
SELAMAT MEMBACA......
Mansion mewah keluarga Ranlet Flint.
Dimeja makan terdengar suara sendok dan garfu yang saling bersahutan satu sama lain. Sejak dua puluh tahun silam, suasana meja makan menjadi dingin. Meja makan yang biasanya dipenuhi dengan perdebatan karena memperebutkan seorang gadis kecil hanya untuk siapa yang menyuapinya.
Lima tahun setelah kepergian Fitri, Sam ikut menghadap sang Pencipta karena penyakit jantung yang menyerang tubuhnya. Selang beberapa tahun kemudian, Pedrosa mengalami stroke berat yang membuatnya harus dirawat intensif oleh dokter dan hanya sakit beberapa bulan kemudian Pedrosa juga kembali pada sang Pencipta. Catty yang depresi karena kehilangan untuk yang kedua kalinya, membuat daya tahan tubuhnya melemah dan dia juga menyusul sang suami untuk berpulang ke pangkuan sang Ilahi.
Fillipo, Sean, Zean, Zaen dan Mars mereka masih tinggal di Mansion mewah keluarga Ranlet Flint, sesuai dengan pesan terakhir Fitri mereka tak boleh hidup terpisah sekalipun sudah memiliki keluarga masing-masing.
Sejak dua puluh tahun berlalu, kehidupan mereka datar dan mengalir saja seperti air. Senyuman yang dulu sering tercipta karena ocehan dan omelan Fitri, kini benar-benar tak terdengar lagi. Tak ada lagi perdebatan tak berunfaedah yang terdengar, tak ada lagi posessif tinggi yang terlihat. Semua terasa hampa dan berbeda. Kehilangan Fitri, bagai kehilangan dunia mereka. Gadis jenius yang memiliki hati lembut dan penyanyang itu meninggalkan luka dalam dihati para keluarga dan sahabatnya. Tak jarang suasana dingin tercipta, apalagi ditambah kepergian para orantua tercinta membuat suasana Mansion Ranlet Flint terasa berbeda dan juga dingin.
“Dek, sini Kakak yang suapin”. Ucap Zehemia melihat adik nya yang sedari tadi hanya mengaduk makanan dalam piringnya tanpa ada niat untuk memasukkan nya kedalam mulut.
Fillipo dan yang lainnya melihat kearah Zevanya “Sayang, mau disuapin Daddy?”. Tawar Fillipo memaksakan senyum pada putrinya. Dia tidak mau Zevanya bersedih karena dirinya.
Zevanya menggeleng “Biar Kakak saja Dad. Daddy makanlah”. Balas Zevanya.
“Ya sudah, sini”. Zehemia mengambil piring adiknya dan menyuapi Zevanya.
Zevanya sangat mirip dengan sifat Fitri. Dia begitu manja dan disayangi oleh Kakak dan Daddy nya. Tak jarang juga Zevanya tidur bersama kedua Kakak nya jika dia merenggek merindukan sang Ibu. Padahal usianya sudah dua puluh lima tahun tapi tetap saja gadis itu manja.
Myron dan Myra hanya tersenyum simpul. Sudah biasa mereka menyaksikan kemanjaan Zevanya pada Kakak dan Daddy nya. Selama dua puluh lima tahun bersama membuat mereka saling mengenal satu sama lain.
“Ini Dek minumnya”. Zehekiel menyedorkan gelas pada Zevanya dan membantu adiknya itu meminum.
“Terima kasih Kak”.
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan makan. Sean, Zean dan Zaen hanya bisa terdiam membisu. Mereka tak bisa berkata apa-apa lagi. Sungguh mereka sangat merindukan Fitri mereka. Rindu sekali. Rindu menyuapi gadis itu, rindu saat memprebutkannya, rindu memeluknya dan rindu masakkannya. Setelah kepergian Fitri hidup mereka benar-benar hampa, hampir tak ada senyum dibibir ketiga pria kembar yang sudah berusia hampir kepala enam itu.
“Dad”. Joanna menyentuh lengan Sean.
Sean menoleh kearah putrinya “Iya sayang?”. Tanya Sean tersenyum hangat pada putrinya yang berusia Sembilan tahun itu
“Apa Daddy baik-baik saja?”. Tanya Joanna lembut menatap Daddy-nya.
“Iya sayang”. Jawab Sean melanjutkan makannya
Zaen juga tak seperti dulu, pria playboy itu bersikap dingin setelah kepergian adiknya Fitri.
“Bagaimana kabarmu disana sayang? Kakak merindukanmu, semua terasa hampa tanpamu disini”. Batin Zaen menyuap nasinya dengan paksa.
Setelah selesai makan, mereka semua kembali berkumpul diruang keluarga. Meskipun telah kehilangan orang-orang yang mereka sayang. Namun, aktifitas itu tak pernah mereka lupakan.
“Bagaimana keadaan markas?”. Tanya Zaen pada Zehemia.
“Apa butuh bantuan Daddy Son?”. Tanya Fillipo pada putranya.
“Tidak perlu Dad”. Jawab Zehemia “Ada Kiel, Myron, Johannes dan Shawn yang akan membantuku”. Sahut Zehemia tersenyum pada Daddy-nya.
