
SELAMAT MEMBACA.....
Dean, Lucy dan Luke terangga mendengar penjelasan Zevanya. Berkali-kali mereka menelan salivanya dengan susah payah.
"Lalu bagaimana cara membuatnya Nya? Kau tahu kan jika aku ini dokter bukan ilmuan?". Protes Dean
"Kau juga Mafia Dean. Jangan lupakan itu". Sindir Zevanya membuat Dean mendelik kearah sepupunya itu.
"Apa setelah ini kita langsung membuatnya?". Luke ikut menimpali.
"Ck, Luke tentu saja tidak. Kau tahu kan kita harus melakukan beberapa penelitian. Kita harus ke wilayah timur setelah itu kita ke Korea Utara". Jelas Zevanya.
"Apa yang akan kita lakukan disana?". Tanya Dean penasaran.
"Berhenti bertanya Dean". Gerutu Zevanya "Kalian harus bantu aku merayu ketiga pria itu. Jika sampai ketahuan kalian bertiga akan aku tinggalkan disana". Ancam Zevanya.
Dean, Luke dan Lucy menelan salivanya. Bulu kudung mereka berdiri mendengar ancaman Zevanya. Gadis ini sungguh keterlaluan.
"Bagaimana jika mereka curiga dan tahu apa yang akan kita lakukan?".
"Mereka tidak akan tahu jika kalian bisa tutup mulut". Celetuk Zevanya.
Dean mengendus kesal. Selalu saja Zevanya membuat nya kesal setengah mati. Tapi justru juga membuatnya senang dalam hati.
Zevanya sedang melarutkan senyawa diruang lab milik Dean. Dia seperti Professor yang ahli dalam hal tersebut. Sementara Lucy, Luke dan Dean hanya melihat dengan bingung. Mereka seperti menonton pertunjukkan yang sedang berlangsung.
Zevanya tak memperdulikan ketiga manusia yang menatapnya dengan malas. Dia malah asyik dengan dunianya sendiri. Entah apa yang dilakukan oleh gadis berusia 25 tahun itu.
"Nya".
"Diam Dean. Aku sedang konsentrasi".
Luke yang biasanya sabar mulai jenggah. Jika bersama Zevanya sudah dipastikan dia akan gila juga dengan sepupunya itu. Tak jarang Zevanya berbicara sendiri seperti orang gila. Tak ada yang tahu jika itulah kinerja otaknya, sama seperti author yang suka berbicara sendiri, hehehe
Lucy menggelleng dengan senyum gemes. Tidak mau protes karena percuma juga Zevanya pasti akan menjawabnya dengan ketus.
Setelah selesai dengan pekerjaannya. Zevanya menyimpan larutan senyawa yang dia buat kedalam sebuah botol. Cairan berwarna merah itu memiliki fungsi yang tidak diketahui oleh Dean, Lucy dan Luke. Yang tahu hanya Zevanya sendiri.
"Oke selesai". Zevanya menutup botol kecil itu "Kelihatan manis seperti aku". Celetuknya sambil menguncang isi botol itu sambil tertawa lucu.
Luke dan Lucy menggeleng saja melihat tingkah Zevanya yang seperti anak kecil. Sementara Dean malah mendelik dalam hati mengumpat kesal. Zevanya menganggu pekerjaannya saja. Dia rela meninggalkan jadwal operasinya demi mengikuti gadis itu. Setelah diikuti malah disuruh menonton dirinya. Keterlaluan. Batin Dean gemes namun senang.
"Oke ayo berangkat". Zevanya melepaskan baju dan kaos ditangannya.
__ADS_1
"Mau kemana?". Dean juga mengikuti melepas jas yang dipakai diikuti oleh Lucy dan Luke.
"Menemui Daddy, Kak Hem dan Kak Iel. Ingat kalian harus mencari alasan paling tetap supaya aku diizinkan". Tatap Zevanya tajam. Dean bergidik
"Cihh, kalau mereka tidak percaya bagaimana?". Kilah Dean.
"Itu urusanmu". Zevanya berjalan duluan.
"Dasar sepupu kurang se ons". Cibir Dean.
"Aku mendengar suara ku dokter jelek". Lagi-lagi Dean harus kesal dibuat oleh Zevanya.
Sementara Luke dan Lucy hanya tersenyum saja. Dean dingin akan hangat jika bersama Zevanya yang berisik.
Didalam mobil Luke menyetir. Dean duduk disampingnya. Sementara Zevanya dan Lucy duduk dibangku penumpang.
"Luluk, singgah sebentar ditoko elektronik. Aku mau beli ponsel baru". Luke langsung cemberut. Lagi-lagi namanya berubah jika Zevanya yang memanggilnya.
