
SELAMAT MEMBACA....
Zevanya mengerjab-ngerjabkan matanya. Kepalanya terasa berat dan pusing bukan main. Seluruh tubuhnya juga serasa remuk redam.
Mata Zevanya terbuka meski pandangan kabur. Tapi dia bisa melihat jika ada sosok pria tampan yang tengah menatapnya dengan senyum. Siapa pria itu? Pikir Zevanya.
"Kau sudah bangun?". Dave tersenyum smirk melihat Zevanya. Dia yakin jika Zevanya akan ketakutan histeris melihat ular disamping nya.
"Anda siapa Tuan?". Zevanya memegang kepalanya yang terasa berat "Aku dimana?". Zevanya menelusuri kamar mewah yang seperti hotel bintang lima. Bahkan tak kalah mewah dengan kamar di Mansion nya.
Zevanya terkejut ketika merasakan ada yang bergerak ditangannya. Dan Dave sudah menantikan wajah ketakutan Zevanya. Dia ingin membuat gadis ini menderita ketakutan.
"Ular?". Zevanya menyimak selimut "Astaga, lucunya. Kenapa kau bisa ada disini sayang? Kau mirip sekali dengan San". Zevanya mengambil ular itu lalu memangkunya sambil mengelus kepala ular itu dengan sayang.
Jangan tanya betapa terkejutnya Dave. Dave sambil melonggo tak percaya. Bagaimana Zevanya memangku ular itu sambil mengelus kepala ular itu dengan lembut. Anehnya ular peliharaannya malah terdiam seperti menikmati sentuhan gadis itu.
"K-kau t-idak ta-kut?". Tanya Dave terbata dia sampai menelan salivanya kasar.
"Kenapa harus takut Tuan? Dia lebih kecil dari San, ular sanca peliharaan Ayah Zaen dan Paman Zean". Celetuk Zevanya.
Gadis itu meletakkan ular yang dia pangku diatas ranjang lalu menyelimuti ular itu dengan selimut tebal.
Zevanya turun dari ranjang.
"Awwwwwwww". Rintih Zevanya kesakitan "Ahhh kenapa kakiku sakit sekali?". Ujar gadis itu.
Sedangkan Dave menatap dengan sinis "Apa kau tahu siapa aku?". Tanya Dave meledek gadis itu tanpa ada niat membantunya.
"Ck, Tuan nanti saja tanya-tanya nya. Cepat bantu aku masuk ke toilet. Aku mau pipis". Celetuk Zevanya.
Dave terheran. Kenapa gadis ini tidak takut padanya?
"Baiklah".
Dave mengendong Zevanya masuk kedalam toilet. Jangan sampai gadis itu mengotori kamarnya. Dave memang sangat bersih dia alergi debu dan barang-barang kotor lainnya.
Dave mendudukkan Zevanya dengan lembut.
"Cepat keluar Tuan. Aku sudah tidak tahan".
Dave mellengang keluar dengan wajah kesalnya. Baru kali ini dia diperintah biasanya dia yang memerintah. Pria itu mengumpat kesal bukan main.
Zevanya menyelesaikan hajatnya. Gadis itu bernafas lega setelah membuang sesuatu dari dalam tubuhnya.
"Tuan".
__ADS_1
Tidak lama kemudian Dave masuk. Wajahnya ditekuk kesal. Dia kembali mengendong Zevanya. Zevanya dengan manja nya melingkarkan tangannya ke leher jenjang Dave.
"Tuan, kenapa jantung mu berdetak? Apa kau punya riwayat penyakit jantung?". Tanya Zevanya dengan wajah polosnya.
"Bukan urusanmu". Ketus Dave meletakkan Zevanya disoffa kamarnya.
Dave duduk dengan wajah kesalnya. Kenapa dia kesal ya? Dave juga tidak tahu.
"Tuan.........".
"Kenapa?". Tanya Dave ketus.
"Tadi katanya mau kenalan?". Goda Zevanya menarik turunkan alisnya "Ya sudah ayo berkenalan Tuan. Kata orang kalau tak kenal maka tak sayang, kalau sudah kenal jangan lupa kasih uang biar tidak ditendang". Zevanya cekikian sendiri "Zevanya, Tuan". Zevanya mengulurkan tangannya "Bisa dipanggil Zeva atau Zeze mau panggil sayang juga boleh. Tapi jangan keseringan nanti baper malah sakit sendiri. Jatuh cinta sendiri itu sakit lho Tuan, itu namanya mandiri". Celetuk Zevanya.
Bukannya menyambut tangan Zevanya. Dave malah melemparkan tatapan tajam pada gadis disampingnya ini. Dia berusaha menahan emosi. Bisa-bisa nya gadis ini meledeknya.
"Kau.........".
"Sttttttttttt". Zevanya meletakkan telunjuk nya dibibir Dave hingga membuat pria itu terdiam membeku.
