
Semua orang akan seperti orang gila ketika dia jatuh cinta pada orang yang tepat. Justru akan semakin gila jika dia jatuh cinta pada orang yang salah.
SELAMAT MEMBACA...
Pesawat yang Fitri tumpangi pun landing, di bandara internasional Amerika. Fitri langsung bersiap-siap turun saat pesawat sudah mendarat.
Fitri mencari taksi untuk sampai ke Mansionnya. Hatinya masih tidak tenang, belum lagi letak Markas itu ditengah hutan bahkan dia tidak tahu hutan itu dimana. Tapi ia akan berusaha untuk mencari tahu hutan itu.
Fitri sampai di Mansionnya. Setelah membayar taksi, gadis itu berlari masuk kedalam. Nafas nya terasa berhenti dan ngos-ngosan.
"Apa mereka juga menyerang Mansion? Dimana para pelayan?". Gumam Fitri saat melihat suasana sepi disana.
Fitri langsung masuk kedalam kamarnya. Fitri menarik nafas dalam, ia segera mengambil jacket kulit tebal dalam lemarinya. Setelah itu ia juga mengambil sepatu. Mengganti heels nya dengan snikers.
"Sudahlah, aku pakai gaun ini saja. Jika ganti baju pasti butuh waktu lama". Gumamnya setelah itu ia mengambil tas selempang dan memasukkan ponselnya.
Lalu Fitri turun kebawah. Ia menuju garasi mobil milik Ayah dan Kakaknya.
Mata Fitri langsung terfokus pada sebuah motor sport kesayangan Sean. Motor sport yang sudah lama tak Sean pakai.
"Kak Sean aku pinjam motormu sebentar!!". Ucap Fitri sambil tertawa kecil menaiki motor sport itu dan memasang helm dikepala munggilnya.
Ponsel nya ia letakkan didepan motor, untuk mencari GPS letak hutan itu.
"Hmmm, hutannya jauh dari perkotaan tapi sinyalnya sangat kuat". Gumam Fitri "Ternyata Tuan Michael dan Tuan Park sangat pandai mencari tempat yang strategis". Ucap Fitri sambil menekan ponselnya, memasang aplikasi GPS.
"Sekitar dua jam dari sini". Celetuknya.
"Baiklah, i'm coming". Motor sport itu pun meleset menunggalkan Mansion mewah Keluarga Ranlet Flint.
Zean sudah bersiap-siap menuju bandara bersama Willy dan seorang pria tampan yang tidak lain adalah adik Zean.
"Sangat merepotkan sekali". Gerutu pria yang menjadi kembaran Zean itu
"Berhenti menggerutu Zaen". Protes Zean pada adiknya.
Willy dan Edward, hanya diam saja menyaksikan perdebatan Kakak adik itu, setiap kali bertemu kedua pria kembar ini selalu saja berdebat, tapi mereka saling menyayangi.
"Ini semua karena Daddymu". Sindir Zaen sambil melipat kedua tangannya didadanya.
"Daddymu juga Zaen". Timpal Zean ikut menyandarkan punggungnya.
Jet pribadi itu pun mengudara dengan kecepatan sedang.
"Kau lupa dia bukan Daddy kandung kita!!". Celetuk Zaen.
__ADS_1
"Aku tidak lupa, hanya pura-pura lupa". Jawab Zean yang jenggah dengan sikap adiknya.
Tiba-tiba Zaen tersenyum saat mengingat pertemuannya dengan seoranh gadis di Minimarket tadi pagi.
"Apa kau kemasukkan?". Celetuk Zean.
"Sembarangan". Zaen mengendus kesal "Aku sedang bahagia hari ini". Zaen tersenyum "Ahh kau tahu aku bertemu bidadari dia sangat cantik dan menggemaskan". Sambil membayangkan wajah gadis cantik yang sudah berhasil menarik perhatiannya.
Zean menatap Zaen dengan menyelidik "Sejak kapan Cassanova sepertimu jatuh cinta?". Sindir Zean.
"Hmm, jangan lupa kita satu server". Cibir Zaen.
"Menurutmu kenapa Daddy menyuruh kita pulang ke New York? Bahkan Daddy meminta kita langsung ke Markas?". Tanya Zaen mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kenapa bertanya padaku? Jika aku tahu tidak akan sepenasaraan ini!!". Gerutu Zean.
"Aku kan hanya bertanya kenapa kau kesal begitu?". Tanya Zaen menatap Zean sinis.
"Kau bertanya pada orang yang salah Zaen". Ucap Zean penuh penekanan.
"Aku kan hanya ingin tahu Zean". Balas Zaen tak mau kalah.
"Hmm, Zean apa kau sudah menemukan saudara kembar kita?". Tanya Zaen lagi.
"Astaga, kenapa kau sensitif sekali". Gerutu Zaen "Tentu saja aku mencarinya, hanya saja belum kutemukan". Lanjut Zaen cenggegesan.
