Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 83


__ADS_3

**Semoga aku bisa melewati hatiku tanpa menunggu hadirmu....


SELAMAT MEMBACA**...


Hari berganti, dan Minggu berganti Minggu. Hubungan dua orang beda usia itu semakin dekat, layaknya seorang Ayah dan anak. Bahkan tak ada rasa canggung lagi diantara keduanya.


"Hmm, Fitri". Panggil Pedrosa saat mereka berdua, tengah mengobrol menikmati dua cangkir kopi dibalkon Apartement


"Iya Paman". Sahut Fitri


Pedrosa menatap Fitri dengan senyum sambil mengelus kepala gadis kecil itu


"Boleh Paman minta sesuatu?". Tanya Pedrosa lembut, tangannya masih mengelus kepala gadis itu.


"Apa Paman?". Tanya Fitri polos dan penasaran


"Boleh tidak kau memanggiku dengan panggilan Ayah. Aku ingin menangkatku sebagai putriku, aku menyangimu seperti anakku sendiri". Ungkap Pedrosa penuh harap.


Fitri mendongkrak kan kepalanya, menatap Pedrosa lalu tersenyum manis "Ayah". Satu kata itu keluar dari mulut gadis kecil.


Mata Pedrosa berkaca-kaca saat mendengar panggilan dari gadis kecil dihadapnnya ini. Karena gadis ini mengingatkannya pada cinta dimasa lalu, ia meninggalkan gadis yang ia cintai demi cinta yang lain, akhirnya dirinya sendiri dihianati oleh cinta yang dia pilih. Rasa penyesalan begitu menguak dihatinya, membuang permata demi sebuah batu kerikil.


Pedrosa sontak memeluk Fitri "Terima kasih Nak". Tanpa terasa air mata luruh dipelupuk matanya.


"Ayah berjanji akan melindungi mu, apapun yang terjadi". Ucap Pedrosa lagi.


Fitri merasakan hangatnya pelukkan seorang Ayah. Setelah kurang lebih satu tahun hidup sebatang kara "Aku menyangimu Ayah". Lirih Fitri


"Ayah juga menyangimu Nak". Pedrosa melepaskan pelukkannya pada Fitri, dan menghapus air mata gadis itu.


"Kau harus berjanji pada Ayah, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama". Pedrosa mengaitkan jari kelingking nya ke jari kelingking Fitri.


"Siap Ayah". Senyum sumringah Fitri.


"Ya sudah, karena sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat ya". Pedrosa menuntun Fitri masuk kedalam kamarnya.


"Selamat tidur anak Ayah". Pedrosa mengecup kening Fitri


"Good night Ayah". Balas Fitri.


Pedrosa pun keluar dari kamar Fitri, karena ia tidur disofa ruang tamu. Apartement Fitri hanya memiliki satu kamar saja.


Pedrosa mengantar Fitri sampai ke restorant gadis itu bekerja.


"Nanti Ayah jemput". Senyum Pedrosa mengacak rambut gadis itu.

__ADS_1


"Iya Ayah. Jangan lupa makan siang". Fitri mengecup punggung tangan Pedrosa, dan itu membuat Pedrosa berkaca-kaca.


"Iya Nak". Pedrosa mengelus pundak Fitri dengan lembut


Sementara Pedrosa berusaha mencari pekerjaan untuk membantu biaya hidup mereka. Selama ini ia bergantung hidup pada Fitri, bahkan Pedrosa sudah tidak memikirkan apapun lagi tentang anggota Mafia nya.


"Daddy". Panggil suara yang membuyarkan lamunan Pedrosa, sedari tadi ia hanya duduk manis ditaman sambil mencari pekerjaan.


Pedrosa menoleh kearah suara itu


"Zean, Zaen". Pedrosa menatap kedua putra kembarnya


"Daddy....". Dua pria tampan yang memiliki wajah sama itu mendekat ke arah pedrosa. Kedua pria itu memeluk Pedrosa dengan erat dan Isak tangis.


"Daddy, kemana saja. Kami mencarimu Dad?". Ucap Zean melepaskan pelukkan Pedrosa.


"Hmm, kalian merindukan Daddy kalian yang tampan ini?". Goda Pedrosa.


Zaen langsung jenggah mendengar ucapan Pedrosa "Cih, percaya diri sekali kau Dad, jika tampan kenapa kami belum punya Mommy?". Gerutu Zaen.


"Harusnya Daddy yang tanya kapan Daddy punya menantu. Kalian berdua ini sampai kapan jomblonya". Kesal Pedrosa, selalu saja kedua putranya ingin mengajaknya berdebat masalah siapa yang jomblo.


"Sudahlah Dad, jangan menanyakan hal itu terus". Protes Zean "Sekarang ayo kita pulang". Ajak Zean.


Namun Pedrosa tak beranjak ada hal yang membuatnya enggan untuk kembali. Serasa berat sekali meninggalkan Fitri sendirian. Rasanya ia ingin membawa gadis itu bersamanya, tapi itu tidak mungkin. Jika gadis itu ikut bersamanya maka sama saja mengajak gadis itu terjun ke jurang bersama-sama.


