Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 100


__ADS_3

Mengampuni itu kasih.


Mengampuni itu rela.


Mengampuni itu indah.


Semoga kau dan aku bisa selalu mengampuni kesalahan orang lain.


SELAMAT MEMBACA.....


Mobil Sean memasuki pekarangan Mansion David, Fitri dengan semangat hendak turun dari mobil.


"Tunggu Ce, Kakak yang buka. Cece tunggu didalam saja". Cegah Sean pada Fitri. Sean keluar dari mobil dan mengitari mobil


Fitri hanya tersenyum, dia bahagia karena Sean, Zean dan Zaen sangat menyayanginya seperti seorang ratu. Tapi kadang dia juga jengkel dengan sikap posessif Kakaknya, saking posessifnya makan saja harus disuapi takut tangannya kecapean karena kelamaan pegang sendok, tidak masuk akal memang tapi begitulah cara mereka menunjukkan kasih sayangnya.


"Silahkan Tuan putri". Sean terkekeh melihat wajah cemberut adiknya.


Mereka berdua masuk kedalam Mansion mewah itu.


"Selamat pagi para penghuni bumi". Teriak Fitri dari arah pintu masuk, Sean sampai mengelus dadanya karena terkejut dengan teriakkan adiknya.


"Ce, jangan teriak-teriak, nanti tenggorokan nya sakit". Tegur Sean khawatir pada adiknya.


Fitri hanya cenggegesan.


"Tidak perlu teriak-teriak". Suara kesal yang sedang duduk dikursi meja makan. Siapa lagi juga bukan David.


"Hai Paman David yang kurang tampan". Sapa Fitri mendekat kearah meja makan.


"Shellena". Athala langsung berdiri menyambut gadis itu. Tidak lupa ia memeluknya "Bagaimana kondisimu?". Tanya Athala lembut, sungguh Athala merasa dunia nya runtuh saat Fitri dinyatakan meninggal.


Fitri tersenyum manis dan membalas pelukkan Athala


"Fitri sehat Bi. Bibi apa kabar juga?". Tanya Fitri tersenyum lembut sambil melepaskan pelukkan Athala.


"Bibi sehat sayang, ayo duduk kita sarapan bareng". Ajak Athala menuntun Fitri duduk "Ayo Sean". Ajak Athala juga pada Sean.


Sean duduk disamping David yang sedari tadi wajahnya terlihat kesal. Kadang Sean heran melihat David yang bersikap kekanak-kanakan jika bertemu dengan adiknya Fitri.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu begitu Paman? Seperti kain kusut yang tidak disetrika saja?". Celetuk Fitri. Yoshua dan Yoel hanya geleng-geleng kepala.


"Kau ini....". Kesal David "Apa kau merindukan Paman, sehingga pagi-pagi sudah datang kesini?". David memincingkan matanya curiga. Pasti gadis ini ada mau nya.


Fitri mencibir ucapan David "Cih, percaya diri sekali dirimu Paman. Aku bahkan hampir lupa jika dirimu masih ada didunia ini". Celetuk Fitri tanpa dosa.


David mengendus kesal. Selalu saja kalah telak dengan gadis itu "Apa kau berharap Paman mati duluan?". Kesal David.


"Apa aku mengatakan hal itu Paman?". Kekeh Fitri, Sean hanya mengulum senyum. Sedangkan Yoel dan Yoshua menahan tawa. Athala tersenyum simpul. Ia salut pada Fitri yang sanggup membungkam David.


"Kak Yosh, Kak Yoel. Ini!!". Fitri menyerahkan dua paper bag yang sudah lama ia siapkan bahkan sebelum dirinya koma.


"Apa isi nya?". Yoshua mengambil paper bag itu dengan senyum manis.


"Lanjutkan makan dulu Kak, nanti cacingnya pada nangis". Ucap Fitri yang langsung mampu membuat Yoshua tersenyum.


Setelah selesai makan mereka berkumpul diruang keluarga. David, Yoel dan Yoshua yang awalnya ingin berangkat kerumah sakit, kini malah mengikuti gadis itu duduk diruang keluarga.


"Pasti ada sesuatu?". Ucap David curiga.


"Paman hebat, bisa menebak". Fitri mengacungi jempol sambil terkekeh. Lagi-lagi David kesal.


