THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
PRE-DISASTER(2)


__ADS_3

Artchentioch, Artchania Kingdom


Di sebelah timur yang tak jauh dari Istana Parteric, terdapat sebuah barak yang menjadi asrama dan tempat latihan untuk para prajurit istana, prajurit elit, dan beberapa ordo ksatria dan penyihir reguler lainnya. Di sana juga terdapat sebuah kantin. Kantin itu selalu ramai setiap hari, khususnya pada saat malam dan hari libur.


"Cheers!"


Seperti biasa, ada beberapa orang yang sedang santai dan minum beberapa botol bir. Mereka terlihat bahagia dan seperti tidak memperdulikan kondisi kerajaan saat ini. Wajar saja, jika disuruh mengerti pun mereka tak akan tahu apa itu inflasi, separatisme, revolusi, dan perang feodal. Mereka hanya tahu mengangkat pedang, tombak, atau panah serta mengatakan 'f*ck' jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak mereka.


Namun hal itu tidak berlaku bagi kelompok prajurit yang satu ini. Mereka adalah  Camellia Anaira Hoverd, Rionard Connor Artheven, Joseph Cyrus  Hilldalion, Darius Ladderick Marquell, dan Iona Margaret Swandom. Jika dilihat, mereka memiliki tiga buah nama, yaitu depan, tengah, dan belakang. Sudah pasti mereka berlima ini adalah para bangsawan.


Camellia Anaira Hoverd, adalah seorang prajurit wanita yang tergabung dalam Royal Majestic Guarders yang dipimpin langsung oleh sang raja. Pasukan ini dianggap sebagai barisan terakhir dan hanya berjumlah sekitar 500 orang yang terbagi dalam beberapa tim. Equipment tempur Camellia tergolong sederhana, ia hanya memakai armor ringan, helm berwarna silver, dan sebuah pedang tunggal. Dalam kelompok, dia adalah seorang wakil kapten.


Rionard Connor Artheven, bergabung dalam Royal Majestic Guarders pada saat berumur 23 tahun. Ia adalah calon Kepala Keluarga Artheven. Memiliki jenggot, kumis, dan rambut hitam, membuat dia terlihat sangat dewasa. Rionard sangat menyukai pedangnya, yang bernama sword of despair. Selain itu, dia juga merupakan seorang assassin dalam kelompok ini.


Joseph Cyrus Hilldalion, seorang tanker yang sangat kuat. Hampir setiap saat baik saat bertugas atau pun tidak, ia akan selalu mengenakan full armor-nya yang terlihat berat itu.


Sementara Darius adalah seorang pria berambut silver. Ia adalah seorang warrior dan ranger dengan tipe pemanah atau archer. Dia bergabung di Royal Majestic Guarders pada umur 15 tahun, dan tergolong sebagai salah satu yang termuda saat itu.


Terakhir adalah Iona, seorang magic caster sekaligus healer bagi kelompok ini. Dia sangat menyukai warna hijau dan memiliki rambut pendek berwarna silver.


Mereka berlima sedang duduk di tempat yang sama dan minum beberapa botol bir. Ke-5 orang itu terus saja bercerita. Mereka menceritakan beberapa hal yang terlihat sepele tapi sebenarnya itu sangat penting.


"Aku tidak mengerti, kenapa para priestess dari kuil utama itu sangat cantik," ucap Darius.


Ia memulai pembahasan mengenai priestess. Sebelumnya, mereka membicarakan kenapa kuil utama itu bernama St. Castelius Pontheum.


"Entahlah, mungkin saja karena semua orang itu diberkati kecantikan oleh sang Dewi," ucap Camellia.


"Hmm ... membicarakan priestess, aku berpikir jika mereka adalah orang-orang yang diberkati oleh Dewa, mengapa sampai sekarang mereka tidak bisa menyembuhkan penyakit Her Royal Highness?" tanya Joseph.


Orang yang dibicarakan oleh Joseph adalah salah satu putri keluarga kerajaan.


Tatapan setiap orang pun tertuju kepada Iona. Mereka memikirkan pertanyaan yang sama. Hal itu membuat Iona sedikit tertekan.


"Aku juga awalnya berpikir begitu. Namun jika meminta bantuan Dewa semudah itu, bukankah seharusnya semua penderitaan di dunia ini harusnya sudah menghilang?"


Semua orang mengangguk setuju.


“Tapi jika terus begitu bukankah suatu hari nanti Her Highness  bisa saja kehilangan kecantikannya," ucap Darius.


