
SELAMAT MEMBACA.......,.
Disebuah ruangan lab tampak tiga orang sedang sibuk dengan benda yang ada didepan mereka. Dua gadis cantik serta satu pria paruh payah yang sedari tadi terus saja mengomel.
"Ck, Zeze. Sebenarnya kau ini ingin membuat apa?". Tanya Arthur yang mulai jenggah
"Diamlah Paman. Jangan terus bertanya, ikuti saja perintahku". Ketus Zevanya.
Arthur mengendus kesal. Jika saja gadis ini bukan putri dari sahabat nya, sudah dipastikan. Arthur akan melempar gadis ini ke laut dasar paling dalam.
"Cycy, masukkan larutannya".
"Baik Kak".
Ya Zevanya sedang membuat obat penawar untuk Grabielle. Gadis itu tampak ahli dalam melakukan pembuatannya. Padahal ini pertama kalinya. Kemampuan nya dia dapat setelah melihat rekaman CCTV sang Mommy 25 tahun yang lalu, hal itu membuat nya ingin belajar juga apalagi saat ini Grabielle masih koma dirumah sakit.
Zevanya meneliti temuannya menggunakan kacamata bahan.
"Sepertinya ini bisa membantu Gebe bangun". Gumam Zevanya.
"Apa kau yakin Kak?". Sambung Lucy.
Zevanya menggeleng dengan polosnya "Aku kan belum mencoba nya Cycy. Jadi aku belum tahu". Jawab Zevanya santai.
Yang mencebik malah Arthur.
Dor dor dor dor dor dor dor
"Paman, apa itu?". Tanya Zevanya mendengar suara tembakkan.
"Paman tidak tahu. Kalian berdua tetap disini dan jangan kemana-mana. Kalian paham?". Ucap Arthur setengah panik.
"Baik Paman". Sahut Lucy dan Zevanya kompak sambil mengangguk
Zevanya tidak terganggu sama sekali dengan suara tembakkan itu. Dia malah fokus dengan senyawa yang dia larutkan. Senyawa ini harus jadi, demi menyelamatkan Grabielle yang tengah koma.
Berbeda dengan Lucy yang sudah berkeringat dingin. Dokter itu terlihat takut sekali dan berharap tidak terjadi apa-apa disana.
"Kak Zeva?". Panggil Lucy.
"Iya Cycy?".
"Kenapa Paman Arthur belum kembali. Apa dia baik-baik saja?". Ujar Lucy wajahnya sudah puas karena khawatir dan juga panik
Zevanya tampak berpikir "Kita tunggu setengah jam, kalau dia belum kembali kita menyusul".
"Tapi Paman Arthur melarang kita keluar. Dia menyuruh kita tetap stay". Imbuh Lucy.
"Ck, sekali-kali membakang tidak apa". Ketus Zevanya. Lucy menganggu aktivitas nya saja.
__ADS_1
Sementara diluar Arthur tengah berperang melawan para munsuh yang menyerang wilayah timur.
"Harsa, cepat hubungi Mars dan Fillipo". Tintah Arthur pada asistennya sambil menembak.
"Baik Tuan".
Dor dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor dor
Suara peluru terdengar saling bersahutan. Arthur dan beberapa anggota lainnya berperang, hingga tempat ini menjadi lautan manusia.
Dor dor dor dor dor dor dor dor
Tembak menembak masih berlangsung dengan sengit. Pertarungan yang terlihat berambisi itu mampu menghabiskan ratusan nyawa.
"Awwwwwwww". Arthur tertembak.
"Tuan". Harsa menghampiri Arthur ditengah peperangan.
"Tolong selamatkan Zevanya dan Lucy". Ucap Arthur hampir hilang kesadaran. Peluru itu mengenai perutnya dan darah mengalir dengan deras.
"Paman".
Dua gadis berlari kearah Arthur. Arthur menggeleng lemah.
"Tidak Paman. Kami tidak akan meninggalkan. Bertahanlah". Tolak Zevanya.
"Umpfhhhhhhhhhhhhhh". Seseorang menutup mulut Zevanya hingga membuat gadis itu pingsan.
"Zeze". Teriak Arthur dan Lucy bersamaan.
Dor dor dor dor
Pria bertopeng itu menembak kaki dan tangan Lucy. Dia juga menembak kedua kaki Arthur hingga membuat pria itu meringgis kesakitan.
Pria bertopeng itu tersenyum smirk. Dia mengendong gadis cantik yang tertidur didalam pelukkannya.
"Zeze". Lirih Arthur sebelum akhirnya kesadarannya menghilang.