Sedangkan para wanita berkumpul diruang tengah, mereka membahas fashion dan masalah wanita.
“Kak Zeva, bisa ajarkan aku melukis?”. Pinta Sherly yang berusia delapan belas tahun, dia masih duduk dibangku kuliah.
“Ck, bukankah kau jurusan bisnis? Kenapa ingin belajar melukis?”. Celetuk Zevanya menatap adik sepupunya.
__ADS_1
“Aku ingin hebat seperti Kakak yang bisa menguasai segalanya”. Ucap Sherly dengan sendu, karena dia merasa tidak memiliki kemampuan apapun seperti yang dimiliki Kakak sepupunya, Zevanya.
“Girl”. Elizabeth mengelus punggung putri bungsunya yang sangat manja dan juga berisik itu.
Zevanya mengenduskan nafas “Sherly, dengarkan Kakak. Jangan memaksa kemampuan yang tidak kamu miliki. Bakat kamu dan bakat Kakak berbeda. Mungkin kamu punya kemampuan dibidang lain. Kamu bisa menekuni itu. Sekarang kau mengambil jurusan bisnis, sebaiknya kau belajarlah berbisnis dengan baik dan kelola perusahaan Ayah, kau bisa membantu Shawn untuk mengelolanya”. Ucap Zevanya pada adik sepupunya. Anak-anak Fillipo memanggil Zaen dengan panggilan Ayah sedangkan Elizabeth mereka panggil Ibu.
Elizabeth tersenyum bangga mendengar perkataan Zevanya. Zevanya benar-benar mirip dengan Ibunya, Fitri. Gadis itu selalu bisa membuat orang lain tersenyum dengan ucapannya yang blak-blakkan dan spontan.
“Tapi Kak…….”.
“Benar kata Kak Zeva, Sherly. Jangan memaksa sesuatu yang tidak ada pada dirimu. Sebaik nya gali apa yang menjadi kemampuanmu”. Elizabeth menimpali sambil merangkul putrinya
“Tapi Mom…..”.
“Sudah ya sayang, sebaiknya Sherly focus pada kuliah Sherly. Biar cepat selesai dan bisa bantu Kak Shawn kelola perusahaan Daddy”. Potong Elizabeth
Myra, Grace dan Joanna hanya menganguk dan mangut-manggut seakan mengerti. Ketiga gadis cantik itu juga tak memiliki kemampuan seperti Zevanya, mereka hanya model dan desaigner biasa yang memiliki beberapa butik. Sedangkan Sherly juga sebagai model disela-sela kuliahnya. Dia paling muda diantara yang lainnya.
Luna dan Christy tersenyum simpul. Mereka tak pernah memaksa anak-anak mereka harus memiliki kemampuan yang luar biasa. Cukup mereka berusaha dan menyelesaikan pendidikan saja sudah lebih dari cukup.
Zehemia, Zehekiel dan Zevanya memang memiliki kemampuan yang berbeda dari anak-anak yang lainnya. Bahkan mereka menyelesaikan pendidikan S1 saat usia 15 tahun dan mereka melanjutkan S2 diusia 18 tahun, dua tahun kemudian mereka mengambil gelar professor dan mendapat predikat cumlaude. Diusia 20 tahun, ketiganya sudah bergelar professor. Tak heran jika mereka jenius karena gen dari Fitri tentu saja menurun pada anak-anaknya.
Zehekiel bahkan mampu mengembangkan perusahaanya yang bergerak dibidang IT dan game online diusia 21 tahun hanya dalam waktu enam bulan perusahaan itu berada diperingkat pertama.
Sedangkan Zehemia, dia mengelola perusahaan senjata api peninggalan Pedrosa. Senjata-senjata yang dia buat dari perusahaannya mendapat penjualan terbesar di Negara itu. Zehemia selalu meminta izin pada Negara jika ingin memasarkan senjatanya. Sebab dari kecil dia diajarkan oleh Fitri agar melakukan segala sesuatunya dengan izin.
Zevanya, dia sukses di bidang melukis dan penulis buku. Karya-karyanya telah mendunia. Bahkan novel-novel yang ditulis oleh Zevanya sudah banyak yang dibuat dalam sebuah film Hollywood atau drama-drama romantic. Gadis ini juga memiliki kemampuan dibidang IT dan retas meretas data, Zevanya sering membantu Zehekiel mengamankan data perusahan mereka. Selain itu dia juga mempelajari ilmu bela diri yang diajarkan oleh Kakak sepupunya, Myron. Meski awalnya dia tidak diizinkan oleh Daddy dan Kakak-nya, tapi Zevanya berhasil membujuk ketiga pria itu agar mengizinkan dirinya.
__ADS_1
Zehemia, Zehekiel dan Zevanya juga memiliki kemampuan dibidang music. Ketiganya menguasai semua alat music tanpa melalui proses belajar yang lama. Sejak usia tiga tahun mereka bertiga diajarkan music oleh Fitri, sebagai bekal mereka. Sehingga Fillipo membuat ruang music khusus untuk ketiga anak kembarnya.
Bersambung........