"Ahh, tidak". Sahut Pedrosa "Apakah Daddy harus kembali?". Tanya Pedrosa.


"Kenapa Daddy bertanya seperti itu? Daddy harus kembali, disini tidak aman banyak sekali munsuh yang mencari Daddy. Untung saja kami menemukan Daddy dengan cepat". Jelas Zean.


Pedrosa menghela nafas berat.


"Baiklah, bisakah antar ke Daddy ke restourant Go Green Food?". Ucap Pedrosa.


"Tentu". Mereka pun masuk kedalam mobil.


Sampai direstourant itu. Pedrosa langsung turun dari mobil, dia sengaja melarang Zean dan Zaen ikut dengannya. Pedrosa tidak mau ada orang yang tahu tentang gadis itu, karena itu akan berbahaya. Pedrosa tidak mau jika munsuhnya menargetkan Fitri sebagai tawanan dan kelemahannya.


"Ayah". Panggil Fitri yang melihat Pedrosa masuk kedalam restourant seperti mencari seseorang.


Pedrosa tersenyum dan berjalan kearah Fitri "Ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu!!". Ujar Pedrosa.


"Apa Ayah?". Fitri mengerjitkan kan kedua alisnya.


"Ayah harus kembali". Kata Pedrosa dengan berat.

__ADS_1


Deg


Jantung Fitri seperti berhenti berdetak saat mendengar perkataan Pedrosa "M-maksud Ayah?". Tanya Fitri berkaca-kaca.


"Nak, dengarkan Ayah. Ayah harus kembali. Kau sudah tahu kan jika Ayah ini ketua Mafia. Tanggung jawab Ayah besar dan Ayah tidak mau ada yang menyakitimu. Ayah bisa saja membawamu pergi tapi itu akan sangat bahaya". Jelas Pedrosa memegang kedua bahu Fitri.


Air mata berjatuhan dipipi manis Fitri. Sungguh Pedrosa sudah seperti Ayah kandungnya, kelembutan pria dingin itu membuatnya merasa nyaman dan kembali merasakan betapa indahnya memiliki seorang Ayah.


"Ayahhhh". Lirih Fitri.


"Ayah berjanji suatu saat nanti Ayah akan kembali dan membawamu pergi setelah keadaan aman. Kita akan hidup bahagia bersama kedua Kakakmu. Ayah menyangimu". Pedrosa memeluk Fitri. Dirinya benar-benar tak sanggup meninggalkan gadis ini tapi tidak ada pilihan lain.


"Aku akan menunggumu Ayah, hiks". Balas Fitri memeluk Pedrosa.


Pedrosa melepaskan pelukkan Fitri "Ayah harus pergi. Jaga dirimu baik-baik dan ingat Ayah akan kembali". Pedrosa mengecup kening Fitri, lalu beranjak dengan berat.


"Ayah, Hiks". Lirih Fitri menatap punggung Pedrosa yang menghilang dibalik pintu.


Jam menunjukkan pukul 5 sore. Fitri keluar dari restorant dengan wajah lelah dan lesu. Biasanya jika dia pulang pasti akan ada yang menjemput dan menyambutnya dengan senyum.


Namun kali ini berbeda, semua terasa sunyi dan sepi. Biasanya terdengar gelak canda dan tawa yang membuat lelahnya seakan menghilang. Tapi kini, semua benar-benar berbeda.


Fitri sampai ke Apartementnya. Wajah terlihat sekali sangat lelah.


"Fitri". Panggil suara membuyar lamunannya


"Kak Dhanny". Senyum gadis itu.


Dhanny menghampiri Fitri "Kapan Kakak datang?". Tanya Fitri membalas pelukkan Dhanny.


"Kapan ya? Kakak juga lupa!!". Goda Dhanny. Membuat Fitri kesal "Mulutnya jangan cembey gitu donk". Timpal Dhanny mencubit kedua pipi Fitri dengan gemes.


"Kakak". Gerutu Fitri mengelus pipi nya yang terasa pedas.


"Ya sudah ayo masuk, Kakak bawakan oleh-oleh dari Indonesia". Ajak Dhanny.


Mereka pun masuk kedalam Apartement Fitri. Disebelah Apartement Fitri, Dhanny menyewa satu Apartement yang dekat dengan gadis itu. Dokter tampan yang satu ini sengaja menyewa Apartement yang dekat Fitri supaya bisa selalu bersama gadis itu saat ia kembali ke New York.


Fitri melamun sendiri di balkon kamarnya. Malamnya serasa sunyi dan sepi.


"Apa Ayah akan kembali dan menjemputku?". Gumamnya.


Waktu terus berjalan, setelah Fitri menyelesaikan S2 nya dia langsung kembali ke Indonesia untuk bekerja disebuah perusahaan yang sudah direkomendasikan dari kampus nya.


Flashback off

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2