
Fitri membuka matanya yang terasa berat. Dia menyapu seluruh ruangan yang terasa asing baginya. Kamar mewah yang langsung disungguhkan dengan permandangan pantai, dan pohon kelapa yang bertengger dibagian tepi pantai.
Fitri sedikit meringgis menahan sakit ditubuhnya, selang infus yang mengalir ditangan kirinya serta beberapa selang juga dibagian tangan kanannya.
Fitri mengedarkan pandangan seolah mencari seseorang bahkan dia baru saja jika dia masih memakai piyama tidur.
"Ini dimana?". Lirih Fitri sambil sedikit bangun dan bersandar ditempat tidur "Ini seperti bukan rumah sakit? Tapi kenapa aku seperti berada dirumah sakit?". Gumam Fitri lagi
Tap Tap Tap Tap
Derap langkah kaki, membuat Fitri mengarahkan pandangan nya kearah pintu.
"Tuan Mars". Lirih Fitri saat melihat siapa yang datang.
Mars berjalan mendekati Fitri. Seringai licik terlihat diwajah Mars.
"Bagaimana keadaan mu gadis kecil?". Tanyanya sambil duduk dibangku dekat ranjang Fitri.
Fitri memasang senyum manis "Sudah lebih baik Tuan. Terima kasih sudah mengobatiku". Senyum Fitri seakan tak ada ketakutan dari ucapannya.
Mars menautkan kedua alisnya mendengar ucapan gadis itu "Kau tidak takut padaku? Kau tidak tanya mengapa aku membawamu pergi dari Dhanny?". Cecar Mars dengan wajah bingung dan penasaran.
Fitri menggeleng dengan senyum "Kenapa aku harus takut? Memangnya dirimu malaikat pencabut nyawa yang harus kutakuti?". Seru Fitri dengan santai "Aku tahu kau membawaku kesini, ingin bekerjasama denganku 'kan?". Tebak Fitri.
Mars menatap Fitri tak percaya bagaimana gadis kecil ini bisa tahu "Bagaimana kau bisa tahu?". Tanya Mars menyelidik wajah Fitri.
Fitri tersenyum menyeringai "Tidak perlu menyelidik begitu Tuan". Kekeh Fitri "Aku bisa tahu apa saja yang kau rencanakan". Ucap Fitri santai "Ahhh Tuan, bisakah aku meminta kebab aku sangat ingin memakan makanan itu". Pinta Fitri dengan menampilkan jurus puppy eyes nya sambil mengerjab-ngerjabkan matanya.
"Menggemaskan". Batin Mars terpaku saat menatap Fitri dengan wajah imutnya
Mars berdecak kesal "Ck, kau ini! Kau adalah tawananku, kenapa kau yang memerintah ku?". Gerutu Mars kesal.
Fitri terkekeh "Hmm, bukankah kau ingin bekerjasama denganku kan? Jadi sebagai bentuk kerjasama awal, kau harus memberiku makan dulu". Ucap Fitri enteng dan santai.
"Kau tidak boleh memakan makanan yang seperti itu". Jawab Mars ketus sambil mengambil mangkuk bubur yang ada diatas nakas.
__ADS_1
"Cepat buka mulutmu, aku akan menyuapimu". Tandas Mars dengan nada dinginnya.
Fitri mengerucut kan bibirnya kesal "Aku tidak mau makan makanan jelek itu. Aku mau makan kebab". Ucap Fitri sambil merajuk.
"Ayolah jangan membuatku marah. Kau itu harus tahu diri, beruntung aku tidak membunuhmu dengan cepat. Jangan buat aku terpaksa melakukan kekerasan padamu". Tegas Mars dengan mata elangnya menatap Fitri tajam.
Bukannya takut Fitri malah memutar bola matanya malas "Cih, jika aku mati kau yang akan rugi Tuan Mars, karena kau tidak akan bisa bekerjasama denganku". Cibir Fitri menatap Mars dengan jenggah.
Mars terkesiap dengan ucapan Fitri. Dia heran kenapa gadis ini sama sekali tidak takut padanya? Padahal dirinya diujung maut dan kematian, karena siapa saja yang sudah jatuh ke tangannya dipastikan tidak akan kembali dalam rupa yang utuh.
"Ck, baiklah aku akan menuruti perintahmu". Jawab Mars kesal.
Mars memerintahkan kepada pelayan membuatkan kebab untuk Fitri. Mars harus bersabar menghadapi sifat Fitri yang menurutnya aneh itu. Mars sempat berpikir bahwa dia salah sasaran, harusnya dia menangkap Fillipo atau Zean mungkin dikelabui tidak seperti Fitri yang punya seribu jurus untuk membuatnya bungkam.
Pelayan pun datang membawa beberapa kebab untuk Fitri.
