THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
MURHUST(4)


__ADS_3

"Ada apa Alex?"


Regis melihat kerutan yang muncul di dahi Alex. Dia tahu, orang ini sangat jarang bicara jika tidak dipicu terlebih dahulu.


"Tempat ini ... bau."


"Apa?"


"Terlalu banyak bau keringat. Apa ini? Apa mereka tidak pernah mandi?"


Alex menunjuk kumpulan pekerja yang berbaris menyambut mereka. Walau dikatakan menyambut, lebih tepatnya dipaksa berbaris untuk menghormati tuan mereka. Barisan orang yang ditunjuk Alex adalah kumpulan budak pekerja. Kulit mereka penuh bekas luka, kotor, dan mengeluarkan bau.


"Hehehehe ... Alex, kau tahu mereka budak," ucap Regis.


"Setidaknya kamu bisa menyuruh mereka mandi! Lihat, astaga ... seberapa kotornya mereka!"


Suara keluhan Alex sangat keras. Semua orang yang menyambutnya mendengar semua itu. Para budak yang menjadi objek keluhannya menjadi malu, sementara para pengurus tambang berkeringat dingin, terutama penanggung jawab tambang yang berada di belakang kedua bangsawan ini. Dia benar-benar gugup. Dia menggepal tangannya yang mulai berkeringat.


"Kita tidak bisa membersihkan mereka semua. Kamu tahu, di tambang keberadaan air itu cukup langka."


Regis cukup bingung dengan perkataan Alex. Dia tidak melihat perbedaan besar terhadap budak-budak ini. Yah ... jika dibandingkan dengan budak ****, tentu budak pekerja jauh lebih kotor tetapi bukankah itu sudah menjadi pemandangan normal?


"Hah ... menjijikan. Apa kalian tidak merasa nyaman berdampingan dengan kotoran berjalan?"


Kali ini pertanyaan Alex tidak mengarah pada Regis, justru ia menatap kebelakang ke arah penanggung jawab tambang.


Penanggung jawab itu bingung mau menjawab apa. Dia menggepalkan kedua tangannya yang basah dan menjawab dengan tergagap.


"T-tuan Muda, walaupun sebenarnya menjijikan tetapi demi kemakmuran county dan negara, kami rela melakukannya."


Alex tidak membalas, sebaliknya ia kembali mengerutkan kening. Agaknya dia kurang menyukai jawaban yang patriotis seperti ini karena selalu dimanisi oleh retorika. Namun ia tidak mau memperpanjang masalah. Ia menjepit hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk kemudian melanjutkan berjalan.


Di sepanjang tambang yang besar ini, ia selalu melihat hal sama yaitu budak yang bekerja, penjaga dengan cambuk, dan batu mana.


Hmm ... mungkin ada 5000 sampai 8000 budak? Jumlah cukup banyak seperti yang diharapkan dari tambang mana stone terbesar di timur tenggara kerajaan dan sumber pendapatan utama County of Morhust.


Alex tidak lagi kaget jika secara de facto Regis telah menjadi pewaris Count of Morhust. Alex ingat bahwa Regis memiliki 4 saudara dan 2 saudari. Jika bukan karena Regis menemukan dan mengelola tambang ini, maka perebutan suksesi warisan pasti sangat alot.


Sibuk dengan pikirannya sendiri, Alex dikagetkan oleh suara teriakan bariton seseorang.


"Tangkap bocah itu!!"


6 ksatria yang selalu berada di belakang Regis dan Alex bergegas berlari ke depan membuat blokade. Mereka menarik pedang mereka dari sarung tetapi anak laki-laki yang berlari ke arah mereka dengan pedang berdarah tidak berhenti.

__ADS_1


Clang ... cling ....


Para ksatria dan bocah itu beradu pedang. Sangat tidak seimbang karena para ksatria menyerang dengan menggunakan aura mereka. Sehingga hanya dalam beberapa kali serangan, pedang lusuh itu mengalami kerusakan. Merasa bahwa ia akan kalah, bocah itu mundur dan mengambil segenggam pasir. Ia melemparnya ke arah para prajurit.


