
Goblin itu menombak ke arah Alven, segera Alven melompat menghindari serangan itu. Namun goblin itu bergegas maju, menabrakan perisainya pada Alven.
*Praankk
Alven sedikit terhuyung ketika mendarat di tanah akibat terbentur perisai. Namun ini bukan waktunya istirahat. Goblin itu sekali lagi bergerak. Dia melempar tombaknya. Akurasi serangannya betul-betul tepat. Alven tidak dapat menghindar.
*Swiimm ...
Sebuah tembok batu seukuran orang dewasa muncul di depan Alven, menghalangi tombak yang meluncur lurus itu. Ini tidak salah, ini adalah salah satu sihir Alven, [Low-Solid Wall].
Waw! Seperti yang diharapkan.
Alex betul-betul kagum dengan kemampuan Alven yang mampu mengeluarkan mantra secepat dan seakurat itu. Alex yang mengamati pertempuran dua makhluk itu dari balik semak-semak, layaknya orang cabul yang menonton wanita muda sedang mandi di sungai. Ia melihat Alven melompat ke atas tembok tanah yang dibuat anak itu sebelumnya. Kemudian Alven yang melihat goblin itu berlari ke arah Alven sembari memegangi sebuah belati yang sebelumnya berada pada pinggang si goblin.
Alven berusaha untuk tetap tenang. Dia kemudian melemparkan mantra sihir elemen air. Goblin yang tersiram oleh air itu bergegas kaget. Ia mengambil langkah mundur untuk memastikan bahwa air ini bukanlah asam ataupun racun. Serangan semburan air yang dikeluarkan Alven hanyalah air tawar biasa, tidak memiliki efek apa pun dan itu terbuat dari sihir [Create Water]. Jika dilihat berdasarkan tujuannya, sebenarnya sihir [Create Water] bukanlah sihir untuk bertempur, tapi lebih kepada lifestyle spell (mantra sehari-hari). Contoh lain dari lifestyle spell adalah [Continual Light], [Fotia], [Dry], dan [Air Conditioning], yang semuanya itu adalah mantra tingkat 1.
Setelah goblin itu memastikan bahwa air yang membasahi tubuhnya tidak memberi efek apa pun, ia kembali terfokus pada Alven. Namun Alven telah melempar sihir lain, itu adalah petir. Serangan itu merupakan mantra [Electric Current] yang dimiliki Alven.
"Kraaaa!!"
Goblin itu berteriak karena tersengat listrik. Badan goblin itu menjadi kaku dan juga seperti terbakar. Ketika sengatannya berhenti, muncul asap yang tidak terlalu tebal dari tubuh goblin itu. Dia merasa sedikit pusing, tapi itu bukan berarti ia menyerah.
Sementara Alven juga kelelahan. Dia sudah beberapa kali mengeluarkan sihir, mana-nya pasti telah terkuras banyak. Alven mengambil risiko, ia berlari menyerang goblin itu dalam jarak dekat. Si goblin terkejut melihat perubahan pola serangan Alven, tapi ia bukannya tidak menyukai perubahan itu. Dia menyeringai kemudian mengayunkan perisai yang ia pegang ke arah Alven.
Alven menghindari perisai yang berayun itu dengan melompatinya kemudian ia muncul dari balik perisai, berharap mengejutkan si goblin, namun ....
*Slashhh!!
Perut Alven tersayat akibat diserang oleh belati milik goblin. Kemudian goblin itu membuang perisainya, lalu dengan satu tangan yang telah kosong, ia meninju Alven pada daerah perut. Alven yang hanya seorang remaja terhempas dan jatuh ke tanah. Goblin itu tertawa, ia mendekati Alven dengan santai dan angkuh. Alven berusaha bangkit, tapi cedera dan rasa sakit yang ia derita melarangnya untuk melakukan itu. Kemudian bayangan besar menutupi dirinya. Bayangan itu berasal dari si goblin yang tepat berada di depannya.
__ADS_1
Sambil menjulurkan lidahnya yang panjang, goblin itu sangat berniat membunuh Alven. Saat ini Alven ketakutan, teror akan goblin menghantui pikirannya. Seharusnya ia tidak menyerang secara gegabah.
*Kraangg!!
Goblin itu menginjak-injak tubuh dan kepala Alven. Ia betul-betul ingin menyiksanya. Alven dengan kekuatan terakhirnya melempar sebuah sihir yang menghasilkan cairan dingin yang langsung berubah menjadi sebuah kristal es seukuran 30 cm yang terbang lurus menyerang goblin. Si goblin yang tidak lagi memegang perisai tidak dapat menahan serangan dari mantra [Ice] itu. Namun berkat keadaan Alven yang kesakitan berhasil mengurangi keakuratan serangan. Awalnya ia ingin menyerang wajah, tapi yang terkena hanyalah bahu. Namun tetap saja goblin itu terluka.
