
Fertihall, County of Fertiphile
Di pusat perbelanjaan di Kota Fertihall, terlihat begitu banyak orang berlalu-lalang di sana. Walaupun mentari sudah tepat berada di atas kepala, tetapi aktivitas perdagangan di sini masih tetap banyak. Terik dari sinar surya tidak menghalangi para pedagang untuk menjual dagangannya dan hal yang sama berlaku kepada para pembeli yang menginginkan dagangan para penjual.
Dari begitu banyaknya toko dan warung yang ada, terdapat sebuah pub yang cukup ramai dikunjungi. Ini adalah salah satu tempat yang sering didatangi oleh para petualang. Tentu saja itu bukan karena minuman dan makanan di sini yang enak tetapi karena harganya yang ramah di dompet.
Di dalam pub itu cukup banyak orang yang menikmati minuman mereka tetapi hampir setengahnya membawa senjata seperti pedang, panah, armor, hingga perisai. Tentu saja karena tempat ini adalah pub yang sering dikunjungi oleh berbagai jenis petualang, tidak aneh jika melihat orang-orang bersenjata di sini.
Selain itu terlihat pemilik bar ini bukanlah seorang wanita cantik ataupun pria pesolek tetapi seorang pria paruh baya dengan tubuh gemuk dan berkulit kasar.
Jadi bisa dibilang nilai estetika di pub ini bukanlah sebuah prioritas.
"[Dahulu saat Manusia, atas perintah Surga
Muncul dari Tanah yang dijanjikan
Itu adalah sebuah perjanjian ilahi
Dan para malaikat pelindung menyanyikan lagu ini;
Rule Empiria, Empiria rule the Land:
Empirian never never never shall be slaves!]"
Seorang bard tua dengan semangat yang membara menyanyikan sebuah lirik kuno di dalam pub. Walaupun wajahnya memerah karena mabuk tetapi semangatnya untuk menyanyi tidak dapat diremehkan.
Apa yang baru saja dia nyanyikan adalah sebuah lagu tradisional yang mengandung banyak kisah historis. Itu adalah lagu yang dinyanyikan untuk mengingat seorang hero ketika perang suci pertama antara manusia dan demonoid. Dipercaya pada masa itu, Hampir seluruh kerajaan manusia di Laurentia Selatan, Barat, dan Tengah berada pada satu panji yang sama yakni sebuah kekaisaran kuno. Cukup banyak sumber yang mencatat masa itu tetapi tidak ada yang sekomprehensif dari catatan Pontifex Maximus St. Lucius II, yang mencatat kisah-kisah sang hero yang berhasil mengusir demonoid dan di catatannya itu terdapat sebuah syair 'Empiria rule the Land' dan 'Empirian never shall be slaves'. Itu adalah sebuah tulisan yang bermakna di benua ini, Empiria yang diartikan sebagai umat manusia ketika masa itu adalah penguasa atas benua ini dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan tidak diperbudak oleh kaum manapun termasuk demonoid.
Walaupun itu adalah lagu kuno tetapi sepertinya semua orang menghafal liriknya. Kemungkinan besar lagu itu sering dinyanyikan oleh para bard sehingga ketika reff-nya, semua orang secara sontak bernyanyi dengan kencang.
Kemudian bard tua itu kembali bernyanyi dengan lagu lain. Ini adalah sebuah lagu ciptaannya sendiri.
"[I wish I was in the land of corn,
old time there not forgotten;
Look away! look away! look away! Otilia.
In Otilia where I was Born,
Early on one frosty morning,
Look away! Look away! Look away! Otilia
Then I look Alex was in Otilia, hooray! hooray!
Alex the brave will take his stand to live and die in Otilia,
Away, away, away down in Otilia
Away, away, away, down in Otilia.] "
"Oh itu lagu yang bagus. Apa dia yang menciptakannya?"
__ADS_1
Salah satu pengunjung bertanya dengan antusias.
Karena sepertinya bard tua itu tidak mendengar dan terus menyanyikan lagunya, pengunjung lain pun menjawab.
