THE ARCHDEUS

THE ARCHDEUS
HANDKERCHIEF(5)


__ADS_3

Gemuruh membangunkannya dari kegelapan yang selama ini ia lalui. Gemuruh yang terdengar dekat dan dapat ia rasakan. Gemuruh yang entah kenapa membuatnya merasa tidak nyaman.


Burp ... Burp ....


Seorang anak lelaki yang berusia sekitar tujuh tahun mengerutkan keningnya ketika gemuruh itu semakin intens muncul. Ia ingin tidur lagi, dia sangat mengantuk tetapi gemuruh itu kembali muncul.


Burp ... Burp ....


Siapa sangka, gemuruh itu berasal dari perutnya. Alarm alami yang mengingatkannya melaksanakan kewajibannya sebaga makhluk hidup. Dia merasa lapar, dia ingin makan.


Anak itu perlahan membuka matanya dengan tatapan sayu. Pandangan pertama yang ia lihat adalah ruangan luas dan indah.


Anak itu tahu, ini jelas bukan tempat tinggalnya.


Burp ... Burp ....


Cacing-cacing di perutnya sedang demo meminta penurunan makanan. Anak itu dengan linglung turun dari ranjang empuk yang telah menemaninya di alam mimpi.


Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Anak itu melihat ke kanan dan ke kiri, mengawasi setiap sudut yang ada. Namun tidak ada seorang pun di sana, hanya lorong lapang yang bersih dan rapi.


Anak itu memutuskan untuk pergi entah kemana. Dia berjalan dan terus berjalan tanpa arah dan tujuan.


Burp ... Burp ....


Demo para cacing semain keras, sepertinya sedang terjadi reformasi di dalam perutnya.


Anak itu akhirnya mencium sesuatu yang menggugah rasa laparnya. Itu bersumber dari kamar di depannya. Pintu kamar itu terlihat sedikit terbuka.


Anak itu berjalan pelan berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi sedikit pun. Ia kini terlihat seperti pencuri kecil yang malang.


Anak itu dengan pelan namun pasti membuka pintu. Setelah pintu terbuka hingga setidaknya kepalanya bisa masuk, anak itu dengan pelan mengintip ke dalam kamar.


Kamar ini jauh lebih luas dari kamar yang ia hinggapi. Jauh lebih banyak perabot dan hiasan mahal. Namun saat ini dia tidak mempedulikan semua itu. Ia mencari-cari apakah ada orang di sini, tetapi ia sama sekali tidak menemukan apa pun.


Merasa aman, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Namun seperti yang ia duga, benar-benar tidak orang di sini.


Ia kemudian mencari dari mana sumber aroma menggiurkan itu berada, hingga akhirnya ia menemukan seonggok daging di meja. Selain itu, ada minuman berwarna dan beberapa jenis sayuran yang tersusun rapi menemani si daging.


Air luar anak itu langsung mengalir ketika menemukan tujuannya. Ia langsung menghampiri daging yang telah terpanggang sempurna dan telah menjadi steak. Masih ada uap panas dari steak ini sehingga ia tahu daging ini baru saja keluar dari panggangan.


Tanpa basa-basi lagi, anak itu lantas memakan semua makanan yang berada di meja tanpa terkecuali.


***


Alex merasa buruk hari ini. Sudah tiga hari dia terus memakan daging magic beast. Dalang atas semua ini adalah Harol yang dengan rakus memburu begitu banyak magic beast. Daging magic beast sebenarnya cukup enak jika diolah dengan benar, terutama jika itu adalah daging Red Urours yang terasa lembut dan memiliki tekstur khas ketika digigit atau daging Rangifer Snowalker yang terasa dingin ketika berada di tenggorokan. Namun ini bukan tanpa efek, kandungan mana di tubuh magic beast mendorong pembersihan tubuh secara signifikan. Sudah tiga hari Alex harus buang air besar lebih dari 10 kali per hari. Dia awalnya menduga saat ini ia mengalami diare tetapi tekstur fesesnya tidak cair dan ia tidak mengalami mual.

__ADS_1


Mungkin ini adalah proses pembersihan tubuhnya. Ia memang tidak pernah melakukan proses seperti meditasi atau sejenisnya. Walau memang ada anggapan bahwa kotoran di dalam tubuh dapat mengurangi kualitas aura dan mana di tubuh, Alex tidak terlalu memperdulikannya. Sejak awal dia memang tidak ada niat untuk menjadi seorang pahlawan atau apa pun, ia hanya ingin hidup dengan tenang seperti babi yang berkubang di lumpur ... hah seberapa nyamannya itu.


