Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 134


__ADS_3

Mars kembali masuk kedalam kamar Fitri. Gadis itu masih bersandar dengan mata terpejam. Entah tidur, atau meditasi Mars tidak tahu, yang Mars inginkan gadis ini segera membantu nya membuat senjata api yang dia rancang.


"Hei, bangun". Mars mengoyang lengan Fitri.


Fitri membuka matanya "Hoamm". Fitri menguap sambil mengucek matanya. Sementara tangannya masih dipasang selang infus.


"Ada apa Tuan?". Tanya Fitri polos sambil duduk dengan santai.


"Kau lupa apa pura-pura lupa?". Ketus Mars "Kau akan membantu ku membuat senjata api". Timpal Mars lagi.


"Aku hanya tidak ingat Tuan. Bukan lupa". Fitri masih menguap.


Mars mengendus kesal "Sama saja". Ketus Mars.


"Beda tulisannya Tuan". Seru Fitri tak mau kalah.


Mars berdecak "Sudahlah, lama-lama kau membuatku stress". Celetuk Mars "Ayo cepat naik". Perintah Mars sambil mendorong kursi roda.


"Bantu". Fitri mengulurkan tangannya dengan manja, agar Mars mau membantunya naik ke kursi roda.


"Ck, kau manja sekali". Gerutu Mars. Meskipun menggerutu pria itu tetap saja membantu Fitri yang seperti anak kecil meminta gendong pada Ayahnya.


Mars mendorong kursi roda milik Fitri. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik saat mengingat perdebatan mereka.


"Tuan, sebelum berpikir keras bisa tidak kau membawa ku jalan-jalan menggelilingi Villa jelekmu ini?". Pinta Fitri sambil menatap sekeliling Villa mewah itu.


Mars mengendus kesal saat Fitri mengatakan Villa nya jelek. Semua wanita akan mengatakan bahwa Villa Mars bagus dan indah bahkan banyak diantara mereka yang ingin tinggal disini, sementara gadis ini terlihat biasa saja.

__ADS_1


"Jangan lama-lama". Ketus Mars.


Fitri mengangguk dengan wajah polosnya. Gadis itu tampak menikmati permandangan indah disekeliling Villa Mars. Pulau itu memang hanya terdiri dari satu bangunan milik Mars, disekeliling nya dipenuhi dengan taman bunga serta beberapa tanaman buah-buahan yang dirawat sedemikian rupa.


Didekat villa tersebut terdapat pantai yang begitu indah dimana didekat bibir pantai ditanam pohon kelapa yang memenuhi setiap tepi pantai. Terlihat begitu indah dan memukau.


Fitri menahan rodanya saat matanya tak sengaja seperti menatap seorang perempuan yang duduk ditaman dekat villa dengan tatapan kosong.


"Kenapa?".Tanya Mars heran dan juga bingung.


"Itu siapa?". Tanya Fitri menunjuk kearah taman dimana disana ada seorang wanita paruh baya tengah duduk dengan mata tertuju kedepan.


"Bukan siapa-siapa". Sahut Mars cuek dingin dan tentunya ketus.


Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka dari tadi. Dia adalah Arthur yang penasaran kemana sahabatnya akan membawa gadis itu.


"Kau yakin dia bukan siapa-siapa?". Tanya Fitri jiwa keponya kembali meronta-ronta.


Mars kesal "Ck, sudah lah jangan banyak bertanya. Sekarang kau mau kemana lagi?". Mars mengalihkan pembicaraan dia tidak ingin jika Fitri mengetahui banyak hal tentangnya.


"Tuan". Lirih Fitri melembut menatap Mars dengan sendu.


Mars terkejut dengan suara lirih Fitri serta tatapan tak biasa gadis itu. Fitri menarik tangan Mars supaya pria itu berjongkok dan menyamakan tingginya dengan dirinya.


"Jangan dipendam sendiri. Jika kau butuh teman curhat berceritalah padaku! Aku memang tawananmu tapi aku juga bisa menjadi teman curhatmu". Ucap Fitri menatap Mars.


Mars semakin merasa bingung dengan gadis yang ada didepannya ini, seolah gadis ini tahu apa yang dirasakan sekarang.

__ADS_1


"Kau tidak tahu dan paham apa-apa tentang hidupku". Ketus Mars memalingkan wajahnya. Berusaha menghindari tatapan Fitri. Mars tidak mau jika dirinya goyah oleh Fitri. Mars tahu jika Fitri berusaha menggodanya supaya membebaskan dirinya. Namun, nyatanya hal itu tidak ada dibenak Fitri.


"Aku memang tidak tahu apa-apa tentang hidupmu". Jawab Fitri "Dan jika pun aku tahu itu bukan urusanku". Lanjut Fitri lagi "Apa kau tahu Tuan, aku pernah berada diposisi mu. Aku pernah merasakan bagaimana perasaan hampa, kecewa dan kesepian". Ekor mata Fitri menatap kearah wanita paruh baya yang tetap nyaman duduk disana.


