THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
INTERIM LORD(2)


__ADS_3

Kemarin ayahnya sudah pulang. Namun entah mengapa sepanjang hari ayahnya hanya mengerutkan kening dan bahkan tidak tersenyum padanya.


Merry sedih.


Dia belum pernah melihat ayahnya segalak ini. Ya, dia pernah melihat ayahnya sangat dingin dan cuek tapi itu ketika status Merry masih seorang budak dan belum diangkat sebagai seorang anak.


Tidak hanya ayahnya, bahkan Rain, orang yang bersama dengan ayahnya juga memiliki ekspresi yang serupa.


Merry belum pernah melihat Rain menjadi semurung ini. Walaupun pria itu sedikit bodoh tetapi dia adalah orang yang bersemangat.


Merasa tidak tahan dengan semua ini, dia mencoba mengadu kepada Erline. Eline bisa dibilang sebagai satu-satunya temannya saat ini.


Sayangnya saat ini Erline sedang berlatih.


Yah, Erline adalah seorang kesatria. Jadi wajar jika dia terus berlatih. Bahkan Alven juga menghabiskan kesehariannya membaca buku. Akhir-akhir ini ayahnya sering membeli buku terutama kepada Alven.


Merry tidak terlalu suka membaca sehingga ketika dia melihat ayahnya membeli buku baru tanpa melihat lebih jauh, dia sudah tahu pasti itu untuk Alven.


Merry sadar hanya dia yang menganggur saat ini.


Ketika dia berkeliling tanpa arah di dalam rumah, dia melihat Justin duduk termenung di depan pintu.


Dia juga tidak pernah melihat Justin seperti orang yang kehilangan jiwa.


Seingat Merry, pria bernama Justin walaupun memiliki hawa keberadaan yang rendah tetapi dia akan selalu berdiri di belakang ayahnya dengan memasang wajah serius.


"Kak Justin."


Merry menyapa sambil melompat seolah sengaja membuat Justin terkejut.


"Nona Merry, ada apa?"


Justin dengan cekatan berdiri.


"Kak Justin sedang memikirkan apa?"


"...."


Justin ingin mengatakan bahwa dia sedang termenung karena diusir oleh Alex. Namun profesionalisme-nya menolak itu mengatakan itu. Jadi dia pun mengalihkan percakapan.


"Nona Merry mau makan cemilan?"


"Tidak, ayah bilang Merry tidak boleh sering makan permen. Gigi bisa berlubang."


"Oh."


"...."


"...."


Seketika suasana menjadi diam yang penuh dengan kecanggungan.


Justin sudah terbiasa dengan sifat Alex yang tenang dan cuek. Jadi ketika dia harus menghadapi Merry yang riang dan lembut, Justin tidak tahu harus berbicara dan melakukan apa.  Dia juga melihat Merry seperti tidak mau pergi dan terus menatapnya. Jadi dia pun mencoba membuka pembicaraan random.


"Mau cemilan?"


"...."


Oh sial! Mengapa aku menanyakan itu lagi!!


Justin ingin menggali lubang dan memasukkan wajahnya. Dia tidak percaya, dia bisa dibuat gugup oleh anak 7 tahun.


"Kak Justin, kakak tidak pergi berlatih pedang juga?" tanya Merry tiba-tiba.


"Berlatih pedang? Tidak Nona. Saya tidak melakukannya."


"Kalau begitu Kak Justin berlatih sihir?"


"Sihir? Tidak juga."


Entah mengapa Justin merasa topik pembicaraannya akan mengarah pada suatu hal yang buruk.


"Kalau begitu, Kak Justin berlatih apa?"

__ADS_1


"Tidak ada."


"Kak Justin ternyata lemah."


Dikatakan lemah oleh seorang gadis 7 tahun, harga diri Justin sebagai seorang pria seolah telah terinjak.


"Saya memang tidak bisa menggunakan pedang sebaik Tuan Muda ataupun menggunakan sihir, tetapi saya masih cukup kuat, Nona Muda."


"Benarkah? Tapi Merry tidak pernah melihat Kak Justin memotong kayu atau mengangkat tas besar. Merry hanya ingat Kak Justin kelelahan karena hanya membawa kertas," ucap Merry dengan polos.


Seketika urat di kepala Justin menonjol tetapi dia masih memberikan senyum.


"Nona ... sebagai seorang pria, saya masih bisa dianggap kuat. Jika Anda memerintahkan, saya bisa menggarap lahan yang dibuat oleh Tuan Muda."


