
Dia tidak tahu apa yang terjadi pada hidupnya sendiri. Sepanjang dia hidup, dia tidak pernah berpikir ataupun bertindak untuk kepentingannya sendiri. Dia adalah alat, dia adalah objek, dia adalah benda yang hanya digunakan untuk memuaskan keinginan tuannya.
Dia hanyalah seorang gadis muda yang baru berusia 7 tahun. Rambut dan matanya berwarna coklat, kulitnya kasar dan sedikit gelap akibat kotoran yang telah lama melekat dan menghitam. Gadis ini adalah budak, semenjak pertama kali ia membuka matanya, ia terlahir sebagai budak. Ia tidak ingat siapa ayahnya tetapi ibunya juga seorang budak seperti dia. Di dalam tubuh gadis muda ini telah lama mengalir darah keturunan budak.
Ketika ia baru berumur 5 tahun, ia telah dipisahkan dari ibunya dan ia pun dibeli oleh seorang pemilik penginapan sederhana. Tuannya tidak terlalu kaya ataupun miskin. Awalnya ia tidak mengerti apa arti dari kata tuan.
Apakah tuan berarti ayah?
Apakah tuan berarti saudara?
Sepertinya tidak. Dalam hidupnya, dia terus mencari apa artinya tuan dan kenapa dia membutuhkan tuan. Selama dua tahun dia bersama dengan tuannya ini, dia setidaknya mengetahui beberapa hal;
-Pertama, tuan adalah manusia yang menentukan hidupnya. Dia hanya dapat hidup atau mati hanya dengan izin tuan.
-Kedua, dia adalah keberadaan kotor. Dia adalah hasil dari kebejatan manusia dan digunakan untuk menampung kebejatan manusia lain.
Gadis itu duduk di lantai dengan melipat kakinya dan memeluknya. Dia berada di sebuah kereta kuda besar yang berisi berbagai barang. Dia tahu, ini bukanlah kereta tuannya. Ketika dia datang bersama tuannya, ia mendengar beberapa percakapan antara tuannya dengan seorang laki-laki tampan.
Tidak ada kata lain selain kata sempurna dari lelaki itu. Dibandingkan dengan kulitnya, kulit lelaki itu jauh terlihat lebih bersih dan putih. Pakaiannya juga rapi dan mahal. Namun apakah lelaki itu adalah orang yang baik? Dia meragukannya. Mata lelaki itu tidak memiliki perasaan apa pun. Telihat keangkuhan dari wajah dan pandangannya. Gadis itu gemetar secara alami ketika ia mengingat tatapan maut itu.
Di kereta ini hanya dia yang merupakan manusia sementara lainnya adalah benda mati. Benda yang memiliki gumpalan kuning dengan stik adalah benda yang mendominasi ruangan kereta ini. Dia tidak tahu benda apa ini. Namun dia tahu, benda ini adalah benda yang penting. Ketika ia tidak sengaja menabrak seorang kakak yang membawa benda ini dan menjatuhkannya, dia dimarahi dan ditendang.
Secara naluriah, gadis itu membuat jarak dengan benda kuning ini. Dia takut kalau dia merusaknya.
***
Alex akhirnya kembali ke rumah.
"Justin, aku ingin mandi."
"Eh? Tuan, bukankah sebelumnya Anda sudah mandi?"
"Aku tahu, tapi tubuhku terasa lengket. Mungkin panas di pasar membuatku berkeringat."
Alex merasa gerah selama dia berada di pasar. Banyaknya polusi dari debu dan aroma kotoran kuda yang berlalu-lalang tentu membuatnya sangat tidak nyaman. Ini bukan pertama kali Alex pergi ke pasar, biasanya dia akan pergi bersama dengan ibunya. Namun mungkin karena dia terlalu lama terkena sinar matahari membuatnya berkeringat.
Alex dan Justin turun dari kereta. Selagi Justin memberikan instruksi Alex kepada kedua pelayan wanita, Alex mulai berjalan menjauh. Namun salah satu prajurit segara bertanya padanya.
__ADS_1
"Tuan Muda, apa yang ingin Anda lakukan kepada budak Anda, Tuan?"
"Ha? Budak?" tanya Alex bingung.
"Maaf Tuan Muda, tadi siang Anda telah membawa seorang gadis budak sebagai ganti rugi terhadap rusaknya xylospongium Anda."
Ha! Benar juga!
Alex lupa dengan orang itu. Sangat aneh bagi Alex yang merupakan archdeus yang mahatahu tidak mengingat hal itu. Yah ... mungkin dia terlalu fokus pada rasa lengket di tubuhnya sehingga melupakan gadis itu.