"Sudahlah, diam aku mau istirahat". Ucap Zean memejamkan matanya tanpa mendengar suara protes dari adiknya Zaen.
Seketika perasaan Zean langsung tertuju pada Fitri. Entah bagaimana kabar gadis itu sekarang? Bodohnya Zean tidak meminta nomor ponsel gadis itu, padahal dari semalam dia tidak bisa tidur hanya karena memikirkan gadis itu. Gadis kecil itu serasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan dirinya. Ada rasa nyaman dan rasa ingin melindungi.
"Wil...". Panggilnya pada Willy.
"Iya Tuan". Dengan sigap Willy langsung berdiri disamping Zean.
"Tolong, Carikan nomor ponsel Fitri". Perintah nya.
"Baik Tuan". Segera Willy berlalu dari hadapan Zean.
"Kekasihmu?". Tanya Zaen penasaran.
"Bukan urusanmu". Ketus Zean
"Dasar Kulkas". Sindir Zaen kesal.
Jika Zean memiliki sifat yang dingin dan cuek, justru berbanding terbalik dengan Cassanova yang satu ini. Zaen memiliki sifat yang humble dan juga humoris. Jiwa playboy nya menjadikan pria itu incaran banyak wanita. Dari berbagai kalangan wanita sudah pernah menjadi teman ranjang tidurnya.
__ADS_1
"Tuan, ini nomor Nona Fitri". Willy menyerahkan selembar kertas.
Wajah murung Zean langsung berbinar "Thanks Will". Sambut Zean dengan senyum.
Zaen melonggo dengan sikap Kakak nya. Kulkas itu bisa mengucapkan kata terima kasih, dan diiringi senyuman manis.
"Kau baik-baik saja 'kan?". Zaen menyentuh kening Zean "Hei, setan yang masuk dalam tubuh Kakakku, cepatlah keluar kalau tidak akan kulempar kau keluar pesawat". Zaen sambil menguncang tubuh Zean.
"Apa yang kau lakukan Zaen?". Teriak Zean emosi. Bisa-bisanya adiknya itu mengira dirinya kerasukkan setan.
"Apa benar ini kau Kak?". Tanya Zaen memanggil Zean dengan panggilan Kakak untuk pertama kalinya.
"Jangan memancing keributan dengan ku Zaen!!". Kesal Zean menyingkirkan tangan Zaen dari keningnya.
"Kenapa ponselnya tidak aktif Will?". Tanya Zean sambil terus menghubungi Fitri.
"Mungkin Nona sedang istirahat, Tuan". Sahut Willy sekenanya.
"Aku takut terjadi sesuatu padanya Will". Lirih Zean.
"Cih, kau lebay sekali Zean". Sindir Zaen
"Aku sedang tidak berbicara denganmu". Ketus Zean menatap tajam adiknya.
Sementara Willy dan Edward berusaha menahan tawa melihat tingkah kedua pria kembar itu.
"Wil, ini benar Tuan mu bukan?". Tanya Zaen pada Zean.
"Benar Tuan Muda". Sahut Willy mencoba menahan tawanya. Jika sampai tawanya keluar bisa-bisa dia jadi santapan San.
Michael menyeringai menatap Fillipo dan Sean dengan tatapan membunuh. Dendam lamanya terhadap Fillipo masih saja terngiang. Gara-gara pria itu dia kehilangan orang yang dia sayangi.
"Dendamku masih belum terbalas padamu Fillipo". Ucap Michael dengan penuh penekanan tatapannya tajam seakan ingin menguliti Fillipo hidup-hidup.
Michael mendekati Fillipo. Seringai licik tergambar diwajahnya
"Hmm, tapi aku tidak akan membunuhmu dengan cepat. Aku ingin menghabisimu saat gadis sudah sampai disini, hahha". Ejek Michael "Setelah dia setuju menikah denganku maka aku akan menghabisi kalian semua didepannya". Ucap Michael dengan penuh percaya diri.
"Cihh, percaya dirimu terlalu tinggi Mike". Ejek Fillipo "Kau yakin Fitri akan mau menikah denganmu?". Tanya Fillipo sinis. Walau tangan dan kakinya teringat tapi pria itu tidak takut sama sekali. Justru ia perlahan membuka ikatan tali ditangannya tanpa sepengetahuan siapapun.
"Tentu saja!! Dia akan mengorbankan dirinya demi orang-orang yang dia cintai. Terutama kau Fillipo". Tunjuk Michael.
Michael kembali ketempat duduknya. Dia belum puas menyiksa mereka. Sebenarnya tak ada lagi dendam, sebab James ternyata belum mati. Tapi dendam lama terhadap pria bernama Fillipo itu tidak bisa dilupakan oleh Michael begitu saja.
Bersambung
__ADS_1