THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
FARM & FURIOUS(3)


__ADS_3

Clotildy tidak mau mengakuinya tetapi dia benar-benar tidak nyamanan dengan pandangan semua orang yang saat ini tertuju padanya.


Dia dapat merasakan bahwa semua pandangan yang ada di ruangan ini seolah menginginkan dirinya tiada.


Dia tidaklah bodoh. Dia kurang lebih tahu apa yang saat ini sedang dihadapi oleh ibunya.


Gurunya, Lambert pernah berkata padanya bahwa cepat atau lambat dinasti ini akan diguncang oleh arus sosial yang sangat besar.


Keinginan para bangsawan pria yang tidak mau dikendalikan oleh wanita semakin jelas terasa. Ini memang hanya terjadi pada kalangan atas karena untuk lapisan akar rumput, kondisi masyarakat masih mengikuti arus dominan kerajaan yaitu arus patriarkis.


Namun tentunya Clotildy tidak akan mundur begitu saja.


Dia melangkah masuk ke ruangan menuju ke tempat sang ibunda yang sedang bertakhta.


"Matriark."


Dia membungkuk penuh hormat kepada ibunya.


"Clotildy, anakku. Bagaimana kabarmu?"


"Saya seperti di hari-hari sebelumnya. Ibu, sebagaimana arahanmu, saya dan Joan akan pergi menuju daerah sahabat kita."


Sayangnya mereka berdua saat ini sedang berada di ruangan yang memiliki banyak penonton. Jika tidak, sudah pasti Eugenie akan memeluk anaknya yang tersayang dan menangis sejadi-jadinya.


Eugenie merasa dia merupakan ibu yang buruk.


Kondisi yang saat ini dialami oleh county-nya tidak lebih disebabkan oleh perang saudara antara anak perempuannya dan anak lelakinya.


Bagaimana kedua anaknya bisa sampai pada kondisi saat ini?


Dia menghela napas penuh penyesalan.


"Ibu, sebagaimana perintahmu, saya akan pergi menemui para lord."


Eugenie mengangguk sedih kepada anaknya.


Sebelum anaknya pamit dari ruangan, Eugenie berdiri kemudian memeluk anaknya. Setetes air mata mengalir di pipinya.


"Gadis kecilku, kembalilah dengan selamat."


"Ibu ..."


Walaupun Clotildy telah berada pada usia puber, tetapi dia tahu dia akan selalu menjadi anak-anak dalam pandangan ibunya.


***


Walaupun anaknya telah pamit, Eugenie tentunya tetap pergi untuk mengantar kepergian anaknya.

__ADS_1


Dia melihat sekumpulan orang menaiki kuda sementara anaknya dengan gaun indah memasuki kereta.


Dia ingat ketika libur panjang, anaknya kembali dari akademi militer. Pada masa itu, tiba-tiba anaknya yang terlihat sangat halus dan anggun berubah menjadi wanita kaku dan tomboy. Tentu saja dia tidak terlalu terkejut karena dia pernah mengalami hal seperti itu. Namun dia tetap harus mendisiplinkan anaknya untuk tetap setidaknya dapat berperilaku feminine kembali. Jika tidak, akan sulit bagi anaknya untuk menikah. Selama itu, banyak usaha yang ia lakukan salah satunya memaksa anaknya untuk memakai gaun panjang selama di mansion. Anaknya tentu menolak dan selama berhari-hari mereka beradu mulut sebelum akhirnya selesai dengan kemenangannya.


Suara kuda meringkik membuyarkan lamunannya. Eugenie melihat konvoi mulai bergerak. Para prajurit yang menjaga telah menaiki kuda masing-masing dan mulai melangkah. Bendera Kebangsawanan Otilia dikibarkan tinggi-tinggi. Kemudian terompet militer dinyalakan dan diikuti dengan hormat militer.


Eugenie melihat anaknya melambai dengan sapu tangan putih kepada mereka melalui jendela.


Eugenie yang berdiri di depan mansion melambai kembali.


Setelah hari yang melelahkan berlalu, Eugenie kembali ke kamarnya untuk istirahat. Ketika dia membuka pintu, dia melihat seorang pria sedang tidur di kasurnya


Pria ini terlihat sepuluh tahun lebih muda dari Eugenie. Selain itu kulitnya bewarna sangat putih dan bahkan jauh lebih putih dari kebanyakan wanita.


Pria ini tak lain adalah suaminya, Philip Enrique Marchleon.


Seharusnya pria ini telah direncanakan pergi ke ibukota beberapa hari yang lalu. Namun sampai sekarang dia masih tetap berada di sini. Tentunya tujuannya adalah untuk mencari dukungan selama fief war. County harus dapat mengumpulkan tidak hanya suara dari anggota aliansi tetapi mampu meyakinkan Raja Artchania yang saat ini sedang bertakhta, Raja Theodore II untuk membuka rapat parlemen sehingga dapat menghentikan fief war yang sedang terjadi.


Biasanya sebagaimana birokrasi pada umumnya, untuk menghubungi seorang raja dan memintanya untuk membuka rapat parlemen akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Itu sebabnya untuk mengurangi waktu yang tidak perlu, Clotildy diperintahkan untuk menemui para bangsawan agung lain. Hal itu bertujuan untuk selain mendapat dukungan hard power dalam perang, juga untuk dapat mengumpulkan soft power secara politik untuk bertarung dalam ruang parlemen. Sementara Philip akan pergi menemui Yang Mulia untuk membuka parlemen.


Debat dalam ruang parlemen tidak kalah sengitnya dari arena perang. Apalagi sebagai county yang sering dikambinghitamkan, ini menjadi hal yang lebih serius.


