
SELAMAT MEMBACA.......
"Cepat bantu aku Tuan". Zevanya mengulurkan tangannya manja pada Dave.
Meski mengerutu Dave tetap mengikuti perintah gadis itu. Sedangkan Arata menatap tak percaya melihat perlakukan Dave pada Zevanya.
Dave menggendong Zevanya. Sedangkan lengan munggil Zevanya melingkar dileher pria itu. Entah kenapa kaki Zevanya sakit digerakkan. Apakah dia mengalami lumpuh? Zevanya tidak tahu yang pasti kakinya sakit dan tidak bisa digerakkan.
"Tuan, apa kau tahu?". Zevanya menatap wajah Dave yang begitu dekat dengannya.
"Apa?". Ketus Dave membuang muka. Padahal dia sudah setengah mati menahan gugup.
"Kaki ku terasa lumpuh. Apa kau tahu penyebab nya Tuan?". Dave tak menjawab. Dia melanjutkan langkah kakinya masuk ke toilet. Dia tidak mau memberitahu gadis itu jika kondisinya tidak pernah baik.
"Jika sudah selesai panggil aku".
Zevanya mengangguk dan Dave keluar dari toilet. Zevanya menatap pantulan dirinya. Wajahnya tumbuh bintik-bintik merah. Rambutnya juga perlahan rontok. Wajahnya pucat tanpa darah.
"Apakah ini akhir dari jalan hidupku?". Zevanya meraba wajahnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit "Mommy, apa Zeva akan bertemu Mommy nanti? Tapi bagaimana dengan Daddy dan Kakak. Mereka pasti khawatir mencari Zeva". Gadis itu menghela nafas panjang.
"Aku ingin pergi dari sini. Tapi bagaimana caranya. Kaki ku tidak bisa berjalan. Tuan Dave juga tidak menyakiti ku. Aku tidak tahu apa harus kabur? Atau bertahan disini sampai menunggu mereka menjemputku?". Gumam Zevanya.
Setelah membuang air kecil. Zevanya memanggil Dave untuk mengendong nya kembali. Dave yang sedari tadi menunggu didepan pintu dengan kedua tangan terlipat didadanya. Dia mendengar semua gumaman Zevanya. Dave tersenyum sinis. Dia tidak akan membiarkan gadis itu kabur. Dave yakin jika tempatnya bersembunyi tidak akan ditemukan oleh Myron dan Kenzie.
Dave meletakkan Zevanya dibrangkar nya. Dave menatap Zevanya tajam.
"Jangan berpikir untuk kabur. Karena aku tidak akan membiarkannya". Ujar Dave menatap Zevanya.
Gadis itu malah menguap "Bagaimana aku bisa kabur jika kau saja sudah tahu?". Celetuk Zevanya sambil memutar bola matanya malas. Dia sedikit menyesal karena telah berbicara ingin kabur dengan keras, hingga pria pemilik ular cobra itu kembali mengancam nya.
"Istirahat lah. Setelah ini kau harus makan". Dave memperbaiki selimut Zevanya.
__ADS_1
"Tuan, bolehkah aku minta Sushi?". Pinta Zevanya tak lupa jurus puppy eyes nya keluar.
"Tidak bisa. Tidak baik untuk kesehatan mu". Ketus Dave.
"Cieee yang diam-diam peduli. Hmhmh, hati-hati Tuan nanti jatuh hati, sakit nya sendiri lho". Ledek Zevanya menunjuk wajah Dave yang memerah karena dirinya.
"Cihh kau percaya diri sekali. Bagaimana mungkin aku menyukai gadis kecil seperti mu?". Kilah Dave memalingkan wajahnya.
"Ya siapa tahu saja Tuan". Zevanya sedikit terkekeh "Jangan menyukai ku ya Tuan. Aku tidak ingin kau menyesal nanti". Ujar Zevanya santai dia menggoda Dave dengan memainkan kedua alisnya.
Entah kenapa hati Dave sakit. Ada apa dengannya? Jantung nya juga berdenyut. Apa dia memiliki riwayat penyakit jantung?
Sementara Arata hanya diam saja. Dia menatap Zevanya dengan penasaran. Gadis ini memang cantik dan menarik serta unik tapi bagi Arata gadis ini sama saja seperti gadis lainnya. Apa yang Dave suka dari nya?
"Haiii Tuan". Zevanya melambaikan tangannya kearah Arata yang berdiri disamping ranjangnya.