"Ce, untuk apa?". Timpal Sean "Jangan bilang ini untuk Dea, Luna dan Pearce?". Lanjut Sean tampak kesal dan tangannya mengepal saat menyambut nama ketiga gadis itu, terutama Dea.


"Kakakku yang tampan sejagat raya, paling kaya dari Paman David... Kita harus saling memaafkan, tidak ada gunanya Fitri dendam pada mereka, karena semua tidak akan kembali seperti semua Kak. Memaafkan akan membuat hati kita damai. Sayang wajah cantik mereka harus rusak seperti itu". Jelas Fitri mengenggam tangan Sean berusaha memberi pengertian pada sang Kakak.


Sean dan David terharu, begitu juga dengan Yoshua, Yoel dan Athala. Gadis ini memang unik, tidak pendendam meskipun sudah disakiti.


"Boleh Paman memeluk mu?". Pinta David berkaca-kaca.


"Tidak Paman, aku tidak mau Bibi Athala cemburu, karena pria tua sepertimu". Celetuk Fitri membuat David kesal. Sedangkan Athala hanya tersenyum simpul sambil geleng-geleng kepala.


"Cih, bilang saja kau sudah tidak sayang pada Pamanmu ini". David memasang wajah sedihnya.


"Kau ini Paman. Sini". Fitri memeluk David. David terkekeh mengelus kepala Fitri dengan lembut.


Fitri melepaskan pelukkannya. Lalu beralih pada Yoshua dan Yoel "Kak bisa kita buat sekarang?". Tanya Fitri sambil senyum.


Yoshua menatap wajah cantik gadis itu dan mengangguk. Ahh seandainya saja gadis ini miliknya betapa bahagianya memiliki gadis seperti Fitri, selain cantik, dia juga jenius.

__ADS_1


"Bisa!!!". Yoshua mengacak rambut Fitri dengan gemesnya.


"Kak Yoel?". Tanya Fitri.


"Apa sih yang tidak untuk adik Kakak ini". Sahut Yoel sambil mencubit dengan gemes pipi gembul Fitri.


"Kakak". Fitri mengelus pipinya yang memerah.


"Aduhhh maaf ya sayang Kakak". Yoel tertawa kecil sambil mengelus pipi Fitri yang memerah.


Mereka pun masuk kedalam ruang lab David. Sean mengekor dari belakang karena dia tidak mau jauh dari adiknya itu. Sedangkan David segera meluncur kerumah sakit untuk mengikuti operasi dadakkan. Dan Athala, ia memilih membuat cemilan untuk mereka.


Athala tersenyum melihat keakraban anak-anak mereka dengan anak sahabatnya itu.


"Rachel, putrimu benar-benat mirip sepertimu. Kau tahu tidak dia sangat cantik". Gumam Athala melanjutkan pekerjaannya.


Sementara diruang lab, Fitri, Yoel dan Yoshua tampak serius meracik obat penghilang bekas luka. Sean berdiri disamping Fitri, ia ikut memperhatikan walau tidak paham sama sekali.


"Kakak bangga padamu Ce. Kau memang gadis terunik dan terbaik yang pernah ada dalam hidup Kakak. Kakak sangat menyayangi mu lebih dari apapun. Terima kasih sudah kembali". Batin Sean memperhatikan Fitri yang begitu serius.


"Kak Yosh". Fitri mendekat kearah Yoshua "lihat ini". Fitri menunjukkan senyawa yang ia pegang.


Yoshua memperhatikan dan langsung mengerti apa yang dimaksud gadis itu "Apa ini permanen?". Tanya Yoshua memperhatian senyawa yang ada ditangan Fitri.


"Thats right Kak". Sahut Fitri tersenyum puas.


Obat penghilang bekas luka itu pun jadi dalam waktu lima jam. Yah Fitri benar-benar puas dengan hasil karyanya bersama kedua putra kembar David.


"Senag Ce?". Tanya Sean merangkul adiknya yang terlihat begitu bahagia.


Fitri mengangguk sambil senyum "Fitri tidak sabar memberikannya pada Dea, Luna dan Pearce". Sahut Fitri.


Sean lagi-lagi menghela nafas. Sebenarnya Sean sudah menyiapkan hukuman untuk ketiga gadis itu. Namun Fitri lagi-lagi melarangnya. Kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan, begitulah ucap Fitri padanya.


**Bersambung.......


Ikuti terus kisahnya


GBU...

__ADS_1


LOVEUALL**......


__ADS_2