Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 126.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA...


Lucas merebahkan tubuhnya diatas kasur king size kamarnya. Rasa lelah menyeluruh ditubuh pria tampan itu. Seharian ini, setelah meeting dari perusahaan ia segera pergi ke Markas untuk memastikan anggota yang akan ikut dalam penjemputan senjata ke pelabuhan Minggu depan.


Ingin rasanya Lucas meninggalkan dunia Mafia, tapi entah kenapa para munsuhnya selalu mencari masalah dengannya. Apalagi sejak mereka gabung dengan Black Glorified, semakin banyak masalah yang dihadapi oleh kelompok Mafia mereka.


Tiba-tiba, bayangan gadis yang menabrak nya di Bandara terlintas dibayangan Lucas.


"Argh, kenapa aku jadi teringat gadis itu?". Gumam Lucas "Siapa dia kenapa tatapan matanya seperti tidak asing? Aku seperti pernah melihatnya tapi dimana?". Lucas tampak berpikir keras.


"Kenapa dengan jantungku?". Lucas memegang dadanya "Kenapa jantungku berdegup kencang saat mengingat wajah gadis itu? Selama ini tidak ada satu wanita pun yang bisa mengetarkan jantungku, selain Fitri. Apa aku sudah melupakan Fitri? Lalu jatuh cinta pada gadis itu? Tapi tidak mungkin, aku saja tidak mengenalnya". Lucas berusaha menepis perasaannya. Namun, tetap saja bayangan gadis itu melekat diotaknya, entah apa yang terjadi dengan Lucas.


Tok tok tok tok


Pintu kamar Lucas diketuk oleh seseorang. Segera Lucas bangkit dan membukanya.


"Kakak". Sapa Luna ramah saat Lucas membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Luna?". Tanya Lucas sembari berjalan masuk dan kembali menuju ranjangnya lalu berbaring.


Luna mengikuti langkah Lucas, dan duduk dibibir ranjang sang Kakak.


"Kak, coba lihat ini". Lucas memberikan tab yang ada ditangannya.


Lucas mengambil tab itu, lalu mengerjitkan dahi nya karena tidak mengerti.


"Ini untuk Fitri Kak, aku sengaja membuat gaun ini. Kata Pearce dua bulan lagi Fitri ulang tahu, jadi aku ingin dia memakai gaun ini sebagai ucapan terima kasihku". Jelas Luna sumringah dengan wajah berbinar membayangkan jika Fitri memakai gaun itu.


Lucas menatap Luna, heran. Kenapa Luna jadi sangat perhatian pada Fitri? Bahkan terkesan begitu peduli pada gadis Fitri.


"Kenapa jadi perhatian pada Fitri?". Tanya Lucas menyelidik wajah adiknya.


Luna tersenyum simpul melihat tatapan menyelidik Kakak nya "Fitri itu sudah kuanggap adikku sendiri Kak. Dia mengajarkanku banyak hal, bahkan butikku semakin banyak pelanggan berkat desain-desain nya yang menarik para pelanggan". Jelas Luna.


"Kau tidak bermaksud menarik perhatian diantara ketiga Kakak kembarnya itu kan Luna?". Lucas tak puas, Lucas yakin jika Luna menyukai salah satu dari Kakak kembar Fitri.

__ADS_1


Luna gegelapan dan juga gugup mendengar pertanyaan Lucas. Luna berusaha menyembunyikan perasaan nya supaya Lucas tidak curiga.


"Ehem! Kau menyukai Sean?". Timpal Lucas sambil melipat kedua tangannya didada. Ia menelisik wajah Luna dengan penuh kecurigaan.


Luna menunduk, tak ingin berbohong lagi pada Kakak nya. Apalagi Lucas sudah tahu bahwa Luna menyukai Sean, jadi sudah dipastikan Kakaknya itu mengetahui perasaannya.


Lucas menghela nafas, saat Luna menunduk dugaan Lucas selama ini benar bahwa Luna menyukai Sean.


"Kakak, tidak melarang kau menyukai siapapun. Hanya saja Sean pria berkelas, untuk bisa bersanding dengannya kau harus menaikkan level mu, tentu tidak cukup hanya menjadi seorang desainer". Ucap Lucas "Kau tahu kan Luna, bahwa Sean bukan tipe pria yang mudah didekati, apalagi kau pernah menjebak Fitri pasti dia tidak akan dengan mudah menerimamu. Jadi sebelum perasaanmu benar-benar dalam, sebaiknya mundur dan menyerahlah. Jangan menggunakan cara licik hanya untuk mendapatkan cinta". Tegas Lucas pada Luna. Lucas tidak mau jika Luna mengalami fase patah hati seperti dirinya, yang harus patah sebelum mengungkapkan cinta. Apalagi Luna sudah tidak suci, tentu itu menjadi nilai pertimbangan Sean untuk menerima perasaan Luna. "Masa lalumu itu yang akan menjadi penghalang utama. Tidak akan ada laki-laki yang mau bekas laki-laki lain". Sambung Lucas.