"Argghh! Sial!"


Para ksatria berteriak marah karena mata mereka perih dan menjadi buta sesaat.


Bocah itu mengambil kesempatan, sekali lagi ia mengambil segenggam pasir dan melemparnya ke arah para ksatria tersisa. Ia kemudian bergegas berlari menuju kedua bangsawan muda itu.


Regis sangat kesal dengan ini semua. Dia tidak pernah berpikir bahwa ksatria yang ia bawa akan menjadi sebodoh ini ketika menghadapi satu orang budak. Tidak masalah jika itu dengan bangsawan lain, tetapi ia kini sedang bersama satu-satunya teman sampahnya! Alex. Dia sudah menganggap Alex sebagai saudara persampahannya. Ia tidak bisa lebih malu dan marah lagi.


Regis mulai mengumpulkan aura-nya di kaki kanannya. Kemudian menendang bocah budak yang berlari ke arah mereka.


"Berhenti!" teriak Alex. Namun sudah terlambat.


Bocah itu merasakan bahaya setelah melihat tendangan yang menuju ke arahnya. Bergegas, ia menggunakan pedangnya untuk memblokir. Namun tendangan itu jauh lebih kuat dari yang ia duga. Karena pedang mengalami kerusakan akibat pertempuran sebelumnya, pedangnya dengan mudah patah menjadi dua sementara tendangan kuat itu masih tetap masuk dan menendang perut bocah itu.


"AAARRGGHH!!!"


Bocah itu terhempas ke belakang beberapa meter. Ia tidak dapat bernapas dan memegang perutnya yang tertendang. Posisinya kini seperti landak yang membulat di tanah. Ia penuh rintihan kesakitan dan mulai muntah.


"Oek!"


Karena ia belum makan apa-apa seharian, hanya air yang keluar dari muntahannya itu. Bergegas beberapa ksatria dan prajurit penjaga tambang datang ke arahnya mulai menendangnya dengan marah. Salah satu bahkan mulai mengangkat pedangnya dan akan menusuknya.


Kali ini teriakan itu lebih dingin dari sebelumnya. Para prajurit dan ksatria menggigil bahkan Regis merasakan tekanan mental akibat suara itu.


Alex sudah berada dalam kondisi sangat tidak nyaman karena harus mengulang dua kali ucapannya. Dia terbiasa baik itu saat sebagai Sheol (Archdeus) ataupun sebagai Tuan Muda setiap ucapannya tidak pernah dia ulang. Itu karena para bawahannya memiliki pendengaran tajam untuk langsung mendengar dan mematuhi perkataanya.


Alex berjalan ke arah bocah itu. Para prajurit dan ksatria agak ragu untuk menahan atau membiarkan Alex. Mereka melirik Regis dan mereka hanya melihat anggukan ringan. Mereka mulai minggir dan menghasilkan jalan untuk Alex.


Alex di depan bocah yang tersungkur lemah itu mulai menurunkan pandangannya. Ia kemudian duduk berlutut dan membawa bocah itu dalam pelukannya. Alex kemudian berdiri sementara ia menggendong bocah itu. Walau umur mereka setara, Alex lebih tinggi satu kepala dan lebih berisi. Walaupun ia tidak memiliki banyak otot, setidaknya ia tidak sekurus bocah budak itu.


"Hmm ... sangat ringan," gumamnya.


Regis melihat pemandangan konyol itu dan mendekat.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Aku akan membawanya. Apa kamu bisa menjualnya padaku?"


Regis tersentak. Ia sudah bingung dengan Alex yang mengendong seorang budak kotor, kini ia bahkan ingin membelinya.

__ADS_1


Regis melihat wajah si budak. Walaupun cukup kotor, ia tahu bahwa bocah itu memiliki bentuk wajah yang cukup imut. Kemudian memori silam berputar di otaknya.


Ia dan Alex telah cukup lama berteman setidaknya sudah 7 tahun. Itu dimulai dari kunjungan keluarganya ke County of Fertiphile dalam acara Perayaan Kerjasama antar dua Keluarga.