"Iya, itu adalah lagu ciptaannya dan lagu itu sangat terkenal di daerah ini. Melihat dari peralatanmu sepertinya kamu petualang. Apa kamu baru di daerah ini?"
"Ah, ya benar. Aku dari Morhust dan baru sampai ke Fertiphile dua minggu lalu."
"Oh seperti dugaanku. Lagu orang itu jadi sangat terkenal terutama karena dia sering menyanyikannya di depan umum. Dari yang kudengar orang tua itu mempunyai keluarga yang tinggal di Otilia. Itu sebabnya ketika perang feodal pecah di sana dan putra tertua dari Lord daerah ini datang membantu Otilia, dia menjadi sangat senang dan secara pribadi membuat lagu untuk putra tertua dari Lord Fertiphile."
klang!
Siapa sangka ketika keduanya sedang asik mengobrol, seorang berjubah yang tidak dikenal muncul dengan minuman di tangannya. Ia lalu duduk di kursi kosong yang tak jauh dari mereka.
Orang itu melepas tudung jubahnya lalu wajah wanita cantik muncul di hadapan kedua orang itu.
Wajah kedua orang itu lantas memerah. Bagaimanapun keduanya hanyalah pemuda yang belum pernah bertemu dengan wanita cantik.
"Maaf mengganggu, tapi bisakah kalian ceritakan lagi mengenai perang di Otilia dan siapa itu anak tertua dari Lord Fertiphile?" ucap wanita itu dengan senyum yang misterius.
***
Barony of Alexandreia
Rain saat ini dapat sedikit bersantai. Setelah pelatihan yang membabi-buta, dia akhirnya diberi waktu untuk beristirahat. Beberapa hari terakhir tubuhnya terasa seperti akan hancur. Rain tidak pernah membayangkan pelatihan menjadi seorang magic warrior akan seintens ini.
Itu sebabnya mumpung gurunya, Barnard masih memiliki hati, Rain harus betul-betul memanfaatkan waktu senggang ini.
Sayangnya dia tidak tahu harus kemana. Barony ini terlalu kecil dan tidak ada tempat yang menarik perhatiannya. Dia juga sudah bosan dengan pemandangan hutan. Lagian jika dia harus pergi ke county hanya untuk liburan sama saja menyiksa tubuhnya. Untuk sampai ke county, akan memakan waktu yang lama di perjalanan jadi itu bukanlah opsi yang baik.
Namun Rain juga merasa bosan di mansion. Semenjak tuannya menjadi baron, tuannya menjadi sangat sibuk. Dia harus bolak balik dari barony ke ibukota negara berkali-kali.
Justin juga terlihat telah menjadi workaholic dengan jam kerjanya melebihi delapan jam.
Rain juga terlalu malas untuk bermain dengan bocah seperti Merry dan Alven.
Akhirnya setelah banyak pertimbangan, Rain memutuskan untuk pergi ke barak.
Di sana, ia melihat Grain, sang instruktur utama yang sedang melakukan sparing dengan Riven. Mereka sedang melakukan adu mekanik mengenai teknik pedang keduanya. Para calon prajurit muda saat ini sedang menonton Sparing mereka. Rain juga melihat sparing keduanya dari jauh.
Pertandingan diakhiri dengan kekalahan Riven yang merupakan kepala otoritas keamanan barony.
"Rain, apa yang kamu lakukan di sini?"
Grain yang sedang menyeka keringatnya dengan handuk tidak sengaja melihat Rain yang berdiri tak jauh mereka.
Rain tersenyum dan menghampiri keduanya.
"Maaf mengganggu Tuan Grain. Aku hanya sedikit berkeliling saja."
"Oh kamu sedang bosan?" tanya Grain.
"Yah itu wajar. Ini hanyalah daerah kecil. Bagaimana jika kamu menguji teknik berpedangmu di sini?"
__ADS_1
"Sungguh?" seru Rain.
