
SELAMAT MEMBACA....
“Ge”. Sapa Zevanya tersenyum hangat saat melihat Grace berjalan kearah pintu keluar Mansion.
Langkah Grace terhenti “Ada apa?”. Tanya Grace tanpa membalikkan badannya. Dia sangat membenci Zevanya.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu”.
“Apa?”. Tanya Grace dingin.
“Kita ketaman belakang”.
Zevanya berjalan duluan dan diikuti oleh Grace. Wajah Grace tak menujukkan persahabatan sedikit pun. Dia takkan pernah lagi bisa akrab dengan Zevanya selama gadis itu masih dekat dengan pria pujaannya.
“Apa yang ingin kau bicarakan?”. Grace to the point, dia tidak mau berlama-lama bersama Zevanya.
Zevanya menatap Grace “Aku ingin minta maaf. Tapi percayalah Ge, aku dan Kak Ron tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya membantunya sembuh dari OCD dan Gynopobianya”. Jelas Zevanya.
Grace tersenyum meledek “Sudahlah Nya, kau tidak perlu berbohong. Jika kau tidak ada apa-apa, kenapa kau selalu mendekatinya? Bahkan kalian hanya menghabiskan waktu berdua. Jangan mentang-mentang dia tidak alergi padamu, lalu kau mau mendekatinya sesuka hati”. Tuduh Grace dia menatap tak suka.
Zevanya menggelleng “Tidak begitu Ge”. Jawab Zevanya “Aku benar-benar tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kak Ron”. Zevanya masih berusaha menjelaskan.
“Ohh ya. Kalau begitu apa kau bisa menjauhinya?”. Tanya Grace semakin dingin.
__ADS_1
Zevanya terdiam sejenak. Zevanya menghembuskan nafas pelan. Jika dia menjauhi Myron pasti pria itu takkan sembuh dari OCD nya. Tapi jika dia terus mendekatinya maka Grace akan terus membenci.
“Kenapa kau tidak sanggup?”. Ledek Grace “Kau benar-benar ****** tak tahu diri Nya”. Cibir Grace.
Zevanya tertegun mendengar Grace mengatakan bahwa dia ******. Bahasa itu tak pernah diucapkan oleh siapapun. Dia tidak pernah mendapat perlakuan kasar baik dari perkataan mau pun tingkah laku. Zevanya biasa diperlakukan istimewa oleh kedua Kakak dan Daddynya. Namun sekarang hanya karena masalah pria dia dikatakan ******.
Zevanya menatap Grace dengan kecewa. Dia tak menyangka jika saudara serta sahabat yang dia anggap baik dan lemah lembut tega mengatakan hal yang menyakiti dirinya. Zevanya bukanlah wanita ******, dia gadis yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Kehilangan sang Ibu membuatnya hidup tak tentu arah. Meski dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh ketiga pria tampan dalam hidupnya, tetap saja dia adalah gadis yang lemah.
“Baik aku akan jauhi Kak Ron”. Ucap Zevanya dengan yakin “Jika kau mau mendekatinya. Silahkan dekati”. Setelah berbicara, Zevanya meninggalkan Grace yang tersenyum penuh kemenangan.
Grace takkan membiarkan Zevanya menang. Mungkin Zevanya bisa unggul jika berbicara IQ tapi Zevanya tak boleh unggul jika masalah cinta. Grace harus jadi pemenangnya dan bagaimana pun caranya dia harus mendapatkan Myron.
Grace berjalan keluar Mansion. Dia melihat Myron yang baru saja datang. Grace memperbaiki penampilannya, dia harus tampil cantik didepan pria pujaannya ini.
“Hai Kak”. Sapa Grace berdiri didepan Myron.
“Ada apa?”. Myron menjaga jarak. Badannya sudah mulai gatal-gatal.
“Apa Kakak sudah makan?”. Tanya Grace memasang wajah ramah. Sedangkan Myron menahan alergi ditubuhnya. Dia sendiri tidak tahu mengapa reaksi tubuhnya selalu berbeda setiap kali berdekatan dengan wanita kecuali Merry, Myra dan Zevanya.
“Sudah”. Jawab Myron dingin. Dia melangkah meninggalkan Grace.
