
Kadang Tuhan menunjukkan cintaNya dengan cara yang berbeda-beda. Agar setiap orang bisa menghargai waktu dan membaginya dengan orang lain melalui kebaikkan.
SELAMAT MEMBACA........😙😙😙😙
Keempat pria paruh baya itu dibuat tercenggang dengan cerita David. Bahkan Sam sampai beberapa kali menarik nafas.
"Ini bukan cerita karangan mu saja kan David?". Tanya Sam yang masih tak percaya.
"Ck, kau ini suka sekali menuduhku". Protes David "Putrimu itu memang unik dan aneh. Kau tahu bahwa si dingin Yoshua saja bisa mencair karena omelannya". Ucap David lagi.
"Apa kau tidak berusaha mencegah putrimu untuk tidak melakukan hal yang berbahaya seperti itu?". Tanya Philip. Ia hampir jantungn mendengar cerita David tentang gadis yang dicintai putra sulungnya itu. Ah sungguh diluar nalar manusia, gadis kecil bisa menciptakan robot dan bom. Bukankah itu kejadian langka di dunia?
"Percuma Philip! Dia sangat keras, dia melakukan itu memang semata-semata menyelamatkan orang-orang ia sayang". Jelas Sam menghela nafas kasar.
"Philip, apakah menurutmu setelah ini munsuh kita sudah habis". Tanya Dion memecahkan keheningan.
"Aku tidak tahu Dion!!". Jawab Philip singkat
"Kurasa masih ada". Sambung Sam.
David, Alexander, Dion dan Philip langsung menoleh ke arah Sam.
"Siapa Sam?". Tanya Philip.
"Pedrosa". Jawab Sam singkat "Dia Kakak kandung Park. Aku yakin dia akan balas dendam pada kita semua. Peringatkan putra kalian untuk berhati-hati, jangan terlalu gegabah". Pesan Sam melanjutkan kata-katanya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?". Tanya Philip mulai khawatir.
"Apa kita akan menyerang nya?". Sambung Alexander.
"Tidak!! Biarkan saja, sampai mereka memulainya. Lagian Park dan Michael belum mati, jadi tidak ada alasan mereka menyerang kita begitu saja". Timpal Sam.
"Pemikiran mu terlalu buntu Sam". Gerutu David "Apa kau yakin Pedrosa akan diam saja? Kurasa tidak selain, membalas kematian James dia juga akan berusaha membebaskan Park dan Michael". Sambung David lagi. Ia yakin bahwa Kakak dari Park itu akan secepatnya balas dendam. Apalagi seluruh anggota Mafia mereka tidak ada yang tersisa satu pun kecuali Park dan Michael.
"Benar apa yang dikatakan David, Sam". Ucap Philip.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?". Tanya Dion, melirik mereka bertiga.
"Tidak ada cara lain kita harus meminta bantuan Fitri, aku yakin gadis itu punya ide cemerlang". Ungkas David. Langsung mendapat tatapan tajam dari Sam.
__ADS_1
"Apa kau mau mengorbankan putriku David?". Pekik Sam menatap tajam kearah David "Dia itu seorang gadis tidak seharusnya ia ikut campur dalam hal ini". Sambung Sam lagi.
"Tidak perlu lebay begitu Sam! Kau lupa siapa putri mu itu? Kau lupa siapa yang membuat ide menyelamatkan Philip dan yang lainnya? Itu semua ide putrimu. Jadi jangan pernah ragukan kemampuan nya". Jelas David.
Alexander, Dion dan Philip hanya menyaksikan perdebatan mereka.
"Benar kata David, Sam". Ucap Philip "Tidak ada cara lain selain meminta bantuan pada putrimu". Sambung Philip lagi.
Sam menghela nafas nya kasar, ia takut terjadi apa-apa pada putrinya. Ia membiarkan putrinya melakukan hal itu karena ingin menyelamatkan mereka. Tapi bukan berarti Sam akan memberi kebebasan pada putrinya untuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan.
"Aku hanya takut dengan kondisinya". Sam menyenderkan punggungnya disofa, memejamkan matanya saat mengingat wajah polos putri kesayangannya itu.
"Tenang saja Sam. Yoshua dan Yoel akan membuat obat untuk putrimu". Ucap David menepuk bahu sahabatnya. Ia masih teringat dengan cerita kedua putranya bahwa Fitri pernah mimisan di ruang lab David, kala menciptakan snipper dan bom ajaib. David sengaja tidak mengatakan hal itu pada Sam, dia tidak mau sahabatnya itu panik dan khawatir meskipun tidak baik menyembunyikan nya, tapi David berusaha memegang kepercayaan gadis itu kepada kedua putra kembarnya.
Philip, Dion dan Alexander juga menghela nafas kasar, mereka juga sudah tahu tentang kondisi Fitri. Kondisi yang memang sebenarnya tidak bisa diabaikan dan penyakit mematikan itu tak bisa dianggap remeh. Namun Fitri tetap menunjukkan wajah ceria nya, ia sama sekali tak terpukul dengan keadaan dan kondisi yang menimpanya. Bukan tidak terpukul, lebih tepatnya sudah kebal dan dia ikhlas menerima jalan takdir hidupnya. Ia percaya bahwa ada maksud baik untuknya ketiga Tuhan memberinya rasa sakit, bukankah tidak ada sehelai rambut pun yang terjatuh tanpa seizin Tuhan, jadi untuk apa dia takut?
Sementara ditempat lain, keempat gadis itu masih saling bercengkrama sembari tertawa. Mereka meluapkan semua kerinduan yang dipendam selama tiga bulan ini. Luna yang baru mengenal Fitri, sudah tidak canggung lagi bahkan ia sangat akrab dan merasa nyaman dengan gadis itu. Meskipun usia Fitri paling muda diantara mereka tapi gadis bisa menyeimbangkan dirinya dengan mereka.