Walaupun Grain dan Rain baru saling mengenal ketika mereka berada di Alexandreia, tetapi dengan cepat mereka menjadi akrab. Rain juga baru tahu ternyata Grain dan Riven adalah teman tuannya ketika berada di barak county. Sungguh mengejutkan.
Saat ini di dalam arena latihan, Rain akan melakukan sparing. Ini bukanlah pertama kalinya dia melakukan sparing di barak. Jadi ketika dia akan melakukannya, semua murid dan prajurit muda di sini menjadi sangat antusias. Mereka sudah melihat keterampilan ilmu pedang Rain yang yang sangat tinggi.
"Jadi siapa lawanku kali ini?" tanya Rain.
"Yah jelas bukan aku. Pinggangku sangat sakit sekarang," balas Riven.
Sepertinya ketika Riven dan Grain melakukan sparing, Riven tidak sengaja jatuh dan melukai pinggangnya.
"Aku juga saat ini sangat lelah. Kamu bisa menantang para prajurit muda di sini," ucap Grain.
Mendengar ucapan instruktur mereka, semua orang menjadi antusias. Mereka sudah lama menantikan untuk bisa sparing dengan orang kuat. Sekaligus untuk menguji kemampuan berpedang mereka sendiri.
Salah satu prajurit muda bergegas masuk ke dalam arena.
Karena gap antara keduanya sangat terlihat, Riven memutuskan sparing kali ini harus menggunakan pedang kayu dan Rain harus menahan diri untuk tidak menggunakan energi supranaturalnya.
Spark! Spark!
Hanya dengan beberapa kali ayunan pedang dan gerakan, Rain dapat membuat lawannya jatuh terduduk.
"Wah! Seperti yang diharapkan dari Tuan Rain."
Para penonton tidak bisa tidak kagum.
Rain juga pada awalnya tidak dapat mempercayai kemampuannya ini. Padahal sebelumnya dia hanyalah budak yang digunakan untuk bekerja di peternakan dan pertambangan. Sekarang, dia sudah menjadi seorang magic warrior yang disegani di Alexandreia.
Ketika ia duduk di lantai untuk beristirahat sebentar, Rain melihat seorang yang tak asing memasuki ruangan pelatihan.
Rain mengenal orang itu. Ia adalah salah seorang pelayan di mansion.
Ketika pelayan wanita itu melihat Rain yang sedang beristirahat, ia mendatanginya kemudian memberi hormat kepada Rain.
Walaupun Rain secara nominal adalah seorang budak milik Alex, pada kenyataannya ia lebih sering diperlakukan sebagai petinggi barony ketika berada di mansion Keluarga Alexandreia. Itu karena status Rain sebagai budak tidak pernah dipublikasikan oleh Alex. Bahkan di Fertiphile pun hanya beberapa pelayan yang tahu bahwa Rain adalah budak. Sementara yang lain berpikir jika Rain adalah orang merdeka yang setia kepada Alex. Jadi semua orang di mansion Alexandreia memperlakukannya layaknya mereka memperlakukan Justin sang kepala pelayan. Mereka akan membungkuk atau memberi salam dengan penuh hormat setiap kali melihat Rain. Pada awalnya Rain tidak terbiasa tetapi seiring berjalannya waktu dan munculnya pelayan-pelayan baru yang tidak mengenal latar belakangnya seperti pelayan di depannya membuat Rain harus menerima semua perlakuan yang kaku itu.
Pelayan itu membungkuk hormat kepada Rain. Kemudian melaporkan sesuatu.
"Tuan Rain, Anda mendapat surat dari Tuanku Baron."
Rain lantas berdiri kemudian bertanya kepada pelayan itu.
"Dimana suratnya?"
Pelayan itu membuka tas kecil di pinggulnya. Lalu menyerahkan kepada Rain sebuah surat yang masih mulus tersegel.
Rain lantas membukanya lalu membaca satu per satu isinya. Untungnya walaupun dia seorang budak, dia tidaklah buta aksara.
"!!!"
Rain terkejut dengan isi surat itu.
__ADS_1
*Aku harus pergi ke Hadalon? *