“Kak tunggu”. Grace mencengkram lengan Myron.
__ADS_1
Myron mengeraskan rahangnya. Sebenarnya apa yang diinginkan gadis ini “Lepaskan”. Bentak Myron.
Grace berjingkrak kaget saat Myron membentak dan menghempaskan tangannya secara kasar. Padahal setiap pria yang dia sentuh tak pernah menolak. Tapi kenapa pria pujaannya ini malah menepisnya dengan kasar?
“Maaf Kak”. Ucap Grace merasa bersalah.
Myron tak menjawab dia menatap Grace dengan jijik lalu meninggalkan wanita itu. Myron tak suka wanita yang agresif padanya. Bukan Myron tak tahu tatapan Grace padanya, hanya saja dia sendiri tidak tahu reaksi tubuhnya yang selalu menolak serta hatinya yang jijik.
Grace mengumpat kesal, wanita itu mencibir dengan berbagai cibiran “Sial!! Ini semua gara-gara Zevanya. Aku yakin jika dia sudah mencuci otak Kak Myron. Awas saja kau Zevanya”. Umpat Grace menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar sambil berjalan keluar menuju mobilnya.
Zevanya membenamkan wajahnya diatas kasur miliknya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Niat hati berbicara dengan Grace memperbaiki hubungan mereka malah menambah sakit dihatinya. Ucapan Grace yang mengatakan dia ****** masih terus terngiang ditelinga gadis itu. Ucapan yang membuat hatinya begitu terturih.
“Mommy, hiks hiks”. Tangis Zevanya pecah. Dia mengambil foto masa kecilnya yang selalu dia pajang diatas nakas. Foto itu akan dia peluk setiap kali tidur untuk melepaskan kerinduannya pada sang Ibu.
“Mommy, Zeva rindu Mommy. Zeva ingin peluk Mommy. Zeva ingin bertemu Mommy. Zeva lelah Mommy, hiks hiks”. Tangisnya semakin pecah. Untung saja kamar mewah itu kedap suara sehingga tak ada yang mendengar tangisannya.
“Apa yang harus Zeva lakukan Mommy? Gege benci Zeva. Gege masih marah sama Zeva. Gege salah paham. Zeva sedih Mommy”. Adunya sambil menangis mengusap foto itu.
Begitulah Zevanya jika dia merasa sedih dan hancur dia akan menangis sambil memeluk foto sang Ibu. Dia tak bisa melupakan Ibu nya selama dua puluh tahun berlalu. Rasa sakit kehilangan itu masih saja membekas dihatinya. Dia ingat bagaimana sang Ibu yang selalu sabar menghadapi sifat manjanya, selalu mendukung apa saja yang Zevanya lakukan. Zevanya merindukan semua hal yang selalu dia lakukan bersama Ibunya.
“Zeva ingin pergi bersama Mommy. Zeva ingin tinggal bersama Mommy”. Ucapan menyerah seakan keluar dari mulut gadis cantik itu. Dibalik sifat cerianya ada kesedihan mendalam yang tidak pernah dia ungkapkan pada orang lain.
Bukan Zevanya ingin menyembunyikan semua masalahnya. Dia hanya tidak mau keluarganya pecah saat mengetahui apa yang dilakukan Grace padanya. Apalagi jika Zean tahu dia bisa saja menghabisi putrinya. Zean sangat keras dalam mendidik Grace dan Grabielle. Untung saja kedua anaknya tidak ada yang memiliki darah dingin, jika tidak sudah dipastikan mereka akan mendendam pada Ayah mereka. Zean hanya tak ingin gagal menjadi orangtua. Dia ingin kedua anaknya menjadi orang yang berguna tidak seperti dirinya. Sejak kematian Fitri, Zean berubah seratus delapan puluh derajat sikapnya semakin dingin dan juga kejam. Kadang dia tak memberi toleransi pada siapa saja yang melakukan kesalahan. Itulah sebabnya kenapa dia keras pada Grace dan Grabielle karena dia tak ingin anak-anaknya mengambil jalan yang salah.
__ADS_1
Bersambung...
LoveUsomuch ❤️