Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 129


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA......


Fillipo, Sean, Zean, Zaen, Lucas, Pedrosa, Sam, Phillip dan Alexander dan para asissten. Pasangan anak dan Ayah itu sedang bersiap-siap untuk menjemput senjata serta merebut kembali kekuasaan wilayah timur yang kini tengah diserang oleh Black Shinee dan BTOB King.


Tiga Jet pribadi yang akan mereka kendarai telah terparkir dengan rapih dihalaman Markas Glorified dan Lion Killer. Masing-masing jet telah dilengkapi dengan beberapa fasilitas, dua orang pilot dan lima orang pramugari dan pramugara.


Jet tersebut mengudara dengan kecepatan sedang, terbang dilangit biru yang tampak begitu indah. Sepertinya cuaca cukup bersahabat dengan mereka.


Fillipo, Sean, Zean dan Zaen juga telah mempersiapkan senjata yang diberikan oleh Fitri pada mereka. Keempat pria itu tampak serius dengan tatapan yang tajam. Gambaran wajah tanpa ekspresi terlihat begitu menyeramkan.


Jet pribadi itu mendarat dipelabuhan Port Of New York and Jersey. Pelabuhan terbesar di Amerika Serikat.


Sementara itu.


Mars, Arthur dan Dhanny juga tak kalah dengan persiapan mereka. Dhanny akan bersembunyi dibalik belakang Mars dan Arthur demi melancarkan rencana mereka. Arthur akan menjadi umpan sedangkan Mars akan memancing dan Dhanny akan menangkap. Formasi yang mereka rancang tidak main-main, para ketua Mafia berambisi itu takkan memberi celah pada para lawannya untuk melawan kekuasaan mereka.


Jet pribadi Mars, mendarat dipelabuhan yang akan menjadi tempat mereka bertempur habis-habisan.


Dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor


Tembakkan demi tembakkan menggema memenuhi pelabuhan. Sementara kapal yang membawa senjata itu, belum menampakkan diri. Entah siapa yang membawanya.


Dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor


"Hahhah, kau rupanya Fillipo". Cibir Mars.


"Berikan padaku senjatanya Mars". Mata Fillipo sudah memerah tajam penuh kemarahan di mata dan wajahnya


"Haha kau pikir akan semudah itu aku menyerahkan senjata itu padamu". Seru Mars sambil tertawa.


Dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor


"Cepat serahkan padaku Mars". Bentak Fillipo.


"Aku akan menyerahkannya asal kau berikan kekasihmu padaku. Karena yang kuinginkan hanya dia". Ucap Mars melakukan penawaran.


Fillipo tertawa mengejek "Kau pikir dia barang yang bisa diperjual belikan, maaf aku tidak tertarik dengan penawaran mu". Ejek Fillipo.

__ADS_1


"Dasar brengsekkkk". Bentak Mars.


Dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor


"Mars, sebaiknya kita mundur". Bisik Arthur.


"Sepertinya harus begitu". Sahut Mars.


Mereka kembali masuk kedalam jet masuk kedalam jet pribadi


Fillipo dan Sean yang melihat itu, segera berlari mengejar


Dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor


Namun sayang, jet milik Mars telah terbang dengan kecepatan tinggi.


"Arggghhhhh". Teriak Fillipo frustasi.


"Kita tunggu, sepertinya itu kapal senjata yang kita tunggu". Ucap Zean.


Setelah kapal itu singgah, segera mereka menghampiri dan memeriksa isi dari kapal yang mereka anggap sebagai tempat senjata itu.


"Arghhh brengsekkkk". Teriak Zaen saat memeriksa senjata itu.


"Ternyata yang dikatakan Fitri benar, bahwa senjata ini palsu dan kita telah dipermainkan oleh Mars". Sahang Zean mengeras sampai giginya bergelemetuk menahan amarah.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?". Sambung Sean


"Kita akan pergi ke wilayah timur sepertinya mereka menyerang disana". Timpal Pedrosa


"Ayo". Kembali lagi mereka menaiki jet pribadi, untuk segera sampai di wilayah bagian timur. Dimana wilayah itu adalah pabrik senjata Pedrosa, wilayah yang Pedrosa bangun beberapa puluh tahun silam. Sejak beberapa bulan terakhir wilayah itu menjadi incaran para kelompok Mafia yang ada di New York, karena wilayah itu memiliki kekuasaan yang menjadikan kelompok mereka semakin kuat.


