THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
MORHUST(1)


__ADS_3

Matahari bersinar pada hari yang cerah ini. Di bawah awan yang terus bergerak mengikuti sang angin, sosok kereta yang ditarik oleh seekor sapi jantan yang terlihat gagah. Ia menarik sebuah kereta yang berisi tumpukan tong.


Kusirnya adalah seorang pria setengah baya dengan tubuhnya yang kokoh dan gelap, terlihat bahwa dia telah lama berjemur di teriknya mentari.


"Ayah datang! Ayah datang!"


Dua makhluk kecil menyambut kedatangan sang kusir dengan riang. Mereka melompat-lompat sambil melambaikan tangan. Kusir itu tertawa lepas dan balik melambai.


"Anak-anak, ayah datang."


Kedua makhluk kecil ini adalah anak-anak berusia sekitar lima tahun. Mereka adalah putra dan putri dari sang kusir. Ketiganya memiliki rambut dan mata coklat yang sama.


Di Dataran Archiberia 30% manusia berambut coklat, 18% merah, 14% pirang,  12% biru, 9% silver, 4% hitam, dan 6% dengan warna lain (purple, orange, green, pink, etc.).


Sang ayah turun dari keretanya dan memindahkan tong satu per satu. Tempat tinggal mereka tidak terlihat seperti rumah yang layak tetapi hanyalah bangunan kumuh dengan dinding kayu yang telah bolong di sana-sini.


"Sayang, apa tuan mengirim barang yang  sama?"


Sosok wanita yang memiliki paras keibuan keluar dari rumah. Dia sangat kurus tetapi  masih cukup cantik jika mengecualikan segala kedekilannya.


"Iya, tuan memerintahkan kita untuk mulai membajak tanah. Tong-tong ini berisi pupuk dan biji-bijian."


Mendengar penjelasan suaminya, sang istri hanya mengangguk lemah. Baik dia dan semuanya adalah budak dari seorang pemilik kebun yang kaya. Mereka adalah budak sehingga kedua anak mereka juga memiliki status serupa.

__ADS_1


Budak bukanlah manusia! Mereka tidak memiliki hak asasi! Di Benua ini tidak ada satupun negara besar yang melarang perbudakan. Malah perbudakan adalah salah satu tonggak perekonomian nasional. Eksploitasi tenaga kerja tanpa membutuhkan upah yang layak dan mengoptimumkan produksi tentu akan sangat menguntungkan para stakeholder.  Itulah sebabnya bahkan di negara republik sekalipun, budak hanyalah properti dan tidak dianggap sebagai makhluk hidup.


Walau kedua pasangan ini masih tersenyum tetapi di lubuk hati mereka yang terdalam terdapat perasaan yang amat takut dan gelisah. Mereka terus memikirkan masa depan anak-anak mereka siang dan malam. Mereka tidak mungkin tidak tahu masa depan suram kedua anak itu ke depannya.


***


Burung-burung menyanyi pada pagi yang cerah. Di dalam sebuah kandang ternak, seorang remaja membuka matanya yang berat. Ia tertidur di atas jerami setiap malam. Inilah rumahnya, sebuah kandang ternak milik tuannya.


"Aku bermimpi lagi."


remaja itu memegang kepalanya. Perasaan ngantuk masih belum lepas dari kepalanya. Namun ia tidak boleh tertidur sekarang. Ia harus bekerja.


Remaja itu bangun dan pergi ke sebuah tong besar berisi air. Dia mengambil air dengan menggunakan ember lalu membasuh wajahnya. Ia mencium aroma tanah dari air tetapi ia tidak memerdulikannya. Air ini ia ambil dengan rajin dari sungai tak jauh dari ladang peternakan.


Tuannya adalah peternak yang lumayan kaya, sehingga tuannya memiliki beberapa ekor sapi yang diternakan. Remaja itu harus merawat semua hewan itu karena ia adalah seorang budak.


Setelah mencuci wajahnya, remaja berambut coklat itu pergi membuka pagar-pagar yang mengurung sapi-sapi di kandang. Ia menggembalakan sekitar 30 sapi beraneka ukuran, kelamin, dan usia. Ia membawa semuanya ke ladang yang penuh dengan rerumputan pagi yang segar. Masih ada buih pagi di tanaman-tanaman itu. Para sapi sangat senang mendapat sarapan yang segar sehingga mereka mengeluakan suara 'moo' dan menggerak-gerakan ekor.


Ngomong-ngomong remaja ini belum sarapan. Tentu saja tuannya memberinya makanan tetapi itu hanya roti yang sangat alot dan tidak memiliki rasa. Sehingga untuk memenuhi napsu makannya, remaja itu sering mencari makanannya sendiri. Biasanya dia akan mencari kacang-kacang, ubi-ubian, dan buah-buahan liar di hutan, terkadang jika dia beruntung akan mendapat hewan buruan seperti unggas atau kelinci liar.


Ladang ini dilindungi oleh pagar yang terbuat dari tumpukan bebatuan sehingga hewan ternak tidak dapat kabur. Sebenarnya jika dibandingkan tugas-tugasnya terdahulu, tugas sebagai pengembala tidak terlalu berat. Ia bahkan merasa ini seperti liburan.