"Raaarrr!!!"
Goblin itu marah. Ia langsung mengarahkan serangan berupa tusukan dari belati yang ia bawa. Alven tidak bisa bergerak, ia pasrah, satu-satunya harapan adalah tuannya akan menolongnya. Namun apakah tuannya itu akan tetap menolongnya meskipun sang tuan telah melihatnya tidak dapat membunuh seekor goblin sendirian? Alven malu karena tidak dapat mewujudkan harapan tuannya, ia memejamkan mata karena merasa ia tidak lagi dibutuhkan oleh tuannya.
*Slashhh ... slashhh ... slashhh ....
Bunyi daging yang dipotong terdengar berkali-kali. Alven penasaran bunyi apa itu, ia perlahan membuka matanya dan melihat yang terjadi. Tepat di hadapannya, seekor goblin yang seharusnya telah menusuknya tiba-tiba terdiam seperti patung. Lalu perlahan tubuhnya terbelah-tidak, lebih tepatnya tercincang seukuran ibu jari. Semua tubuh goblin itu terpotong, dari kepala hingga kaki. Darah dan sesuatu yang terlihat seperti cacahan otak dan usus berubah seperti jeli yang dipotong-potong.
Alven yang telah terhujani oleh darah dari goblin itu terdiam. Ia berpikir kenapa ini bisa terjadi. Namun satu-satunya jawaban yang ia dapat adalah ini semua adalah campur tangan tuannya. Alven menegakkan kepalanya, ia mencari di mana tuannya berada. Hingga akhirnya dari kejauhan ia melihat seorang pria tak asing baginya berjalan mendekat.
"Kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Aku bangga padamu."
Alven hanya mengeluarkan gumaman tetapi karena Alex memiliki pendengaran yang tajam.
"Tuan, maafkan aku. Tolong maafkan aku."
Namun sekali lagi Alex hanya tersenyum kepadanya. Ia lalu memberi mantra [Heal]. Seketika luka dan lelah dari Alven hilang. Ia kembali fit. Alex menggendong Alven layaknya bayi.
Walaupun dia kalah, namun ia mampu menggunakan cukup banyak mantra sihir. Ini melebihi harapanku, dia pasti dapat menjadi makhluk yang sangat kuat nantinya. Yah ...memang menjadikan para petualang sebagai guru mereka adalah pilihan tepat. Aku akan meminta Atlya untuk mengajarinya lebih intens, pikir Alex.
Mereka tidak lagi melanjutkan pelatihannya. Alex dan Alven kembali di mansion.
Hari sudah gelap dan mereka menikmati makan malam yang telah disiapkan.
__ADS_1
Di meja makan, Alex, Merry, dan Alven makan dengan tenang. Tidak banyak pembicaraan yang berlangsung. Namun suasana tidaklah canggung. Sebaliknya, ini seperti keluarga bahagia nan harmoni.
Merry tidak mau makan jika tidak disuapi Alex.
Semakin hari anak gadis itu semakin manja sementara Alven semakin terlihat dewasa.
"Merry, bagaimana belajar hari ini?"
Alex sebelumnya telah merekrut seorang guru privat untuk Merry. Dia adaah seorang wanita tua yang terlihat sangat ramah dan bersahaja. Guru itu mengajari Merry mengenai pendidikan bahasa dan seni.
"Ayah, Merry sudah bisa membuat puisi!"
"Oh benarkah? Bisa ayah mendengarnya?"
Merry menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa puisi itu masih belum sempurna. Merry akan membuat puisi terbaik untuk Ayah."
Alex terlihat cukup tersentuh mendengar ucapan anaknya. Sehingga ia pun mengelus rambut gadisnya itu.
Namun ketika mereka sedang menikmati quality time sebagai keluarga, Justin pergi menghampiri Alex dan memberitahukan sesuatu.
“Tuanku, Anda mendapat sebuah kabar.”
“Ada apa Justin?”
Merry sebenarnya cukup kesal karena waktu bermanjanya diganggu. Namun dia sama sekali tidak menunjukkan ketidaksenangannya.
Justin yang tidak menyadarinya masih dengan lancar memberitahu Alex.
__ADS_1
“Tuan, Anda mendapat pesan dari parlemen untuk menghadiri rapat di House of Lords.”