Kriukkkkkkkkkkkkkk
Perut Zevanya berbunyi "Hehe Tuan, apa kau tidak ingin menyungguh kan makanan untuk tamu spesial mu ini?". Ujar Zevanya tak lupa jurus andalan nya puppy eyes milik nya.
Dave terkesiap mendengar permintaan Zevanya "Kau tawanan ku bukan tamu". Ketus Dave.
"Tuhan, kenapa dia menggemaskan sekali?". Batin Dave. Secepatnya pria itu memalingkan wajahnya takut terpesona dengan gadis yang ada didepannya ini.
"Tuan.........".
"Ayo". Ketus Dave berdiri.
"Tuan.......".
"Ada apa lagi?". Kesal Dave.
"Gendong. Kau tahu kan kaki ku sakit akibat ulahmu". Sindir Zevanya sambil mengulurkan tangannya.
Dave mengendus kesal. Baru kali ini dia bertemu tawanan yang memerintah nya.
"Ck, cepat naik". Ketus Dave menunjukkan punggungnya.
"Terima kasih Tuan".
Zevanya naik keatas punggung Dave seperti anak kecil yang naik keatas punggung Ayahnya.
__ADS_1
Dave membawa Zevanya keluar. Gadis itu terus saja berbicara dengan omongannya yang Dave tidak mengerti. Para pelayan serta Aron, Kenny dan Grace yang tengah makan di meja makan terheran-heran melihat Dave mengendong Zevanya.
Aron sampai berulang kali mengusap matanya, apakah dia salah lihat? Atau sedang bermimpi.
"Kenny. Grace". Ucap Zevanya melihat kedua sahabatnya ada disitu. Grace dan Kenny mencibir sambil membuang muka
"Cepat makan. Setelah ini kau harus menjalani hukuman karena sudah menghancurkan Markasku". Tandas Dave menatap Zevanya tajam.
Bukannya takut, gadis itu malah menatap banyak makanan dimeja itu. Tanpa disuruh Zevanya langsung mengambil piring dan mengambil beberapa makan itu. Makanan khas China. Dia mengambil mangkuk untuk meletakkan supnya.
Mereka yang dimeja makan sampai melonggo tak percaya. Melihat betapa banyaknya makanan yang diambil Zevanya.
"Apa kau mampu menghabiskannya?". Tanya Dave menelan liurnya.
"Kau bertanya padaku Tuan?". Ucap Zevanya tanpa dosa.
Dave lagi-lagi mengendus kesal "Bukan. Tapi pada makanan". Ketus Dave.
Dave juga mengambil beberapa makanan. Namun sejenak dia heran melihat gadis disampingnya diam sambil melamun menatap makanan nya.
"Kenapa?". Tanya Aron. Sementara Kenny dan Grace tidak peduli.
"Aku tidak bisa makan tanpa disuapi". Jawab Zevanya meletakkan sendoknya. Dia juga merebahkan kepalanya dimeja makan.
Kening Aron berkerut. Kenapa gadis ini aneh sekali? Sudah sebesar itu tapi makan masih disuapi. Makhluk macam apa ini?
Dave menggeleng gemes. Tadi gadis itu sudah antusias sekali ingin makan tapi sedetik kemudian terdiam hanya karena tidak ada yang menyuapinya.
"Sini, biar aku suapin". Dave menarik mangkuk dan piring Zevanya. Aron menatap tak percaya.
"Horeeee. Terima kasih Tuan tampan". Senyum Zevanya berjingkrak kaget.
Kenny dan Grace mencibir dalam hati. Sifat Zevanya tak berubah masih saja manja tanpa melihat situasi dimana dia berada.
Dave menyuapi Zevanya dengan sabar dan telaten. Gadis ini benar-benar tidak tahu diri, sudah disuapi tapi tetap saja suka memerintah dan protes anehnya lagi Dave menurut saja seperti seorang pembantu.
"Kau makan sebanyak itu. Tapi kenapa badanmu kecil sekali?". Sindir Dave menggeleng tak percaya.
"Ck, Tuan kau tidak tahu saja. Salah satu hobby ku adalah makan". Jawab Zevanya sambil disuapi oleh Dave dengan manjanya gadis itu terus saja berceloteh.
"Berhenti berbicara saat makan". Tintah Dave.
Zevanya menggelleng "Tidak bisa Tuan. Mulutku akan sakit jika tidak berbicara". Celetuk Zevanya.
Dave dan Aron terkesiap mendengar ucapan gadis itu. Yang sabar saja sakit tidak berbicara? Sungguh gadis ini ada-ada saja. Grace dan Kenny acuh dan tidak mau tahu mereka sudah biasa dengan sikap Zevanya yang seperti itu.
__ADS_1
Bersambung....
LoveUsomuch ❤️