
SELAMAT MEMBACA......
Fillipo dan Mars mengurut pangkal hidungnya. Kedua pria paruh baya itu kompak dalam menunjukkan ekspresi bingung nya.
"Lalu bagaimana dengan senjata itu?". Tanya Mars setelah mendengar penjelasan Myron.
"Mereka mengambil semuanya Dad. Ketika kami menyerang Markas Black Tiger, kami tidak menemukannya. Sepertinya memang sengaja di amankan oleh Aron". Jawab Myron.
"Apa ini bersangkutan dengan Cut Silent?". Sambung Dhanny.
"Bukan Paman". Sahut Zehemia mewakili "Cut Silent sangat bertindak hati-hati. Aku yakin ada orang yang membantu Aron". Sambung Zehemia
"Siapa?". Beo mereka serentak.
"Entahlah. Aku dan Kiel sedang berusaha meretas data mereka. Luke juga belum menemukannya". Jawab Zevanya.
Terdengar helaan nafas berat.
"Son, bagaimana keadaan Zeze dan Lucy, apa mereka baik-baik saja?". Tanya Fillipo yang baru teringat pada putri bungsunya itu. Dia sempat memarahi kedua putranya karena meninggalkan Zevanya tanpa pengawasan. Namun setelah mendengar penjelasan dari kedua putranya membuat pria paruh baya itu bernafas lega.
"Mereka baik-baik saja Dad. Sekarang mereka sedang berada diwilayah timur bersama Paman Arthur". Jawab Zehemia.
"Apa yang mereka lakukan disana?". Tanya Mars mengerutkan keningnya.
"Paling hanya berkunjung saja". Sahut Zehemia singkat.
Sementara di lab, Yoshua dan Yoel baru menyelesaikan pembuatan obat penawar racunnya. Mereka berdua telah bekerja keras dengan maksimal dan berharap obat penawar ini bisa menolong keponakkan mereka, Grabielle.
"Bagaimana Yosh?". Tanya Zean tak sabar.
"Sudah Kak. Sekarang ayo kita kerumah sakit". Sahut Yoshua.
"Ayo".
Sean, Zean, Zaen, Yoshua dan Yoel beranjak meninggalkan ruang lab David. Ya ruang lab dan ruang praktek yang sering David pakai untuk menguji penelitian dan penemuannya masih terlihat bersih dan terawat.
Kelima pria paruh baya itu segera menuju rumah sakit. Tampak ketidaksabaran diwajah Zean. Dia tak sabar putra nya bangun dari komanya. Sudah satu Minggu setelah ditembak Grabielle tidak sadarkan diri. Kondisinya juga semakin menurun. Membuat Zean semakin takut.
Sampai dirumah sakit, kelimanya turun. Yoshua dan Yoel melupakan dendam mereka dan fokus membantu para kakak dan anak dari sahabat Daddy-nya.
Zean berharap obat penawar yang dibuat Yoshua dan Yoel bisa membuat putranya bangun kembali. Zean berjanji akan mendidik putranya dengan baik, doa tidak akan kasar lagi dan akan menyanyangi Grabielle dengan lembut. Zean sadar selama ini dia memang sangat keras dengan kedua anaknya. Apalagi Grace dia sendiri membuat putrinya itu ketakutan saat dia marah.
Mereka masuk kedalam ruang ICU dimana Grabielle dirawat.
__ADS_1
"Sayang". Panggil Zean pada Luna yang masih setia menemani putra mereka. Luna memang tak beranjak sama sekali, dia terus saja menjaga putranya setiap hari, malam dan juga siang.
"Zean". Luna menghampiri Zean dan memeluk sang suami "Aku takut terjadi sesuatu pada Bielle, Zean". Isak Luna dipelukkan Zean.
"Stttt, jangan bicara begitu. Putra kita pasti baik-baik saja". Zean melepaskan pelukkanya dan mengusap wajah cantik Luna "Dia pria kuat seperti Daddy nya". Senyum Zean. Luna berusaha mengangguk dan kuat. Meski sebenarnya dia sangat rapuh.
"Kak biarkan kami memeriksa keadaan Bielle?". Ujar Yoel.
"Silahkan Yoel".
Yoshua dan Yoel mendekati ranjang Grabielle. Keduanya melakukan tugas masing-masing. Yoshua menyuntikkan obat penawar yang dia buat melalui cairan infus Grabielle.
Sedangkan Yoel, memeriksa detak jantung Grabielle yang terlihat masih melemah.
Tit Tit tit tit tit tit.
