
St. Castelius' Pontheum.
Hari ini di Kuil Agung Saint Castelius puluhan kereta kuda mewah berkumpul di lapangan. Berbagai jenis orang dengan segala dekorasi mereka memasuki kuil dengan senyum cerah. Ini adalah harinya, hari Upacara Kedewasaan Alex dimulai.
Berlokasi di kuil terbesar di Dataran Archiberia dan bangunan tertua di Kerajaan Artchania tentu memiliki nilai tersendiri. Tidak semua orang bisa mengadakan upacara mereka di tempat akbar seperti ini. Hanya orang-orang yang berada di puncak masyarakatlah yang mampu melakukannya.
Semua tamu dari ibukota dan perwakilan rumah-rumah bangsawan telah datang. Selain orang-orang feodal, terdapat pula pedagang-pedagang besar, para imam, dan tokoh-tokoh besar yang diundang.
"Menyambut kedatangan the His Eminence Pontifex Eliarius Xavier Augustus, Young Master Alexander Ivanov Fertiphile, dan anggota prosesi, para hadirin yang terhormat mohon berdiri."
Master of Ceremony mengumumkan kedatangan pemimpin seremonial ini. Semua orang berdiri dari kursi mereka.
Disambut gegap gempita bunyi instrumen musik yang menyanyikan lagu-lagu seremonial, sang Pontifex, Alex berserta para Hight priests dan priests memasuki ruangan. Mereka mengenakan jubah upacara yang memiliki warna dasar putih serta topi upacara yang berbentuk hexagon yang juga berwarna yang sama dengan jubah mereka.
Selama prosesi itu, alat-alat upacara seperti air suci, tongkat dengan lambang matahari di puncaknya, sebuah tengkorak tua, obor, tanah, dan kipas yang memiliki motif khusus juga dibawa. Semua itu adalah simbol dari keenam dewa dalam kepercayaan hexatheisme.
Di tengah altar telah disediakan kayu bakar yang disusun rapi. Di altar tersebut api dinyalakan melalui obor yang membawa api yang membara. Kemudian tanah dan tengkorak yang dibawa sebelumnya di lempar ke api yang menyala-nyala. Para imam membaca doa-doa yang cukup panjang. Setelah persiapan selesai, MC meminta para hadiri untuk duduk kembali.
Alex berdiri tegak di depan altar selama proses persiapan upacara itu. Dia memakai jubah putih dengan lambang hexagon emas di dadanya. Dia hanya berdiri diam dengan wajah tanpa ekspresi.
Beberapa orang memiliki ekspresi rumit di wajah mereka.
Clara menangis tersedu-sedu dan terus menggunakan sapu tangan putih untuk membersihkan air matanya.
"Hiks ... hiks ... anakku sudah dewasa ... hiks ...."
Justin memandang dengan ekspresi duka ....
Tuan ... dia pasti kepanasan.
Justin sudah mulai membayangkan bagaimana tuannya akan terus mengoceh tentang seberapa panasnya dia memakai jubah itu atau seberapa lamanya dia berdiri sampai membuatnya kesemutan.
Erline melihat tuan muda dengan ekspresi dingin.
Cih, walau dia sudah dewasa tetap saja menyusahkan ibunya.
Erline tidak mengungkapkan pikirannya tentang Alex. Bagaimanapun penilaiannya terhadap tuan muda ini terlalu rendah. Jika bukan karena dia melayani Clara, dia tidak mau ikut dalam upacara ini.
__ADS_1
Adapun Merry menatap ayahnya dengan mata berbinar penuh suka cita.
"Ayah kelihatan lebih tampan!"
Ini untuk pertama kalinya bagi Merry untuk melihat Alex memakai pakaian fomal berjubah. Dia menganggap ayahnya terlihat sangat mirip dengan pangeran berkuda putih yang selalu ia bayangkan setiap kali ayahnya membaca cerita tidur mengenai pangeran dan puteri kepadanya.
Sementara itu, Alex ....
Hah ... sial, jadi aku harus menjilat makhluk-makhluk rendahan ini.
Dalam diri Sheol benar-benar enggan melakukannya. Tidak mungkin dirinya sebagai dewa yang agung, sang Maut, Maharaja Kematian, dan Mahatahu harus membungkukkan diri di hadapan 6 dewa rendah?
Tapi jika aku tidak akan melakukan ini tubuhku akan digantungkan, hah ....
Sheol berpikir apakah dia harus mengungkapkan identitas aslinya.
Tapi bagaimana? Jika aku menampakan wujud sejatiku sama saja dengan mendatangkan Armagedon di Univorsum.
Dalam sejarah, tidak pernah sekalipun archdeus turun dalam wujud sejati mereka ke Univorsum. Itu karena mereka tahu bahwa alam fana tidak akan mampu membendung keesaan dan kedigdayaan mereka.
Walau Sheol merasa terhina tetapi itu bukan pada tahap dia akan mengalami kemurkaan. Bagaimanapun dia sadar di dunia fana ini masih banyak orang alim dan tidak bersalah. Jika dia dengan keegoisannya sendiri murka, itu sama saja menyebabkan orang-orang itu mengalami siksaan bahkan saat mereka meninggal. Sheol masih memiliki sikap pengasih, dia ingin memberi kesempatan bagi semua makhluk untuk bertobat. Baginya, para calon penghuni neraka adalah beban sehingga untuk mengurangi beban itu diharuskan untuk membuat para calon penghuni neraka menjadi calon penghuni surga.
Benar ... tahan napas ... keluarkan ... hah ....
Sheol kembali fokus ke altar setelah menenangkan dirinya. Dia tetap menunggu para imam itu selesai membaca doa, mantra, atau apalah namanya.
