Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 52. S2


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA....


Sampai di wilayah timur, mereka semua sudah disambut oleh para anggota dan juga Arthur.


“Bagaimana Arthur?”. Tanya Fillipo sambil berjalan bersama yang lainnya.


“Aku sudah melacaknya?”. Sahut Arthur.


Mereka masuk kedalam ruang rahasia diwilayah itu yang memang disediakan banyak computer canggih yang hanya beberapa didunia.


“Apa kau sudah menemukannya?”. Mars ikut menimpali. Dia melihat layar computer yang di mainkan oleh Lucas dan Zaen.


“Rekaman CCTV sengaja di nonaktifkan”. Sahut Zaen


“Apa ucapan Grabielle benar, jika Zevanya tahu siapa yang menculik Shawn, Myra dan Sherlly?”. Timpal Dhanny.


“Zevanya?”. Beo Arthur.


Dhanny mengangguk “Mendengar pengakuan Shawn aku yakin jika Zevanya, tahu dalang dibalik semuanya”. Lanjut Dhanny lagi.


Fillipo terdiam sambil berpikir, apa benar jika putrinya itu tahu semuanya. Tapi darimana Zevanya tahu. Yang selama ini Fillipo tahu jika putrinya tidak memiliki keahlian disana. Zevanya hanya ahli dalam melukis, menulis dan mendesain.


“Benar Po. Mungkin Zeze tahu”. Sambung Sean.


Fillipo menggangguk “Nanti aku akan tanyakan langsung padanya”. Sahut Fillipo.


“Sebaiknya kita siapkan anggota. Sepertinya wilayah ini akan diserang”. Jelas Lucas


“Baik”.


Segera pria-pria paruh baya itu mempersiapkan alat perangnya. Selama dua puluh lima tahun meninggalkan dunia Mafia kini mereka kembali lagi. Tentu saja tenaga yang mereka miliki tidak sekuat dulu. Namun aura pembunuh masih terlihat begitu jelas diwajah mereka. Terutama Fillipo, wajahnya masih saja dingin seperti dulu. Sulit menebak apa yang dipikirkan oleh pria paruh baya itu.


“Serang”.


Dor dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor dor

__ADS_1


Dor dor dor dor dor dor dor


Sesuai dengan dugaan Lucas bahwa mereka akan diserang lagi. Fillipo, Mars, Sean, Zean, Zaen, Dhanny dan Lucas bertarung habis-habisan. Keahlian mereka masih terlihat jelas dalam hal tembak menembak.


Entah kelompok Mafia mana lagi yang menyerang mereka kali ini. Sepertinya ini benar-benar munsuh lama yang baru bangkit lagi. Artinya mereka harus memasang keamanan yang ketat terutama untuk melindungi istri dan anak-anak mereka.


Dor dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor dor


Dor dor dor dor dor dor dor


Mars menembak dengan membabi buta, apalagi ketika mengingat wajah luka putrinya membuat darah pria itu mendidih. Selama Sembilan belas tahun lamanya Myra hidup didunia sedikit pun Mars tidak pernah menyakiti putri nya itu baik secara fisik mau pun secara batin. Dia menjaga Myra dengan segenap hati dan jiwanya.


Mars tidak terima jika putrinya disakiti oleh orang yang tidak mengenalnya. Mars takkan membiarkan orang itu hidup. Meski dia belum menemukan siapa pelakunya tapi dia yakin akan menemukan orang itu.


Begitu juga dengan Zaen. Apalagi Shawn dan Sherlly sama-sama terluka. Membuatnya kelap mata dan menyerang tanpa sisa. Tanpa peduli dengan keselamatannya sendiri.


Zaen akan membalaskan rasa sakit ditangan putranya yang tertembak. Dia akan membuat orang itu merasakan apa yang dia rasakan. Tidak peduli dengan akibatnya. Dia terpaksa harus melanggar janjinya pada Fitri. Meski ada rasa bersalah saat dia harus kembali ke dunia Mafia namun tak ada yang bisa lakukan selain membalaskan semua dendam kedua anaknya.


Dilain tempat.


Myron, Zehemia dan Zehekiel tengah serius dengan perbincangan mereka. Berusaha menemukan jejak yang menculik para sepupu mereka.


“Bukan”. Sahut Myron


“Lalu siapa?”. Timpal Zehekiel lagi.


