
SELAMAT MEMBACA....
"Bagaimana Ryan?". Kenzie sedang membolak-balik dokumen ditangannya. Saat ini dia sedang berada diperusahaan mengurus semua masalah perusahaan.
"Maaf Tuan, saya belum menemukan dokter yang bisa menyembuhkan penyakit Nona". Jawab Ryan sedikit menunduk sambil memberi hormat.
Kenzie menatap tajam "Apa saja pekerjaan mu, hah? Aku tidak mau tahu, kau harus temukan dokter yang bisa menyembuhkan penyakit gadis ku". Tintahnya "Jika kau gagal bersiaplah ku jadikan hidangan istimewa Yoku".
Ryan bergidik ngeri "Baik Tuan". Ryan berlalu dari ruangan Kenzie.
Ryan keluar dengan mengerutu. Hampir seluruh dunia dia terlusuri untuk mencari dokter terbaik yang bisa menyembuhkan penyakit gadis Tuan-nya itu tetap saja tidak ada.
"Aku harus cari kemana lagi? Masa iya, aku harus jadi santapan Yoku. menatap nya saja bulu kudungku sudah berdiri". Celetuk Ryan sambil berjalan kearah mejanya.
Kenzie adalah pria keras, apa saja yang diinginkan oleh pria itu. Pasti harus dipenuhi, tidak bisa tidak, harus. Dia tidak peduli ada atau tidaknya, bagi Kenzie semua harus ada sesuai kemauannya.
"Zevanya". Sudut bibir nya tertarik ketika menyebur nama itu "Aku akan membawamu pergi sejauh mungkin. Aku akan buat tua bangka itu merasakan kehilangan seperti yang aku rasakan". Tangannya terkepal "Lihat saja nanti Tuan Fillipo, aku akan merebut putrimu. Aku akan memisahkan kalian dan aku akan meratap menangisi nya". Ucapnya penuh penekanan.
Rasa dendam dihati Kenzie semakin hari semakin tumbuh. Apalagi jika dia bertemu Zevanya, perasaan itu semakin kuat. Dia tidak sabar untuk melihat kehancuran Fillipo, Zehemia dan Myron.
"Myron, Zehemia. Bersiaplah menangis darah. Karena aku akan merebut kesayangan kalian". Kenzie meronggoh ponselnya. Dia menatap gambar dilayar ponselnya sambil mengusap layar ponsel itu.
"Tenanglah sayang. Sebentar lagi kita akan bersama". Gumamnya tersenyum licik.
Dilain tempat.....
Seorang pria tampan tengah masuk kedalam rumah mewahnya. Dia berjalan dengan logat sombongnya. Kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya, tanganya dia masukkan kedalam dua saku celananya. Dia bersiul seperti sedang mendapat lotre.
"Aron".
Pria itu langusng berjingkrak kaget ketika mendengar teriakkan sang Mommy dari arah pintu Mansion. Wanita hebatnya itu sudah bercakak pinggang dengan wajah merahnya.
"Ada apa lagi Mom?". Tanya Aron ketus "Sambut anak nya dong, pulang kerja capek-capek". Sindir Aron memutar bola matanya malas
"Apa kau bilang menyambut?". Sang Ibu langsung menjewer telinga putra semata wayang nya itu.
"Awwwwww Mommy, sakit". Renggek nya.
"Kau ini ya? Kau berbohong katanya mau membawakan calon menantu untuk Mommy. Tapi malah tidak ada sampai sekarang". Elena menarik nafasnya yang memburu. Dia melepaskan jeweran nya saat melihat wajah merah putranya menahan sakit.
"Berhenti menanyakan itu Mom". Ujar Aron sambil mengusap telingannya yang terasa pedas.
"Mom, tidak akan berhenti sampai kau mendapatkan calon istri dan menikah". Timpal Elena menatap putranya tajam.
"Ayolah Mom. Aron tidak ingin menikah". Renggek pria itu merayu sang Ibu.
"Baiklah kalau begitu. Mom, akan panggilkan dokter untuk memotong burung mu itu". Ancam Elena. Aron bergidik.
"Mom, tega sekali sama anak tampan nya ini". Aron masih merenggek.
"Cihhh, tampan. Kalau tampan kenapa kau tidak laku-laku juga?". Sindir Elena menatap putranya dengan malas.