Luna keluar dari kamar Lucas. Luna masih mencerna kata-kata Kakaknya. Luna masuk kedalam kamarnya, lalu membaringkan tubuh munggilnya dikasur king size miliknya.


Luna menatap langit-langit kamar. Bayangan saat Sean tersenyum begitu melekat dikepalanya. Senyum laki-laki itu mampu mengalihkan dunia Luna, seakan Sean memenuhi isi hati dan otak Luna.


"Kak Sean, apa salah jika aku menyukai dan mencintai Kakak?". Ucap Luna masih menatap langit-langit kamarnya.


Mata Luna tidak bisa terpejam. Luna bergeser, kesana kesini untuk mencari posisi yang nyaman. Tapi tetap saja matanya tak bisa terpejam. Ucapan Lucas masing terngiang-ngiang dikepala Luna, apalagi harus menaikkan level.


Luna berpikir, bukankah Luna juga terlahir dari keluarga kaya? Cantik, sudah pasti. Pintar, apalagi. Bahkan Luna sudah bisa merintis usaha nya sendiri.


Luna teringat saat pertama kali menyerahkan mahkotanya pada orang yang sama sekali tidak Luna cintai dan mencintai Luna. Pria itu adalah Zean, pria yang telah menjadi teman ranjang Luna setelah Luna mengenal Dea.


Awalnya Luna berusaha menolak tawaran Dea, namun hasutan Dea yang memprovokasi kan tentang Fitri membuat Luna mengikuti pergaulan Dea.


Terkadang ada rasa canggung saat Luna bertemu Zean. Luna teringat bagaimana lelaki itu memperlakukan nya saat mereka berolah raga panas diatas ranjang. Namun, anehnya Luna sama sekali tidak merasakan getaran saat berdekatan dengan Zean. Berbeda saat Luna bertemu Sean, selalu saja membuatnya gugup dan jantungnya berdegup kencang.


Sebutir cairan bening, lolos keluar dari mata Luna dan mengalir begitu saja dipipinya yang cantik.


"Tidak akan ada laki-laki yang mau mencintai wanita yang sudah tidak perawan". Lirih Luna mengusap air matanya.


Luna memeluk bantal gulingnya, membenamkan wajahnya disana. Luna menangis sejadi-jadinya saat mengingat bahwa dirinya sudah tidak suci lagi.


Sampai akhirnya Luna terlelap dengan mata membengkak karena hampir berjam-jam dia menangis, meluapkan segala emosi yang memenuhi dadanya. Rasa penyesalan membuat Luna terasa semakin sesak.


Dilain tempat......

__ADS_1


Dea terbangun dari tidurnya. Dia sedang tidak bermimpi buruk tapi setiba kejap matanya tak bisa terpejam padahal dari tadi dia sudah terlelap dan terbangun kembali.


Dea mengambil ponselnya diatas nakas, menscrol nama-nama kontak yang ingin dia hubungi. Dia berhenti disatu nama kontak yang menjadi teman one stand night dengannya.


"Ada sayang, hmmm?". Suara serak diseberang sana membuat Dea bergidik ngeri.


"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya? Aku sudah berada di Mansion Ranlet Flint". Ujar Dea


"Ehem! Bagus, kau sangat cerdik sayangku". Kekeh suara diseberang sana sambil menguap.


"Apa kau juga menginginkan gadis itu?". Terdengar suara sedikit ketus dan tidak suka.


"Ehem! Tidak, aku hanya menginginkan kejeniusan nya dan membuatnya bekerja sama denganku. Kau tahu kan jika dia mau bekerja sama denganku, aku pasti akan menerima keuntungan besar dan perusahaan ku bisa maju pesat". Sumringgah suara diseberang sana sambil membayangkan Fitri menerima kerjasama dengannya.


"Baiklah". Ketus Dea menutup telponnya tanpa mendengar lagi balasan dari orang yang dia telpon.


Dea kembali membaringkan badannya. Dea tak menyangka semudah ini masuk kedalam Mansion kediaman keluarga Ranlet Flint, tanpa harus bersama hebat atau menguras air matanya.


Netra mata Dea, menatap jam waker yang terletak diatas nakas, menunjukkan pukul 12 malam waktu Amerika.


Entah kenapa bayangan Lucas yang Dea temui di Bandara waktu itu, kembali membuat jantung Dea berdegup kencang.


"Aku tidak mungkin jatuh cinta pada Kak Lucas kan?". Monolog nya sambil memegang dadanya "Tidak, tidak! Ini tidak benar. Aku pasti hanya merasa takut saja bukan suka". Dea menepis perasaannya dengan memejamkan kedua matanya. Berharap bahwa perasaannya itu bukan cinta, melainkan rasa takut semata. Takut jika Lucas mengenali dirinya.


**Bersambung...


Cuma bisa up 1 bab saja hari ini.


Semoga besok, bisa up 2 atau 3 bab.


Dukung terus ya....


GBU.


LoveUall**...

__ADS_1


__ADS_2