
SELAMAT MEMBACA....
Zehemia, Zehekiel dan Myron masih terdiam bingung sambil melihat Zevanya yang asyik memainkan laptopnya tanpa memperdulikan ketiga pria yang menunggunya dari tadi.
“Sayang”.
“Tunggu sebentar Kak”.
Kata tunggu sebentar itu selalu diucapkan Zevanya dari satu jam yang lalu. Mereka bertiga hanya bisa menghela nafas berat. Entah apa yang dilakukan gadis didepan mereka ini karena dari tadi hanya menyuruh mereka menunggu tanpa tahu apa yang mereka tunggu.
“Kak mendekat”.
Ketiganya hanya menurut dan mendekat pada gadis itu. Ketiga pria seusia itu duduk disamping Zevanya dan melihat layar laptop yang ditunjuk oleh gadis itu.
“Black Cobra”. Beo ketiganya ketika melihat data yang tertera dilaptop Zevanya.
“Iya Kak. Pemimpinnya bernama Dave William, dia salah satu pemilik kampus tempat Sasan mengajar. Aku tidak tahu pasti entah apa dendam yang dia miliki pada Sasan. Mungkin kalian bisa bertanya langsung pada Sasan”. Jelas Zevanya masih mengotak-atik laptopnya.
Ketiga pria itu saling melihat satu sama lain, seolah sedang berbagi kebingungan.
“Dari mana kau tahu sayang?”. Tanya Zehemia menatap adiknya.
“Ini”. Zevanya menujuk benda kecil berbentuk flashdisk “Triple L yang menyelidiki mereka, jadi aku mengambil saja data yang mereka berikan”. Celetuk Zevanya.
Ketiga pria itu meneguk saliva mereka dengan kasar mendengar penjelasan Zevanya.
“Kak, sebaiknya kalian segera temui Sasan. Sepertinya Dave William masih mencari Sasan sampai Sasan dibunuh”.
“Apa?”. Ketiga nya serentak terkejut.
“Ckkk, Kak cepat kalian ke Markas. Selesaikan, aku sedang banyak pekerjaan”. Ketus Zevanya meletakkan laptopnya. Mereka masih bingung ditempatnya tanpa bergerak sedikit pun dari tempat mereka.
“Ckkk, Kak apa kalian akan terus disitu?”. Sindir Zevanya.
Mereka bertiga baru tersadar dari lamunan nya setelah mendengar singgungan Zevanya.
“Ini, ambil senjata ini. Bantu Daddy dan yang lainnya diwilayah timur. Mereka sedang bertarung dengan Black Cobra”. Zevanya menyerahkan tiga pistol sekaligus pada ketiga pria itu
Mereka mengangga dengan mulut terbuka lebar “Maksud Zeze Daddy dan yang lainnya diserang?”. Tanya Zehemia memastikan.
“Iya Kak. Daddy sama yang lainnya bukan perjalanan bisnis ke Jerman, tapi mencari tahu siapa yang menculik Sasan”. Jelas Zevanya dengan sabar.
“D-dari mana kau tahu?”. Sambung Myron
Zevanya tersenyum sambil menggeleng “Aku memasang CCTV ditubuh Daddy. Jadi aku bisa tahu apa saja yang dia lakukan”. Sahut Zevanya santai.
Zehemia dan Zehekiel terkejut mendengar pengakuan adik mereka. Apa yang Zevanya lakukan sungguh diluar nalar mereka.
__ADS_1
“Ckkk, Kak cepat temui Sasan”. Desak Zevanya “Jangan banyak bingung. Simpan semua pertanyaan dikepala kalian karena aku takkan menjawab sebelum waktunya”. Celetuk Zevanya.
Ketiga pria itu malah melonggos kesal mendengar ucapan Zevanya.
“Ya sudah Kakak pergi ya”. Zehemia mencium pucuk kepala adiknya “Nanti Zeze hati-hati kalau pulang”. Ucap Zehemia lagi.
Zevanya memeluk kakak nya dengan sayang “Iya Kak. Selamat kan Sasan, pastikan Dave William tidak menganggunya lagi”. Pesan Zevanya.
“Iya sayang”. Balas Zehemiia, meski bingung dia tetap membalas ucapan adiknya.
Ketiganya pun meninggalkan galeri Zevanya. Mereka segera menuju Markas dan benar saja disana sudah ada Shawn, Luke, Grabielle dan juga Johannes yang menunggu mereka dari tadi.
Zevanya menghela nafas panjang. Untung saja tadi dia tidak kerumah sakit, jika tidak mereka pasti tahu apa yang dilakukan Zevanya. Zevanya sedikit menyesal karena menunjukkan kemampuannya pada ketiga kakaknya. Padahal dia sudah berjanji takkan menunjukkan pada siapapun.