Buang air terus menerus membuat Alex merasa bahwa mungkin bokongnya sudah terkikis. Alex keluar dari garderobe-nya. Namun ketika ia menatap lurus ke sarapan yang telah disiapkan oleh Justin untuknya dan anaknya, ternyata sosok tuyul berambut hitam sedang asik bekubang di antara tumpukan makanan.


"...."


Tentu saja Alex mengetahui siapa anak itu. Bocah itu diselamatkan oleh anaknya dan telah tidur selama 3 hari.


Menurut cerita yang ia dengar dari Merry dan Justin, ternyata anak itu mengalami luka di sekujur tubuhnya. Untunglah pengobatan diberi tepat waktu.


Namun apa yang tidak disadari oleh Merry dan Justin jelas sangat terlihat di mata Alex. Bahwa anak ini ....


Berbakat!


Alex dapat melihat sirkulasi mana anak itu yang amat padat. Namun di waktu yang bersamaan sirkulasi mana itu mengalami kekacauan. Terlihat  beberapa jalur yang pecah sehingga menyebabkan beberapa mana keluar dari tubuh anak ini dan menyebabkan gelombang mana di sekitar tubuhnya. Bahkan bila itu bukan penyihir sekalipun jika setidaknya mereka pernah belajar atau mengendalikan energi supranatural lain seperti aura, mereka bisa merasakan gejolak mana yang sangat tidak stabil ini.


"Ehem ...."


Anak itu kaget mendengar suara batuk yang muncul tiba-tiba. Tubuhnya terdiam ketika melihat sosok tinggi yang berdiri sambil memandangnya dengan tatapan serius. Anak itu menelan ludahnya tetapi ....


"Uhuk! Uhuk!"


Anak itu terbatuk akibat sisa minyak dan saus masuk ke laring. Tenggorokannya merasa perih dan ia terus batuk.


Alex yang awalnya ingin memberi sedikit intimidasi kepada pencuri kecil ini akhirnya menghela napas. Dia kemudian mendatangi anak itu, duduk di samping sambil memukul-mukul punggung anak itu.


Anak itu langsung mengambil minuman yang diberikan Alex. Ia meminum semua jus di gelas dengan cepat. Ini lebih terlihat seperti seorang yang kehausan daripada seseorang yang tersedak.


"Hah ...."


Anak itu menghela napas lega setelah rasa perih itu perlahan mereda. Ia kemudian tersadar bahwa orang asing yang sepertinya sang pemilik kamar sedang duduk di dekatnya.


Tubuh si anak itu kembali tegang karena ketakutan. Ia melirik orang asing itu tetapi ia tidak merasakan tatapan serius seperti sebelumnya.


"Hah ... pencuri kecil."


"!!!"


"Apa yang kamu lakukan?"


Anak itu menjadi gugup ketika mendengar pertanyaan dari orang asing itu. Dari sudut manapun dilihat sangat jelas bahwa dia adalah pencuri makanan. Dia tidak mungkin bisa menghindari fakta itu.


"Sudah ... tak masalah. Aku tahu kau pasti lapar setelah tiga hari tertidur dan kau pasti sangat terkejut karena tiba-tiba terbangun di sini, bukan?"


Anak itu mengangguk. Dia merasa bersalah karena mencuri makanan tetapi lebih dari itu, dia penasaran kenapa dia ada di sini. Jadi dengan serius dia mendengar kalimat berikutnya dari orang asing itu.

__ADS_1


"Yeah ... singkat cerita anakku menyelamatkanmu setelah kau muncul di depannya dengan tubuh penuh luka di dalam hutan. Apa yang kau lakukan di sana?"


Anak itu terkejut mengetahui bahwa orang yang terlihat seperti kakak ini ternyata sudah memiliki anak. Namun dari semua kejutannya itu, ia masih tetap menceritakan kisahnya kepada orang asing ini.


Anak itu memutar ingatannya. Ia saat itu kabur ke dalam hutan tetapi di sana dia bertemu dengan seekor makhluk yang menyerupai beruang, berbulu merah, dan memiliki kristal di tubuhnya. Ia sadar setelah beberapa kali serangan, ia tidak bisa mengalahkan makhluk itu. Tubuhnya penuh luka akibat pertarungan dengan monster itu. Itu sebabnya dia berusaha menyelamatkan diri tetapi makhluk itu terus mengejarnya.


Alex yang mendengar ceritanya hanya bisa tersenyum pahit. Ia menduga bahwa anak sialan inilah yang membawa Red Urours ke arahnya saat berburu.