Dalam pertemuan parlemen, Countess of Otilia tidak akan bisa datang. Kedatangannya justru akan menjadi kekalahan secara politik bagi county. Hal tersebut tidak lain karena dia adalah wanita sehingga apa pun yang akan ia ucapkan tidak akan pernah dianggap memiliki bobot yang berharga.


Countess menyadari hal itu. Sehingga dalam kondisi ini dia hanya dapat memohon kepada suaminya untuk pergi ke ibukota menggantikan dirinya.


Baginya ini adalah hal yang sangat memalukan. Ditambah istrinya adalah wanita yang kuat sehingga bahkan perannya sebagai kepala keluarga akan selalu dipegang oleh sang istri.


Namun dia tidak pernah menyangka akan ada suatu keadaan dimana istrinya menemuinya dan bersujud kepadanya.


"Uhuk .. uhuk ... kamu datang sayang. Apa anak kita sudah pergi?" tanya Philip .


"Iya, dia pergi baru saja," balas Eugenie.


"Begitu, maaf karena kesehatanku, aku tidak bisa pergi ke ibukota seperti yang kamu minta."


"Tidak-tidak apa-apa Sayang. Jangan khawatir kamu beristirahatlah."


Eugeniue duduk di samping kasur. Dia tentu tidak marah kepada suaminya. Walaupun dia telah meminta bahkan sampai memohon kepada Philip untuk pergi menemui raja, tetapi tidak berselang beberapa hari kemudian Philip jatuh sakit. Penyakitnya dikatakan oleh pendeta adalah penyakit yang kemungkinan besar merupakan penyakit turunan yang terdefinisi sebagai penyakit tipe kutukan. Itu sebabnya penyakit tersebut dapat muncul tiba-tiba tanpa gejala apa pun. Saat ini Philip hanya bisa terbaring lemah di kasurnya.


Terkadang Eugenie berpikir apakah perilakunya terdahulu telah melukai hati pasangannya?


Dia sadar selama bertahun-tahun dia selalu memandang remeh suaminya. Mungkin ini adalah perasaan yang muncul secara tidak sengaja akibat takdirnya sebagai seorang landlady.


Atau mungkin bisa saja benih-benih misandry yang ia miliki mulai tertanam sejak dia memasuki masyarakat yang cenderung mengelas duakan wanita.


Selama itu, dia selalu merubah susunan kepemimpinan sipil yang berada di otoritasnya sebutlah posisi kepala keuangan county dan kepala pelayan selama berturut-turut selalu diberikan kepada wanita walaupun sebenarnya jika berbicara mengenai kualitas, lebih banyak nama orang kompeten untuk posisi tersebut tetapi mereka adalah para pria.

__ADS_1


Dia bahkan memiliki program untuk mengganti seluruh posisi walikota dan petinggi militer dipegang oleh wanita.


Namun rencananya dibatalkan setelah  Presbhenon of Revouille mengeluarkan kebijaksanaan mereka.


Kebijaksanaan tersebut tertuang dalam surat yang kesimpulannya menyatakan pelarangan wanita memegang posisi-posisi penting.


Tentu hal tersebut menjadi anak panah yang sangat mematikan bagi wangsa Otilia yang matrilineal.


Walau sebenarnya pernyataan tersebut juga kontradiksi mengingat beberapa presbhenon sendiri diketuai oleh wanita, sebagai contoh ialah Presbhenon of Fertihall. Selain itu, jika ditarik lebih jauh lagi, 3/5 posisi saint yang diakui oleh Kuil Hexatheisme diisi oleh wanita. Namun tentu saja sebagai instansi yang memiliki otoritas keagamaan tertinggi di county, segala kontradiksi tersebut tidak terlalu penting bagi mereka yang memiliki kepentingan ataupun kepada pengikut yang fanatik.


Arus penolakan terutama dari para bangsawan dan pihak kuil mulai muncul ke permukaan


Bahkan Eugenie, wanita yang kuat dan teguh harus mengurungkan niatnya.


Jika penolakan ini hanya berasal dari bangsawan dia mungkin masih bisa menahannya.


Namun ketika pihak kuil juga mulai mengeluarkan sikap mereka, itu bukanlah hal yang baik untuk melawan dua kekuatan besar bersamaan.


Eugenie tentu saja depresi dan sangat tidak senang mengenai ini. Gagalnya kebijakan yang dia ambil menunjukkan bahwa dia telah kalah secara hegemoni.


Selama masa-masa itu, dia melampiaskan kemarahannya pada suaminya.


Misalnya dia bahkan tak segan melempari suaminya di depan umum dengan menggunakan sepatu atau yang lebih buruk dia tidak mengizinkan suaminya berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengannya.


Bagi para pria tentu itu adalah yang yang sangat memalukan.


"Sayang?"


Tiba-tiba Philip memanggilnya.


Eugenie tersadar dari renungannya.


"Ada apa? Kenapa kamu akhir-akhir ini sering termenung?"


"Tidak-tidak ada apa-apa."


Eugenie dengan cepat menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk berdiri.


"Kalau kamu tidak membutuhkan apa pun, aku akan pergi dulu. Beristirahatlah."


Tanpa menunggu jawaban Philip, Eugenie langsung pergi dan menutup pintu.


Jika diingat-ingat lebih jauh, sudah bertahun-tahun mereka menikah tetapi mereka tidak pernah memanggil masing-masing dengan panggilan sayang kecuali ketika fief war ini terjadi. Selain itu, keduanya pula sangat jarang berada di kamar yang sama.


Selama bertahun-tahun Philip akan tidur di kamar lain yang lebih kecil dari kamar utama.


Setiap kali Eugenie mengambil langkah, dia akan selalu teringat bahwa tidak ada kisah asmara antara dia dan prianya.

__ADS_1


Sungguh kisah cintanya amat menyedihkan.


__ADS_2