Merry diam sebentar seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi mengapa yang menggarap tanah itu cuma Kak Rain dan Kak Erline? Oh iya. Merry juga lupa bilang. Kak Erline sepertinya punya otot yang lebih besar daripada Kak Justin."


"...."


Justin mematung ketika mendengar pernyataan itu. Dia sebenarnya tidak pernah memperdulikan apakah dia tergolong sebagai pria yang kuat secara fisik atau tidak. Namun ketika dia dianggap lebih lemah dari seorang wanita, harga dirinya sebagai seorang pria seolah telah dipertaruhkan. Namun dipikir-pikir jika dia dan Erline sedang berada di arena dan melakukan duel ....


Justin menelan ludahnya.


Yah, Justin tahu dia pasti kalah bahkan kurang satu menit.


Tidak sempat membalas ucapan Merry, gadis muda itu kembali membuat pernyataan yang menohok.


"Merry juga pernah lihat Kak Justin terkilir karena kelelahan membawa buku. Ayah menggendong Kak Justin. Lalu Kak Justin pernah meminta tolong kepada Kak Erline untuk membawa ember besar berisi air."


Dari dalam otaknya sendiri, Justin dapat mendengar suara lonceng kuil dan ucapan duka dari pendeta yang berkata 'RIP Justin's Masculinity.


Merry juga ingin menambahkan 'Kaki Kak Justin tidak berbulu, mulus seperti kaki Merry.' tetapi sebelum dia berbicara, suara kuda dari luar mengalihkan fokus mereka.


Tak berselang lama, sebuah kereta kuda mewah dengan bendera County of Fetiphile berhenti di depan halaman rumah.


Lalu dari kereta itu, Alen muncul.


***


Dia telah melakukan itu selama berjam-jam tanpa istirahat.


Para pelayanan menjadi khawatir. Bahkan pelayan tua yang menjadi kepala pelayanan di villa yang kini menjadi rumah Alex pun jelas khawatir.


Dia dan pelayan lain tidak didengar oleh Alex. Sehingga ia pun meminta Justin untuk membujuk Alex. Namun yang terjadi adalah Alex marah dan mengusir Justin.


Apa yang dilakukan Alex adalah perwujudan dari kemarahannya.


Semenjak dia keluar dari dungeon hingga kembali ke rumah, dia sangat ingin menghancurkan sesuatu.


Kemarahan Alex bukan tanpa alasan.


Alex sudah lama mentolerir segala bentuk penghinaan kepadanya dimulai dari panggilannya sebagai bangsawan sampah, sampai mengikuti seremonial keagamaan kemudian berdoa kepada 6 dewa rendahan. Namun apa yang tidak ditolerir oleh Alex adalah dia tidak terima jika dia diancam terlebih dia sangat membenci jika barangnya diambil begitu saja.


Nightorb sialan!


Dia dan Rain ketahuan membawa barang dari dungeon. Sehingga pihak Perusahaan Nightorb yang mengklaim kepemilikan dungeon merampas semuanya dengan alasan keamanan masyarakat.


Orb of Wisdom dari Erau yang diserahkan kepada Rain, Tablet Batu dari Farka kepadanya, batuan mana yang mereka kumpulkan, hingga bijian magic plant yang ia simpan.


Semua mereka ambil! Sialan!


Alex ingin membunuh semua orang dari Nightorb  Corp. itu. Namun dia tahu, adventurer yang mereka sewa dalam hal ini adalah party Orion milik Barnard tidak akan membiarkannya.


Para bajingan Nightorb itu adalah pihak yang menggaji party Orion untuk menaklukkan dungeon. Walaupun Barnard telah membantunya tetapi jika masalah yang timbul hingga mengancam nyawa klien mereka, Alex yakin Barnard dan petualang lainnya akan berada di sisi Perusahaan Nightorb. Jelas jika itu terjadi, Alex tidak akan menang.


Jadi untuk melampiaskan kemarahannya, dia menggali tanah untuk membuat sumur.


Yah benar! Itu sumur galian yang nantinya digunakan untuk membantu penyiraman magic plant-nya.


Bahkan walaupun Alex marah, dia masih berpikir produktif. Dia tidak mau menghancurkan batu raksasa atau meninju pohon sampai patah. Dia memanfaatkan kemarahannya itu sebagai buff untuk membuat sumur.


Sungguh kemarahan yang produktif.

