Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 159.


__ADS_3

**Hilangnya dirimu, merobek jantungku. Hingga ku terjatuh dalam harapan.


@BudakCinta.


SELAMAT MEMBACA**......


Fitri terjatuh setelah baru saja sarapan pagi bersama seluruh anggota keluarga.


"Sayang".


"Mommy".


"Fitri".


"Cece".


"Shellena".


Teriakan mereka semua secara bergantian. Fillipo langsung memeluk istrinya.


"Mommy, hiksssss". Tangis tiga bocah kembar itu.


"Fillipo, cepat bawa Fitri kerumah sakit". Teriak Zean menggema. Pikirannya sudah kalut dan cemas bukan main.


"Leo, siapkan mobil". Fillipo sambil berlari mengendong Fitri menuju mobil. Takut benar-benar takut dan sangat takut.


"Mommy, hiks". Tangis Zeva.


"Zeva sayang, sini sama Aunty ya". Rayu Christy pada keponakan nya.


"Zeva mayu sama Mommy, hiks". Tangis gadis itu.


Begitu juga dengan Zehe dan Kiel yang menangis dalam gendongan Sam dan Pedrosa. Kedua bocah tampan yang biasanya terlihat dingin da tak tersentuh itu kini benar-benar menunjukkan sisi sebagai seorang bocah berusia 5 tahun.


Sean, Zean dan Zaen terlihat frustasi. Bahkan ketiga pria kembar yang sudah memiliki satu anak itu tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada ketiganya jika sampai Fitri pergi.


Selama lima tahun belakangan ini mereka berperang habis-habisan untuk kesembuhan Fitri, bahkan Dokter terbaik dunia juga sudah mereka datangkan. Namun tetap penyakit mematikan itu tak bisa pergi tubuh wanita beranak tiga itu.


Ratusan kali kemoterapi juga dilakukan, bahkan efek dari kemoterapi itu bermacam-macam. Mulai dari mata bengkak sampai buta, wajah bintik-bintik merah, paru-paru basah dan gagal ginjal. Fitri benar-benar terlihat menderita, tak ada yang bisa dilakukan oleh mereka.


Racikkan obat yang dibuat oleh Zehemia tak menghasilkan apapun, penyakit Mommy nya tetap tak bisa disembuhkan.


Para Dokter sudah angkat tangan dan mengatakan tidak sanggup karena kanker ini terbilang jinak dan bahkan penyebarannya tidak membutuhkan waktu yang lama.


Fillipo lebih memilih berperang melawan para munsuhnya dari pada berpegang dengan penyakit sang istri. Sungguh Fillipo takkan sanggup jika harus kehilangan istrinya. Fillipo takkan bisa, apalagi melihat wajah Zevanya yang mirip sekali dengan sang istri. Zevanya seperti copyan Fitri kecil. Benar-benar mirip, tak ada sedikit pun yang berbeda dari wajah gadis itu dengan Mommy-nya.


Semua orang telah berkumpul dirumah sakit. Philip memeluk Piranda yang terlihat histeris saat mendengar bahwa menantunya masuk rumah sakit. Piranda sangat tahu kondisi Fitri. Wanita cantik itu, telah menderita cukup lama dengan sakit yang menggerogoti tubuhnya.


Dea dan Pearce saling berpelukkan erat berusaha saling menguatkan satu sama lain. Luna hanya terdiam dengan tatapan kosong, kenangan bersama Fitri terus terngiang didalam benak perempuan beranak satu itu. Fitri adalah adik Ipar terbaik bagi Luna, bahkan wanita itu tak pernah sedikit pun menyakiti hati Luna meski dimasa lalu Luna pernah begitu jahat padanya.


Christy dan Elizabeth juga terlihat tak tenang. Wajah kedua wanita berusia kepala tiga ini tampak cemas, bahkan keduanya sampai terduduk lemas diruang tunggu. Apalagi saat melihat suami mereka panik dan beberapa kali meneriaki dokter supaya cepat.


David dan Athala tak kalah sedih, pasangan paruh baya itu terus saja menatap keruang operasi berharap Fitri bisa diselamatkan.


Sedangkan Mars dan Merry tak mampu lagi mengungkapkan perasaan takut keduanya. Pasangan suami istri ini pernah jahat pada Fitri itu namun Fitri juga yang mempersatukan keduanya.


"Hiks, Mommy". Ketiga bocah kembar itu terus saja menangis dipelukkan Grandma dan Grandfa nya.