Setelah memastikan bahwa semua sapi makan dan tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan, remaja ini memutuskan untuk pergi ke hutan mencari sarapannya.

__ADS_1


Mustahil bagi remaja itu untuk melarikan diri. Dia tidak terlalu putus asa sehingga memutuskan untuk kabur dan hidup di hutan. Dia tahu banyak hewan buas di sana pada malam hari dan dia juga tidak menjamin akan memiliki tempat berteduh di sana. Adapun jika dia kabur ke pasar, maka kemungkinan besar dia harus mencuri atau menjadi pengemis untuk terus hidup. Jelas itu kehidupan yang jauh lebih menyiksa daripada kehidupannya yang sekarang.


Pemuda ini bernama Rain tetapi sebagai budak, ia memiliki nama lain. Tuannya memberinya nama Scraps. Itulah identitasnya. Ia telah beberapa kali diperjualbelikan. Selama waktu kecilnya, ia kurang mendapat asupan gizi sehingga tubuhnya lebih kecil dari anak-anak seusianya.


Rain membawa beberapa bebuahan liar dari hutan. Ia tidak berani masuk terlalu dalam. Ia takut hewan-hewan buas atau bahkan magic beast dapat muncul di pedalaman hutan. Walau ia tidak terlalu paham seberapa beringasnya magic beast tetapi ia sering mendengar dari orang-orang bahwa mereka menyeramkan.


Rain duduk di atas pagar batu. Ia sudah terbiasa di sana. Setiap pagi ia akan melihat anak-anak seusianya berlalu-lalang. Mereka memiliki pakaian yang jauh lebih bersih dan mahal darinya.


Biasanya anak-anak dari keluarga miskin akan membantu orang tuanya bekerja dengan membawa hasil pertanian dan naik ke transportasi umum (kereta kuda/kereta kerbau) menuju ke pasar. Sementara anak-anak dari keluarga yang lebih kaya biasanya keluarga pedagang, agamawan, dan sarjanawan akan pergi ke tempat yang disebut sekolah.


Sekolah di pedesaan dan kota-kota kecil hanya memberikan pelajaran membaca, menulis, dan ilmu agama. Namun harganya sangat mahal. Itu karena para guru yang merupakan akademisi atau agamawan akan mematok harga setinggi langit sehingga yang dapat menikmati layanan pendidikan hanyalah masyarakat kelas atas.


Adapun untuk pusat pendidikan di Kerajaan Artchania terdapat empat jenis pusat pendidikan, yaitu:


-Royal Militery Academic of Artchania Kingdom, merupakan pusat pendidikan yang menghasilkan para calon prajurit terampil. Akmil hanya terdapat di ibukota dan di sana terdapat tiga sekolah yaitu Warrior School, Ranger School, dan Assassin School. Ini adalah jenis pendidikan yang paling prestise di kerajaan. Kebanyakan muridnya adalah bangsawan dan anggota royalty.


-St. Adriana's Theological Institute, merupakan insititut yang mengajarkan ilmu keagaaman Hexatheisme di Kerajaan Artchania. Institut ini berlokasi di ibukota tepatnya di dekat St. Castelius' Pontheum dan menjadi sekolah lanjutan setelah para discimpion (murid) lulus dari pendidikan mereka di sekolah-sekolah teologi mereka masing-masing.  Terdapat dua konsentrasi pendidikan di sini yaitu Clegy School dan Paladin School. Setelah lulus dari institute ini, mereka akan resmi menjadi Serkon (Pendeta Muda) dan Young Paladin (Paladin Muda).


-King Julius' Magical University adalah universitas yang terfokus mengajarkan ilmu-ilmu sihir. Berada di ibukota dan mengajar sihir bertipe arcane, spritual dan alternative. Beberapa fakultasnya adalah Faculty of Alchemy and Medicine, Faculty of Magic Engineering, Faculty of Magic Education, Faculty of Wizardry, Faculty of Humanities and Hypnologies, Faculty of Biotaming and Summontologies, Faculty of Arcanomantics, Faculty of Forecasting, dan Faculty of Literature and History of Magic.


-Augustus' Royal University adalah universitas yang didirikan oleh wangsa Augustus dan berlokasi di ibukota. Universitas ini hanya berfokus pada ilmu-ilmu sosial dan tidak mengikutcampurkan ilmu sihir. Terdapat enam sekolah di sini yaitu Philosophy School, Law School, Economics School, Arts School, History School, dan Literature School.


Rain sama dengan budak pada umumnya atau lebih tepatnya setidaknya terdapat persamaan antara budak dan masyarakat miskin. Mereka sama-sama buta huruf. Angka melek huruf di benua ini sangat rendah. Di Kerajaan Artchania, persentase orang-orang yang mampu membaca dan menghitung jika menjumlahkan semua kaum bangsawan, agamawan, penyihir, militer, pedagang, dan sarjanawan maka jumlah mereka tidak lebih dari 20% penduduk.

__ADS_1


Rain terus memakan bebuahan yang menjadi sarapannya dan tidak terasa baginya bahwa semua buah yang ia kumpulkan telah habis. Ia hendak turun tetapi sebelum itu, ia mendengar suara teriakan yang mengarah padanya.


"Hei budak bau!"


__ADS_2