Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 66


__ADS_3

***Iri adalah perasaan yang bisa membunuhmu kapan saja. Tak peduli dengan alasan yang tidak masuk akal, ia perlahan akan membawamu jauh dari rasa percaya diri...


SELAMAT MEMBACA***...


Fitri mengangguk dan tersenyum. Lalu Fillipo memeluk Fitri. Tubuh kecil ini berhasil memberikan ketenangan dalam hatinya. Hatinya yang sempat mati dan beku, kini kembali lagi.


"Jangan tinggalkan aku". Lirih Fillipo pelan yang masih bisa didengar jelas oleh Fitri. Ia tertegun mendengar ucapan pria itu meskipun bukan pertama kalinya Fillipo mengatakan hal itu. Tapi tetap saja Fitri merasakan jantungnya berdegup kencang.


"Jika Tuan mau ikut pergi denganku kemana saja, maka aku takkan meninggalkan Tuan". Jawab Fitri santai, yang langsung membuat Fillipo tercengang dengan perkataan Fitri. Apa gadis ini juga menyukainya?


Fitri melepaskan pelukkannya "Cepat sembuh Tuan Kulkas Berjalan". Ucap Fitri menekankan kata Kulkas Berjalan.


Sean langsung tertawa keras mendengar nama panggilan adiknya "Hahha, Fillipo. Apakah dirimu terlalu dingin pada Shellena sehingga dia memanggilmu Kulkas Berjalan?" Ejek Sean.


Fillipo mengendus kesal "Sudah jangan mentertawakanku. Bukankah dirimu juga dingin?". Kesal Fillipo.


Dea, Luna, Lucas, Dhanny, Pearce dan Leo. Bertanya-tanya dengan hubungan Sean dan Fillipo. Sebab baru kali ini mereka melihat wajah kesal Fillipo, yang justru terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Istirahatlah Tuan". Fitri memperbaiki selimut Fillipo dan menaikannya sampai didada Fillipo.


Fitri beralih pada Leo. Ia tahu bahwa assiten Tuan nya ini anak yatim piatu yang tidak memiliki siapa-siapa.


"Lama tidak bertemu denganmu Leo". Senyum Fitri menghampiri Leo "Kenapa wajahmu jelek sekali Leo? Seperti wajahmu perlu dioperasi plastik, supaya tampan kembali". Ejek Fitri.


"Sepertinya kau senang melihat wajah jelekku Fit". Gerutu Leo.


Fitri langsung tertawa mendengar penuturan Leo "Sudah jangan banyak bicara Leo, berdoa lah semoga usia mu panjang". Ucap Fitri tanpa dosa.


Leo mengendus kesal "Apa kau mendoakan aku cepat mati?". Kesal Leo.


Fitri tertawa mendengar pertanyaan Leo "Apa kau mendengar ku berdoa supaya kau cepat mati?". Cibir Fitri. Lalu kalah telak mendengar ucapan Leo.


"Sudah Leo, sebaiknya kau istirahat saja. Nanti wajahmu semakin tua, jika terus kesal begini". Olok Fitri lagi. Dan Leo hanya bisa menghela nafas dengan kasar, omongan gadis ini terlalu jujur. Terpisah selama tiga bulan ternyata membuat kecerewetan gadis ini meningkat dan lebih parah.


"Baiklah". Sahut Leo kesal. Lagi-lagi Fitri hanya tersenyum. Ia berusaha menghidupkan suasana sedih supaya tidak tegang.


Fitri tersenyum kearah Lucas. Pria satu ini, sebenarnya tidak dingin hanya saja ketika hatinya sakit maka sifat aslinya akan keluar dan tidak peduli pada siapapun.


"Tuan Lucas". Senyum Fitri. Luna yang melihat Fitri tersenyum kepada Kakaknya, mengharapkan banyak hal bahwa hati gadis ini nanti akan berlabuh pada Kakak nya.


"Fitri". Lirih Lucas.


Fitri duduk didekat Luna. Dia memegang lengan Lucas dan mengelusnya pelan "Cepat sembuh". Satu kalimat itu berhasil menarik sudut bibir Lucas dan membentuk senyuman. Perhatian sekecil ini menghangat dihatinya, ada bahagia yang Lucas rasakan. Apakah gadis ini menyukainya?

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu Tuan?". Senyum Fitri, suara nya terdengar lembut.


"Aku baik". Sahut Lucas berkaca-kaca. Ingin sekali ia memeluk Fitri, mencurahkan semua perasaan nya. Namun hatinya berkata jangan sebab bisa dilihat dari tatapan mata gadis itu bahwa Fitri sama sekali tidak memiliki perasaan seperti yang ia rasakan. Mungkinkah Lucas harus melepaskan cintanya? Atau tetap memperjuangkannya?


Setelah mereka lama berbincang-bincang. Sean memesan makanan untuk mereka semua. Assisten pribadinya yang bernama Boy itu selalu stand by kapan saja.


"Ayo kita makan dulu". Ajak Sean pada yang lainnya.


"Suapi Kakak kalian". Perintah Sean dingin pada Luna, Dea dan Pearce. Sean bisa melihat bahwa ketiga gadis ini iri pada Fitri. Bisa dilihat dari cara mereka menatap Fitri. Sean tidak mau adiknya dibuat sedih dengan sikap mereka.