__ADS_1


"Tenang ya sayang, Mommy pasti baik-baik saja". Catty mengelus kepala Zeva agar gadis kecil yang ada dipelukkannya ini bisa tenang dan berusaha menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


Sedangkan didalam ruang operasi terlihat Dhanny, Yoshua, Yoel dan Zoe tengah berjuang menyelamatkan seorang perempuan cantik yang masih setia memejamkan matanya.


Fillipo terus memanggil nama istrinya. Pria itu ikut juga masuk kedalam operasi dan tidak mau jauh dari istrinya.


"Dok, jantung pasien melemah". Ucap Zoe.


"Percepat detak jantungnya". Suruh Dhanny dengan sangat panik.


"Dok.....".


Tit tit tit tit tit tit


Mesin pendetak jantung itu berhenti berbunyi hingga muncul garis-garis lurus dilayar monitor.


Keempat dokter itu seketika diam mematung seluruh tubuh mereka serasa mati rasa, bahkan jiwa seakan tak melekat lagi pada raga.


"Cepat ambil CPR". Teriak Dhanny.


Dhanny menekan-nekan CPR itu ke dada Fitri berulang kali dan berkali-kali. Berusaha memberi sentruman barang kali perempuan ini hanya bisa atau sedang tertidur.


"*Kumohon bangun Fitri. Bangun Fitri. Apa kau tidak mau melihat ketiga kecambah jenius itu tumbuh?". Dhanny berteriak dalam hatinya.


"Bagun Fitri". Batin Yoel.


"Bangun gadisku. Bangun, ayo bangun. Please jangan pejamkan matamu, lihat banyak orang yang menyanyangi mu". Batin Yoshua*.


Keempat Dokter itu mundur dan menggelengkan kepala tak percaya.


"Bagaimana istriku Dhanny??". Cecar Fillipo yang dari tadi melihat Dhanny memeriksa Fitri.


"Apa maksudmu Dhanny?". Fillipo menarik kerah baju Dhanny dengan teriakkan yang menggema.


Dhanny menggeleng kepala "Kita kehilangan dia". Jawab Dhanny dengan bibir bergetar.


Cengkraman tangan Fillipo terlepas dari kerah baju Dhanny, Ayah tiga anak itu seketika mematung ditempatnya dan menatap kearah brangkar dimana sang istri terbaring dengan wajah pucat pasih tanpa darah.


Fillipo berjalan dengan lemah menghampiri ranjang istrinya.


"Sayang, kau sedang tidur kan? Seperti waktu itu! Ayo donk sayang, apa kau suka sekali membuat suamimu itu kesal?". Fillipo membelai wajah istrinya yang terasa begitu dingin dan pucat "Sayang, dengar aku kan sayang. Ayo buka matamu, Zeva tadi menangis mencarimu apa kau tidak mau menemui putri kecil mu itu". Fillipo masih berharap bahwa istrinya tertidur seperti waktu itu.


"FITRI". Teriak Fillipo histeris saat menyadari bahwa istrinya pergi.


"FITRI......". Fillipo memeluk tubuh yang sudah tak ditinggali jiwa itu. Menangis dengan hebat dan menguncang-guncang tubub istrinya.


Semua masuk kedalam ruang operasi. mereka mematung ditempatnya masing-masing.


Sean, Zean dan Pedrosa tersungkur dilantai dengan tatapan kosong dan air mata yang luruh. Mereka sudah tak bisa mengeluarkan air mata.


"Shellena".Teriak Sam.


"Fitri". Pedrosa menangis dengan sangat kencang. Catty memeluk suaminya, memeluknya dengan erat saat Pedrosa mencoba mengila.


"Fitri". Gumam Dea dan Luna bersamaan kedua sahabat Fitri itu menangis sejadi-jadinya.


"Kakak Ipar".

__ADS_1


"Cece".


"Sayang-nya Kak Zaen".


"Dedek Kak Zean".


Ketiga pria itu menggeleng tak percaya. Sean bahkan memukul wajahnya berkali-kali berharap bahwa dia sedang bermimpi.


Zaen menangis histeris, sangat histeris. Elizabeth merengkuh tubuh suaminya. Tak bisa dipungkiri bahwa dia juga sedih bukan main.


Zean berkali-kali memukul lantai hingga tangannya mengeluarkan darah. Merasa gagal menjadi seorang Kakak yang tidak bisa menjaga adiknya.