Walau hanya sesaat, Regis telah jatuh pada pandangan pertama ketika ia melihat Alex. Dia tahu anak itu memiliki sifat yang sama dengannya. Ia dan Alex sama-sama SAMPAH. Walaupun mereka menempuh jalur berbeda yaitu Alex dengan sifat pemalasnya dan Regis dengan sifat cabulnya tetapi keakraban sebagai manusia sampah terjalin dengan baik.


Setiap kali mereka bertemu, mereka akan seharian bersama layaknya biji (IYKWIM). Mereka akan berjalan-jalan di kota ataupun bermain sampai malam. Kemudian ketika mereka akhirnya telah puber, Regis akan mengajaknya minum sampai mabuk dan pergi ke rumah bordil.


(Note: masyarakat pada cerita ini menganggap bahwa umur 15 tahun sebagai usia dewasa)


Walaupun pergi ke tempat bordil, sebenarnya hanya Regis yang menikmati. Ia selalu melihat Alex yang tidak pernah terangsang terhadap berbagai jenis wanita bordil seperti milf dan loli. Bahkan Regis pun pernah menawari Alex dengan sekumpulan ladyboys dan para androgini. Namun Alex tidak pernah tergerak.


Sudah lama Regis tertekan oleh kondisi satu-satunya temannya ini. Ia bahkan tidak bisa tidak sedih ketika ia memikirkan bahwa temannya mungkin telah terkena impotensi pada usia muda. Hatinya hancur ketika memikirkan temannya itu tidak dapat menikmati kenikmatan surga seperti itu.


Kemudian hari ini telah tiba. Hari ketika ia melihat Alex menggendong messiah yang telah ia tunggu-tunggu.


Dia akhirnya mendapatkannya.


Sebutir air mata muncul di matanya. Regis memegang bahu Alex.


"Alex, selamat datang di dunia orang dewasa."


"Hah???" ucap Alex dengan bingung.


"Jangan khawatir sobat, walau awalnya wajahmu tiba-tiba merah ataupun jantungmu seperti akan meledak, itu normal sobat."


"Apa?"


Eh bentar, jika begitu apakah dia akan menjadi yang di atas apa di bawah? Hmm ... melihat dari tinggi dan wajahnya, dia sebenarnya lebih cocok di atas.


"Alex! Walaupun tempatnya 'parkirnya' berbeda tetapi percayalah kamu pasti akan tetap puas! Jangan khawatir sobatku. Aku akan selalu mendukungmu."


Regis berteriak haru dan semakin mengenggam bahu Alex dengan semakin kuat.


"Apa yang kau katakan!? Kau bahkan belum menjawabku! Apa aku bisa membeli anak ini?"


"Tentu saja! Tidak, kau tidak perlu membelinya. Ambil saja dia, kalian sudah ditakdirkan bersama," teriak Regis dengan mata berkaca-kaca dan senyum bahagia.


Alex tidak memerdulikan wajah Regis saat ini. Ia malah sempat-sempatnya mengejek perkataan Regis di pikirannya.


Takdir?! Heh, jangan membuatku muntah. Sejak kapan diriku yang hebat ini akan dikendalikan oleh hal lemah seperti itu.


Alex tentu saja bahagia karena bisa memiliki anak ini tanpa membelinya, itu membuat nilai Regis naik satu tingkat dalam pandangannya. Ia kemudian mengelus-elus rambut budak barunya. Budak itu masih tegang karena ketakutan dan ditambah dengan elusan ringan itu membuat tubuhnya semakin menegang tetapi pelukannya di leher Alex juga semakin erat dan dia pun masih memenjamkan mata lebih kuat.

__ADS_1


Budak itu mendengar semua pembicaraan. Dimulai dari makian para prajurit bahkan suara super dingin yang menusuk telinganya. Kini, pemilik suara menakutkan itu telah menjadi tuan barunya. Ia dengan putus asa dan ketakutan menunggu siksaan dari tuan barunya yang menakutkan itu.


Namun terlepas dari apa yang mereka pikirkan, sepertinya semua orang telah melupakan percobaan pembunuhan yang baru saja terjadi.


__ADS_2