THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
ATTACK!(4)


__ADS_3

Markas yang telah digempur oleh pasukan Fertiphile bukanlah markas kecil. Banyak lantai dan kamar di sana. Butuh memeras lebih banyak usaha untuk dapat menjelajahi semua seluk-beluk tempat ini.


Markas ini juga memiliki sebuah laboratorium yang mengkhususkan dalam eksperimen manusia. Kebanyakan dari hasil eksperimen itu berakhir dengan kematian tetapi ada beberapa pula yang munjukkan hasil yang baik. Diantara semua hasil eksperimen itu hanya Alpha yang dapat dikatakan sebagai hasil sukses.


Alpha tidak tahu sudah berapa lama dia menangis saat ini. Dia tidak bisa melawan bahkan ketika tuan putri yang seharusnya ia lindungi diambil paksa darinya. Jika bukan karena gelang sialan ini dia pasti bisa menghancurkan kepala penjaga yang mengambil tuan putrinya.


Dalam jeruji besi yang terletak di lantai bawah tanah, dia hanya seorang diri di dalam sana. Tidak ada lagi tuan putri yang selalu bersama dengannya. Kini Alpha dapat merasakan apa yang disebut sebagai perasaan kehilangan.


Alpha sadar ia masih lemah. Tubuhnya bukan dalam keadaan sehat saat ini. Jika bukan karena usaha untuk meredakan deviasi mana yang ia alami, pasti saat ini ia telah mati.


Namun hanya sekali ini saja, berikan dia kesempatan untuk melindungi tuan putrinya. Walau ia baru bertemu dengan gadis itu, dia ingin menyelamatkannya bahkan bila itu membahayakan nyawanya.


Slash! Slash!


Suara tebasan didengar oleh Alpha. Dia melihat di balik jeruji besi sepasang kepala telah berguling di lantai yang telah diwarnai oleh darah.


Alpha tergidik ngeri melihat situasi ini. Dia tahu bahwa kedua kepala itu adalah milik penjaga yang berdiri  di depan jeruji besinya.


Kemudian di balik gelapnya dunia, sosok bersiluet muncul. Itu adalah sosok pria tua familiar bagi Alpha. Orang tua dengan uban di seluruh kepalanya adalah seseorang yang pernah ia lihat di mansion beberapa kali yang dikenal sebagai Alen.


Alen membawa sepasang belati sihir di kedua tangannya. Belati ini adalah item sihir kelas atas tetapi kini motifnya yang unik telah dibasahi oleh darah.


"Mundur."


Alen tidak mengulangi ucapannya sehingga Alpha tidak mengerti dengan ucapan dari pria tua.


Slash! Slash! Slash! Slash!


Alen menggunakan belatinya untuk memotong jeruji besi ini seperti memotong kertas. Kemudian ia melihat benda aneh yang ada di tubuh Alpha. Itu terlihat seperti sebuah gelang leher dan sepasang gelang lengan yang mengandung kekuatan sihir. dia masuk ke dalam dan hendak menghancurkan benda itu.


"T-tidak, tidak perlu, Tuan."


Alpha tergagap ketika ia baru sadar setelah melihat kemampuan Alen. Ia belum pernah melihat Alen menggunakan belati sebelumnya sehingga ia sangat terkejut.


Walau ia sangat membenci gelang leher dan lengan yang menyegel kekuatannya, tetapi ia tahu bahwa benda ini juga alasan kenapa ia masih bisa hidup.


Alan yang tidak mengerti kenapa Alpha menolak untuk borgolnya dihancurkan tidak memberikan balasan tetapi dia mengikuti perkataan Alpha.


"Kita akan kabur, ikuti aku."


"Baik!"


Keduanya bergegas keluar dari sana dan berlari di lorong. Walau Alen sudah tua tetapi kekuatan fisiknya masih tetap tidak dapat dianggap enteng. Bahkan sebenarnya dia jauh lebih cepat dari rata-rata assassin.


Sebenarnya Alen pergi ke ruang bawah tanah untuk menyelamatkan Merry. Dia sudah menangkap beberapa pejaga dan melakukan interogasi. Semua ucapan mereka mengarah pada ruang kurungan itu. Namun kenapa Merry tidak ada di sana?


"Apa kau tau di mana Nona Muda Merry berada?"


