THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
HUNTING(3)


__ADS_3

Rain belum pernah ke County of Fertiphile sebelumnya, selain itu dia juga belum pernah berinteraksi dengan orang-orang secara masif. Ia tidak tahu di mana lokasi penyewaan kereta berada.


Beranikan dirimu Rain. Jangan malu-maluin.


Walau ia masih canggung, dia memberanikan diri bertanya. Namun secara tidak sadar dia memilah setiap orang berdasarkan wajah mereka.


Tidak, dia kelihatan garang. Oh, tidak, dia seperti penjahat. Hmm ... dia seperti orang cabul. Ah ... ini sempurna.


Rain berjalan ke tempat orang yang dia anggap baik. Orang itu adalah seorang wanita seusia dengannya memiliki rambut merah muda dan sedang asik memakan roti kukus. Wanita itu tidak sendirian, dia terlihat memiliki teman yang ikut bersamanya.


"Anu ... maaf."


"Ya?"


"Etto ... apa kamu tahu tempat untuk menyewa kuda?"


"Sewa kuda?"


Wanita itu terlihat berpikir sesaat sebelum akhirnya menjawab sambil menunjuk arah.


"Ya, itu tidak jauh. Lurus saja kemudian setelah ketemu pertigaan, belok kiri lalu lurus sampai ketemu papan nama di gedung yang memiliki banyak kuda."


"...."


Rain samar-samar mengerti. Ia kemudian berterima kasih dan bergegas pergi.


Adapun wanita itu masih tetap berdiri sambil memakan kuenya. Namun ia bertanya-tanya siapa pria itu.


Bajunya cukup bagus, mungkin dia seorang pelajar? Atau mungkin pedagang muda?


"Hei , menurutmu siapa orang itu?" tanya wanita itu kepada temannya.


"Aku tidak tahu tetapi dia manis. Mungkin dia berasal dari keluarga berada.


"Iya, aku juga berpikir begitu."


***


Rain mengikuti langkah-langkah yang diberikan wanita sebelumnya. Terus lurus sampai pertigaan lalu belok ke kiri hingga ia akhirnya menemukan bangunan dengan halaman yang berisikan kuda dan kereta. Namun sayangnya ia tidak tahu langkah selanjutnya.


Di tempat ini bukan hanya dia yang ingin menyewa kereta. Banyak orang khususnya pedagang terlihat memilah kereta yang ingin di sewa. Kebanyakan adalah kereta barang tanpa atap yang terbuat dari kayu. Jika dibandingkan dengan kereta barang milik tuannya, kareta-kereta di sini terlihat menyedihkan. Setidaknya walau kereta barang, bahkan kereta tuannya itu masih memiliki motif dan dicat. Namun kereta-kereta di sini hanyalah kumpulan kayu yang dipaku untuk membentuk gerobak yang ditarik oleh kuda.


"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"


Sikap Rain yang diam di pintu masuk jelas menarik perhatian para karyawan. Seorang karyawan wanita yang berusia 20-an dengan rambut pirang yang dikucir mendatanginya dengan senyum ramah. Ia melihat pakaian pria muda itu berasal dari kain berkualitas tinggi. Dia setidaknya memperkirakan jika pria muda ini adalah seorang cendekiawan muda.


"I-itu, aku ingin menyewa kereta barang."


Rain tergagap dalam menjelaskan. Wajar saja, terkadang seorang introvert yang tidak pernah kena bully bisa mengalami demam panggung, apalagi jika itu adalah seorang anak lelaki yang sepanjang hidupnya mengalami pem-bully-an.


"Tentu saja Kak, silahkan lihat kereta yang kamu butuhkan. Kami menyediakan kereta barang berukuran kecil hingga besar. Apa kamu ingin menyewa dalam bentuk jarak atau hari?"


Rain tidak mengerti dengan semua itu.


Besar? Kecil? Apa bedanya?


"Anu ... Bisa kamu jelaskan?"


Pelayan itu dengan sabar memberi penjelasan.

__ADS_1


"Kak, kereta berukuran kecil ditarik oleh seekor kuda dan bisa menarik hingga 200kg. Adapun untuk berukuran sedang hingga besar ditarik oleh sepasang kuda dengan beban maksimal 300 hingga 500kg. Sementara bentuk penyewaan untuk dalam bentuk perjalanan dihitung berdasarkan jarak yang ditempuh dan hanya berlaku di kota, Kemudian untuk penyewaan per hari dihitung berdasarkan durasi penyewaan."


"...."


Rain berusaha memutar otaknya yang nyaris tidak pernah ia gunakan selama hidupnya.


Apa aku harus menyewa yang kecil atau yang besar? Hmm ... walau jumlah yang kami beli terlihat banyak, tetapi sepertinya cukup ringan. Mungkin kereta kecil sudah cukup. Kami juga hanya menggunakannya untuk kembali ke mansion. Apa dihitung pakai jarak sudah cukup?


