THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
TRIP TO THE CAPITAL CITY(6)


__ADS_3

Alex termenung sambil melihat langit-langit tendanya. Untungnya hanya dia dan Merry yang berada di sana, mengingat dia adalah tuan muda sehingga ia tidak dapat setenda dengan bawahannya. Alex terus mengingat kejadian yang dilakukan Ryana.


Dia tadi menikmatinya tapi setelah selesai, ia menangis. Apa dia menyesal? Tapi, dari permainannya, ia terlihat sangat dominan dan cukup berpengalaman. Apa dia sudah melakukannya berkali-kali? Tapi kenapa harus dengan goblin? Apa dia punya fetish khusus?


Alex masih tidak dapat mengerti dengan konten seksual para makhluk. Telalu banyak referensi mengenai seksualitas. Bahkan ia kadang bingung dengan makhluk ciptaannya sendiri, terkadang ada yang mengalami rangsangan hanya karena digelitik, suka disiksa, menyukai anak-anak di bawah umur, bahkan crossdressing apalagi jika itu makhluk dari archdues lain.


Namun kejadian yang dilakukan Ryana terus menggelitik pikirannya.


Dia rela keluar malam hanya untuk melakukan itu dengan goblin? Tapi kenapa goblin tidak menyerangnya? Selain itu, para goblin juga langsung tertidur setelah mereka selesai.


Ini tidak masuk akal. Seharusnya, walaupun goblin adalah hewan yang nafsuan, ia pasti akan melakukan tindakan ofensif ketika objek asing memasuki teritorinya. Alex berusaha mengingat kejadian itu, kemudian satu kesimpulan masuk di otaknya.


Pheromone? Ah ... benar, sebelum melakukan itu, wanita itu mengeluarkan aroma yang sangat kuat dan memikat lawan jenis. Sudah jelas itu pasti pheromone. Hmm ... jadi cukup beralasan bagi goblin dengan akal rendah yang hilang kendali akibat rangsangan itu.


Namun sejak kapan manusia memiliki pheromone yang begitu kuat hingga pejantan dari ras berbeda menunjukkan minat? Apa mungkin pheromone juga menyebabkan para goblin tertidur atau mungkin karena kelelahan? Namun yang seharusnya paling lelah adalah wanita itu bukan? Atau mungkin dia memiliki stamina yang lebih besar dari rata-rata makhluk hidup. Hmm ....


Pheromone memanglah aroma yang akan meningkatkan hormon dan ketertarikan terhadap lawan jenis. Namun referensi dari setiap ras memiliki hormon yang berbeda. Yah ... memang aroma dari sesama makhluk humanoid seperti manusia, elf, dan dwarf memiliki bau yang sama sehingga perkawinan antar sesama ras humanoid sering terjadi. Namun, Pheromone antara humanoid dan demihuman jelas berbeda. Bagaimana mungkin aroma manusia wanita dapat menarik goblin jantan, yah ... memang ada kasus perkawinan antara kedua ras itu, tetapi itu awalnya terjadi hanya karena ketertarikan terhadap fisik bukan aroma!


Waw ... sepertinya makhluk-makhluk yang kami ciptakan sudah berkembang di tahap yang tidak terduga.


Alex tersenyum tipis setelah memikirkan itu. Dia bingung apakah harus tertawa bangga dengan pertumbuhan makhluk yang mereka ciptakan atau harus menangis karena sekarang terlalu banyak hal yang tidak ia mengerti pada makhluk ciptaan mereka sendiri. Alex mungkin dapat mengetahui itu jika ia menggunakan kebijaksanaannya sebagai archdeus dengan membaca semua logika dan emosi makhluk hidup. Namun ia kini adalah manusia, ia tidak dapat melakukannya. Bahkan ketika ia adalah archdeus, ia jarang menggunakan kemampuan itu karena kesibukannya dalam hal yang lebih makro. Akhirnya Alex memutuskan untuk melupakan semua hal yang membingungkan itu dan menganggap itu adalah salah satu kejadian dari pertumbuhan eksponensial para mortal. Alex pun menutup mata dan tertidur.


Paginya, seseorang memanggil Alex.


"Tuanku, apa Anda sudah bangun?"


Alex perlahan membuka matanya dan mulai merentangkan seluruh anggota tubuhnya. Dia melihat siluet orang yang memanggilnya di balik tirai tenda.


"Yeahh ... Justin, aku rasa aku ingin mandi."