"Bagaimana kalau kita keruangan mereka?". Saran Dea.
"Boleh". Sahut Pearce dan Luna bersamaan
"Kami tidak apa-apa Fit. Ini bukan luka parah". Sahut Dea "Lagian obat yang disuntikkan oleh dokter itu, bekerja dengan baik. Aku penasaran darimana dapat obat penawar itu, bukankah racun yang disuntikkan oleh Park tidak ada penawarnya?". Tanya Dea penasaran.
Fitri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mau jelaskan bagaimana juga mereka tidak akan mengerti "Hmm, tanya saja pada Paman David". Jawab Fitri berkilah. Ia tak mungkin menjawab bahwa penawar itu dirinya lah yang menciptakan obat itu, bisa-bisa jantungan ketiga gadis didepannya ini.
"Ya sudah, ayo kita keruangan mereka". Potong Luna. Mereka berempat pun bergegas keluar.
Sementara kelima pria tampan itu tampak serius dengan pembicaraan mereka. Raut wajah mereka berbeda-beda, tentunya tanpa ekspresi dan susah ditebak. Kecuali Sean, pria tampan yang satu ini selalu tersenyum saat kehadiran Fitri dihidupnya.
"Jadi, Fitri itu adikmu yang hilang 21 tahun lalu?". Tanya Fillipo tak percaya setelah mendengar cerita Sean.
"Iya. Namanya Shellena. Kami terpisah karena anggota Winner King menyerang Mansion dan Markas Daddy". Jelas Sean mengingat kejadian 21 tahun yang lalu, hatinya begitu sakit. Saat itu menjadi patah hati terpuruk dalam hidupnya. Ia ditinggalkan oleh dua orang sekaligus. Mommy nya yang meninggal setelah melahirkan, ditambah sang adik yang juga hilang atas kecerobohan nya sendiri. Tapi ia bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan adik tercinta itu.
"Shellena". Gumam Fillipo. Ya Fillipo memang tahu tentang adik Sean yang menghilang itu. Bahkan sebelum memutuskan tinggal di Indonesia ia sempat membantu sahabatnya untuk mencari adiknya. Namun mereka tak menemukan nya, keberadaan gadis itu sepertinya memang sengaja disembunyikan.
Cekrekkkkk
Pintu terbuka kelima pria tampan itu langsung mengarahkan pandangan mereka kearah pintu. Obrolan yang tadi serius kini hilang dan terlupa kan saat mendengar suara seorang gadis yang membuat dunia mereka dijungkirbalikk
__ADS_1
"Kak Sean". Panggil Fitri.
Sean tersenyum mendengar suara cempreng yang menggema diseluruh ruangan. Sean berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Fitri berjalan kearah Sean dan masuk kedalam pelukkan sang Kakak. Pelukkan yang selalu membuatnya tenang, kala ketakutan dan rasa sakit menyerang hatinya.
"Hmmm, bagaimana kabar Cece nya Kakak ini?". Ucap Sean, sambil memperbaiki anak rambut adiknya. Ia mengelus dengan sayang kepala Fitri.
"Sangat baik. Kau tahu Kak kita berhasil?". Senyum Fitri menampilkan gigi ginsulnya.
Sean gemes dengan senyum manis adiknya itu. Ia mengacak-ngacak rambut adiknya dengan gemes
"Kakak". Kesal Fitri, ia memukul pelan lengan Sean dan bibir mengerucut dan itu terlihat sangat menggemaskan.
"Hahha, menggemaskan sekali sih adik Kakak ini". Sean semakin gemes dan kembali mengacak rambut adiknya.
"Kakak, berantakan kan jadinya rambut aku tuhhh". Kesal Fitri. Ia memperbaiki rambutnya.
"Ya sudah sini biar Kakak rapiin!". Sean terkekeh "Ada ikat rambut Cece? Ikat ya rambutnya biar rapihhhh". Ucap Sean.
"Hehhe, Fitri lupa bawa ikat rambutnya Kakak". Sahut Fitri cenggegesan.
Sean menggellengkan kepala. Ia sudah tahu jika adiknya ini selalu ceroboh dengan ikat rambutnya.
Sean mengambil ikat rambut disaku celananya. Ia selalu membawa ikat rambut kemanapun ia pergi jika bersama Fitri. Untuk jaga-jaga jika kejadian seperti ini.
"Balik badan, biar Kakak ikat rambutnya". Fitri menurut saja dan membalikkan badannya.
Sean dengan telaten menyisir rambut adiknya dengan jari-jari kekarnya. Mata Sean membulat sempurna saat banyak rambut adiknya yang tersangkut dijari Sean. Ia teringat tentang kondisi Fitri, dan ini bahkan rambutnya sudah rontok. Perasaan takut kembali menyerang nya.
"Tuhan, kumohon jangan ambil Fitri dari sisiku. Aku tidak bisa hidup tanpa dia Tuhan". Batin Sean.
"Kak, kenapa diam?". Tegur Fitri yang merasa dari tadi tidak ada pergerakan dibelakang nya.
"Ahh, tidak". Sean tersadar dari lamunannya. Ia melanjutkan kembali ikatan rambut adiknya. Hatinya, sangat takut dan teramat takut. Ia tidak mau terpisah lagi dari gadis ini.
BERSAMBUNG......
***Hai hai para sahabat yang masih setia mengikuti cerita ini. jangan lupa untuk dukung terus novel ini dengan bintang lima ya😁
Butuh saran dan masukkan dari kalian. jika ada koreksi bisa silahkan dikomen ya.
__ADS_1
God bless u***