“Aku yakin jika Shawn memiliki munsuh dan sengaja menargetkan dia”. Kata Zehemia ikut menyambung


“Yah kau benar. Kita harus cari siapa dia”. Ucap Myron


“Apa Zeze benar-benar tahu?”. Ucapan Zehekiel membuat Zehemia dan Myron menatapnya


“Baik, kita temui dia”.


Mereka keluar dari ruang kerja perusahaan Myron. Ketiga pria yang memiliki seribu pesona itu membuat kaum hawa mengucapkan banyak syukur karena diberikan kesempatan melihat para ciptaan Tuhan itu.


Mobil Myron melaju meninggalkan gedung pencakar langit itu. Gedung yang menjulang tinggi dengan tingkat hampir dua ratus dan hampir seratus persen terbuat dari kaca asli. Butuh waktu berpuluh-puluh tahun menyelesaikan raja bangunan itu. Entah berapa juta triliun dana yang dibutuhkan untuk membuat gedung mewah dengan fasilitas bak hotel bintang lima itu.

__ADS_1


Sampai di galeri milik Zevanya. Ketiga nya langsung turun dengan tak sabar. Mereka juga disambut oleh dua pegawai Zevanya yang bekerja disana.


Kedua pegawai itu sampai dibuat melonggo menatap wajah tampan Myron, Zehemia dan Zehekiel yang tampannya diatas level seratus.


“Silahkan masuk Tuan. Nona ada didalam”. Ucap Herry sopan sambil mempersilahkan ketiga orang itu masuk.


“Terima kasih Paman”. Sahut Zehekiel


Sedangkan dalam ruangannya Zevanya masih berkutat dengan kanvas dan kuas ditanganya. Wajahnya sangat imut dan menggemaskan jika sedang serius seperti itu. Poni yang menutupi kening plontosnya menambah kesan imut diwajah Zevanya. Kaos oblong yang kedodoran itu sudah terlipat-lipat di lengannya.


Zevanya sedang membuat beberapa lukisan yang akan dia kirim ke pameran di Korea bulan depan. Dia menjadi salah satu pelukis yang karya nya akan ikut dalam pameran tersebut bersama beberapa pelukis ternama dunia. Tentu saja Zevanya tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Meski dia tidak bisa datang kesana tapi dia akan mengirim lukisan terbaiknya untuk ikut dalam ajang tersebut.


Tok tok tok tok tok


“Masuk”.


Dia masih serius dengan apa yang dia kerjakan. Tanpa menyadari jika tiga pria tampan masuk kedalam ruangannya sambil tersenyum hangat dan lucu melihat betapa serius nya gadis itu.


“Sayang”.


“Ze”.


Zevanya mengangkat pandangan saat ada yang memanggilnya. Senyum menggembang diwajah cantik gadis itu.


“Kakak”. Dia meletakkan kanvas dan kuasnya.


“Kakak”. Zevanya berhambur memeluk kedua kakaknya “Apa yang kakak lakukan disini? Apa ingin mengajak Zeva naik gunung?”. Celetuknya melepaskan pelukkan kedua kakaknya


Zehemia dan Zehekiel tertawa gemes. Sedangkan Myron hanya bisa menggeleng kepala menyaksian betapa manjanya gadis itu.


“Ada yang ingin kakak tanyakan padamu”. Zehemia menuntun adiknya duduk disofa dan diikuti oleh Myron dan Zehekiel.


Zevanya mengangguk. Dia sudah tahu jika kakak nya akan menanyakan masalah penculikan tempo hari. Tentu saja Zevanya tahu, karena para kakaknya akan mencari tahu semuanya.


“Tunggu sebentar Kak”. Zevanya mengambil laptopnya.


Zevanya membuka laptopnya dan mengotak-atik laptopnya mencari data yang sudah dia siapkan. Zehemia dan Zehekiel menatap tak percaya, mereka berdua saling pandang satu sama lain. baru kali ini mereka melihat Zevanya begitu ahli menekan tombol keyboard laptop itu.


Sementara Myron tersenyum simpul. Dia bangga pada gadis ini. Pintar, jenius dan cantik tapi tetap saja rendah hati dan tidak memamerkan kemampuannnya pada orang lain.

__ADS_1


Bersambung......


Kayhan ❤️ Kimara


__ADS_2