Luna memeluk Zean, berusaha menguatkan suaminya. Luna tahu bagaimana Zean menyanyangi Fitri bahkan suaminya ini lebih mementingkan adiknya dari pada istrinya. Luna, sama sekali tidak cemburu atau marah malah Luna bahagia jika suaminya memperhatikan Fitri.


"Mommy, hiks". Zehe, Kiel dan Zeva berlari kearah brangkar Fitri memeluk sang Mommy yang sudah tak bisa membuat mereka tertawa lagi.


Fillipo menatap ketiga buah hatinya.


"Sini sayang, kita peluk Mommy". Ketiga bocah itu mendekat kearah Fillipo dan memeluk Mommy-nya bersamaan. Mereka menangis dengan histeris. Melupakan semua perasaan kehilangan itu.


"Sayang, kita harus ikhlasin Mommy ya. Biarkan Mommy istrihat dengan tenang". Ucap Fillipo dengan suara seraknya menatap ketiga anak kembarnya.


"Yapi Daddy, Zeva mayu cama Mommy. Zeva mayu luyis cama Mommy, hiks". Tangis gadis kecil itu dengan suara yang belum tembus bicara.


"Hiks Mommy, kenapa Mommy tinggalin Zehe. Zehe sayang Mommy, Zehe Mommy....".


"Kiel juga sayang Mommy. Mommy, bangun Mommy bangun Mommy....".


Ketiga bocah yang sudah dewasa sebelum waktunya itu tentu paham dengan arti kehilangan meskipun usia ketiga baru lima tahun tapi tetap mereka sangat dewasa.


Suara tangisan menggema didalam ruang operasi itu. Fillipo berusaha menguatkan dirinya karena dia tidak mau ketiga anaknya terus menangis.


"Selamat istri ku cantik. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Maaf belum bisa membuat mu bahagia. Aku berjanji akan menjaga cinta kita hingga kita bertemu disana. Terima kasih untuk tiga buat hati yang kau titipkan untukku, mereka adalah hadiah terindah yang aku miliki. Aku mencintaimu". Fillipo mengecup kening Fitri untuk terakhir kalinya, memeluk wanita yang dia cintai. Fillipo takkan pernah merasakan lagi pelukkan ini, pelukkan ini akan hilang selamanya dari hidup Fillipo.


"Ayo sayang, ucapkan selamat jalan untuk Mommy". Suruh Fillipo pada ketiga anaknya.


"Selamat jalan Mommy. Zehe sayang Mommy, Mommy baik-baik disana. Tunggu Zehe ya Mommy, Zehe akan menemani Mommy suatu hari nanti. Zehe janji akan jaga Kiel dan Zeva serta Daddy". Zehemia menghujani wajah Mommy-nya dengan ciuman bertubi-tubi seperti yang selalu dia lakukan setiap hari pada Mommy-nya.


"Ayo Kiel". Suruh Fillipo pada putra keduanya.


"Mommy, hiks. Selamat jalan, Kiel sayang Mommy. Kiel janji akan jadi anak yang baik dan tidak nakal lagi hiks". Zehekiel menciumi juga wajah Fitri


"Ayo Zeva, ucapkan selamat jalan untuk Mommy". Suruh Fillipo pada putri.


"Hiks Mommy. Zeva cayang Mommy, hiks Zeva lindu Mommy hiks. Zeva janji akan jadi anak yang baik dan nurut cama Daddy dan Kakak". Gadis kecil itu masih memeluk Fitri dengan erat.


Fillipo menatap wajah cantik istrinya untuk terakhir kalinya. Fillipo akan berusaha ikhlas menjalani hidupnya, masih ada tiga buah hati yang harus Fillipo jaga dengan baik.


Fillipo menemukan secarik surat dinakas meja rias istrinya. Tangan Fillipo bergetar hebat membaca isi surat itu.


*Dear suamiku.


Terima kasih suamiku tertampan didunia, aku mencintaimu selamanya. Maaf jika aku banyak melakukan kesalahan padamu, terima kasih untuk cinta tulus mu. Kutitipkan tiga buah hati kita padamu jaga dan rawat mereka dengan baik, cintai dan sayangi mereka seperti yang kita lakukan selama ini. Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tidak ada. Maaf tidak bisa mengucapkan kata terima kasih dan kata maaf secara langsung.


Aku mencintaimu❀️


Dari yang tersayang.

__ADS_1


Fitriani Yuri Kwon*


πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”T A M A TπŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”


__ADS_2