"Baik Kak". Sahut mereka serentak.


"Boy, bantu Leo untuk makan". Suruh Sean pada Boy.


"Baik Tuan". Sahut Boy


"Tidak perlu Tuan, saya masih bisa makan sendiri". Tolak Leo.


"Jangan menolak rejeki Leo. Kapan lagi orang setampan Kak Boy, menyuapi Asisten jelek sepertimu". Goda Fitri tertawa kecil.


Leo langsung kesal "Baiklah". Ucap Leo mengalah, dia kapok jika harus berbicara dengan gadis itu.


"Cece, Kakak suapin ya. Kita makan sepiring berdua". Ucap Sean, sambil membuka kotak nasi yang dibeli oleh Boy tadi.


Mereka yang lain hanya terdiam dalam keheningan sambil menikmati makan mereka. Luna tidak menyuapi Lucas, karena pria itu gengsi disuapi oleh adiknya. Begitu pun dengan pria dingin Fillipo, dia menolak dengan keras saat Pearce memaksanya alhasil Pearce langsung mengalah. Dhanny pria yang satu ini juga tidak mau disuapi Dea, bukan malu hanya saja dia tidak terbiasa.


Ada rasa kesal didalam hati Pearce saat Fillipo menolaknya. Kakak nya ini sungguh sangat menyebalkan.


"Kapan aku bisa seperti Fitri? Andai saja Kak Sean itu Kakak ku, pasti sangat menyenangkan". Batin Pearce


"Kak, bagaimana dengan Daddy apa dia sudah makan?". Tanya Fitri sambil mengunyah makanannya. Mereka berdua asyik mengbrol seperti pasangan kekasih. Bukan mereka tak mau mengajak yang lainnya berbicara, hanya saja Tuan besar seperti Fillipo, Dhanny dan Lucas memiliki pantang untuk berbicara saat makan.


Tapi berbeda dengan Sean dan Fitri, kedua saudara ini sudah menjadi kebiasaan makan sepiring berdua, mengobrol sembari tertawa. Dan Sam juga mengikuti kegilaan dua anaknya ini, mereka paling tidak bisa makan jika tidak diajak mengobrol.


"Sepertinya, aku akan kembali keruangan anak-anak, mengajak Sean dan Shellena makan". Ucap Sam, membawa nasi kotak yang baru juga dibeli oleh Adam.


"Aku ikut denganmu saja Sam". Timpal David


"Baiklah kalau begitu kita semua kesana. Makan bersama". Sambung Philip.


Mereka berempat pun segera menuju ruang perawatan VVIP Fillipo dan yang lainnya. Sam sudah diberitahukan oleh Sean bahwa putri kesayangannya bersama dengan dirinya.


Mereka masuk kedalam ruangan dan melihat anak-anak mereka tengah makan dengan lahap.

__ADS_1


"Sayang". Panggil Sam masuk dan ikuti oleh yang lainnya. Mereka menghampiri anak-anaknya masing-masing.


"Lapar sekali sepertinya putri Daddy ini?". Goda Sam pada Fitri sambil melihat kearah kedua buah hatinya, dimana Sean menyuapi Fitri dengan telaten.


"Hummnm". Ucap Fitri dengan mulut yang terisi penuh sampai-sampai tidak keluar bahasa dari mulutnya. Itu terlihat imut dan sangat menggemaskan dimata Sam. Sam terkekeh mengacak rambut putrinya.


"Pelan-pelan makannya, nanti tersendak". Tegur Sam kepada putrinya


"Siap Daddy". Jawab Fitri.


" Daddy, makanlah". Suruh Sean.


"Iya Son". Sam mengambil makanannya.


"Cih, sudah besar masih disuapin". Cibir David yang dari tadi jengah melihat keharmonisan keluarga Sam. Dia dan kedua putra kembarnya tidak seakrab itu.


"Apa Paman mau disuapin Kak Sean?". Tanya Fitri polos. Sementara Sam menggeleng kan kepala melihat kedua orang itu.


"Cih, kau pikir Paman anak kecil". Kesal David.


"Bilang saja dirimu iri". Celetuk Fitri. David kembali dibuat kesal oleh gadis kecil itu.


"Sudahlah". Potong David kesal. Ia memakan nasinya dengan kasar saking kesalnya.


"Sayang, minum dulu". Sam membuka botol mineral untuk putrinya.


"Sini, Daddy bantu". Sam membantu Fitri meminum air itu kedalam mulut putrinya.


"Berhenti mengumbar kemesraan didepanku Sam. Aku tidak bisa mengalahkanmu karena istri dan putraku tidak ada disini". Protes David.


"Kau iri?". Goda Sam sambil tertawa kecil.


"Tidak". Sahut David cepat.


"Cepatlah makan Paman. Kau harus segera kembali ke Amerika". Sambung Fitri.


"Kau mengusirku?". David memincingkan matanya.


"Aku tidak bicara begitu Paman". Sahut Fitri santai.


"Sudah Ce, ayo lanjut makan dulu. Setelah ini minum obatnya". Senyum Sean dan diangguki oleh Fitri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2