Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 83. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.....


Dave mengendong Zevanya turun dari jet pribadi miliknya. Dia tersenyum simpul melihat wajah gadis itu yang terlelap didalam gendongannya.


Untung saja dia punya alarm siaga yang selalu berbunyi ketika ada yang menyerang. Dave juga membuang kalung yang Zevanya pakai ketika dia tahu bahwa kalung itu memiliki alat pelacak. Bahkan seluruh perhiasan yang menempel ditubuh Zevanya dibuang oleh Dave.


Dave juga sudah mendeteksi bagian tubuh Zevanya yang lainnya untuk memastikan jika tidak ada alat pelacak yang melekat ditubuhnya.


Sementara Xiang, Ular Cobra berwarna hitam itu dari tadi berdesir hebat dalam kandang nya yang dibawa oleh Tian, assisten Dave. Ular itu seperti marah ketika Dave menyuntikan bius ditubuh Zevanya. Seperti seorang manusia yang menangisi kekasihnya, terlihat air mata ular itu berjatuhan.


"Tenang saja Xiang, dia baik-baik saja. Kau jangan marah padaku. Aku tidak akan menyakiti nya. Aku hanya membawa nya pergi". Ujar Dave menatap ular yang dibawa oleh Tian.


Bagai seorang manusia ular itu seperti mengangguk paham lalu berhenti berdesir. Ular itu terus menatap Zevanya dengan sendu. Seperti antara dua manusia yang memiliki ikatan batin. Xiang merasa nyaman jika Zevanya mengelus kepalanya.


Dave masuk kedalam mobil sambil mengendong Zevanya. Dia tak memberi ruang kepada siapapun yang ingin mengendong gadis itu.


Saat ini mereka sedang berada di Korea. Dave sudah mengatur persembunyian nya. Seperti yang dia rencanakan. Dia akan membuat Shawn merasakan kehilangan sepert dirinya yang kehilangan senyum sang adik.


Sampai di villa mewah Dave, yang terletak didekat pantai, Seoul. Dave langsung turun dari mobil dengan dijaga ketat oleh beberapa pengawal yang mengekor dirinya. Dia mengendong Zevanya dengan santai. Gadis itu tertidur begitu lelap tanpa terganggu sama sekali dengan ucapan atau suara berisik orang lain.


"Dave".


"Kak Dave".


Elena dan Deva yang sedang berada diruang tamu terkejut melihat kedatangan Dave. Pria itu tidak memberi tahunya bahwa dia akan datang kesini.


"Siapa yang kau bawa Dave?". Elena mendekati Dave dan Zevanya "Astaga, bukannya dia putri dari keluarga Wilmar?". Elena menutup mulutnya tak percaya. Siapa yang tak mengenal anak-anak Fillipo? Mereka sudah seperti artis yang terkenal dimana-mana.


"Dia siapa Kakak?". Deva juga mendekati Dave.


Dave bingung harus jawab apa. Kedua orang didepannya ini sama-sama tidak tahu misinya untuk menculik Zevanya.


"Dia calon istriku". Sahut Dave asal.


Mata Elena dan Deva membulat sempurna ketika mendengar pengakuan Dave. Calon istri? Bukankah Dave benci perempuan?


"Calon istri?". Ulang Elena dan Deva saling melihat tak percaya.


"Aku akan membawa nya istirahat".


Dave mellengang pergi sebelum dicecar dengan pertanyaan lain oleh kedua perempuan itu.


"Bi, apa aku tidak salah dengar?'". Ujar Deva pada Elena dalam keadaan heran dan juga bingung.


Elena menggeleng "Tidak Deva. Sepertinya Kakak mu benar-benar menyukai gadis itu". Sahut Elena yang tidak yakin.


Dave menaiki lift di villanya untuk menuju kamar utama di villa mewah bak hotel bintang lima itu.


Sampai dikamarnya, Dave langsung meletakkan Zevanya.


Xiang kembali berdesir agar dikeluarkan dari kandangnya. Dave mengendus kesal. Entah kenapa ular peliharaan nya itu begitu lekat dengan Zevanya.


"Mommy". Zevanya meningau


"Mommy".


"Hei, bangun.....". Dave menoel lengan Zevanya.

__ADS_1


"Mommy". Zevanya masih terus memanggil Mommy-nya dengan mata terpejam.


"Mommy".


"Mommy".


Keringat dingin membasahi kening Zevanya. Dia terus memanggil nama Mommy-nya.


"Hei gadis kecil bangun.......". Dave mengoyangkan tangan Zevanya.


"Mommy".


Dave menyentuh kening Zevanya yang sudah dipenuhi keringat.