Justin terdiam, dia lupa bahwa tuan mudanya ini sangat sensitif dengan kebersihan. Yahh ini sudah tiga hari sejak tuannya terakhir kali mandi. Jadi sudah jelas, tuan mudanya yang setiap hari mandi dan membenci bau badan sangat terganggu dengan ini semua.


Bagi Justin, tuan mudanya sangatlah berbeda dari kebanyakan bangsawan. Memang benar bahwa para bangsawan sangat memerdulikan penampilan mereka, tetapi tidak pernah ada dari mereka akan mandi setiap hari. Bahkan ibu dari tuan mudanya, Clara hanya mandi empat sampai delapan kali setahun.


Justin ragu tetapi ia tidak bisa memikirkan solusinya. Saat ini mereka tidak berada di dekat sumber mata air. Sementara cadangan air yang mereka bawa hanya cukup untuk diminum.


"T-tuanku, maaf tapi kita tidak punya air yang cukup saat ini."


Orang yang berada di dalam tenda tidak langsung menjawab. Butuh beberapa saat sebelum respon muncul.


"Begitukah? Hah ... tubuh ini sangat menganggu."


Justin terkadang bingung dengan ucapan tuan mudanya. Terkadang tuan mudanya akan mengatakan hal yang aneh seperti 'tubuh ini sangat lemah', 'manusia terkadang menarik', dan sebagainya.


"Kalau begitu Justin, bisakah kamu mengarahkan kelompok ke sumber air dalam perjalanan?"


Suara dari tuan mudanya membuat pikiran Justin kembali fokus. Ia kemudian menjawab sambil membungkuk.


"Tentu saja, Tuanku."


Alex hanya mengganti pakaian dan menyemprotkan aroma parfum di tubuhnya. Dia sebenarnya bukanlah seseorang yang memerdulikan kebersihan sebelumnya. Sangat wajar, sebagai archdeus, Sheol tidak memiliki keadaan biologis seperti keringat, tubuh yang mengeluarkan bau, dan kemunculan kotoran dari sel kulit mati. Namun seperti yang diharapkan dari tubuh makhluk hidup, semua keadaan negatif dari keadaan biologis sangat menganggu.

__ADS_1


Setelah selesai dengan persiapannya, dia membangunkan Merry yang tidur bersamanya dan membantunya berpakaian.


Mereka pun keluar dari tenda dan langsung disambut oleh Justin yang berdiri setia di sana.


"Hahhh ...."


Alex menarik napas. Tidak ada yang istimewa dari tindakan itu. Dia kemudian bertanya mengenai sarapan kepada Justin.


"Tuanku, sarapannya sudah siap. Nyonya besar meminta Anda dan Nona Muda untuk makan bersamanya."


Alex hanya mengangguk kemudian berjalan menuju kediaman Clara.


Tenda Clara berdekatan dengan tenda para priestess sehingga mereka berdua langsung bertemu dengan para wanita dan salah satunya adalah Ryana.


"Selamat pagi Tuan Muda Fertiphile, selamat pagi Nona Muda Alexandreia."


Ryana membungkukkan tubuhnya. Senyum cerah menghiasi wajahnya yang cantik dan riang.


Tersenyum seperti bisanya heh? Sepertinya dia pandai menyembunyikan rahasia.


Karena Ryana tidak menunjukkan perubahan emosional di wajahnya maka Alex juga tidak mengungkit masalah pada malam itu. Dia hanya mengangguk dan membalas sapaan Ryana.


"Tuan Muda, apa Anda sudah sarapan?" tanya Ryana.


"Belum, kami akan sarapan bersama ibuku."


"Benarkah? Kebetulan Tuan Muda, Nyonya Clara mengundang saya juga."


"Hoh? Baiklah, bagaimana kalau kita pergi bersama?"


Ryana memberikan senyum cerah dan melihat Alex yang menggendong Merry kembali berjalan. Ryana pun mengikuti mereka dari belakang.


Di halaman tenda Clara, sebuah meja persegi dengan hiasan sederhana telah tersedia. Bersama dengan itu terdapat lima kursi, dua di antaranya telah diduduki. Di sana Clara dan High Priestess Feodora sedang asik mengobrol.


Alex, Merry, dan Ryana menyapa keduanya dengan formal. Clara dan High Priestess Feodora membalas sapaan disertai senyum hangat.


"Duduklah kalian, jangan hanya berdiri. Oh iya, Justin, kamu bisa pergi sekarang dan jangan lupa sarapanmu,"ucap Clara


"Baik Nyonya."


Justin undur diri dari kelima orang itu. Sementara itu, Alex dan Ryana telah duduk di kursi masing-masing.


