Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 118


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA...


Diruang rawat VVIP, seorang gadis tengah terbaring. Beberapa selang mengalir dibagian tubuhnya. Dua orang wanita, duduk disampingnya sambil menggenggam tangan gadis itu dengan erat berusaha memberi kekuatan.


Tiga dokter tampan tengah memeriksa kondisi gadis itu. Aliran darah juga mengalir dikedua tangannya, sementara disampingnya ada sebuah layar seperti layar komputer yang terpampang rapih dan menggambarkan detak jantung gadis itu.


"Apa sakit?". Tanya David sembari menekan beberapa tombol yang terdapat dilayar itu.


"Tidak Paman, rasanya hanya seperti digigit semut". Jawab Fitri santai tanpa beban.


Yang lain terkekeh mendengar jawaban Fitri. Mereka kembali melihat layar monitor itu, detak jantung Fitri normal. Hanya saja ada beberapa bagian didalam tubuhnya yang hampir saja sudah tidak bisa berfungsi, seperti ginjal dan lambung. Ginjal yang sempat didonorkan kepadanya, ternyata tidak mampu bertahan lama karena sebagian tubuhnya menolak. Jadi Fitri harus melakukan cuci darah dan kemoterapi secara bersamaan.


"Apa Kak Sean dan Paman Sam, tahu jika Fitri kemo?". Tanya Yoshua pada gadis itu sembari mengacek suhu tubuh Fitri.


"Tidak Kak". Sahut Fitri santai.


"Kenapa?". Sambung Yoel heran.


"Tidak apa-apa". Senyum Fitri.


Luna dan Pearce masih mengenggam tangan Fitri. Kedua wanita cantik itu, berusaha menyalurkan kekuatan mereka pada gadis yang terbaring itu. Tak bisa dipungkiri mereka berdua cemas.


"Bagaimana jika mereka tahu?". Tanya David menelisik wajah Fitri yang terlihat tenang.


"Mereka tidak akan tahu, jika Paman tidak mengatakannya". Ketus Fitri.


"Ck, kau ini suka sekali menuduh Pamanmu yang tampan ini". Lagu-lagi David mengendus kesal mendengar ucapan Fitri.


"Kak Yosh, bisakah lebih cepat sedikit. Ada hal yang harus segera aku lakukan setelah ini?". Renggek Fitri manja seperti anak kecil yang meminta permen.


"Tunggu sebentar lagi". Jawab Yoshua sambil tersenyum.


Fitri menahan sakit saat darah itu masuk kedalam tubuhnya, beberapa obat antibiotik yang juga ikut bersamaan. Sebenarnya alasan Fitri kemoterapi adalah untuk mempertahankan daya tahan tubuhnya, sebab setelah ini ia akan bertempur hebat membantu perusahaan Ayah, Daddy dan kekasihnya Fillipo. Jika dirinya bekerja dan berpikir keras itu akan bahaya, bisa-bisa dia ngedrop total. Fitri sengaja mengajak Luna dan Pearce, karena mereka berdua yang akan membantu Fitri. Sedangkan Yoshua, Yoel dan David juga akan ia mintai untuk turut membantunya. Serangan sudah mulai berdatangan, itulah sebab nya kenapa Fitri berani mengambil tindakan untuk kemoterapi dan cuci darah.


"Apa sakit?". Tanya Yoshua lembut saat melihat Fitri memejamkan mata seperti menahan sakit.


Fitri tersenyum dan menggelengkan kepala. Membuat Yoshua gemes dan mengacak rambut gadis itu.


"Kakak Ipar harus kuat". Ucap Pearce berkaca-kaca menatap Fitri. Pearce merasakan sakit saat melihat selang-selang itu mengalir di tubuh Fitri.


"Terima kasih calon adik Ipar". Goda Fitri sambil terkekeh pada Pearce. Pearce hanya bisa tersenyum.


"Dimana yang sakit?". Kali ini Luna yang menanyakan keadaan Fitri.


"Disini Lun". Dengan polos Fitri menunjuk hatinya.


"Dimana yang sakit?". Yoshua, Yoel dan David sontak bertanya bersamaan dengan wajah panik.


"Aisshhh, kondisikan wajah kalian. Aku tidak apa-apa, aku hanya bercanda saja". Ucap Fitri cenggegesan sambil menampilkan deretan gigi ginsulnya yang terlihat begitu manis.


"Ck, kau ini". Geram David kesal. David hampir jantungan saat Fitri menunjuk hatinya.


"Tidak perlu lebay begitu Paman". Cibir Fitri. David kembali kesal dan menatap Fitri dengan malas.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


Sedangkan ditempat lain, mereka tengah berperang habis-habisan mempertahankan Markas dan wilayah timur.


