tembakan magic cannon yang mengeluarkan sihir tingkat 4.


Senjata ini dapat dikatakan sebagai keunggulan komparatif dari pihak Canadia maupun Peter karena musuh mereka yakni Otilia hanya memiliki magic cannon yang hanya dapat mengeluarkan sihir tingkat 3.


Namun demikian, serangan dari magic cannon saja tidaklah cukup untuk meluluhlantakkan kota.


BOOM!!


BOOM!!

__ADS_1


Bebagai sihir tingkat 4: [Explosion]\, [Falling Storm]\,[Wind Chain] [Frozenburst]\, dan [Earthshocker] terus ditembakan oleh magic cannon lawan. Tentunya magic cannon Otilia yang berada di atas benteng juga membalas dengan serangan sihir tingkat 3 seperti [Fireball]\, [Lightning]\, [Windburst]\, [Shooting Ice] dan [Wallbreaker]. Namun sayangnya serangan magic cannon Otilia memiliki range yang lebih kecil daripada magic cannon musuh menyebabkan banyak serangan yang miss.


Sebaliknya, serangan dari Canadia dan Peter masih tetap sukses memberikan efek destruksi terhadap dinding kota.


Serangan itu terus berlangsung khususnya ketika malam hari.


Dimana seiring berjalannya waktu para prajurit Otilia banyak yang terkena insomnia akibat tidak bisa tidur karena terus dihujani oleh serangan dan bunyi dari tembakan magic cannon.


Eugenie tidak bisa melakukan apapun.


Mereka hanya bisa bertahan.


Membuka gerbang sama saja dengan bunuh diri. Terlebih ketika mereka mendapat laporan bahwa prajurit musuh jauh lebih masif daripada sebelumnya pada serangan di Kota Lenastronople dan Kota Lyouse, jumlah prajurit musuh dikatakan berjumlah setidaknya 12.000, pada serangan kali ini berjumlah hampir 3 kali lipat.


Penyebab yang paling dominan adalah banyaknya rekrutan dari daerah taklukkan.


Masyarakat di era monarki cenderung tidak memiliki rasa cinta terhadap negara. Kebanyakan dari mereka hanya memiliki rasa takut kepada penguasa. Jadi ketika mereka diajak untuk menggulingkan penguasa dengan diimingi mendapat kehidupan yang layak ataupun hadiah yang besar, banyak diantara mereka yang akan ikut berpartisipasi. Terutama bagi Dinasti Otilia yang telah lama yang menjadi kambing hitam secara politik, sosial, agama, hingga ekonomi.


Secara politik, sang countess tidak dapat hadir di parlemen akibat ia seorang wanita. Secara sosial, pandangan misandry dan matriarki dari countess menyebabkan dia dibenci oleh masyarakat. Dalam pandangan keagamaan yang direpresentasikan oleh kuil, countess dan kuil sering mengalami ketidakcocokkan. Bahkan dalam sisi ekonomi akibat ia selalu memberikan posisi jabatan sipil kepada wanita tanpa memandang klasifikasi mereka, menyebabkan banyak kebijakan ekonomi khususnya instrumen makro seperti perpajakan/upeti yang dianggap keliru hal itu menyebabkan para pengusaha juga tidak terlalu menyukai sang countess.


Jadi bisa dibilang tidak ada alasan untuk mempertahankan dinasti Otilia lebih lama lagi.


Di ruang pertemuan yang masih berada di dalam mansion, tumpukan kertas dalam jumlah besar telah memenuhi meja.


Berbagai laporan dimulai dari laporan stok makanan hingga pergerakan musuh dilaporkan kepada sang countess.


Sudah lebih dari 18 hari mereka dikepung seperti ini.


Musuh telah membangun kamp yang tidak jauh dari kota.


Eugenie tidak bisa tidur. Kini wajahnya yang selalu cantik berubah dengan mata panda dan rambutnya yang kusut.


Seorang pria yang kelihatannya masih cukup muda sekitar 20 tahun berlutut sambil memberikan laporan.


Pria ini adalah Gerald Firenze Arlouise, anak tertua dari Lambert Lu'Cois Arlouise yang kini menduduki bergelar Viscount of Arlouise.


"Begitukah ... lalu apa ada yang selamat?"


"Tidak, Nyonya."


Eugenie tidak menjawab. Dia telah banyak menerima laporan yang sama.


Kini dia tahu, bahwa harapan dinastinya benar-benar tergantung kepada suaminya yang tiba-tiba sembuh dan telah pergi ke ibukota dan anak gadisnya yang mencari pertolongan.


"My Lady!!"


Kali ini seorang wanita berlari panik mendekati Eugenie.


Dia bernama Helga Lieben Hackshield dengan kelasnya sebagai seorang knight .