Pantas beruang bodoh itu terus berlari dan mengaum seperti orang gila.


Namun Alex menyembunyikan kemarahannya. Tidak baik marah di pagi hari. Bagaimanapun itu sudah berlalu jadi lupakan saja. Kemudian Alex bertanya sesuatu yang lain.


"Mengapa kamu lari ke hutan?"


Anak itu tiba-tiba menggigil. Dia tidak menjawab tetapi menggeretakan giginya. Wajahnya dipenuhi terror seolah mengalami penganiayaan.


"Apa kamu tidak apa-apa?"


Alex melihat anak itu yang sangat ketakutan. Ia menduga kemungkinan besar bahwa anak ini lari dari suatu tempat yang tidak ramah.


Namun anak itu hanya mengangguk dengan lemah. Ia menundukkan pandangannya ke bawah seolah ingin menyembunyikan semua ekspresi di wajahnya.


Alex mengalihkan pembicaraan karena ia tidak ingin anak itu terus merasa sedih.


"Ah ... Apa kamu ingin makan lagi? Tidak masalah, kau bisa makan lebih banyak."


Anak itu tersentuh setelah mendengar tawaran orang asing ini. Dia belum pernah mendapat kebaikan seperti ini sebelumnya. Anak itu merasa semakin bersalah karena mencuri makanan dari seseorang yang baik.


"Tidak, aku tidak lapar lagi. Maaf sudah mengambil makanan Kakak tanpa izin."


Anak itu menggelengkan kepalanya sambil tetap memandang ke bawah. Ia tidak berani menatap orang itu secara langsung. Ia juga setidaknya sadar bahwa orang asing ini lebih tua darinya tetapi tidak terlalu tua hingga harus dipanggil pak.


Alex hanya bisa tersenyum.  Ia berpikir bahwa anak ini ternyata punya hati nurani dan bisa merasa bersalah karena mencuri makanan.


"Tidak masalah. Siapa namamu? Aku tidak tahu harus memanggilmu apa?"


"Kakak bisa memanggilku Alpha."


Anak itu sebenarnya agak ragu menyebut namanya. Ia tahu bahwa ini bukan nama aslinya tetapi ia masih menyebutkannya kepada orang asing ini.


Mengingat semua memori silam yang ia lalui, anak itu merasa marah, takut, dan sedih di hatinya. Ia dijadikan sebagai makhluk percobaan di suatu laboratorium yang dipenuhi spesimen manusia. Banyak orang-orang seperti dia mati dalam eksperimen. Semua eksperimen aneh itu menyebabkan otaknya kehilangan memori masa lalu.


'Alpha' sebenarnya adalah nama kelompok spesimen anak itu berada.


Ia telah menjadi manusia percobaan

__ADS_1


setidaknya ketika ia berumur 4 tahun sampai dinyatakan sebagai percobaan sukses ketika berumur 8 tahun. Ia adalah satu-satunya anak yang sukses selama eksperimen. Selama percobaan di lab, dia memang diajari membaca dan menulis tetapi itu bukan intinya. Semua eksperimen yang dilakukan pada tubuhnya membuatnya menderita. Ia sadar bahwa otaknya perlahan dicuci agar ia melupakan semua masa lalunya, identitas awalnya, dan semua hal mengenai dirinya pada masa lalu. Ia ingin kabur, ia tidak tahu seberapa lama lagi dia akan tetap hidup jika tetap berada di sana. Bagaimana jika suatu hari percobaan mengalami kegagalan? Bukankah artinya dia akan mati? Bukankah artinya mayatnya akan dibuang seolah hanyalah sampah yang tak berharga? Dia tidak menginginkan itu!


Namun ia tidak tahu kemana dia pergi. Jadi hanya berbekal insting, ketika ia kabur dengan sukses, ia pergi ke dalam hutan. Dia adalah spesimen yang dinyatakan sukses. Eksperimen yang ia lalui membuatnya memiliki kekuatan aneh yang menakjubkan. Itu adalah mana, dia dapat menghasilkan mana dengan jumlah berlimpah di dalam tubuhnya. Namun ia masih belum memiliki pengalaman dalam menggunakan mana, ditambah bahwa mana ditubuhnya bukanlah hal yang alami tetapi berasal dari hasil eksperimen manusia. Jadi setelah memaksakan tubuhnya dalam mengendalikan mana yang tidak stabil, ia akhirnya mengalami deviasi mana. Jika bukan karena mantra yang diberikan Feodora padanya, dia pasti akan mati bahkan bila luka fisiknya berhasil disembuhkan.


__ADS_2