Garis bengkok berjejer rapih dilayar monitor. Menandakan jantung Grabielle kembali normal setelah obat penawar itu disuntikkan.
"Bagiamana Yosh?". Cecar Zean.
Yoshua menghela nafas "Dia sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja obat penawar ini tidak bisa membunuh racun yang ada ditubuh Bielle. Obat penawar ini hanya melarutkan sebentar saja, lalu akan kembali menyerang bagian syaraf tubuh Bielle". Jawab Yoshua dengan berat.
Deg
"Lalu apa yang harus dilakukan Yoshua?". Tanya Zean dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak ada Kak. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Bielle". Jawab Yoshua
Brukkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Luna terjatuh pingsan. Untung saja Zean dengan sigap menangkap tubuh istrinya.
"Luna". Pekik mereka samua terkejut
"Zean, cepat bawa Luna ke UGD. Urus istrimu. Kami akan mencari obat penawar untuk Bielle". Ujar Zaen.
"Terima kasih Zaen".
Zean mengendong istrinya keluar dan membawa ke UGD untuk memberikan pemeriksaan. Sepertinya Luna kelelahan dan ditambah lagi dengan kenyataan yang menimpa putra bungsunya itu.
Sean dan Zaen menghela nafas berat. Mereka berempat masih diruang rawat Grabielle.
"Apa yang harus kita lakukan Zaen?". Tanya Sean yang juga sudah bingung mencari penawar untuk Grabielle.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu Sean. Fillipo dan Mars, belum tentu bisa membantu". Jawab Zaen lemes.
"Apa kita minta bantuan Dokter Dhanny saja Kak?". Saran Yoel.
Zaen menggeleng "Dhanny tidak akan bisa membantu banyak. Bukan keahliannya". Sahut Zaen.
Mereka berempat larut dalam pemikiran mereka.
Zaen menatap Grabielle yang terbaring lemah. Wajah nya pucat dan selang mengalir dibeberapa bagian tubuhnya. Zaen paham perasaan Zean. Dia pernah mengalami ketakutan saat Shawn dan Sherlly dinyatakan hilang. Apalagi saat itu putranya juga dalam keadaan terluka, untung saja Zevanya segera mengeluarkan peluru yang mengenai Shawn. Jika, tidak mungkin nasibnya akan sama seperti Grabielle.
"Zevanya?".Gumam Zaen yang masih didengar oleh Sean, Yoshua dan Yoel.
"Kenapa Dangan Zeva?". Tanya Sean pada kembarannya.
"Apa dia bisa membantu kita?". Ucap Zaen
"Memangnya Zevanya bisa Kak?". Sambung Yoel heran.
"Sean, kau ingat saat Shawn tertembak?". Sean mengangguk "Saat ini Zeva yang mengeluarkan peluru dari tangannya dan membuang racun dalam tubuh Shawn. Jadi menurut ku Zeva bisa membantu kita. Barangkali dia tahu". Ujar Zaen.
"Jika begitu, hubungi saja Kak. Kami berdua siap membantu". Ujar Yoshua.
"Baik".
Zaen mengambil ponselnya dan mencari nama kontak keponakan nya.
Drt Drt drt drt drt drt drt
"Hallo Ayah". Teriak Zevanya. Zaen menjauhkan telponnya saat telingannya terasa ingin pecah mendengar teriakkan Zevanya. Begitu juga dengan Yoshua, Yoel dan Sean yang masih bisa mendengar suara Zevanya. Padahal Zaen tidak mengaktifkan loud speaker nya.
"Hallo sayang, apa kabarmu?". Tanya Zaen lembut sambil tersenyum. Padahal Zevanya takkan bisa melihat senyumnya.
"Zeva baik-baik saja Ayah. Ada apa menelpon Zeva?".
"Hmmm, begini sayang. Apa kau sudah tahu masalah Bielle?".
"Tenang saja Ayah. Jangan khawatir Gebe baik-baik saja. Setelah Zeva pulang dari sini, Gebe pasti bisa bangun. Bilang pada Paman Zean untuk banyak berdoa". Zaen mengerutkan keningnya. Padahal belum juga dia menyanyakan tentang maksudnya menelpon, tapi Zevanya sudah tahu duluan.
"Bagaimana kau bisa tahu sayang? Apa yang akan Ayah tanyakan?". Tanya Zaen heran. Begitu juga dengan Sean, Yoshua dan Yoel.
"Sudahlah Ayah, jangan dibahas. Zeva tutup dulu telponnya". Tanpa menunggu jawaban Zaen, Zevanya sudah menutup telponnya.
Bersambung......
__ADS_1
LoveUsomuch ❤️