
SELAMAT MEMBACA....
Seorang pria tengah melempar semua barang yang ada disisinya. Wajahnya memerah penuh amarah. Sementara para anak buah dan assistennya hanya bisa menunduk takut menjadi sasaran kemarahan sang Tuan.
“Bagaimana bisa semua ini terjadi? Ha?’. Bentaknya pada para anak buah yang hanya bisa menunduk “Aku tidak mau tahu, kalian harus temukan siapa yang membebaskan Shawn? Jangan biarkan dia dan keluarga nya hidup, habisi hingga ke akar-akarnya”. Tintahnya “Jika kalian gagal melakukan itu kupastikan kalian tidak akan melihat hari esok”. Ancamnya melihat kearah anak buahnya.
“B-baik Tuan”. Para anak buahnya keluar meninggalkan ruangannya.
“Erick, retas rekaman CCTV yang ada di Markas. Aku ingin melihat siapa yang berani menghancurkan Markasku”. Perintahnya
“Baik Tuan”.
“Kau boleh keluar”.
Pria itu menyenderkan punggungnya dikursi kebesarannya. Dia berusaha menahan amarah ketika mengetahui Markas nya dihabisi tanpa sisa. Anggota yang berjumlah ratusan orang itu tergeletak tak berdaya hingga menjadi abu ketika dibakar.
Dia tidak habis pikir bagaimana orang itu bisa menghancurkan Markas yang sudah dia pasang banyak jebakkan. Sehebat apa orang itu? Selama ini tidak ada yang berani melawannya hingga Markas nya sampai hancur dan rata dengan tanah.
“Aku tidak akan membiarkan kau lolos. Lihat saja nanti aku akan menghabisimu”. Ancamnya. Entah siapa yang dia ancam, karena dia sendiri belum mengetahui siapa orang yang sudah menghancurkan Markas dan menghabisi anak buahnya yang jumlahnya tak sedikit itu.
Dimension Ranlet Flint.
Zevanya segera masuk kedalam kamar, dia mengunci pintu kamarnya takut jika kedua kakak nya masuk tiba-tiba.
Gadis itu dengan gerakkan cepat mengambil laptop yang dia simpan diatas nakas kamarnya. Jari lentiknya menari dengan cepat diatas stut keyboard laptop. Dia tampak tak sabar saat memasukkan sebuah benda kecil disambungan laptop untuk melihat data yang diberikan oleh ketiga Mutan sang Mommy.
Zevanya menyimpitkan matanya melihat data yang tertera disana.
“Siapa?”. Gumam nya saat melihat data yang diberikan oleh ketiga Mutannya “Dave William”. Zevanya tampak berpikir keras.
“Aku tidak mengenal orang ini”. Dia terus mengoceh sendiri namun tangannya tak berhenti distut keyboard laptop.
“Apa munsuh Sasan?”. Ucap Zevanya lagi.
Zevanya masih mengotak-atik laptopnya. Dia harus menemukan siapa yang menculik sepupunya itu. Seperti dugaan Zevanya bahwa orang yang menculik ketiga sepupunya bukan orang biasa.
“Black Cobra”. Gumam Zevanya. Dia berpikir keras apakah dia mengenal geng Mafia tersebut?
“Ular hitam kali ya”. Celetuknya sambil terkekeh lucu dia menggeleng gemes.
“Aku harus mencari datanya”. Ucap Zevanya.
__ADS_1
Kembali gadis itu focus pada laptopnya “Ketemu”. Dia menekan tombol enter.
Zevanya membaca data yang berhasil dia retas “Kelompok Mafia paling ditakuti?”. Kedua alisnya saling bertaut “Memangnya dia Tuhan?”. Cibirnya terlihat kesal saat mendengar nama ditakuti.
Tok tok tok tok tok.
“Sayang”.
Segera Zevanya menutup laptopnya. Dia yakin itu pasti kedua kakaknya.
“Iya Kak sebentar”. Segera Zevanya menyimpan laptop dan flashdisknya dia tidak mau kedua kakak nya tahu. Apalagi kedua nya sama-sama ahli IT.
Zevanya berlari membuka pintu. Dia tersenyum hangat saat melihat wajah tampan kedua kakak nya yang sudah memakai piyama tidur.
“Ayo makan malam”. Ajak Zehemia.
“Hehhe, Kak, Zeva belum mandi. Kakak duluan saja. Nanti Zeva susul”. Ucap Zevanya cenggesan sambil menampilkan deretan gigi susulannya.
“Iya sudah kakak tunggu di meja makan ya”. Zehekiel mengacak rambut adiknya dengan gemes. Meski belum mandi dia tetap cantik.
“Baik Kak”. Senyum Zevanya.