Rain sama sekali tidak mengetahui konsep matematika. Namun setidaknya dia paham, mereka tidak mungkin seharian di pasar. Jadi sudah jelas menyewa untuk satu hari jelas merugikan.


"Etto ... aku ingin menyewa gerobak kecil dengan menggunakan metode jarak."


Pelayan wanita itu tersenyum sebelum memberi pertanyaan lain.


"Punya kartu member, Kak?"


"...."


Sial! Makanan apalagi itu?!


Kebuntuan terus menghantui pikiran Rain. Setelah berbagai pertanyaan dan pertimbangan yang dia lakukan, akhirnya otak Rain yang kurang pintar itu telah mengetuk palu dan menetapkan keputusan.


Rain memutuskan untuk menyewa kereta kecil. Untunglah penyewaannya juga termasuk kusir, jika tidak ia sama sekali tidak tahu bagaimana mengendarai kuda dan Justin juga terlalu jauh. Karena ia menyewa berdasarkan jarak, ia harus membayar 15 koin perunggu per km. Tentu saja perhitungannya tidaklah akurat karena hanya berdasarkan perkiraan dari kusir kereta. Bagaimanapun kemajuan ilmu pengetahuan khususnya kesehatan, biologi, matematika, sosiologi, ekonomi, dan hukum sangatlah rendah. Mungkin matematika masih bisa dianggap mumpuni sayangnya matematika yang digunakan adalah matematika terapan untuk ilmu lain seperti ekonomi dan teknik sehingga pondasinya secara teori masih belum terbentuk dengan sempurna.


Patut disyukuri bahwa kusirnya cukup baik untuk membawanya ke tempat Justin berada. Ketika mereka sampai, seratus lebih xylospongium telah berbaris rapi di jalan. Selama kepergian Rain, ternyata Justin telah membeli banyak xylospongium di kios terpisah kemudian ia menyewa beberapa orang untuk membantu membawa dan menjaga semua xylospongium. Untunglah xylospongium dianggap sebagai barang kelas tiga sehingga tidak ada yang berniat mencurinya. Namun tindakan memborong barang kelas tiga itu menarik perhatian semua orang. Tidak ada yang tahu kenapa anak muda ini memborong begitu banyak pembersih bokong.


Apa dia ingin membuat bisnis toilet umum?


Apa dia ingin menimbun xylospongium?


Berbagai spekulasi muncul dalam pikiran semua pejalan kaki. Namun Justin tidak memerdulikan semua itu. Setidaknya tidak ada yang mengganggunya, maka ia hanya akan membiarkan semua obrolan itu.


Dari atas kereta, Rain memanggil Justin. Ia masih memiliki perasaan inferioritas kepada orang-orang, sehingga bahkan jika itu bukan tuannya dan seumurannya dengannya pun ia masih memberi panggilan kehormatan.


Justin hanya mengangguk. Walau tidak muncul di wajahnya, tetapi ia masih sangat berhati-hati dengan Rain. Awalnya ia memerintahkan Rain untuk mencari penyewaan kuda untuk membiarkan budak itu kabur sehingga tidak ada alasan bagi budak itu untuk mendekati tuannya. Walau itu terlihat merugikan tuannya tetapi itu jauh lebih baik daripada resiko keamanan tuannya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan seorang calon pembunuh berkeliaran bebas di dekat tuannya?


Justin jelas tidak mungkin membiarkan semua itu terjadi. Baginya, keselamatan tuannya adalah prioritas, bahkan di atas kehidupannya sekalipun.


"Bawa semua xylospongium ke kereta," ucap Justin.


"Baik!"


Rain turun dari kereta kemudian ia mulai mengangkut xylospongium dan meletakkannya di atas kereta. Selain dia dan Justin terdapat dua orang lain dan ditambah kusir yang membantu.


Selama proses itu, Rain dengan rajin mengangkut semua, ia sama sekali tidak mengeluh. Ia punya pandangan sederhana, 'Jika seseorang baik padaku, maka aku akan baik padanya.' Dengan asumsinya bahwa tuannya adalah orang yang baik, maka otomatis Rain akan menjadi anjing yang patuh kepada tuannya.


Di tengah pekerjaannya mengangkut xylospongium, Rain melihat seorang gadis kecil dengan pakaian compang camping, rambut seperti sarang burung, dan tubuhnya yang dekil. Bocah itu menatap Rain dengan muka memelas. Rain merasa iba, ia mengingat masa-masa ia memiliki perilaku dan keadaan yang serupa. Sekarang siapa yang menduga ia sudah tidak mengalami semua itu.


Rain adalah seorang pemuda yang masih berpikiran mulia, ia memiliki rasa keadilan yang tinggi. ia telah mendapat kehidupan yang lebih baik, jelas ia harus membantu orang lain.


Rain meninggalkan perkerjaan dan pergi berlari ke tempat penjual roti. Di pasar ini kios roti cukup banyak. Namun kebanyakan adalah roti tawar yang keras karena target mereka adalah orang-miskin, sangat berbeda dengan toko kue semi permanen yang menyediakan roti-roti dengan kualitas yang lebih baik.