Teman-temannya melihatnya dengan tatapan aneh. Dalam situasi saat ini, mana mungkin sang putri akan mementingkan penampilannya. Itulah mungkin yang ingin mereka katakan.

__ADS_1


"Terlepas itu semua, setidaknya musibah ini belum diberitahukan ke publik, kan?" tanya Joseph.


"Begitulah," ucap Camellia.


Ke-5 orang itu kembali meneguk birnya. Keheningan sempat terjadi sesaat, hingga akhirnya Darius mencairkan pembahasan.


"Mungkin sebaiknya kita bersiap-siap untuk kehilangan orang dengan gelar Her Royal Highness itu."


Sayangnya, komedinya itu terdengar seperti pengumpatan. Hal itu pun bukannya menimbulkan tawa, malah berujung pada timbulnya letusan emosi kemarahan.


"Hei, Darius. Apa maksud perkataanmu itu?! Apa kamu menyumpahi agar Her Highness meninggal dunia?"


Rionard yang dari tadi diam tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Dia membanting gelasnya sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Hal itu tidak hanya menarik perhatian dari anggota kelompoknya, tapi juga para prajurit lain di kantin itu.


"Huss ... tenanglah Rionard. Darius hanya bercanda, bukankah begitu Darius?"


Camellia berusaha menenangkan suasana. Tapi itu bahkan cukup sulit baginya.


"Hmm ... begitulah," ucap Darius.


Untunglah tidak ada kontak fisik yang berarti. Mereka kembali tenang dan bercerita seperti semula. Tentunya mereka berusaha menjauhi topik mengenai penyakit Her Royal Highness . Namun tak lama, seorang prajurit datang ke arah mereka. Dia terlihat seperti prajurit biasa. Ketika datang, dia memberi hormat dengan mengangkat salah satu tangannya, kemudian dia pun memberitahukan sesuatu.


"Lapor, anggota Royal Majestic Guarders yang tergabung dalam tim Falcon, harap segera menemui Kapten Richard Moonshrine Sintheny."


Darius mengatakan hal itu kepada teman-temannya. Tentu saja, mereka membalasnya dengan semangat. Memang wajar, Royal Majestic Guarders sangat jarang ditugaskan, sebab mereka itu tergolong elit dan hanya mendengar perintah sang raja. Bahkan perdana menteri saja tidak dapat memerintah mereka. Setelah laporan dari prajurit itu diberikan, ke-5 orang itu pun pergi ke tempat di mana kapten mereka berada.


Panggilan tugas telah memanggil. Camellia, Joseph, Darius, Rionard, dan Iona pun pergi ke tempat sang kapten dari tim Falcon berada. Masih di barak pasukan, ke-5 orang ini telah sampai di sebuah ruangan yang dijadikan sebagai kantor tim Falcon. Disana, terdapat sang kapten bernama Sir Richard Moonshrine Sintheny


Richard Moonshrine Sintheny adalah seorang pria berumur 58 tahun dan menjadi anggota Royal Majestic Guarder pada usia 36 tahun. Dia memiliki rambut pendek berwarna silver, tubuh yang berisi, dan wajar yang cukup sangar. Pada usia ke-34, dia sudah mendapat gelar Sir serta gelar the Most Noble Order of the Garter. Dia diangkat menjadi kapten tim Falcon pada usia 53 tahun dan terbaru, pada setahun yang lalu, dia mendapat gelar kehormatan dari His Majesty King Theodore III, yaitu the Most Excellent Order of the Artchania Kingdom.


Setelah diizinkan untuk masuk, Camellia, Joseph, Darius, Rionard, dan Iona pun segera pergi menghadap kapten mereka. Di sana terlebih dahulu mereka memberi hormat secara militer. Setelah itu, Richard meminta mereka untuk duduk.


"Hmm ... duduklah."


Ke-5 orang itu bergegas mencari kursi masing-masing, tentunya mereka mencari dengan beradab tanpa menimbulkan kericuhan seperti di pasar. Setelah itu, Richard pun menjelaskan tugas yang akan mereka laksanakan.


"Beberapa bulan lalu terjadi perang antara dua bangsawan agung yaitu Marquess Canadia dan lawannya adalah Count Otilia. Namun baru-baru ini biro intelijen kerajaan menemukan sesuatu yang ganjil. Berdasarkan temuan mereka, pihak marquess sepertinya menggunakan bantuan militer dari kekuatan di luar kerajaan. Para saksi mengatakan mereka melihat sekumpulan penunggang wyvern yang menyerang Otilia."