"Berikan dia kamar-"
Alex menghentikan perintahnya karena sadar satu hal.
"Benar juga, dia itu wanita."
Alex ingat di keluarganya terdapat beberapa budak yang digunakan sebagai pekerja kebun. Setidaknya dalam satu kamar berisi beberapa orang budak tetapi mereka semuanya pria dewasa. Tidak mungkin bagi Alex untuk menyatukan budak barunya ini kepada para budak pria.
"Beri tahu kepala pelayan untuk menyiapkan kamar pribadi bagi budak ini. Kemudian perintahkan budak itu mandi dan mengenakan pakaian yang layak sebelum menemuiku."
"Baik Tuan Muda."
Dari kereta, seorang anak gadis dengan pakian lusuh turun. Warna kulitnya yang kotor dan rambutnya yang kering menambah kesan dekilnya.
"Ikuti!"
Seorang pelayan wanita yang sebelumnya ia temui di pasar berbicara dengan tegas kepadanya.
Gadis itu hanya diam dan mengikuti pelayan itu dari belakang seperti anak bebek. Pandangan gadis itu berbinar ketika ia melihat rumah bertingkat dan mewah. Ia belum pernah melihat rumah sebesar ini sebelumnya. Taman ini juga sangat indah dan cantik.
Apakah aku akan tinggal di sini?
Gadis itu bertanya-tanya di benaknya. Dia sangat riang ketika memikirkan bahwa dia akan menjadi salah satu penghuni di mansion ini.
Mereka tidak masuk dari pintu utama tetapi dari pintu samping yang biasanya digunakan oleh para pekerja. Di lorong, gadis itu melihat pintu-pintu dengan motif indah dan berbagai lukisan cantik di dinding. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kesenangannya, dia pun sesekali membayangkan bahwa dia adalah seorang putri yang tinggal di istana menunggu datangnya seorang pangeran.
Pelayan itu berhenti di salah satu pintu lalu memasukkan kunci dan membukanya.
__ADS_1
"Masuk."
Perintah pelayan itu tegas. Gadis itu kembali menundukkan pandangannya dan masuk ke kamar.
"Ini adalah kamarmu," ucap pelayan itu dengan acuh tak acuh.
Di kamarnya terdapat sebuah jendela besar yang menjadi sumber cahaya pada siang hari. Kemudian terdapat sebuah lemari dan meja kecil yang telah di susun rapi. Namun masih ada beberapa debu berterbangan. Ruangan ini sudah lama tidak digunakan. Walaupun Alex membuat perintah untuk menyiapkan kamar untuk gadis itu tetapi mereka sebenarnya hanya memberikan gadis itu kamar yang tidak terpakai dan tidak membersihkannya. Ini hanya kamar seorang budak jadi untuk apa mereka begitu peduli. Namun dalam pandangan gadis itu, ruangan ini sangatlah bagus dan indah. Dia hanya perlu membersihkan semua debu maka kamarnya akan sempurna.
"Beristirahat di sini. Aku akan membawakanmu pakaian dan kamu nanti harus mandi."
"Mandi?"
Gadis itu bingung. Apa arti dari mandi?
"Tuan Muda tidak menyukai seseorang yang jorok mendekatinya. Kau adalah budaknya dan diwajibkan mandi setiap hari."
Wanita pelayan itu diam-diam mengejek dalam hati. Untuk mandi setiap hari jelas adalah sebuah siksaan. Di rumah ini hanya Justin satu-satunya orang yang mendapat kewajiban itu dari tuan muda. Sekarang satu orang lagi bertambah!
Pelayan itu menyeringai tetapi dia kembali memasang wajah tak berekspresi ketika ia melihat lurus ke budak itu.
Sayangnya budak itu tidak mengerti apa arti dari mandi dan dia memasang wajah bingung. Namun pelayan itu menolak menjelaskan.
"Apa kau mengerti?"
"I-iya. Terima kasih."
Walau sebenarnya ia tidak paham, tetapi ketika ia melihat tatapan yang mengisyarakan 'aku hanya menerima jawaban iya' bagaimana mungkin budak itu mengatakan 'tidak'?
Pelayan itu pergi setelah mengatakan semua ini seolah dia tidak peduli lagi pada pada anak itu.
Adapun budak itu menutup pintunya kemudian naik ke kasurnya.
WOW! Ini empuk sekali.
Gadis itu melompat-lompat di kasurnya dan merasa sangat riang. Ia pun membenamkan wajahnya di bantal.
Tidak lama, setelah lelah berguling-guling sepanjang ranjang, dia pun tertidur.
__ADS_1