Ditempat lain.


Mars, Arthur dan Dhanny tertawa penuh kemenangan. Setelah melakukan umpan dipelabuhan, kini mereka bertiga berhasil mengambil wilayah timur.


"Hahha, akhirnya wilayah ini menjadi kekuasaan kita". Seru Mars tertawa penuh kemenangan.


Para pengawal yang berada di wilayah tersebut habis tak tersisa, senjata-senjata buatan Pedrosa habis dibobol dan mereka curi tanpa sisa.

__ADS_1


Bahkan Mars, Arthur dan Dhanny mengatur sistem keamanan yang begitu ketat, hingga akses untuk masuk kesana akan sangat sulit.


"Ehem, para pria bodoh itu memang mudah sekali dikelabui, hahah bahkan ketua Mafia yang sudah tua saja tidak bisa berpikir jernih". Dhanny juga tertawa penuh kemenangan.


"Apakah mereka bisa masuk kesini?". Tanya Arthur.


"Tentu saja tidak bisa Arthur, kecuali akses yang dibuat Mars ada yang meretasnya. Kau tahu kan tidak akan ada yang bisa meretas sistemnya". Jelas Dhanny tersenyum puas dengan hasil kerja keras mereka.


"Apa kalian yakin?". Tanya Arthur yang masih kurang percaya.


"Kenapa kau ragu?". Tanya Mars menyelidik wajah Arthur.


"Kau tahu kan siapa Zaen? Dia ahli IT, aku hanya takut dia bisa meretas sistem keamanan kita". Jelas ragu dengan wajah ragunya. Arthur sangat mengenal Zaen yang begitu ahli di bidang IT, bahkan kemampuan kembaran Zean tersebut tak perlu diragukan lagi.


"Ya ya aku tahu. Tapi dia tidak akan bisa membuka sistem keamanannya, hahah". Bantah Mars dengan tawa yang menggema.


"Lalu bagaimana dengan gadis itu?". Tanya Mars pada Dhanny.


"Tenanglah Dea, akan membawanya kesini". Jawab Dhanny dengan senyum sumringah. Dhanny merasa tak sabar untuk bertemu Fitri. Sudah berapa bulan dia tidak bertemu dengan gadis itu. Terakhir pertemuan mereka hanya saat makan siang ketika Fitri menjemput Dhanny ke Bandara, setelah itu mereka tak pernah lagi bertemu.


Di Markas Black Glorified.


Merry wanita yang ditangkap oleh Sean, kini terlihat begitu menyedihkan wajahnya terdapat bekas tamparan bahkan darah sudah mengering disudut bibirnya.


Wanita itu hanya bisa merintih menahan segala sakit ditubuhnya. Bagaimana tidak? Anak buah Zaen memukulnya habis-habisan, bahkan tak memberinya ampun. Jika bukan Fitri yang meminta Zaen menghentikannya mungkin Merry sudah tidak mampu bertahan dengan segala sakit ditubuh.


"Maafkan Mommy Nak, Mommy berjanji akan melindungi mu". Lirih Merry mengelus perutnya yang masih rata, usia kehamilan nya memasuki Minggu ketiga sehingga begitu rentan terhadap benturan.


Akibat cinta satu malam nya dengan Mars, berhasil menumbuhkan benih didalam rahim Merry. Benih yang tak berdosa itu harus dipaksa untuk berjuang bersama sang Ibu yang keadaannya semakin buruk.


Merry menangis sejadi-jadinya sambil memeluk lututnya. Merry dikurung dalam sebuah ruangan yang cukup gelap, hanya terlihat remang-remang lampu kecil yang memenuhi ruangan.


"Maafkan aku". Lirihnya terisak tangis.


Merry menyesali perbuatannya, kerugian perusahaan yang dialami Sean memang tidak setimpal dengan hukuman yang Merry terima. Seandainya saja Fitri tidak jelih, kemungkinan besar perusahaan Sean sudah jatuh ketangan Mars dan itu semua atas bantuan Merry.


Merry juga yang membocorkan rahasia perusahaan kepada Mars. Sebagai sekretaris Sean tentu saja Merry mengetahui segala detail tentang perusahaan Sean sehingga membuat dirinya membongkar segala akses yang bersangkutan dengan Sean.


**Bersambung....


GBU..


LOVEUALL**..

__ADS_1


__ADS_2