Zevanya membereskan meja kerjanya dan menyimpan alat-alat lukisnya. Dia mengambil tas munggil yang selalu dia gantung dibahunya. Rambut yang dia jempol asal dan kaos kedodoran membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan.
“Kemana Nona?”. Tanya Herry saat sudah masuk kedalam mobil
“Rumah sakit Dean, Paman”. Sahut Zevanya.
“Baik Nona”.
Sampai dirumah sakit milik Dean. Zevanya segera turun dari sana. Entah apa yang akan dia lakukan menemui sepupu dokternya itu.
“Dean”. Pekik Zevanya.
“Astaga, Nya”. Gerutu Dean melihat sepupu manjanya itu ada disini “Apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Dean ketus.
“Kak Zeva”. Sapa Lucy.
Zevanya tersenyum “Tunjukkan wajah tampanmu Dean”. Goda Zevanya sambil menaik turunkan alisnya menggoda sepupunya itu.
“Ckkk, berhenti menggoda ku Nya”. Ketus Dean padahal dia menyembunyikan kegugupannya didepan Zevanya.
“Silahkan duduk Kak”. Lucy menyambut Zevanya dengan senyum mengembang.
“Terima kasih Cycy”. Ucap Zevanya duduk disoffa ruangan Dean.
“Kak namaku Lucy, bukan Cycy”. Protes Lucy tak suka
“Alah sama saja”. Zevanya tak mau kalah.
“Apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Dean memincingkan mata curiga. Soalnya tidak biasanya sepupunya itu datang kerumah sakit, jika tidak ada sesuatu yang akan dia lakukan.
Bukannya menjawab Zevanya malah menyelonong mendekati computer di meja Dean. Membuat pria itu semakin malas. Namun dalam hatinya senang jika Zevanya mengunjunginya.
“Dean, aku pinjam computer mu?”. Ucap Zevanya sambil menekan tombol computer yang belum sempat Dean matikan.
__ADS_1
“Ck, sudah dipakai duluan, baru izin”. Cibir Dean memutar bola matanya malas.
Lucy hanya bisa menggeleng-gelleng kepala. Jika ada kakak sepupunya itu sedingin apapun suasana bisa mencair dengan tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.
“Apa yang akan kau lakukan dengan computer ku?”. Dean mendekati Zevanya yang sedang asyik memainkan komputernya
“Dean, apa kemoterapi itu berbahaya?”. Tanya Zevanya.
Dean dan Lucy tercenggang mendengar pertanyaan Zevanya. Mereka berdua saling melihat.
“Siapa yang mau kemoterapi?”. Dean bertanya balik sambil menyelidik wajah Zevanya
“Aku butuh jawaban Dean, bukan pertanyaan”. Ketus Zevanya sedikit kesal.
“Kemoterapi cukup berbahaya karena efek nya banyak sekali”. Jelas Dean “Apa kau yang mau kemoterapi?”. Goda Dean. Zevanya seketika terdiam, dia teringat lagi pada penyakitnya “Kenapa?”. Tanya Dean heran melihat Zevanya yang sedang terdiam
“Aa, tidak”. Sahut Zevanya memaksakan senyum. Dia melanjutkan kembali ketikan ditangannya.
“Dean, apa kau bisa membantuku?”. Pinta Zevanya memohon tak lupa jurus andalannya puppy eyes.
“Menggemaskan”. Batin Dean menatap Zevanya tak berkedip.
“Dean”.
“Iya”. Dean tersadar “Apa yang bisa ku bantu?”. Tanya Dean. Sedangkan Lucy hanya mendengarkan saja.
“Bantu aku buat ini”. Zevanya menunjukkan layar computer
“Apa ini?”. Dean menyimpitkan matanya melihat apa yang ada dilayar computer
“Aku tidak bisa menjelaskannya. Yang ku mau kau dan Cycy membantuku”. Celoteh Zevanya.
Dean mengendus kesal “Baiklah, terserah padamu”. Jawab Dean ketus
Zevanya berdiri dari duduknya. Dia kembali duduk disoffa dengan santai. Membuat Dean geleng-geleng kepala sambil gemes melihat tingkah sepupu berisiknya itu. Jika saja Zevanya bukan saudara sepupunya Dean pasti sudah memacari Zevanya.
“Dean, Cycy aku pergi dulu. Jangan lupa dengan misi kita”. Celetuk Zevanya mengambil tas nya lalu berdiri
“Mau kemana Kak?”. Tanya Lucy heran.
“Menemui Tuhan”. Jawab Zevanya asal menghilang dibalik pintu.
Dean dan Lucy hanya bisa menggeleng melihat sikap gadis itu. Padahal usia nya sudah matang tapi sikapnya masih saja seperti remaja umur belasan tahun.
Bersambung......
LoveUsomuch ❤️
__ADS_1