"Perkenalkan namaku Zevanya. Biasa di panggil Zeva kalau mau panggil Zeze juga boleh". Zevanya mengulurkan tangannya.
Arat hanya melihat uluran tangan Zevanya tak berniat sama sekali menyambut tangan gadis itu "Alah, kelamaan". Zevanya menarik tangan Arata agar menyambut tangannya hingga membuat pria itu terkejut dengan keberanian Zevanya. Begitu juga Dave yang menatap tak percaya.
Dave memutar bola matanya malas. Sedangkan Arata menunggu agar gadis itu melanjutkan perkataannya.
"Bahasa cintamu". Lalu Zevanya tertawa lepas. Membuat kedua pria itu malah melonggo menatapnya.
"Ck, Tuan cepat katakan siapa namamu? Sepertinya kau suka memegang tanganku?". Seru Zevanya menatap Arata dengan senyuman jahil.
Secepatnya Arata menarik tangannya. Lalu memalingkan wajahnya menahan gugup.
"Sial". Batin Arata. Bisa-bisa nya dia gugup hanya karena gadis bau kencur ini.
"Ck, Tuan siapa namamu?". Zevanya selalu kepo dan ingin tahu terus saja bertanya.
__ADS_1
"Arata". Jawab Arata ketus singkat jelas dan padat
"Wahhh nama yang bagus. Sebagus orangnya". Ujar Zevanya sambil berbaring. Dia tidak tahu jika ucapannya itu membuat pria yang berdiri disampingnya tengah menahan gugup.
"Aku akan keluar. Nanti Deva dan Bibi Elena akan menemani mu makan. Ingat jangan makan Sushi, atau kau mau kujadikan santapan Xiang?". Ancam Dave.
"Astaga, iya Moy dimana? Bawa dia kesini. Aku sangat merindukannya". Seru Zevanya terduduk kembali. Dari tadi dia mencari ular itu namun lupa saat sibuk berdebat dengan Dave.
"Namanya Xiang bukan Moy". Ralat Dave "Dia sedang istirahat tidak bisa diganggu". Ketus Dave.
"Tuan, ayolah bawa dia kesini. Aku merindukannya. Ya ya ya ya ya". Rayu Zevanya memegang lengan Dave "Aku hanya ingin bermain sebentar dengannya". Timpal Zevanya.
Dave mengendus kesal. Dia selalu luluh dengan tampilan imut Zevanya. Dia mengerutu. Dia protes. Tapi ya percuma saja Zevanya yang tak kehilangan akal untuk merayu hingga mendapatkan apa yang dia mau, mampu mengalahkan Dave.
Tidak lama kemudian Tian masuk dengan membawa kandang ular. Disana ular cobra berwarna hitam itu sudah berdesir saat melihat Zevanya. Ular itu terlihat marah saat Dave mengurungnya dari kandang.
"Moy".
Ketika Tian membuka kandang ular itu. Ular itu langsung keluar dengan cepat dan turun dari kandangnya. Serta naik ke atas brangkar Zevanya.
"Moyyy. Sayangku. Aku sangat merindukanmu". Ular itu naik kepangkuan Zevanya dengan manja. Zevanya memeluk ular itu dengan sayang. Dia menggendongnya seperti bayi.
Arata sambil melonggo tak percaya. Bagaimana mungkin seorang gadis seperti Zevanya bisa menjinakkan ular. Bahkan itu adalah ular paling berbahaya didunia yang sekali saja mengigit maka tidak akan bisa bernafas lagi.
Sedangkan Tian bergidik ngeri. Meski sudah biasa melihat Zevanya bermain dengan ular peliharaan Dave tetap saja dia merasa takut dan juga geli. Tian membayangkan jika ular itu manusia, pasti dia sedang jatuh cinta pada Zevanya.
"Dia tidak bisa berlama-lama denganmu. Dia harus istirahat". Tandas Dave. Dave cemburu melihat Xiang dan Zevanya akrab.
Dave butuh waktu puluhan tahun untuk bisa menjinakkan ular berbisa itu. Tak main-main Dave harus belajar banyak hal untuk memahami ular peliharaan nya. Namun ketika Zevanya datang dengan mudah gadis itu akrab dan bahkan bisa membuat ular itu merasa nyaman dengannya.
"Biarkan dia istirahat bersamaku Tuan. Aku merindukannya". Ujar Zevanya. Ular itu menjilati dagu Zevanya, hingga membuat gadis itu tertawa geli seperti bermain dengan anjing atau kucing.
__ADS_1
Bersambung.....
LoveUsomuch ❤️