"Kak Zeva". Lucy sudah tergeletak lemah dilantai.
Sedangkan Harsa juga sama, mereka hanya ditembak dibagian kaki dan tangan. Sehingga membuat mereka sulit bergerak.
Pria itu membawa Zevanya keluar. Dia tersenyum licik melihat wajah menggemaskan yang tertidur didalam gendongannya.
"Kemana kita akan membawanya?". Tanya pria yang sudah menunggu di jet pribadi milik mereka.
"Sanghai". Sahut pria itu dingin. Dia tak beralih pada gadis dipangkuan nya.
__ADS_1
"Kau tidak sedang berubah pikiran kan Kak? Ingat tujuan kita menculiknya. Dia akan jadi milikku". Pria yang satunya berusaha merebut Zevanya dari pangkuan pria bertopeng itu.
"Berani kau menyentuhnya. Kupastikan kepalamu akan ku jadikan Xiang". Tatapnya tajam "Ini urusanku. Bukan urusanmu. Berani kau menyentuhnya, ku pastikan kau takkan bisa melihat hari esok". Ancamnya tajam. Sorot mata itu menunjukkan bahwa dia tidak bermain-main dengan ucapannya.
Pria disampingnya menelan salivanya susah payah. Dia tahu siapa Kakak sepupunya yang tidak bermain-main dengan ucapannya. Dia selalu mengatakan apa yang dia rasakan.
"Maksudmu apa Kak? Kau tidak lupa tujuan awal kita kan?". Kali ini pria disampingnya berkata serius.
"Tidak". Sahutnya ketus
"Lalu apa maksud mu?". Tanya pria disampingnya tajam "Kau melarangku menyentuhnya. Sementara dari awal, aku lah yang menginginkannya?". Cecarnya
"Jelas kau tidak boleh menyentuhnya. Karena kau hanya akan menghancurkannya kan?". Tatapnya tajam "Aku sendiri yang akan membalaskan dendamku. Dengan caraku. Bukan caramu. Aku tidak suka kau yang hanya ingin menghancurkan nya saja. Kau bukan lelaki gentle. Kau pengecut". Ucapnya tak main-main.
Pria disampingnya mengepalkan tangannya.
"Sebaiknya kau kembali ke New York. Biar aku yang mengurusnya. Jika kau menghilang mereka akan curiga pada mu". Tintahnya.
"Tapi...............".
"Tian".
"Iya Tuan".
"Mendarat di Bandara. Siapkan jet pribadi untuk kita berangkat ke Sanghai. Atur anggota untuk menjaga Markas dan perusahaan. Pastikan juga Deva aman".
"Baik Tuan". Sahut Tian.
"Kak".
"Berhenti berbicara Aron. Biarkan aku menyelesaikan nya. Tugasmu melindungi Bibi Elena dan Deva, pastikan mereka aman". Tintahnya.
Aron mengendus kesal "Baik". Aron hanya bisa menatap Zevanya dengan menyesal. Seandainya dia tahu jika Kakak nya itu akan berbuat seperti ini. Dia sendiri yang akan menyerang wilayah timur
Setelah sampai di Bandara. Dave langsung mengendong Zevanya. Dia naik kedalam jet pribadi miliknya. Sementara Aron kembali pulang ke New York.
Dave mengelus kepala Zevanya. Obat bius yang dia berikan pada gadis ini memang bisa bereaksi sampai berhari-hari.
Dave tersenyum simpul menatap wajah cantik itu yang tertidur, justru terlihat begitu imut dan menggemaskan.
"Kau lihat saja nanti apa yang aku lakukan padamu. Aku akan tunjukkan bagaimana cara balas dendam terbaik". Dave tersenyum licik "Kau sangat cantik, aahhhh kenapa aku jadi ingin mengigitmu". Dave mendekatkan wajahnya ke wajah Zevanya. Dia menelisik wajah Zevanya. Menghirup wangi gadis itu.
"Kau sangat wangi". Dia mencium rambut Zevanya. Parfum gadis itu benar-benar masuk kedalam Indra penciuman nya.
"Sayang aku sama sekali tidak tertarik. Aku hanya ingin melihat bagaimana Shawn merasakan kehilangan. Aku akan membawamu pergi sejauh mungkin dari kehidupan mereka". Dave tersenyum licik. Bohong jika dia tidak tertarik pada gadis ini, tertarik sekali malah. Tapi dia tidak mau dibodohi oleh peraasaannya sendiri.
Bersambung.......
LoveUsomuch ❤️
__ADS_1