
Alex membawa Justin di toilet umum Rumah Fertiphile. Toilet itu luas serta terdapat kayu besar dan panjang berbentuk kubus di sisi kanan dan kiri, masing-masing memiliki enam lubang di atasnya untuk digunakan membuang tinja. Namun tidak ada satu sekat pun yang membatasi mereka. Sehingga jika duduk untuk membuang hajat, mereka praktis seperti duduk di kursi taman dan saling memandang satu dengan yang lainnya. Selain itu, di tengah ruangan terdapat bak batu yang berisi air dengan laurat garam dan cuka. Kedua bak batu itu memiliki satu xylospongium yang terendam di larutan itu.
Alex tentu saja tidak langsung masuk ke sana. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu mencepit hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. Dia mendorong pintu untuk terbuka dan memanggil Justin.
"Ayo masuk."
Justin masuk dengan penuh tanda tanya, kenapa tuannya membawanya kemari?
"Lalalalalalalala .... Tuan Muda!"
Seorang pelayan yang sedang asik boker dengan bersenandung riang tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan Alex. Sangat aneh jika para tuan pergi di toilet ini, mengingat masing-masing dari tuan dan nyonya memiliki toilet pribadi. Pelayan itu bergegas berdiri dan menyambut kedatangan tuan muda.
"Oek! Apa yang kau lakukan! Cepat duduk! Liat, itu-mu jatuh!"
Alex berteriak dengan jijik ketika ia melihat seorang pelayan bodoh yang berdiri pada saat bokernya sedang mengalir sampai jauh. Ampasnya jadi sedikit mengalir di lantai. Pelayan itu menyadari kebodohan dan kejorokannya. Dia malu dan kembali duduk dengan kaku. Untuk sesaat ia merasa feses-nya sudah sekeras batu.
Alex hanya bisa menggelengkan kepala dan melupakan orang itu. Ia kemudian memutar tubuhnya untuk berbicara dengan Justin.
"Berikan sapu tanganmu."
Justin kemudian mengambil sapu tangan putih dari setelan hitamnya dan Alex mengambilnya dengan tangan lain yang tidak menjepit hidungnya.
Alex kemudian berjalan ke bak batu terdekat. Dia lalu melilitkan sapu tangan putih itu di batang xylospongium. Alex mengangkat xylospongium dari bak lalu menekannya di dinding bak batu untuk mengurangi kadar air di spons itu.
Setelah itu, Alex berbalik dan memberikan Xylospongium itu kepada Justin.
"???"
Justin memegang stik spons yang terbalutkan sapu di ganggangnya. Ia memandangi sejenak tetapi hanya mendapatkan pikiran buntu sehingga ia memalingkan wajahnya ke Alex dengan ekspresi meminta penjelasan.
"Gosok spons itu di wajahmu dan hirup aromanya!" perintah Alex.
Justin tersedak dengan perintah absurd itu. Dia kembali menatap xylospngium itu. Spons di ujung tongkat yang awalnya kuning cerah kini telah berwarna hitam dan terdapat busa-busa putih di sekitarnya. Justin kemudian mendekatkan spons itu ke wajahnya, semakin dekat, aroma dan visual yang tidak sedap semakin kuat ia rasakan.
"Oek!!"
Justin membuang xylospongium itu jauh di lantai. Dia merasakan mual di sekujur tubuhnya.
"Oek ....!"
Justin memegang perutnya dan ia muntah. Walau ia tidak tahu kenapa, tetapi ia merasakan jijik ketika spons hitam dan berlendir itu semakin mendekati wajahnya.
"Lihat, kau sendiri merasa jijik kan? Jangan pernah bersihkan tubuhmu dengan sesuatu yang kotor! Harusnya kau mengerti itu," ucap Alex kemudian dia melanjutkan.
