
Para prajurit telah berkumpul di depan gerbang kota. tempat ini akan menjadi awal dari sebuah kejadian besar. Disebabkan perintah tiba-tiba, semua prajurit dari seluruh fraksi yang tidak melakukan misi evakuasi bergegas untuk menjadi tim bantuan. Mereka mendengar bahwa terjadi serangan undead di dalam kota. Jadi kemungkinan besar para prajurit yang sebelumnya sedang melakukan misi evakuasi penduduk terjebak menghadapi makhluk-makhluk itu.
Tak lama setelah semua orang berkumpul, Alex muncul di depan semua orang. Ia tidak sendiri, ia ditemani oleh seluruh petinggi militer dari seluruh fraksi, dimulai dari Warfoy yang mewakili fraksi serikat penyihir, High Priest of Hadalon yang mewakili fraksi kuil, hingga para petualang dan bangsawan yang mewakili fraksi masing-masing.
Namun ternyata tidak hanya petinggi militer saja yang mengikuti Alex. Seorang anak muda yang tidak dikenal juga berada di sana. Ia adalah seorang anak muda dengan rambut coklat dan mengenakan magic item tingkat middle class seperti armor dan pedang. Pria itu tidak dikenal oleh hampir semua prajurit di sini. Namun untuk prajurit yang sering berinteraksi dengan Alex seperti para ajudan, mereka mengetahui pria ini bernama Rain. Ia adalah bawahan langsung Alex yang berasal dari Rumah Alexandreia. Pria itu berdiri bersama dengan jajaran para petinggi militer tanpa rasa rendah diri sama sekali.
Ketika mereka sampai di tempat para prajurit, semua orang terdiam. Yah ... wajar saja, orang nomor satu di dalam korps ini dan salah satu orang terpenting di kota telah menampakkan batang hidung mereka, hanya orang yang cukup bodoh atau mereka yang tinggal di pedalaman dan tak tahu dunia luar yang mungkin tidak memahami situasi yang kini dihadapi.
"Semua ... terima kasih telah hadir."
Suara Alex berhasil menarik perhatian seluruh petualang.
"Saat ini kota kita sedang menghadapi masalah besar. Banyak laporan yang mengatakan bahwa saat ini kota sedang diserang oleh undead. Kemunculan undead yang sudah teridentifikasi bernama amygdala telah menyebabkan masalah yang serius. Ini membuat proses evakuasi penduduk kota menjadi tertunda. Itu sebabnya kami telah mengeluarkan perintah darurat. Perintahnya adalah menghabisi para undead. Jadi aku berharap kalian dapat saling bekerja sama terlepas dari latar belakang kalian miliki. Ini bukan lagi latihan dan apa yang akan kalian hadapi di depan mata kalian adalah kondisi hidup dan mati."
"Sir, yes Sir!!"
Para prajurit menjawab dengan serentak. Suara mereka bergema di diantara malam yang gelap. Setidaknya terdapat lima ribu orang prajurit yang ada di sini. Jumlah itu memang tidak terlalu banyak tetapi ini mungkin sudah cukup baik.
Setelah pengumuman singkat dari Alex, para prajurit pun langsung berangkat. Selain prajurit-prajurit itu, ternyata tim Falcon juga berpartisipasi dalam misi ini.
***
Tim Falcon, sebuah unit militer dari satuan militer elit bernama Royal Majestic Guarder dengan pemimpin timnya bernama Richard sedang mengikut dalam misi darurat ini untuk melawan sekumpulan amygdala. Namun tentu saja dalam misi ini, identitas mereka sebagai Royal Majestic Guarder tidak dipublikasikan. Identitas mereka saat ini hanyalah prajurit kerajaan biasa. Mereka dan para prajurit lain telah memasuki gerbang kota dalam kelompok besar.
Namun konsentrasi jumlah para prajurit menyebabkan satu kekurangan, yaitu waktu. Setiap kali mereka datang, puluhan warga telah tewas. Kota ini amatlah luas dan dengan tidak adanya jumlah tim yang mempunyai hanya menyebabkan jumlah korban terus bertambah.
"Kita tidak bisa begini terus. Kita harus berpencar," ucap Camellia.
__ADS_1
"Aku setuju. Kita terlalu lambat bergerak. Jika terus begini, kita tidak bisa menyelamatkan para korban," ucap Rionard
Keduanya memberikan masukan kepada Richard. Karena Richard dan anggota tim lain setuju, ia memberitahukan saran itu kepada pemimpin pasukan. Pemimpin pasukan ini langsung dikomandoi oleh Alex selaku komandan tertinggi. Ia terlihat menyetujui saran dari tim Falcon.