Mars terdiam. Matanya justru teralihkan pada wanita paruh baya yang ditunjuk Fitri tadi.


"Aku pernah berada dititik terendah dalam hidupku! Dulu aku bahagia, hidup bersama kedua orangtua yang sangat menyanyangiku, mereka memanjakan ku layaknya seorang putri. Hingga akhirnya semuanya berubah dalam sekejap". Fitri mengepalkan tangannya "Dia merebut dan membunuh kebahagiaan yang aku miliki, aku membencinya lebih tepatnya aku takut padanya. Takut dia juga akan merebut nyawaku". Satu tetes air mata jatuh dipipi Fitri.


"Aku kabur dan menghilang beberapa saat, hingga akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan Ayah kandung dan Kakak kandungku. Awal nya aku tak percaya, tapi begitulah takdir. Kadang Tuhan membalik-balik kehidupan demi mencari kebahagiaan yang sesungguhnya". Timpal Fitri lagi, Fitri menyeka air matanya "21 Tahun, aku hidup tanpa arah. Berjalan sendiri tanpa ada topangan, menghadapi kenyataan hidupku tanpa siapapun. Sampai akhirnya aku diperhadapkan dengan satu kenyataan bahwa hidupku takkan lama lagi, hiks". Fitri menutup wajahnya sambil menahan sesak yang mulai terasa menyerang jantung dan paru-parunya.


"Awalnya aku takut, tapi takut tidak akan membuat penyakitku hilang dan pergi dariku". Lirih Fitri "Daddyku kaya memiliki apapun, bahkan mungkin bisa membeli semua pulau yang ada di Amerika, aku memiliki otak yang jenius serta pemikiran yang luar biasa tapi tetap aku tidak bisa membeli kesembuhan. Para dokter spesialis kanker terbaik didunia, menyerah atas penyakit ku. Mereka mengatakan bahwa aku tidak akan bisa sembuh". Air mata membanjiri pipi Fitri.


Mars menatap Fitri, ada rasa sakit saat mendengar penjelasan Fitri. Mars tak menyangka jika dibalik wajah ceria dan otak jenius Fitri, ternyata gadis ini memiliki kisah yang tak kalah menyakitkan darinya.


Fitri kembali menatap kearah Mars "Sebelum Tuan merasakan kehilangan, aku sudah lebih dulu mengalami kehilangan. Mommy ku meninggal saat melahirkan ku, bahkan aku tak sempat melihat wajahnya, aku tak sempata mengucapkan kata terima kasih padanya. Jadi jika Tuan, mengatakan aku tidak paham tentang Tuan itu salah. Tuan lah yang tidak paham terhadap diri Tuan sendiri. Tuan melampiaskan kemarahannya dan kekecewaan Tuhan dengan melayangkan nyawa orang lain tanpa Tuan sadari jika itu membawa anda semakin dalam terjerumus". Jelas Fitri.


Mata Mars berkaca-kaca. Hatinya sakit saat mengingat masa lalu.


"Ayahku meninggal saat berperang melawan kelompok Mafia Winner King. Setelah kematian Ayah, Ibu menjadi depresi karena kehilangan. Bahkan Ibu tak mengingatku, yang ia lakukan adalah meratapi kepergian Ayah. Saat itulah aku bertekad membalas kan semua dendamku pada siapapun bersangkutan dengan Mafia, termasuk Black Glorified dan Lion Killer, aku bahkan bersumpah akan membunuh siapapun yang berhubungan dengan Mereka". Jelas Mars "Wanita itu, Ibuku. Sejak Ayah meninggal 25 tahun yang lalu. Ibu tak pernah berhenti melamun bahkan dia tak pernah bertegur sapa denganku, atau mungkin sudah melupakanku. Keseharian nya hanya melamun dengan tatapan kosong tanpa mau diganggu oleh siapapun". Mars menatap wanita yang duduk ditaman sana "Itulah sebabnya kenapa aku membeli pulau ini untuk Ibuku dengan harapan Ibu bisa melupakan kenangan bersama Ayah. Namun hal itu sia-sia, bukanlah lupa Ibu semakin meratap". Lirih Mars, matanya berkaca-kaca. Betapa sakitnya masa-masa itu.


Fitri menyeka air mata Mars "Balas dendam tidak akan membuat yang pergi datang kembali, yang hilang muncul lagi. Balas dendam hanya akan menumbuhkan kebencian yang semakin menjadi-jadi". Ujar Fitri mengusap air mata dipipi Mars.


"Kita semua punya masa lalu, tapi kita bisa mengubah masa lalu menjadi masa depan yang cerah". Senyum Fitri.


Mereka berdua tenggelam dalam lamunan masing-masing. Bahkan Mars sampai melupakan tentang senjata api yang ingin segera ia rakit bersama Fitri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2