__ADS_1
"Justin dengarkan aku, dirimu masih muda dan kau harus menjaga tubuhmu. Itu adalah aset yang harus bisa kau jaga sebaik mungkin hingga tua. Kau tidak bisa merawat tubuhmu hanya dengan berlatih, kau juga membutuhkan makanan sehat dan pola hidup bersih. Kau harus tahu, xylospongium yang sudah digunakan lebih dari sekali itu sangat berbahaya bagi tubuhmu nantinya."
Alex tidak menjelaskan dengan bahasa akademik dan medis, dia menjelaskan secara sederhana mengingat tingkat logika masyarakat di dunia ini yang masih rendah. Yah ... walaupun dia menguliahi Justin untuk menjaga tubuhnya sendiri, Alex secara tidak sadar memecahkan cermin dirinya sendiri. Jika ditanya tentang siapa orang yang paling tidak peduli dengan tubuhnya sendiri maka Alex masuk ke dalam nominasi mengingat dia sangat jarang olahraga, malas, dan hanya menyukai makanan manis. Jika dikecualikan dengan sifatnya yang peduli kebersihan, maka dia sangat tidak layak menceramahi Justin dengan topik seperti itu.
Adapun Justin hanya memandang Alex dengan tatapan bersalah dan malu. Air mata sedikit tergenang di sela matanya karena efek muntah. Ia awalnya meragukan dan tidak menganggap serius mengenai apa pun perintah Alex tentang xylospongium dan mandi rutin. Dia selalu menganggap itu sebagai pola yang aneh tetapi kini ia sadar, bahwa logika masyarakat dan dirinya sendirilah yang sangat aneh.
Dia menyesali semua tindakannya yang menganggap enteng perkataan Alex. Dia kemudian membungkuk dan mengucapkan pemohonan maaf sedalam-dalamnya.
"Yah, aku senang kamu akhirnya mengerti. Bagus!"
Alex memberi senyum tulus dan Justin juga memberikan senyum serupa. Jika mereka tidak berada di toilet, maka suasana yang menunjukkan hubungan antara tuan-majikan yang moderat ini sangatlah membuat hati menjadi hangat.
Tut tut tut tut tut tuttttttt!!
Kentut yang saling sambung menyambung dengan nada bertalu-talu menghancurkan suasana harmoni ini. Alex dan Justin melihat pelayan yang masih boker itu dengan ekspresi datar. Pelayan itu hanya bisa menundukkan kepalanya dengan malu. Yah ... ini bukan salahnya, bagaimanapun mereka ada toilet. Merasa frustrasi, Alex dan Justin akhirnya keluar dari sana.
***
Hari ini pasar di Kota Fertihall seperti bisanya padat dan berisik. Berbagai jenis transaksi penjualan terjadi. Namun tentu saja, salah satu yang terbanyak diperjual-belikan adalah pakaian. Di sebuah toko pakaian, dua wanita muda dengan menggunakan gaun putih sedang asik melihat berbagai model pakaian.
"Hei, hei, Ryana! Apa menurutmu ini cocok?"
Seorang wanita bernama Lacey yang memiliki rambut coklat dengan senyum imut membentangkan sebuah gaun berwarna dasar kuning putih kepada temannya.
Ryana tersenyum canggung melihat semangat temannya ini. Berbeda dengan temannya, dia memiliki rambut blonde panjang yang terurai rapi.
"Hoh~ padahal ini bagus."
"Yahh tidak masalah jika kamu tahan menggunakannya seharian. Tapi itu terlihat menyusahkan. Lihat, gaunnya sampai terseret di lantai."
Kedua wanita muda ini seusia dengan Alex, mereka sedang mencari baju kasual yang cocok untuk digunakan seharian. Namun terkadang melihat sesuatu yang lebih menarik, mereka kadang tidak tahan untuk membelinya.
Lacey pun kembali mencari jenis pakaian yang sesuai, tidak terlalu eksentrik tetapi tidak terlalu polos. Ini untuk pertama kalinya mereka akan pergi ke ibukota kerajaan sehingga wajar bagi dia dan Ryana cuku gugup. Mereka tidak ingin dikatakan kampungan ketika sampai di sana.