__ADS_1


Alex sudah menggali setidaknya sedalam 9 meter.


Alex bahkan sempat berpikir untuk menggunakan privilege sebagai seorang bangsawan untuk menghadapi Nightorb. Namun dia ingat, saat ini dia punya konflik dengan Harol.


Alex adalah orang yang keras kepala dan sombong. Dia tidak akan mau meminta maaf terlebih dahulu. Akibatnya hubungan ayah dan anak itu masih cukup panas.


Blup!


Ketika mengangkat cangkulnya dari tanah, aliran kecil air keluar.


Akhirnya dia menemukan mata air.


Untuk sesaat ini membuat Alex tersenyum tetapi hanya sesaat. Arus kemarahannya masih mendominasi.


Bahkan tunas dari tanaman itu pun mereka ambil.


Mengingat tunas yang sebelumnya dia temukan kini telah ada di tangan orang lain membuatnya semakin marah.


Dia terus mencangkul hingga kedalaman air telah mencapai lututnya.


Alex pun memutuskan untuk berhenti.


Dia menggunakan tangga kayu yang telah disediakan oleh para pelayan untuk keluar dari lubang sumur.


Ketika dia sudah keluar, dia bertemu dengan orang yang tidak asing lagi.


"Alen? Apa yang kamu lakukan disini?"


Alen melihat keadaan tuan mudanya yang penuh lumpur.


Wajah tuan mudanya yang dulu selalu bersih kini kusam karena sinar matahari dan keringat kotor bersarang di keningnya.


Dia juga melihat pakaian tuan mudanya yang dulu berpakaian mewah dan mendominasi kini hanya mengenakan tank top lusuh dan kotor.


Hati Alen sakit melihat kondisi tuan mudanya sekarang


Alen telah merawat Alex selama 15 tahun. Dia telah melihat bagaimana anak itu tumbuh dari balita hingga sekarang.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana tuan mudanya yang hidup penuh dengan kemewahan kini harus hidup dengan penuh keterbatasan layaknya orang udik.


Alen yang merasa bahwa tuan mudanya kini sudah tak lagi terawat melirik tajam dengan hawa penuh rasa pembunuhan kepada para pelayan di villa ini termasuk kepada si pelayan tua dan Justin.


Semua pelayan itu termasuk Justin menundukkan pandangan mereka dengan penuh ketakutan.


"Tuan muda ...."


Suara Alen serak. Ia menahan tangis penuh kesedihan dan permintaan maaf karena membuat Alex kini hidup seperti ini.


"Ada apa?"


Alex yang masih kesal memikirkan barang-barangnya yang diambil secara tidak sengaja memberikan nada kasar.


Tuan muda, bahkan Anda kehilangan etika seorang bangsawan. Kini Anda benar-benar menjadi orang udik, tangis Alen dalam hati.


"Tuan Muda, saya menyampaikan kabar dari Tuan Count untuk membawa Anda kembali ke mansion."


Walaupun penuh dengan gejolak emosi, Alen masih tetap dapat menyampaikan pesan dengan baik.


"Hah? Mengapa?"


"Tuan, saat ini Tuan Count akan ikut serta dalam perang melawan kerajaan lain. Dia memerintahkan kepada Anda untuk menjadi pemimpin sementara bagi county."


Alex hanya diam tidak memberi balasan apa pun.


Alen berpikir tuan mudanya akan menolak. Sehingga dengan cepat menjelaskan.


"Tuan Muda, saya mohon tolong jangan tolak perintah ini. Sebagai anak tertua dan juga untuk masa depan Anda, Tuanku, saya mohon terimalah. Anda tidak perlu mengerjakan sesuatu yang rumit. Untuk urusan rapat dan urusan rumit lainnya serahkan kepada hamba. Saya mohon, izinkan hamba yang rendah ini dapat melihat Keagungan Tuanku yang selalu menyerlah."


Alex merasakan keputusasaan Alen yang terus memintanya untuk menerima posisi sebagai pemerintah sementara.


Alex sebenarnya tidak mau menolaknya.


Sebaliknya, walaupun dia adalah archdeus yang tidak terikat oleh takdir tetapi untuk sesaat dia akan dengan tulus mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah mendesain keadaan yang sangat menguntungkan saat ini.

__ADS_1


Akhirnya, Alex yang telah seharian murung kini memberi senyum cerah yang sangat langka dilihat oleh orang selain Merry.


Benar, saatnya dia mengambil kembali barang-barang miliknya.


__ADS_2