Alen bertanya tanpa ekspresi kepada Alpha yang  berjuang berlari untuk memperkecil ketinggalannya.


Alpha tidak menjawab tetapi ekspresinya sangat muram setelah mendengar pertanyaan itu.


Alen sepertinya memahami maksud dari ekspresi anak ini sehingga ia pun hanya bisa mendecak kesal karena sepertinya dia datang terlambat maka misinya telah gagal.

__ADS_1


Alen tiba-tiba merasakan segerombolan orang berlari dari arah depan mereka. Sayang sekali dia bukanlah ranger yang memiliki sensitivitas indera yang kuat. Bergegas Alen membawa anak yang ia selamatkan dan bersembunyi di balik sudut-sudut lorong.


Sekelompok orang itu terus berlari mendekat sambil membawa tongkat-tongkat yang memiliki cahaya di ujungnya. Kemudian Alen melihat bahwa semua orang ini memakai jubah. Hanya dengan melihat tongkat dan jubah yang mereka bawa, Alen yakin bahwa ini adalah sekumpulan penyihir.


Jika ini dalam keadaan normal maka para penyihir pasti bisa menjadi makanan empuk baginya yang merupakan assassin bila bertarung di ruang gelap dan terbatas ini. Sayangnya saat ini Alen membawa seorang anak yang ia tahu bahwa anak ini cukup dekat dengan tuan muda pertama dan Merry.


Ini sulit bagi Alen.


"!!"


Alen terkejut ketika seorang penyihir berjubah merah dengan tato di lengannya yang membawa sebuah kristal bercahaya tiba-tiba menunjuk ke arahnya.


"[Lightning]!"


Serangan mantra tingkat tiga dengan elemen petir tiba-tiba terbang ke arah Alen.


Alen yang masih membawa Alpha bergegas menghindar dengan lincah. Ia kemudian muncul di depan orang-orang itu lalu menurunkan Alpha.


Alpha secara naluriah bersembunyi di belakang Alen.


Alen mengambil kedua belatinya lalu mengambil kuda-kuda menyerang.


"[Moonlight Dagger]," ucap Allen.


"!!"


"Magic?!"


Para penyihir adalah kaum yang paling sensitif dengan energi mana. Mereka serentak kaget ketika melihat belati yang dibawa oleh Alen merespon dengan mengeluarkan cahaya putih seperti sinar bulan.


Dia adalah assassin pengguna aura dan mana.


"Pergi ke tempat yang aman."


Setelah melihat bahwa Alpha mengangguk, Alen kembali memfokuskan dirinya pada para penyihir.  Casting telah selesai, sehingga ia langsung menyerang.


Alen menghilang dari pengelihatan. Sebagai assassin, dia memiliki kemampuan kamulase yang amat baik.


Para penyihir memegang tongkat mereka lebih erat. Mereka tahu bahwa di tempat gelap dan terbatas seperti lorong ini membuat mereka seperti sekumpulan bebek di lubang buaya. Mereka rentan terkena sergapan dari seorang assassin.


Slash!


Sinar putih yang membentuk garis panjang tiba-tiba muncul di leher seorang penyihir yang berada pada barisan depan. Setelah sinar itu menghilang, kepala penyihir tersebut langsung berguling ke tanah dan lehernya pun menyemburkan darah merah segar.


"Sial! Dia menyerang! assassin itu menyerang! Cepat baca mantra det-!"


Sebelum penyihir lain berteriak panik, kepalanya telah terpenggal dengan menyisakan potongan rapi di lehernya.


"HAAA!! [Sense of Temperature], [Wave of View], [Eagle's Eyes], [Magical Shield], [Shield of  Lith], [Frost Shield]!"


Para penyihir bergegas meng-casting mantra berjenis deteksi dan pertahanan yang rata-rata adalah mantra tingkat 3.


Dengan dilindungi oleh mantra-mantra, mereka terus mengawasi langit-langit, kiri-kanan, dan depan-belakang.

__ADS_1


Namun tidak ada tanda-tanda penyerangan. Hanya keheningan. Tidak ada satupun dari mereka bergerak. Semua orang berfokus untuk menemukan assassin yang bersembunyi layaknya jarum di tumpukan jerami. Mereka tidak lagi memerdulikan Alpha yang telah kabur dengan mengambil rute yang berbeda.