Kelompok militer itu pun dipecah menjadi dua. Atas inisiatif mereka, tim Falcon juga dipecah. Richard, Iona, dan Darius berada dalam kelompok yang sama. Sementara Camellia, Rionard, dan Joseph berada pada kelompok lain.
Kelompok pun terpecah sesuai dengan komposisi yang dibutuhkan. Alex memimpin sebuah kelompok militer dimana Richard berada di dalamnya sementara Warfoy memimpin kelompok lain dimana Camellia berada.
***
Kelompok Warfoy terus bergerak cukup jauh, hingga akhirnya mereka menemukan sekelompok warga. Para warga itu terlihat bersembunyi di rumah-rumah. Tidak ada yang berani keluar terutama ketika mereka masih trauma dengan wabah yang ada dan sekarang mereka di serang oleh sekelompok undead. Namun ketika mereka melihat sekelompok prajurit, mereka langsung menghampirinya dengan perasaan suka cita.
Warfoy ragu untuk kembali memecah kembali kelompok. Ia sebenarnya ingin memecah kelompok dengan tujuan salah satu kelompok bersama dengan para warga akan pergi ke markas militer. Namun ia takut, karena itu akan memperlemah kekuatan tempur mereka. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya warga sebelum ia dan kelompoknya kembali ke markas mereka. Ia bukanlah kesatria kerajaan sehingga tidak ada istilah nyawa warga adalah prioritas. Ia menganggap semua nyawa di kelompoknya adalah sama berharga.
"Undead! Undead!"
"Cih, kemarilah," ucap Warfoy.
Para penyerang depan langsung menyerang para amygdala dan serangan bantuan seperti panah dan mantra muncul dari pasukan belakang.
"Teknik menyerang: [Spring Attack]!"
Camellia mengkatifkan martial art yang sangat menarik. Ia seolah menari dalam gelapnya malam. Setiap ayunan pedangnya berhasil memotong satu organ amygdala. Jika ada yang mengatakan kematian adalah hal yang indah, maka ia adalah kematian itu sendiri.
"Luar biasa!"
"Hebat!"
__ADS_1
Para petualang terutama warrior yang melihat bagaimana martial art dan cara bertempur Camellia yang indah dan teratur itu hanya bisa terkagum. Ini memang kualitas yang pantas ditunjukkan oleh seorang prajurit Royal Majestic Guarder.
"Aku tidak akan kalah! Teknik menyerang: [Earthshaker]!" ucap Joseph.
Dia melompat ke kerumunan amygdala dan langsung menancapkan pedangnya di tanah. Seketika itu, ledakan terjadi.
*Booom!!
Jika Camellia ibarat kematian hening maka Josep adalah bencana kematian.
"[Fire ball]!"
Warfoy mengaktifkan sihir tingkat 3, [Fireball]. Ia mengetahui bahwa undead lemah terhadap sihir elemen api dan sihir suci. Tidak hanya dia, Warfoy dan para penyihir lain juga menggunakan mantra yang serupa untuk membunuh undead.
Seperti yang diharapkan dengan adanya Royal Majestic Guarder dan seorang elit dari serikat penyihir di sini, mereka dapat mengalahkan para amygdala dengan baik.
"Hoh ... kita berhasil menang," ucap Camellia.
"Hmm ... yah ...," balas Joseph.
Ini memang kemenangan yang patut disyukuri, memang ada beberapa petualang yang tewas, tapi setidaknya jumlahnya tidak terlalu besar. Namun anehnya, Iona tidak merasa tenang. Dia seperti merasakan sesuatu yang besar akan terjadi. Akan tetapi ia ragu mengatakannya, karena ia sendiri tidak yakin.
"Mungkin cuma perasaanku saja," gumam Iona.
Para prajurit bersuka cita dengan kemenangan mereka. Mereka juga mengistirahatkan diri untuk sementara. Adapula yang meminta para priest yang mampu mengeluarkan mantra [Cure] atau [Heal] untuk menyembuhkan mereka.
*Wusshhhhh ....
__ADS_1
Angin dingin tiba-tiba berhembus, dan di depan mereka semua seseorang berjubah hitam dengan wajahnya yang ditutupi oleh kerudung muncul entah dari mana.