Setelah mendapat pakaian dan membayarnya dengan harga sesuai, mereka berdua pergi mencari penjual makanan. Dengan tas pinggang dari kulit yang digunakan untuk menyimpan pakaian baru mereka, kedua sepakat untuk mencari warung mie terdekat.
"Ryana, ada apa di sana?"
Lacey menunjuk daerah yang saat ini dipenuhi orang. Mereka terlihat berkumpul dan memperhatikan sesuatu.
"Aku tidak tahu, apa kau ingin melihatnya?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Keduanya berjalan mendekati kumpulan orang itu. Kebanyakan adalah pria setengah baya sehingga mereka sedikit ragu untuk menerobos. Bagaimanapun mereka adalah gadis jadi kekhawatiran seperti pelecahan menghantui mereka. Terutama Lacey yang terlihat gugup dan memandang Ryana.
Untung dia tidak kumat.
Lacey menghela napas lega. Namun sayangnya keduanya tidak dapat melihat apa yang terjadi karena mereka berada di bagian belakang. Selain itu tinggi mereka juga lebih rendah dari para penonton di depan.
"Hei-hei kenapa budak itu?"
"Aku tidak tahu detailnya, sepertinya budak itu menabraknya."
"Apa? Jadi hanya karena ditabrak, dia dipukuli?"
"Huss! Diam, jaga kata-katamu! Kau ingin dipenggal?"
"Urrgh!"
Ryana dan Lacey mendengar bisikan-bisikan dari para penonton di depan. Pupil mata mereka membesar karena terkejut. Kemudian mereka mendengar suara teriakan gadis kecil dan dibarengi dengan teriakan marah seorang pria.
***
Justin melihat pertengkaran yang terjadi. Saat ini seorang gadis budak berusia sekitar tujuh sampai delapan tahun sedang digertak oleh prajurit tuannya.
Awalnya ia, tuan mudanya, 2 pelayan wanita, dan 4 prajurit pergi ke pasar untuk membeli xylospongium. Mereka menggunakan dua kereta, satu untuk tuannya dan satunya untuk barang bawaan. Sementara yang lainnya menggunakan kuda, ia cukup beruntung dapat masuk di kereta tuannya. Semenjak kemarahan tuannya, ia menjadi sering mandi dan selalu mengganti pembersih bokongnya. Itu membuat tuannya senang dan tidak keberatan berbagi kereta.
Tujuan mereka adalah kios xylospongium. Sayangnya rata-rata penjual hanya memiliki stock sekitar 20 sampai 40 xylospongium sementara mereka ingin membeli 100 xylospngium. Tentu saja tidak semua itu digunakan tuannya, sebagian dibeli untuk dirinya juga. Maka mereka memborong xylospngium di empat kios. Harga satu xylospongium adalah 5 perunggu.
Satuan mata uang:
1 Koin Emas = 10 Koin Perak
1 Koin Perak = 10 Koin perunggu
1 koin perunggu = Rp 1.000
Karena hanya ada dua pelayan ditambah dia, para prajurit juga membantu pengangkutan xylospongium ke kereta. Dampaknya, keamanan menjaga rentan dan bencana pun terjadi. Seorang gadis budak yang membawa keranjang kosong dan terlihat terburu-buru berlari kemudian menabrak seorang pelayan yang sedang membawa sekitar 20 xylospongium. Akibatnya, pelayan wanita itu, gadis budak, dan 20 xylospngium jatuh ke tanah kemudian terinjak-injak oleh kerumunan warga. Awalnya pelayan itu hanya mengomeli dan memarahinya selama hampir sepuluh menit sebelum melepaskannya.
Hendak kembali membawa xylospongium ke kereta, pelayan wanita itu diberhentikan oleh suara tuan muda yang berteriak dari belakang.
[Kenapa kau masih tetap membawa spons kotor itu? Kau ingin aku tetap memakainya?]
Maka semenjak itulah gadis itu pun mengalami kesulitan ....
__ADS_1