Justin yang melihat Rain pergi ke kios roti tidak terlalu peduli. Ia menganggap bocah itu lapar, jadi biarkan saja.


Tidak begitu lama, Rain keluar sambil memegang sebuah roti tawar di tangannya. Lalu ia memberikannya kepada anak malang itu.


"T-terima kasih."


Anak kecil itu tersenyum malu setelah mengambil roti lalu berlari pergi seperti kucing yang mendapat ikan.

__ADS_1


Rain tersenyum senang kemudian dia melanjutkan pekerjaannya.


Seolah gula ditemukan oleh seekor semut, gerombolan semut lain datang. Sama halnya dengan Rain, ia didatangi 7 pengemis baru.


"What?"


Rain merasa agak ragu tapi ia masih membelikan mereka roti per orang.


Kemudian ....


"Serius anying?!"


Kini 12 pengemis datang mengerumuninya. Dari anak-anak sampai nenek-nenek datang dengan wajah memelas.


"Aku tidak bisa membeli roti lagi," ucap Rain.


Rain cukup sadar darimana sumber uangnya berasal. Ia tidak mungkin menghambur-hamburkan uangnya begitu saja.


"Kakak, kamu tadi membelikan untuk anak itu, kenapa kamu tidak membelinya untuk kami?"


"Kakak, jangan pilih kasih donk, kami juga belum makan."


"Nak, nenek butuh sesuap makanan. Tolong bantu nenek."


Begitu banyak permohonan yang terarah kepada Rain, seolah kini ia adalah seorang jutawan yang dermawan.


"Anu ... sungguh, aku tidak punya uang lagi."


Rain mulai berusaha menjauh dari gerombolan pengemis itu. Namun mereka mengerumuninya seperti lalat yang melihat kotoran. 12 orang pengemis tidaklah sedikit, dan itu juga seolah memiliki daya magnetis tersendiri, beberapa pengemis lain mulai berdatangan.


T-tolong ....


Rain ingin menangis. Ia belum pernah menjadi pusat perhatian dan harapan sebelumnya. Ini jelas menjadi tekanan bagi mentalnya.


Kerumunan gembel itu jelas mengganggu proses pengangkutan xylospongium. Hingga akhirnya salah satu pengemis menginjak sebuah xylospongium yang tergeletak di trotoar.


"Pergi kalian!"


Dari belakang Rain, teriakan kemarahan Justin tiba-tiba meledak. Itu membuat semua pengemis ketakutan. Bahkan Justin mendatangi mereka sambil mengayun-ayunkan stik pembersih bokong itu seolah ia ingin memukul semua orang dengan benda itu. Sontak saja semua pengemis itu kabur dengan panik.


Sangat jelas Justin marah. Padahal dia sudah capek-capek membungkus spons dengan daun agar tidak kotor ketika diletakan di trotoar. Namun dengan santainya orang-orang bodoh itu menginjak hasil kerja kerasnya seperti menginjak kotoran ayam.


Justin kemudian memuntahkan amarahnya kepada Justin.


"Lihat?! Kau lihat akibat kebodohanmu? Apa kau tidak mengerti, kebaikan tanpa tanggung jawab hanya akan membuat bencana!"


"Maaf ...."


Rain hanya bisa menundukkan kepalanya dengan rasa menyesal. Bahkan walau Justin hanya sedikit lebih tinggi darinya, Ia tidak berani melawan atau menatap matanya.


"Apa kau tidak pernah berpikir kenapa tuan hanya membelimu? Apa kau begitu sombong karena tuan memilihmu? Jika tuan mau, dia bisa membeli 100 budak sepertimu di tambang. Kau kira kenapa dia tidak melakukannya?! Itu karena dia memikirkan tanggung jawab yang dia tanggung!"


Kemarahan Justin betul-betul pecah kali ini. Dia terus memarahi Rain.


"Apa kau tidak pernah berpikir berapa banyak biaya yang dia tanggung hanya untuk merawatmu? Dan sekarang kau dengan naifnya berperilaku seperti seorang dermawan dan menghancurkan pembersih bokongnya? Dasar tidak tahu malu!"


Selama celotehan Justin berlanjut tidak ada seorang pun yang ingin menghentikannya. Alasan utama adalah karena Justin menggunakan pakaian formal yang terlihat mahal sehingga menunjukkan otoritasnya dan membuat orang yang ingin menghentikan kemarahannya menjadi ciut. Bagaimanapun mereka tidak mau terkena getah dari kemarahan seorang yang memiliki status tinggi.


Setelah sesi marah selesai, dan Justin puas meneriaki Rain, mereka kembali mengangkut semua xylospongium. Adapun Rain hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca. Dengan cepat semua xylospongium telah diletakkan di kereta. Justin duduk di dalam kereta sementara Rain duduk di dekat kusir. Mereka pun bergerak kembali ke mansion.

__ADS_1


__ADS_2