Eugenie pernah berusaha untuk menjadikan Helga sebagai salah satu komandan perang, tetapi dia pada akhirnya dia tidak dapat melakukannya.


Disebabkan karena posisi militer selalu dipegang oleh bangsawan terkhusus bagi bangsawan yang memiliki peerage seperti baron dan viscount yang merupakan para pria, orang-orang pilihan Eugenie yang merupakan wanita terlepas berstatus bangsawan atau rakyat jelata, tidak dapat memiliki karir militer semulus karir pada jabatan sipil. Pada akhirnya Helga hanya dapat menjadi salah satu asisten countess.


"Nyonya, Lapor! Terjadi kerusuhan di pasar dan alun-alun kota!"


Berita itu mengguncang semua orang yang ada di ruangan itu.


Salah seorang melihat keadaan luar jendela.

__ADS_1


Dia terkejut ketika melihat ada cahaya dari api yang berkobar.


"Oh ya ampun! Bukankah itu pasar?"


"Di sana juga ada!"


Selain tempat yang dilihat oleh orang itu, masih ada beberapa titik api yang dapat dilihat dari jendela ini. Walaupun jaraknya cukup jauh, tetapi kobaran api masih dapat mereka lihat dengan jelas.


Eugenie berjalan dari tempatnya menuju jendela. Melihat kekacauan yang terjadi di luar.


Dia termenung sesaat.


Secara tak sadar, dia menatap bayangannya sendiri dari kaca jendela yang terpantul dari cahaya magic lamp di dalam mansion.


Eugenie kemudian memperkuat tekadnya.


Dia adalah seorang countess. Tidak ada alasan baginya untuk tidak mempertahankan wilayahnya.


Dia akan melakukan apa pun untuk mempertahankan gelar dan dinastinya. Walaupun seluruh dunia adalah lawannya.


***


Suara kepanikan dan kemarahan terus bergema menemani malam yang gelap ini.


Sekumpulan orang terlihat sedang menjarah dan membakar berbagai bangunan.


Mereka ada di mana-mana.


Mereka berlari dan terus membakar bangunan sembari meneriakan yel-yel 'Countess adalah bidaah’ atau ada pula beberapa orang yang melakukan anarkisme dengan membuat graffiti yang bertuliskan 'Stop Matriarchy!'


Kawasan pasar adalah tempat yang padat. Bahkan walaupun arus transaksi perdagangan telah lama menurun akibat evakuasi sebagian penduduk, tetap saja pasar memiliki banyak barang yang mudah terbakar. Sebut saja semua kios dibangun menggunakan kayu dan beratapkan kain. Atau bahkan terdapat berbagai produk yang mudah terbakar seperti anyaman dan pakaian.


Sementara chaos telah berlangsung, di atap sebuah menara kuil, seorang wanita ber-amor gelap berdiri dan mengamati kekacauan yang ada di bawah.


Karena armor-nya yang gelap, dia terkesan telah menyatu dengan gelapnya malam.


Wanita itu hanya berdiri diam mengamati ratusan bangunan yang terbakar.


Para demonstran yang kebanyakan adalah pria sedang bentrok dengan para prajurit.


"Cepat! Cepat!"


Teriakan seorang pria tua yang berada di pintu kuil mengalihkan perhatiannya.


Walaupun pria tua itu hanya menggunakan jubah dengan tudung kepala, tetapi wanita itu curiga bahwa pria itu adalah seorang priest.


Benar saja, tak berlangsung lama sekumpulan pria dengan tudung menutupi kepalanya keluar dari kuil. Namun hanya beberapa langkah, mereka tiba-tiba melompat dan ada pula yang berlari dengan kecepatan luar biasa.


Melihat dari kemampuan orang-orang itu, kemungkinan besar mereka adalah para pengguna role. Dan secara subjektif berdasarkan tempat para pria itu keluar, wanita itu merasa mereka adalah para paladin.


Sayangnya orang-orang itu terlihat lemah. Dibuktikan dengan ketidakmampuan mereka mendeteksi seorang wanita yang sedang berdiri di atap menara yang tak jauh dari mereka.


"Sepertinya rencana Tuan Peter cukup menarik."


Sebelumnya, wanita itu mendapat tugas dari Peter.


Tugasnya adalah membunuh sang countess.


Namun tentunya keamanan sang countess cukup ketat dan apa yang tidak disangka wanita itu adalah Peter ternyata telah menjalin kerjasama dengan sebagian besar pihak internal di dalam pemerintahan Otilia.

__ADS_1


Kerjasama itu mencakup kesepahaman dengan kuil hingga kolusi dengan para pedagang besar. Bagaimanapun perang dapat dikatakan sebagai lahan bisnis yang cukup besar bagi para pemilik komoditas seperti obat-obatan, makanan, hingga pemilik transportasi.


Sehingga dengan keadaan seperti ini, dia hanya perlu membunuh countess.


__ADS_2