Fitri hampir meneteskan liurnya melihat makanan kesukaannya ada didepan mata Fitri. Tanpa tahu malu Fitri langsung menyantap kebab itu dengan lahap, dan tak peduli dengan tatapan Mars yang heran pada dirinya.
"Kau seperti tiga tahun tidak makan!". Sindir Mars saat melihat Fitri makan.
Fitri mengangkat pandangan kearah Mars dengan mulut yang penuh dengan kebab
Mars sampai menelan salivanya dengan kasar melihat porsi makan Fitri, yang menurutnya tak biasa itu. Aneh, padahal tubuh Fitri kecil, tapi kenapa porsi makanya sangat banyak?
"Cepat habiskan makanan mu". Ketus Mars, tidak mau menatap Fitri karena takut terpesona dengan wajah menggemaskan Fitri. Bisa-bisa rencananya gagal untuk memanfaatkan gadis ini.
Fitri tak lagi mengoceh dan dia malas fokus dengan makanan nya.
Sementara Mars menatap Fitri dengan tatapan tak terbaca. Aneh, begitulah pikiran Mars.
"Siapa sebenarnya gadis ini? Kenapa tidak takut sama sekali padaku? Malah terlihat santai dan tenang, justru aku yang dibuat bungkam". Batin Mars sambil menarik nafas dalam
"Sudah Tuan. Terima kasih". Ucap Fitri sambil mengelus perutnya yang sedikit membesar karena kekenyangannya.
"Ck, kau makan banyak tapi tubuhmu kecil sekali. Kemana perginya makanan itu?". Sindir Mars
__ADS_1
"Kau tidak tahu saja Tuan, jika makanan adalah bagian dari sesuatu yang kusukai. Kau tahu jika tanpa makanan tubuhmu tidak akan bisa sesehat itu. Sudah jangan protes, aku mau istirahat sebentar. Sebaiknya kau keluar saja Tuan". Usir Fitri sambil bersandar dengan tenang.
"Kau mengusirku ku?". Kesal Mars "Ingat ya kau tawananku, bukan tamuku. Jadi jangan ingin diperlakukan seperti ratu". Tegas Mars mengepalkan tangannya kesal sebab dari tadi dia terus dipermainkan oleh gadis kecil ini.
Fitri menyempitkan matanya menatap Mars "Berhenti menggerutu Tuan. Aku ingin istirahat', jika ingin bekerja sama denganku sebaiknya kau diam saja. Karena aku sedang mengumpulkan energi ku, sebelum bekerja keras". Celetuk Fitri sambil memejamkan matanya.
"Kau.....".
"Jangan berisik Tuan, aku mau istirahat". Ucap Fitri tapi matanya terpejam.
Mars mengepalkan tangannya kesal, bahkan Mars sampai menghembuskan nafas menahan kesalnya.
Mars keluar dari kamar Fitri, dengan mengumpat berbagai macam umpatan dalam hatinya. Mars marah karena bisa-bisanya dirinya dipermainkan oleh gadis kecil itu dan aneh nya lagi Mars tidak bisa mengalahkan Fitri justru dirinya selalu dibuat bungkam dengan ucapan gadis itu.
"Ada apa dengan wajahmu?". Tanya Arthur heran melihat wajah sahabatnya itu terlihat begitu kesal dan bahkan berkali-kali mengelemetukkan giginya.
Mars menghembuskan nafas kasar "Gadis sialan itu membuatku naik darah saja, arghh ingin remes wajah menggemaskan nya itu". Bahkan Mars meremes tangannya didepan Arthur saking kesalnya.
Arthur menatap heran pada Mars. Aneh saja, Mars biasanya tidak mampu menahan emosi sekali saja dirinya dibuat marah sudah pasti orang tersebut menjadi sarang peluru.
"Kenapa bisa begitu?". Tanya Arthur bingung melihat wajah tak biasa sahabatnya.
"Arggh, sudahlah aku tak ingin berbicara denganmu". Ketus Mars "Perketat penjagaan. Aku curiga mereka menemukan tempat kita, aku tidak mau pulau ku dikacaukan oleh mereka". Seru Mars mellengang pergi meninggalkan Arthur yang tampak bingung.
"Ada apa dengannya?". Arthur mengaruk kepalanya yang tidak gatal menatap punggung sahabatnya, sebelum dia pun pergi dari sana.
**Bersambung.......
Hai para readers ku tersayang.
Sebentar lagi novel ini akan tamat. Yuk jangan lupa tinggalkan jejak ya..
Singgah juga dikarya baru author berjudul "Dosen Killer Vs Me"
" Gadis Kecil Cinta Sejati Tuan Presdir Dingin".
__ADS_1
GBU...
LoveUall**..