"Astaga, panas".


Dave panik bukan main. Badan Zevanya sangat panas seperti bara api.


"Mommy".


"Bagaimana ini?". Dave mondar-mandir bingung.


Dave keluar dari kamarnya dan berlari keluar. Entah apa yang dicari pria itu. Yang pasti dia panik.


"Ada apa Dave?". Tanya Elena melihat Dave berlari bingung.


"Itu........". Tunjuk Dave suara nya tidak tembus.


"Itu apa?". Elena bingung dengan wajah panik Dave.


"Itu..........". Suara Dave tak tembus saking paniknya.


"Tarik nafas Dave". Dave menarik nafas nya "Buang perlahan". Dave menurut "Sekarang katakan ada apa?". Seru Elena.


"Dia.... Badannya panas". Akhirnya Dave mengatakan maksudnya.


"Panas?". Beo Elena dan Deva.


"Ayo Kaka kita lihat".


Ketiga orang itu segera melangkah kekamar Dave dengan tergesa-gesa.


"Mommy". Zevanya terlihat gelisah sekali. Mungkin gadis itu tengah bermimpi buruk.


Dave, Elena dan Deva masuk kedalam kamar Dave. Disana Zevanya terlihat terus memanggil nama Mommy-nya. Bahkan hadis itu sudah berkeringat tak sadar.


"Mommy".


Elena mendekati gadis itu. Tangannya terulur untuk menyentuh kening Zevanya.


"Nak".


Elena menepuk dengan pelan pipi Zevanya.


"Mommy hikssss. Jangan tinggalkan Zeva Mommy". Zevanya masih terlihat menggila.


"Bi, bagaimana ini?". Dave sudah panik bukan main apalagi suhu badan Zevanya sangat panas.

__ADS_1


"Panggilkan dokter Kak". Saran Deva sambil mengelus lengan Zevanya yang terasa panas.


"Baik".


"Tian". Teriak Dave.


"Iya Tuan". Tian masuk dengan tergopoh-gopoh.


"Cepat panggilkan dokter". Sentak Dave tak sadar.


"Baik Tuan". Tian langsung keluar dan memanggil dokter.


"Nak, bangun Nak". Elena masih berusaha membangunkan Zevanya.


"Kak". Deva juga ikut membangunkan gadis itu.


"Mommy". Zevanya langsung terduduk.


"Nak".


"Kak".


Zevanya menatap tiga orang asing didepannya yang tidak Zevanya kenal. Dia menelusuri kamar Dave.


"Nak". Elena menyentuh lembut punggung Zevanya "Bagaimana perasaan mu?". Tanya Elena lembut


"Mommy". Zevanya masih bergumam memanggil nama Ibu nya.


"Gadis kecil tenang ya. Mommy mu tidak ada disini". Ucap Dave mengelus kepala Zevanya.


Zevanya menatap Dave "Aku ada dimana?". Tanya Zevanya. Dia merasa baru bangun dari koma yang panjang.


"Kau dirumah ku. Tenanglah". Tangan Dave terulur untuk mengelus kepala Zevanya. Gadis berponi ini terlihat menggemaskan.


Tian dan seorang pria berjas warna putih masuk kedalam kamar.


"Tuan, ini dokter Richard". Ucap Tian.


"Cepat periksa dia". Tintah Dave.


"Baik Tuan". Richard maju mendekat pada Zevanya setelah yang lain memberi ruang.


"Silahkan berbaring Nona".


Zevanya menurut. Lalu Richard memeriksa Zevanya. Dokter itu terkejut ketika mendapati bintik-bintik dibagian lengan Zevanya. Karena kulitnya putih sehingga bintik-bintik itu terlihat jelas.


Richard memeriksa tekanan darah dan jantung Zevanya. Lagi-lagi dokter itu terkejut setelah memeriksa Zevanya. Apa gadis ini menderita penyakit ganas?


"Bagaimana Dok?". Tanya Dave ketika Richard selesai memeriksa Zevanya.


"Sebaiknya diperiksa langsung kerumah sakit saja Tuan. Saya belum bisa memastikan penyakit Nona ini. Yang jelas dia kelelahan dan banyak berpikir". Jelas Richard. Richard melihat kearah Zevanya "Nona, banyak-banyaklah istirahat, makan teratur dan jangan terlalu berpikir keras".


Zevanya mengangguk paham. Sebenarnya tubuh Zevanya sudah mulai merasakan sakit. Dia juga sudah beberapa kali mimisan. Kepalanya sakit bukan main.


Bersambung.......


LoveUsomuch ❤️

__ADS_1


__ADS_2