Karena mereka dalam perjalanan, mereka tidak mengharapkan sesuatu yang mewah untuk dimakan. Hanya beberapa roti dan beberapa jenis daging dan sayur yang telah disimpan sebelumnya. Tidak terlalu segar tapi masih layak untuk di makan.


"Apa kamu menyukai makanannya, Merry?" tanya Clara.


"Iya Nenek, ini sangat enak."


Clara puas dengan senyuman polos gadis itu dan ia juga bertanya kepada Alex.


"Bagaimana makanannya, Alex?"

__ADS_1


"Tidak buruk Bu, tetapi aku merasa sedikit tidak nyaman."


"Hoh? Benarkah, apa itu sayang?"


"Tubuhku terasa lengket. Aku betul-betul ingin mandi."


Clara tersenyum masam mendengar keluhan anaknya. Dia tahu, anaknya ini mandi setiap hari. Clara secara pribadi menganggap bahwa Alex sangat boros dengan air. Ia ingat ketika Harol memaksa Alex mengurangi mandinya, akhirnya Alex pun tidak mandi selama lima hari. Hasilnya, di tubuhnya muncul ruam merah dan ia mengalami insomnia. Sejak itu, tidak ada yang berani melarang rutinitas mandinya.


"Jangan khawatir sayang, kita akan mencari sungai setelah ini."


"Baik, Bu."


Alex mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Ia tidak berbicara lebih lanjut. Karena keheningan yang agak canggung, Clara mencoba berbicara dengan Ryana.


"Ryana, aku sudah bertanya sebelumnya dengan Feodora. Apa kamu tertarik tinggal bersama kami di ibukota?"


Ryana agaknya ragu. Ia pun melirik Feodora yang ternyata memasang senyum.


"Saya hanya mengikuti High Priestess saja Nyonya Clara."


"Hohoho ... jangan katakan itu. Bagaimanapun kamu sudah menjadi wanita dewasa sekarang. Hmm ... mungkin kamu punya seseorang yang istimewa di ibukota?"


"Tidak Nyonya. Bahkan saya belum pernah ke ibukota sebelumnya."


"Benarkah? Yeah, Alex juga belum pernah ke ibukota. Oh iya, aku melihat kalian berdua cukup dekat. Apa kalian sekarang punya hubungan khusus?"


Sendok dan garpu Alex terjatuh dari pegangannya. Dia tentu saja kaget dengan perkataan ibunya yang kadang naif ini. Adapun Feodora hanya tersenyum geli. Ia adalah kenalan ibu Clara yang kerap kali blak-blakan sehingga ia tidak terkejut lagi dengan sifat Clara yang sama.


Adapun Ryana dia langsung mengangkat kedua tangannya. Wajahnya merah padam dan dengan panik menolaknya.


"Tidak, tidak Nyonya. Saya dan Tuan Muda sama sekali tidak memiliki hubungan seperti itu. Saya harap Anda jangan salah paham."


"Begitukah? Tapi aku belum pernah melihat Alex begitu dekat dengan wanita sebelumnya."


"Saya hanya merasa sifat Priestess Muda Ryana cocok dengan saya."


Alex yang akhirnya memutuskan untuk membantu Ryana dari kejahilan ibunya pun berbicara. Sayangnya ucapannya itu justru menghasilkan keadaan yang lebih ambigu.


Wajah Ryana semakin merah. Adapun Clara dan Feodora tersenyum geli. Sangat menyenangkan menggangu dua orang anak yang baru dewasa ini.


"Hahahahaha ... saya yakin, Tuan Muda akan menjadi pria yang hebat dan tampan ke depannya. Sangat mungkin pesaing Ryana akan bertambah."


Kali ini Feodora berbicara dengan tawa bahagia sehingga kerutan di wajahnya semakin terlihat.


"Grand Master!"


Ryana mengeluh kepada Feodora. Ia membuat wajah seolah dikhianati.


Ryana kemudian melirik Alex. Ia ingin tahu bagaimana respon tuan muda itu.


Namun Alex sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

__ADS_1


Benar-benar tenang.


Ryana sudah banyak bertemu lelaki kalem dan pendiam di tempat pendidikan kependetaan sebelumnya. Namun kebanyakan mereka melakukan itu untuk terlihat keren. Namun Alex di depannya ini memiliki karakter kalem yang sangat alami dan murni, bahkan tatapannya sangatlah tajam seperti cakar elang yang menerkam ular. Ia kadang berpikir tubuh dan wajah Alex dibuat dari pahatan patung es.


__ADS_2