Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 77. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA.....


"Bagaimana keadaan mu?". Tanya Zaen pada Arthur.


Saat ini Zaen, Sean, Mars, Lucas dan Dhanny sedang berada diruang rawat Arthur. Sementara Zean tetap setia menemani Grabielle yang masih koma dirumah sakit yang sama.


"Sudah lebih baik". Arthur mencoba bersandar. Dengan cepat Sean dan Zaen membantu pria itu "Apa ada kabar tentang Zeze?". Tanya Arthur lemah dengan suara parau nya.


Mars menghela nafas "Menurut informasi yang didapat dari Triple L Zeze dibawa ke Sanghai". Sahut Mars.


"Sanghai?". Beo Arthur "Siapa yang menculiknya?". Tanya Arthur lagi


"Dave William". Sahut Lucas "Kau tenang saja putra kita berusaha mencari keberadaan nya". Sambung Lucas menepuk pundak Arthur.


Arthur menghela nafas berat. Dia teringat terakhir kali bertemu teman debatnya itu. Mereka memperdebatkan ramuan penawar yang ingin mereka berikan kepada Grabielle. Sampai sekarang Arthur tidak tahu apakah ramuan itu sudah jadi atau masih diruang lab milik ya.


"Apa dia baik-baik saja?". Lirih Arthur menahan sakit sakit dikaki tangan dan perut nya. Untung saja peluru yang digunakan tidak mengandung racun. Jika sampai beracun dipastikan Arthur dan Lucy tidak akan selamat.


"Dia pasti baik-baik saja". Dhanny ikut menimpali. Meski Dhanny tidak yakin dengan ucapan.


"Siapa sebenarnya Dave William?". Tanya Lucas.


"Ketua Mafia Black Cobra. Ayahnya sahabat baik Michael dan James". Sahut Mars "Dia memiliki dendam pada kita. Kematian Michael dan James menjadi salah satu alasan mereka untuk mendendam kita". Sambung Mars.


"Apa ada hubungan nya dengan Cut Silent?". Ujar Arthur penasaran.


"Entahlah aku tidak tahu pasti. Sepertinya tidak. Karena Cut Silent salah satu kelompok Mafia yang selalu berhati-hati ketika menyerang kita". Sambung Mars.


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut keenam pria paruh baya itu. Mereka masih gagah dengan wajah tampan yang mulai memudar.


"Kita tidak bisa tinggal diam". Ucap Sean "Apa ada informasi lagi dari Myron?".


"Belum ada. Mereka sedang mengatur rencana untuk bisa pergi ke Sanghai. Sepertinya untuk kesana tidak mudah. Dave pasti sudah membuat keamanan yang tidak bisa kita retas terlebih disana negara komunis". Sahut Mars.


Diruang rawat inap Lucy.


Joanna, Myra dan Sherlly menemani Lucy. Sedangkan Dea sedang pulang mengambil baju ganti dan menyiapkan kebutuhan putrinya.

__ADS_1


"Apa masih sakit Kak?". Tanya Myra memegang tangan Lucy.


Lucy mengangguk "Masih. Tapi ada yang lebih sakit". Celetuk Lucy.


"Dimana?". Tanya Joanna, Sherlly dan Myra bersamaan.


"Ini". Lucy menunjuk hatinya "Aku merindukan Kak Zeva. Aku rindu sikap manjanya. Aku rindu cerewetnya. Aku rindu suara teriakkannya. Aku rindu semua tentangnya, hikssss". Lucy langsung menangis ketika mengingat Zevanya. Dia memang paling dekat dengan Kakak sepupu nya itu.


"Kak". Myra dan Sherlly ikutan menangis memeluk Lucy. Bukan hanya Lucy yang merasa kehilangan tapi mereka juga.


"Cy, hiksss". Joanna juga ikutan menangis. Padahal biasanya gadis itu paling dewasa dari yang lainnya.


"Aku juga rindu Kak Zeva yang menyebalkan itu". Sherlly menarik ingusnya yang ingin keluar sambil menangis "Sruttttttttt". Sherlly mengambil tisu dan menarik ingusnya.


"Ck, Sherlly kau jorok sekali". Gerutu Myra.


"Huaaaaaa. Myra. Aku merindukan Kakak menyebalkan itu. Bagaimana ini? Ayo kita cari dia. Duniaku terasa hampa tanpa nya. Bhuaaaa". Tangis Sherlly.


"Sama aku juga". Tangis Joanna.


"Andai saja aku jago bela diri waktu itu. Kak Zeva pasti tidak akan diculik. Bhuaaaaaa". Tangis Lucy.


"Hiks hiks hiks".