"Bukan tidak laku Mom. Aron memang menolak semua gadis yang mendekat". Ucapnya bangga
"Cihhh, kau pikir Mom percaya". Tatap Elena "Mom kasih waktu satu bulan. Kalau bulan depan pas ulangtahun Mom kau tidak membawa pasangan. Bersiaplah Mom akan nikahkan dengan anak sahabat Mom". Tegas Elena berlalu meninggalkan Aron.
__ADS_1
"Mom, jangan begitu". Renggek Aron mengejar Mommy-nya. Elena terus berjalan tanpa mendengarkan renggekkan putranya.
Aron mengendus kesal. Ibunya selalu saja membahas menikah. Mau menikah dengan siapa? Calon istri saja tidak punya. Meski pun dia Cassanova tapi dia tidak pernah merasakan jatuh cinta, setelah pernah kehilangan.
"Tuan".
"Ada apa?". Jawab Aron ketus dia masih kesal pada Ibu nya.
"Maaf Tuan. Ini". Sang asisten menunjukkan gambar di iPad nya.
"Serang saja. Pastikan mereka mengira ini ulah Cut Silent".
"Baik Tuan".
Aron duduk dengan manis diruang kerjanya. Tanpa memperdulikan teriakkan sang Ibu yang menyuruhnya mandi.
"Hahaha". Aron tertawa puas melihat anggotnya menyerang Markas Black Glorified dan Lion Killer 2.
"Selamat jalan". Senyumnya puas.
Sedangkan di Markas Black Glorified dan Lion Killer 2. Tengah dikepung habis-habisan
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
"Shawn cepat hubungi Kiel dan Zehem".
"Baik".
Zehemia dan Zehekiel datang dengan wajah marahnya.
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
Keduanya langsung menembak menggunakan pistol yang diberikan Zevanya. Benar saja pistol itu langsung melumpuhkan lawan mereka.
"Shawn, kau jaga bagian pintu masuk. Pastikan tidak ada lagi yang bisa masuk.
"Baik".
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
Suara pistol masih saling bersahutan satu sama lain. Menandakan bahwa peperangan masih terus berlangsung. Zehemia menembak membabi buta
__ADS_1
"Bielle, awas". Teriak Johannes
Brakkkkkkkkkkk
"Awwwwww". Grabielle merintih saat pergelangan tangannya tertembak.
"Bielle kau baik-baik saja?". Tanya Zehekiel setengah panik.
"Aku baik-baik saja Kak. Lanjutkan saja".
"Baik".
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor dor
Hampir satu jam mereka bertempur. Hingga para pria bertopeng yang menyerang tergeletak dengan kondisi sekarat.
"Math bereskan".
"Baik".
Mereka langsung menghampiri Grabielle yang terluka darah juga mengalir dipergelangan tangan Grabielle.
"Peluru ini mengandung racun. Ayo sebaiknya bawa Bielle kerumah sakit".
"Ayo". Shawn dan Johannes memapah Grabielle.
"Kiel, kau selidiki penyerangan ini. Biar Kakak yang mengurus Bielle. Pasti kan kau menemukan siapa yang menyerang kita".
"Baik Kak".
Grabielle dibawa masuk kedalam jet pribadi. Wajah pria itu sudah pucat sambil menahan sakit. Peluru yang mengenai tangannya mengandung racun.
"Bertahan lah Bielle, hiksss". Shawn terisak melihat adik sepupunya yang terlihat pucat.
"Cihh, kau cenggeng sekali Kak Sasan. Aku baik-baik saja. Hanya saja tanganku sakit sekali". Lirih Grabielle sambil menahan sakit.
"Dalam keadaan sekarat saja kau masih bisa bercanda Bielle". Celetuk Johannes "Bertahanlah, jangan mati duluan. Kau belum merasakan bagaimana nikmatnya malam pertama". Timp Johannes.
"Ck, kau saja yang belum pernah merasakannya. Aku bahkan hampir bosan membuat teman ranjangku mendesah". Ujar Grabielle masih sempat-sempatnya bercanda.
Plakkkkkkkkkkkk
"Kau ini. Berbicara itu disaring sedikit". Kesal Shawn "Zehemia, berbeda. Kau lihat wajah dinginnya itu. Bagaimana kalau kita diadukan pada Daddy. Kau mau burung mu dipotong?". Bisik Shawn pelan takut Zehemia mendengar.
"Hehehe maaf Kak".
Jika mereka bertiga sibuk berbisik-bisik sambil menahan darah ditangan Grabielle. Maka Zehemia sibuk dengan ponsel ditangannya. Entah apa yang pria dingin itu lakukan.
Bersambung....
LoveUsomuch ❤️
__ADS_1