Kewaspadaan mereka berada pada level tertinggi tetapi mereka tidak pernah menduga dari belakang seorang penyihir berjubah merah dengan tato di lengannya, sosok bersiluet hitam muncul dan langsung memberikan serangan.


"AARRGHH!"


Punggung penyihir berjubah merah itu disayat kemudian garis putih muncul sekilas di lehernya. Penyihir itu terdiam dengan mata melotot lalu kepala dan bola kristal yang ia bawa berguling di lantai.


"Itu dia! Serang! [Whipwhirl], [Shockwave], [Five-Spark Arrows]!"


Para penyihir menyerang tetapi sang assassin menghindari semuanya dengan mudah.


Alen sama sekali tidak pernah ragu untuk melakukan pembunuhan massal kepada para penyihir. Ini adalah momen yang tepat karena di kelompok ini tidak terdapat satu pun warrior sehingga serangan jarak dekat para penyihir dapat dipastikan tidak ada artinya.


"Berhenti!"


Tiba-tiba suara keras muncul dari tempat di mana Alen dan Alpha pertama kali muncul. Alen yang masih bersembunyi di antara kegelapan untuk melakukan serangan senyap secara refleks melirik sumber suara. Dia terkejut ketika melihat segerombolan penyihir lain dari jalan yang mereka lalui sebelumnya. Para penyihir itu juga membawa tongkat sihir bercahaya yang diketahui bahwa cahaya tersebut berasal dari mantra tingkat 1 [Continual Light].


Namun hal yang paling mengejutkan adalah di barisan depan para penyihir itu sedang berdiri seorang penyihir berjubah gelap yang tersenyum mengerikan sehingga menampilkan salah satu gigi depannya yang kuning.


Penyihir itu sedang membawa pedang yang diarahkan kepada leher seorang tawanan yang ia tahan. Tawanan itu tidak lain adalah Alpha.


"Jika kau tidak mau anak ini mati, tunjukan dirimu!"


Eldnest tidak pernah menyangka bahwa dia harus menawan objek labnya yang sukses. Bahkan bila semua bawahannya mati, ia tidak sudi membunuh percobaannya yang sukses ini. Bagaimanapun objek ini adalah masa depan umat manusia! Selain itu kebanyakan penyihir yang ia bawa saat ini hanyalah alchemist yang tidak tahu mantra serangan.


Namun apakah assassin yang membawa pergi A-25 mengetahui itu? Tentu tidak!


Dengan menggunakan mantra tingkat 2 [Mute], Eldnest telah menggunakan mantra itu untuk membungkam A-25 agar tidak dapat mengatakan apa pun.


Alen kembali muncul di belakang kelompok penyihir pertama. Bahkan bila dia assassin, untuk menghindari serangan dari banyaka penyihir secara terus menerus bukanlah hal mudah. Selain itu saat ini Alpha yang merupakan salah satu orang yang harus ia selamatkan tertangkap.


Ia harus memilih apakah dia harus kabur dan meninggalkan Alpha atau dia harus menyelamatkan Alpha bahkan dengan mengorbankan nyawanya.


Alen sudah tua, sehingga ia tidak akan ragu melakukan tindakan kedua jika sang count memerintahkannya. Namun ia meragukan bahkan jika dia harus mati, apakah anak ini akan selamat? Apakah anak ini dapat melarikan diri?


Tidak mungkin!


Kelompok penyihir yang dipimpin Eldnest bergabung dengan kelompok sebelumnya. Seperti sebelumnya, ia berada di barisan terdepan sambil menyandera Alpha.


"[Fireball]!"


Bola api dari mantra tingkat 3 terbang lurus ke arahnya.


Dengan sigap Alen menyilangkan kedua belatinya ke depan untuk menangkis serangan bahkan ia mengucapkan mantra.


"[Magical Shield]."


BOOM!


"!!!"


Eldnest terkejut melihat bahwa serangan yang ia lakukan dapat ditangkis oleh Alen.

__ADS_1


"Jadi kau pengguna mana!"


Alen tidak membalas keterkejutan pihak lawan. Namun ia memberi kuda-kuda bertahan. Dia juga melirik ke belakang untuk berjaga-jaga apakah para penyihir di sana juga melakukan serangan kepadanya.


__ADS_2