"Sudah jangan menangis lagi Lucy. Nanti sakitmu makin parah". Celetuk Joanna. Joanna melepaskan pelukkan sambil masih menangis sengugukan.


"Iya Kak Lucy". Sambung Sherlly dan Myra juga melepaskan pelukkan mereka.


Walau sudah berkata jangan menangis tetap saja air mata mereka tak mau berhenti menetes. Kerinduan terhadap Zevanya begitu menusuk relung hati mereka. Gadis berisik yang selalu bisa membuat suasana tegang menjadi ramai membuat kerinduan mereka samakin menjadi.


"Tapi aku tidak bisa berbohong Na. Aku ingin bertemu Kak Zeva". Lucy masih menangis meski sudah dibilang jangan menangis tetap saja dokter muda itu menangis.


"Hiksss, Berhenti menangis Lucy". Sela Joanna padahal dia juga masih menangis.


"Ada apa ini?". Tanya Dea datang bersama Christy dan Elizabeth serta Merry.


"Mommy". Renggek Lucy.

__ADS_1


"Ada apa sayang dimana yang sakit?". Cecar Dea panik melihat putrinya menangis.


Lucy menggeleng "Tidak ada Mom. Lucy merindukan Kak Zeva. Mom, dimana Kak Zeva Mom, hiksss". Tangis Lucy pecah lagi.


"Mommy". Joanna, Sherlly dan Myra berhambur memeluk Ibu mereka bersamaan.


"Myra, kenapa Nak?". Tanya Merry lembut.


"Ayo kita cari Kak Zeva Mom, hiksss". Tangis Sherlly.


Dea, Christy, Elizabeth dan Merry memeluk putri mereka masing-masing sambil berusaha menenangkan para gadis muda itu. Mereka juga merasakan kehilangan yang sama. Sudah satu Minggu sejak Zevanya menghilang rutinitas makan saling suap-suapan tidak ada lagi diatas meja makan.


Bahkan meja makan yang biasanya dipenuhi dengan kecerewatan Zevanya. Kini hening yang ada hanya kesunyian dan suara sendok dan garpu saling bersahutan yang mewakili bahwa meja makan yang dibuat Sam itu ada penghuninya.


"Sudah ya Nak. Jangan menangis lagi". Hibur Merry mengelus punggung putri bungsunya itu "Kak Zeva pasti baik-baik saja. Dia gadis yang hebat dan juga kuat". Merry melepaskan pelukkan putrinya. Bukan hanya Myra yang menggila. Myron lebih lagi, bahkan sejak Zevanya menghilang pria itu tak pernah pulang ke Mansion. Dia menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan dan kesibukan nya demi mengalihkan perhatian.


Elizabeth juga melepaskan peluk putri "Jangan menangis lagi sayang. Kita berdoa semoga Kak Zeva baik-baik saja dan segera ditemukan". Ujar Elizabeth menyeka air mata putri


"Tapi........".


"Sttttt.. Nanti cantik nya hilang". Goda Elizabeth terkekeh.


Christy masih memeluk Joanna yang menangis dipelukkan nya. Biasanya putri nya ini paling dewasa dalam menghadapi masalah tapi saat ini dia terlihat begitu rapuh.


Sementara Lucy sudah sedikit lebih tenang. Dea menatap putri nya dengan sendu. Dia hampir mati jantungan ketika melihat kondisi Lucy yang penuh darah membuat Dea panik bukan main. Untung saja putri nya itu tidak apa-apa.


"Istirahat ya sayang. Supaya cepat sembuh. Kita bisa cari Kaka Zeva bersama". Rayu Dea.


Lucy mengangguk lalu kembali berbaring di ranjang. Dea menaikkan selimut putrinya. Sudah satu Minggu juga putrinya dirawat dirumah sakit.


"Sebaiknya kita pulang ya. Biar kan Lucy istirahat".


Yang lain mengangguk setuju. Setelah berpamitan pada Dea. Akhirnya Elizabeth, Christy dan Merry membawa para putri mereka pulang kerumah. Joanna, Sherlly dan Myra masih menangis segugukan. Setiap kali pulang ke Mansion kenangan bersama Zevanya terulang kembali. Biasanya setiap kali pulang mereka selalu disambut dengan suara cempreng gadis itu. Namun kini Mansion mewah yang dihuni puluhan orang itu terasa begitu sepi. Apalagi Zehemia dan zehekiel menemani Fillipo kerumah sakit. Zean dan Luna juga menginap dirumah sakit menunggu Grabielle. Myron memang tidak pernah pulang. Membuat Mansion mewah itu terasa mati.


Bersambung.....


LoveUsomuch ❤️

__ADS_1


__ADS_2