Dor dor dor dor


Dor dor dor dor


Bunyi peluru saling bersahutan diruangan itu. Banyak yang tergelatak tak berdaya.


"Gawat, aku bisa mati kalau begini". Gumam seorang pria yang tengah melawan mereka.


"Nial, cepat siapkan jet pribadi kita kabur. Sepertinya kita tidak mampu melawan mereka". Ucapnya pada sang assisten.


"Baik Tuan, mari". Sahut Nial.


Mereka mengendap-endap menaiki tangga dan menuju balkon untuk menghindar disana, jet pribadi itu sudah menunggu.


Fillipo yang melihat itu segera mengejar dan ikuti oleh Zean. Mereka mengejar kedua orang itu namun sayang tak terkejar karena keduanya sudah masuk kedalam pesawat.


Dor dor dor dor.


Fillipo menembak namun sayang jet itu sudah mengudara sangat jauh.


"Sial". Umpatnya.


"Ayo kembali ke bawah". Ajak Zean menyadarkan Fillipo.


Dor dor dor dor


Dor dor dor dor


"Wil, bawa mereka ke rumah sakit". Perintah Zean "Berikan kompensasi untuk mereka yang meninggal, pastikan keluarga mereka tidak mempersalahkan masalah ini". Sambung Zean lagi.


"Baik Tuan". Sahut Willy.


"Tangkap mereka yang masih hidup, dan introgasi siapa yang menyuruh mereka". Perintah Zean.


Tertangkap tiga pria dari para munsuhnya yang masih tersisa, mereka hanya terluka ringan. Namun mereka merasa hidup diujung tanduk saat melihat tatapan mematikan dari para ketua Mafia Black Glorified dan Lion Killer.


"Katakan siapa kalian?". Bentak Fillipo.


Mereka hanya menunduk ketakutan tak ada yang menjawab dan tentunya juga tak berani menjawab.


"Katakan brengsekkk". Pekik Zaen mencekik leher salah satu diantara mereka.


"Apa kau mau kujadikan santapan San?". Ancamnya sambil menunjuk Ular Sanca yang tengah berdesir dikandangnya.


Pria itu bergidik ngeri saat melihat ular ganas tersebut menatap kearahnya seperti siap menyantapnya detik itu juga.


Pria itu hanya menunduk ketakutan dan tak bisa menjawab apa-apa. Lidahnya terasa kelu dan serasa seluruh darahnya membeku.


"Edward".


"Iya Tuan". Edward segera mendekat.


"Seret dia ke kandang San". Tegas Zaen

__ADS_1


"Baik Tuan Muda". Sahut Edward


"Tidak". Teriak pria itu saat Edward menyeretnya ke kandangnya Dan


"Arggghhhhh".


"Arggghhhhh".


Teriak pria histeris saat Ular Sanca berukuran dua puluh meter dan berat sekitar 150 kg, mencabik tubuhnya dengan ganas.


"Arggghhhhh".


Mereka bergidik ngeri melihat betapa kejamnya ular itu menghabisi pria yang terlempar kedalam kandang San. Dalam sekejap tubuh pria itu berada didalam perut San.


"Apa kalian mau seperti itu juga?". Seringai licik diwajah Zaen.


"Ampunnn Tuan".


"Sekarang cepat katakan siapa kalian?". Bentak Zaen sambil kembali mencengkram leher pria itu.


"K-kami.....".


"Kami anggota Black Shinee". Sahut salah satunya.


"Dugaanku benar". Kata Zean mendekat kearah Zaen yang mencekik pria itu.


"Seret keduanya ke kandang San". Perintah Zean.


"Baik Tuan". Sahut Willy dan Edward bersamaan.


Kedua pria itu diseret dengan paksa memasuki kandang ular berbisa itu. Tentu saja ular itu menyambut dengan riang gembira melihat santapan ada didepannya.


"Arggghhhhh".


"Arggghhhhh".


"Arggghhhhh".


"Adam bereskan semua kekacauan ini". Perintah Sam.


Mereka meninggalkan ruangan itu dan menuju ruang kerja Pedrosa. Karena Pedrosa adalah pemilik Markas tersebut.


"Apa startegi kita selanjutnya?". Tanya Philip pada kedua pria paruh baya itu.


Sementara Fillipo, Zean, Sean, Zaen dan Lucas tampak serius juga dengan perbincangan mereka.


"Tidak ada cara lain selain menyerang Marks Black Shinee". Sahut Pedrosa.


Mereka kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Masalah perusahaan belum selesa kini meraka harus dihadapkan dengan tikus kecil itu.


**Bersambung......


GBU...


LoveUall**...

__ADS_1


__ADS_2