Sebelum melanjutkan ucapannya, Darius mengangkat tangan. Dia meminta izin untuk menyela.


"Jadi ada dugaan pihak Canadia menggunakan para wyvern rider sehingga kita disuruh untuk menyelidiki hal tersebut? Aku tahu wyvern rider bukanlah kumpulan orang lemah tetapi bukankah itu terlalu berlebihan, maksudku kenapa harus mengerahkan pasukan Royal Highness untuk tugas seperti itu?"

__ADS_1


Teman-temannya pun mengangguk setuju. Tapi dengan cepat, Ricard menjawab kegelisahan anak buahnya itu.


"Iya itu memang benar. Jika hanya sebatas itu, tidak mungkin kita harus bergerak. Akan tetapi … ada insiden yang mengerikan. Ketika malam penaklukkan Kota Ravouille, yaitu ibukota dari County Otilia. Beberapa saksi mata melihat cahaya terang tiba-tiba muncul dari langit dan menimbulkan ledakan besar. Para penyihir yang menyelidiki hal itu menduga itu berasal dari sihir tingkat enam atau tujuh."


"Apa!"


Ke-5 orang itu berteriak bersamaan.


"Bagaimana mungkin?! Bukankah di kerajaan ini hanya ada dua orang yang bisa mengeluarkan sihir tingkat 7?!" ucap Iona.


Perkataan Iona mengacu pada dua orang hebat di kerajaan ini. Pertama adalah pemimpin spiritual agama Hexatheisme di Kerajaan Artchania, Pontifex Eliarius dan yang kedua adalah Duke of Norchaster seorang magic caster terhebat di kerajaan.


“Benar, itu sebabnya sebagian besar menduga itu adalah sihir yang dikeluarkan oleh para penunggang wyvern.” ucap Richard.


Dugaan itu bukan tanpa alasan. Pertama, mustahil Pontifex akan melakukan hal itu. Terlebih melihat dari efeknya, sebagian besar penyihir percaya bahwa itu adalah sihir tipe arcane. Sementara pontifex adalah pengguna sihir tipe divine. Kedua, tidak ada yang percaya bahwa Duke of Norchaster adalah pelakunya, itu karena secara politik Norchaster tidak berafiliasi dengan Canadia. Apalagi proses penyelidikan sihir itu dilakukan oleh Norchaster sendiri dengan bantuan dari penyihir kerajaan. Sehingga keberadaan dari wyvern rider adalah dugaan terbesar.


Ke-5 orang itu mengangguk. Mereka pun setuju kalau itu adalah alasan yang cukup masuk akal.


"Karena hal itu, Yang Mulia Raja Theodore III pun khawatir. His Majesty akhirnya mengizinkan bergeraknya Royal Majestic Guarders untuk menyelesaikan kasus ini dengan catatan penting bahwa penyelidikan ini tidak boleh diketahui oleh pihak selain Norchaster; terutama Perdana Menteri dan para marquess," sambung Ricard.


Semua orang tahu apa maksud Richard. Kemungkinan misi ini berasal dari nasehat Norchaster kepada raja. Terlebih dengan Perdana Menteri sekarang memiliki afiliasi politik dengan Canadia di parlemen. Sehingga wajar misi ini tidak boleh terbongkar terutama kepada pihak Perdana Menteri.


"Jadi mereka melimpahkan masalah ini kepada His Majesty. Aku rasa perdana menteri sekarang terlalu tidak kompeten," ucap Camellia.


"Ya, apa yang bisa kita katakan. Selama kesenjangan antara borjuis dan proletar masih ada, para kaum feodal akan bebas melakukan apa saja," balas Joseph.


Teman-temannya pun tertawa kecil, karena ucapan dari Joseph juga menyerang mereka semua. Tapi mereka pun mengakui hal itu.


"Jadi bagaimana? Apa kalian setuju untuk berangkat?" tanya Ricard.


"Kenapa ditanya lagi?" jawab Darius.


"Kita tidak punya pilihan, bukan?" jawab Joseph.


"Jika sudah ditetapkan maka kerjakan saja. Kita ini hanya sebuah pion," ucap Rionard.


"Pertanyaan Kapten terlalu aneh," ucap Iona.


"Hah ... aku rasa percakapan ini terlalu lama," ucap Camellia.


Setelah mendengar jawaban dari para anggotanya, Richard pun tersenyum puas. Lalu dia pun mengatakan sesuatu dengan semangat.

__ADS_1


"Kalau begitu, mari kita hilangkan kegelisahan Yang Mulia Raja Kita Yang Dikasihi sekarang."


__ADS_2