"Dewa kami ... lindungi kami, jaga kami, rawat kami, jauhilah kami dari kemurkaan-Mu. Dewa kami sang Pemilik Surya, Eliareal yang perkasa. Dewa kami sang Pemilik Rembulan, Ceacreal yang adil. Dewi kami sang Pemilik cakrawala, Athmiel yang pengasih. Dewi kami sang Pemilik Samudera, Anahiel yang penyayang. Dewa kami Pemilik Medan Perang yang membara, Larael yang hebat."
Eliarius mengucapkan puji-pujian bagi dewa mereka. Memohon untuk keselamatan umat sebelum akhirnya memohon perlindungan untuk Alex.
setelah selesai mengucapkan doa-doa dan bacaan dari ayat-ayat suci tertentu. Eliarius mengambil sebuah tang besi sebesar 50cm. Dia mulai mengaduk-aduk arang dan abu di dalam api di atas altar. Kemudian dia dengan tang itu dia mengambil seteguk abu. Seorang high priest membawa cawan emas berisi air suci. Eliarius meletakan abu di air suci itu kemudian mengaduknya dengan sendok perak.
High priest itu kemudian membawa cawan emas itu kepada Alex. Alex agak ragu. Bukankah aneh meminum sesuatu yang berasal dari abu tengkorak? Dia tak tahu kenapa Surga khususnya keenam dewa bodoh ini membuat upacara konyol seperti ini.
Namun karena komitmennya sebelumnya, Alex tetap mengikuti acara ini dengan sabar. Dia meminum semua air di cawan ini. Aroma gosong dari arang dan rasa pasir memenuhi mulutnya. Dia merasa mulutnya dipenuhi pasir dan mungkin sudah menghitam akibat arang.
Hah ... aku harus menggosok gigi setelah ini.
__ADS_1
Belum sampai disitu, tongkat dengan lambang mentari di ujungnya dibawa ke depan Alex. Dia diharuskan untuk membungkuk dan mencium lambang matahari itu. Kemudian mengitari 7 kali altar api mengikuti arah jarum jam. Selama memutari itu, kipas yang melambangkan dewa angin mengipasi api altar sehingga menjadi lebih besar dan lebih panas.
Alex sabar ... dia masih mengikuti prosesi dengan tabah. Tidak ada gangguan selama prosesi berikutnya, semua dilakukan dengan penuh khidmat.
Setelah Upacara selesai, Alex menyerahkan persembahan kepada kuil. Biaya itu berjumlah 3.000 koin emas ditambah 1 ton daging (1000 koin emas) dan 10 ton gandum (1000 koin emas). Ditambah biaya upacara sebesar 5.000 koin emas maka biaya yang dikeluarkan sekitar 10.000 koin emas. Tentu saja biaya ini bukan berasal dari kantong Alex tetapi dari biaya Rumah Fertiphile.
Alex tidak bisa langsung pergi setelah upacara selesai. Selain memberi ucapan terima kasih kepada pontifex dan pihak kuil, Alex harus menyapa para tamu khususnya dari perwakilan rumah bangsawan. Kebanyakan dari para perwakilan ini adalah wanita. Tentu saja Upacara Kedewasaan mengisyaratkan bahwa seseorang telah dewasa dan kini dapat masuk ke masyarakat. Para lord mengutus putri-putri mereka sebagai perwakilan tidak lain untuk menarik perhatian Alex. Mereka menginginkan Alex membuat pertunangan. Walau mereka tahu bahwa Alex adalah sampah, tetapi selama Harol belum menetapkan pewarisnya maka segala kemungkinan dapat terjadi.
Banyak kasus dimana bangsawan sampah berhasil mengambil alih warisan selama prosesi sedangkan saudaranya yang lebih berbakat diusir atau terbunuh.
Para wanita bangsawan itu terkejut dan terkesima setelah menyapa dan bersalaman dengan Alex. Mereka tidak bisa tidak merona ketika melihat ketampanan Alex dan di waktu bersamaan mereka juga merasa cemburu dengan kemulusan dan putihnya kulit pria ini. Mereka bertanya-tanya dalam hati mengenai rahasia dari perawatan kulit Alex.
"Ayah!"
"Tuan Muda."
"Anakku."
Merry, Justin, dan Clara mendatangi Alex dengan segala ekspresi mereka, ada yang gembira, khawatir, dan penuh haru.
"Ayah sangat keren! Ayah pria paling keren sedunia!"
"Tuanku, apa Anda merasa kepanasan? Apa kaki Anda lelah? Apa Anda ingin menyikat gigi?"
"Hiks ... hiks ... Alex kecilku sudah dewasa. Hiks ... Alex-ku ... sayang ... hiks ...."
Alex hanya bisa tersenyum kecut melihat dia dibanjiri oleh berbagai perkataan setiap orang. Dia memang tidak bisa merasa lelah tetapi cukup menyebalkan untuk mendengar semua perkataan berbeda sekaligus.
Ia memutuskan untuk diam dan langsung mengangkat Merry ke pelukannya, menyuruh Justin untuk diam dan menenangkan ibunya.
Sebagian tamu bertanya-tanya tentang identitas anak yang digendong Alex. Namun kebanyakan mereka menganggap itu adalah keponakan atau sepupunya.
"Alex!"
Dari jauh, teriakan keras terdengar. Seseorang berlari riang sambil melambai-lambai kepada Alex. Dia adalah seorang pria dengan rambut pirang, kaki jenjang, kulit putih, dan senyum hangat yang melekat di wajahnya.
Para hadirin langsung terbelah dua memberi jalan kepada pria itu. Jika seseorang dari House of Fertiphile ditanyai siapa orang yang paling sampah bahkan melebihi Alex, maka mereka sepakat bahwa pria inilah orangnya.
__ADS_1
"Regis?" ucap Alex.