Setelah kedua kakak nya meninggalkan kamarnya. Zevanya membersihkan diri, dari tadi dia belum sempat mandi karena melakukan pencarian dilaptopnya.
“Cihhh, darah menyebalkan”. Segera gadis itu membersihkan hidungnya dengan tissue. Dia mimisan lagi.
“Apa kanker jaringan lunak itu berbahaya ya?”. Dia tampak berpikir, bukannya sedih dia malah penasaran “Besok, aku harus temui dokter Kenz”. Ucapnya meninggalkan kamar mandi.
Zevanya berjalan menuju meja makan. Disana sudah ditunggu oleh semua anggota keluarga. Kelima keluarga itu selalu makan malam bersama, mereka tak pernah melupakan makan bersama sejak pertama menikah sampai usia anak-anak mereka yang ke dua puluh lima tahun.
Semua nya makan dalam diam. Kecuali, Zehemia, Zehekiel dan Zevanya serta Fillipo. Ketiga pria itu menyuapi Zevanya secara bergantian. Mereka tampak kompak dan tak pernah berdebat.
Grace yang kebetulan juga makan malam bersama, sungguh jenggah menyaksikan drama makan yang selalu sama setiap malam itu. Membosankan itulah yang ada dibenak Grace, lebih tepatnya iri.
“Dasar manja. Lihat saja nanti, aku akan rebut posisimu wanita jalang”. Batin Grace geram. Tanpa sadar tangannya memegang dengan kuat sendok dan garfunya.
Pergerakkan Grace tak lepas dari tatapan Grabielle. Grabielle menatap kakak nya dengan curiga. Sekarang Grabielle yakin jika Grace benar-benar membenci Zevanya. Karena selama ini Grace tak pernah lagi mau berbicara dengan Zevanya, dia terkesan menghindar.
“Apa kakak yang merencanakan penembakkan atas Kak Zeva?”. Batin Grabielle sambil menyuap makanannya “Apa itu mungkin? Apa kakak tega melakukan itu? Bukankah Kak Zeva sepupu dan sahabat baik kakak?”, timpal Grabielle dalam hati.
Setelah selesai makan. Semua nya kembali ke kamar masing-masing. Termasuk Zevanya yang sudah di nina bobokan oleh kedua kakak kembarnya.
__ADS_1
Setelah dari kamar Zevanya. Zehemia dan Zehekiel segera menuju ruang kerja Daddy nya. Disana sudah ada para orangtua dan sepupunya yang menunggu.
“Bagaimana apa kalian sudah menemukan siapa yang menculik Shawn, Myra dan Sherlly?”. Tanya Mars menatap para pria muda itu.
“Belum Dad. Kami sedang mencarinya”. Sahut Myron mewakili.
“Shawn, apa kau punya munsuh?”. Tanya Zaen menatap putranya.
Shawn menggeleng “Tidak Dad. Selain Cut Silent”. Sahut Shawn.
“Kau yakin?”. Sambung Zehemia.
Shawn mengangguk “Aku yakin, selama ini aku tidak merasa memiliki munsuh yang lain. Tapi aku juga tidak tahu siapa yang berani menculikku, sepertinya ini bukan ulah Cut Silent”. Sambung Shawn lagi
Semua nya terdiam. Fillipo, Mars, Sean, Zean dan Zaen juga tampak berpikir dan bahkan mereka juga melakukan pencarian siapa yang berani menyakiti dan menyerang keluarga paling berpengaruh itu.
“Shawn, bagaimana bisa ketika kami masuk keadaan Markas sudah berantakkan seperti itu?”. Cecar Zehemia.
Shawn kikuk, dia langsung teringat dengan tatapan mematikan Zevanya saat dia ingin mengatakan yang sebenarnya.
“Son?”. Zaen menyadarkan putranya ketika melihat Shawn hanya diam dan bingung.
“Eh, iya Dad”. Sahut langsung tersadar
“Kau belum menjawab pertanyaanku?”. Tagih Zehemia dia menatap Shawn dengan malas.
“Apa kalian akan percaya jika aku mengatakannya?”. Ucap Shawn.
“Katakan saja Son”. Desak Zaen tak sabar
“Zevanya”. Sahut Shawn singkat.
“Zevanya?”. Beo mereka semua.
“Kenapa Son?”. Tanya Zaen pada putranya.
Shawn menghela nafas “Zevanya yang menghabisi mereka semua. Mungkin kalian tidak percaya, sama aku juga sebenarnya hampir tidak percaya. Tapi begitulah kenyataannya”. Ucap Shawn
“Katakan dengan benar Shawn”. Desak Myron yang tak mengerti dengan ucapan Shawn.
Bersambung.....
__ADS_1
LoveUsomuch ❤️