"Iya Nya". Sahut Luke ketus.
"Bukannya ponsel mu sudah ada tiga Nya? Untuk apa ponsel sebanyak itu?". Tanya Dean heran. Bahkan sekarang Zevanya sedang memainkan ponselnya.
"Kau bertanya padaku?". Zevanya bertanya balik dengan wajah polosnya.
"Tidak. Bertanya pada jalan". Ketus Dean.
Luke menghentikan mobilnya didepan toko elektronik.
Mereka semua turun dari mobil menuju toko yang menjual berbagai macam ponsel mahal. Bahkan harga ponsel itu seharga satu buah mobil.
"Kak, tolong Carikan ponsel paling bagus ditoko ini".
"Baik Nona. Silahkan menunggu sebentar". Ucap sang pegawai toko dengan sopan sambil tersenyum. Tentu saja pegawai toko itu tahu siapa Zevanya. Putri kolomrat dari orang terkaya didunia.
Tidak lama kemudian pengawai toko datang dengan membawa kotak berukuran sedang yang didalam nya diyakini ada ponsel.
"Ini Nona. Silahkan dilihat dulu".
Zevanya membuka ponsel itu dengan tak sabar. Ini adalah ponsel keempat yang dia miliki. Dia memang suka mengoleksi benda pintar itu. Entah untuk apa hanya Zevanya yang tahu.
"Kak aku ambil ini saja ya. Tidak perlu dibungkus karena aku ingin langsung memakai nya". Zevanya menyerahkan blackcard nya. Kartu debit tanpa batas yang isi saldo nya tidak akan habis meski Zevanya membeli pulau Amerika.
"Baik Nona. Biarkan kami menginstalnya dulu".
__ADS_1
"Tidak perlu Kak. Luluk akan menginstal nya nanti". Zevanya menunjuk Luke yang memutar bola mata malas
"Baik Nona".
Setelah selesai membayar. Mereka segera kembali kedalam mobil.
"Ze". Langkah mereka terhenti ketika mendengar ada yang memanggil Zevanya.
"Kak Kenz". Seru Zevanya tersenyum saat melihat Kenzie yang masih mengenakan jas dokternya "Kakak sedang apa disini?". Tanya Zevanya
"Membeli ponsel". Kenzie menunjuk kotak ponsel ditangannya "Kau sendiri?".
"Sama". Sahut Zevanya cepat "Jangan-jangan jodoh". Goda Zevanya sambil terkekeh. Kenzie tertawa geli dan juga gemes.
"Nya, cepat". Dean menarik tangan Zevanya. Dia mencium aroma tidak baik dari tubuh Kenzie.
"Dean". Renggek Zevanya "Kak, kami duluan ya". Pamit Zevanya.
"Iya hati-hati". Kenzie melambaikan tangannya dan memaksa kan senyum diwajahnya.
Kenzie menatap Dean yang masih mengandeng tangan Zevanya. Dia tersenyum smirk saat melihat betapa posessif nya Dean pada Zevanya.
"Kau hanya milikku gadis kecil". Lalu Kenzie berlalu dari sana.
Didalam mobil Zevanya yang biasanya berisik tak tertulung sekarang malah diam dan asyik dengan ponsel ditangannya.
"Kak Zeva?". Panggil Lucy.
Zevanya mengalihkan pandangannya pada Lucy dan tersenyum manis "Kenapa Cycy? Apa kau kebelet?". Celetuk Zevanya
Lucy memutar bola matanya malas "Apa Kakak akan terus bermain ponsel?". Seru Lucy yang tak biasa melihat Zevanya diam.
Zevanya mengangguk dengan polos. Dia kembali melanjutkan mengotak-atik ponselnya. Wajahnya tampak serius.
"Dave William. Aron Smith. Kenzie Deventer. Mereka bukan lawan yang mudah dikalahkan oleh Kak Ron dan Kak Hem". Batin Zevanya "Aku harus segera membantu". Dia kembali mengotak-atik keyboard ponselnya.
"Grace dan Kenny juga munsuh yang harus diwaspadai". Batin Zevanya lagi "Sepertinya aku memang harus menjemput Triple L. Hanya mereka yang bisa membantuku".
"Aku butuh banyak cairannya. Dean, Luluk dan Cycy bisa curiga jika mereka tahu apa fungsi cairan ini". Gumam Zevanya lagi.
"Tapi setidaknya mereka bisa membantu". Lanjut Zevanya.
Dean menarik sudut bibirnya saat melihat Zevanya dari kaca mobil. Sepupunya itu terlihat serius tanpa peduli dengan orang-orang disekitar nya. Wajah serius itulah yang justru terlihat imut dan menggemaskan.
__ADS_1
Bersambung......
LoveUsomuch ❤️