
SELAMAT MEMBACA.....
Kenzie meninggalkan Markasnya. Dia sudah puas membunuh hari ini. Hidupnya hampa tanpa membunuh, seperti makanan sehari-hari yang tidak bisa tidak dia lakukan. Bagi Kenzie membunuh bisa menghilangkan stress dari kepalanya. Apalagi membunuh orang yang berkhianat padanya, atau orang yang berani mengusik hidupnya.
Kenzie memarkir mobilnya di lobby rumah sakit. Jas dokter membungkus badan kekarnya. Dia keluar dari mobil. Tatapan kekaguman para dokter dan perawat tertuju padanya. Namun, tak ada yang berhasil merebut hati dokter tampan ini. Tak ada juga yang tahu jika dia ketua Mafia paling kejam dan tak punya perikemanusiaan.
“Selamat siang dokter”. Sapa para perawat memberi hormat.
“Siang”. Sahut Kenzie datar dan juga dingin. Dia masuk kedalam ruangannya. Selain bekerja sebagai dokter spesialis kanker dia juga direktur dan pemilik rumah sakit ini. Rumah sakit yang dia bangun dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri.
Mendes Hostpital’s sebenarnya terletak di Washington DC. Namun sejak dia menginjak usia dewasa, Kenzie membangun rumah sakit baru di New York, demi membalaskan dendamnya. Sedangkan rumah sakit miliknya yang terletak di Washington DC, dikelola oleh sahabatnya sendiri. Mendes adalah nama belakang Kenzie, marga dari Ibu nya. Dia sengaja tidak memakai nama itu diujung namanya. Demi menjaga identitas aslinya.
Kenzie membuka jas dokternya lalu menyangkutkan dikursi kebesaran miliknya. Di atas meja sudah tertumpuk berbagai berkas pasien yang harus dia periksa serta laporan pasien setiap bulannya. Rumah sakit milik Kenzie merupakan rumah sakit mewah dengan fasilitas yang lengkap dan juga rumah sakit termahal tentu orang-orang yang dirawat disini orang-orang dari kalangan kolomrat.
Kenzie menghembuskan nafas berat. Jika tidak berada dirumah sakit maka dia akan mengurus perusahaan. Hidupnya hanya dihabiskan untuk bekerja dan membunuh, tidak ada waktu untuk pria tampan ini menghabiskan waktunya hanya untuk berleha-leha atau liburan menghilangkan stress.
Kenzie memeriksa data-data pasiennya. Data pasien dari berbagai penyakit. Ada yang sedang, ada juga yang mengalami masalah berat dan tak sedikit yang bersangkutan dengan kanker.
“Zevanya Anggela”. Dia membaca satu nama pasien yang terdapat dalam sebuah maff berwarna kuning “Seperti tidak asing? Tapi siapa?”. Dia tampak berpikir keras “Apa aku mengenalnya?”. Gumam Kenzie.
Kenzie kembali membaca data yang tertera dalam berkas itu. Keningnya kembali berkerut saat melihat dianogsa yang tertera disana. Sebelumnya dia belum pernah menangani pasien dengan nama tersebut. Namun sepertinya nama pasien itu tidak asing bagi Kenzie.
“Orlando”. Panggil Kenzie pada dokter yang tidak lain adalah asisstennya dirumah sakit.
“Iya Dokter. Ada yang bisa saya bantu?”. Tanya Orlando masuk kedalam ruangan Kenzie saat namanya dipanggil. Kenzie tidak mau memperkerjakan wanita sebagai assistennya.
“Apa pasien bernama Zevanya Anggela sudah melakukan pemeriksaan?”. Tanyanya sambil membaca data yang bersangkutan dengan pasien.
“Sudah Dok. Didalam berkas itu tertera semua diagnose pasien”. Jelas Orlando menunjuk berkas yang Kenzie periksa.
“Kapan dia akan melakukan pemeriksaan ulang?”. Tanya Kenzie lagi yang masih focus dengan berkas yang ada ditangannya.
__ADS_1
“Besok Dok”. Sahut Orlando.
“Baik. Besok biar aku yang memeriksanya. Persiapkan semua perlengkapan. Aku akan melakukan beberapa test”.
“Baik Dok”.
Setelah menjelaskan pada sang dokter. Orlando segera meninggalkan ruangan Kenzie.
Kenzie menghela nafas berat. Dia menyenderkan punggungnya. Hidup sendirian tanpa siapa-siapa. Terkadang dia merasa kesepian. Jujur walau dia memiliki banyak kekayaan dan uang yang banyak. Namun tetap saja dia merasa kosong dan hampa. Sejak kecil sudah biasa hidup sendiri dan berjuang sendiri, tak ada sahabat atau teman dekat yang menemaninya. Zoalva juga jarang mengunjunginya. Pria itu akan datang jika ada masalah dengan Markas atau sedang mengejar munsuhnya.
Ditempat lain…….
Myron dan Homer masuk kedalam Markas baru miliknya. Kadang Myron menyiksa munsuhnya di Markas Black Glorified dan Lion Killer 2. Kadang juga menghabisi di Markas miliknya.
Langkah pria itu lebar. Lagi dan lagi ada orang yang masih berani menghianatinya meski sudah diberi peringatan dan ancaman berulang kali. Namun tak indahkan juga oleh orang-orang yang haus pada kematian.
“Keluarkan mereka”. Perintah Myron
“Baik Tuan”.
Brakkkkkkkkkkkkkkkkk
Mereka didorong hingga jatuh ketanah. Wajah mereka sudah tak bisa dikenali, bahkan beberapa diantara mereka wajahnya diturih oleh belati tajam sehingga membuat sayatan itu terlihat jelas.
Myron melangkah. Sebenarnya sudah malas, karena setiap hari harus berurusan dengan masalah yang sama. Membunuh memang tak membosankan, tapi jika membunuh orang dengan alasan dan masalah yang sama bukankah itu membosankan.
“Aku tidak mau basa-basi, katakan kenapa kalian berkhianat?”. Tanya Myron to the point. Dia jenggah menatap manusia-manusia tidak tahu diri itu.
“M-maafkan kami Tuan”. Sahut salah satunya dengan nada gugup. Sementara yang lain sudah tak mampu lagi berbicara karena ketakutan dengan tatapan Myron. Mereka sudah mengenal bagaimana kejamnya Myron, namun masih saja mereka berani berkhianat.
“Aku butuh jawaban bukan kata maaf. Karena sampai dunia terbalik lima ratus juta kali aku tidak akan memaafkan dan mengampuni kalian”. Ucap Myron. Dia malas jika harus bertanya dengan hal yang sama. Setiap hari itu saja masalahnya. Apa tidak ada yang lain? Sebenarnya Myron penasaran siapa munsuhnya? Cut Silent? Black Tiger? Atau ada lagi munsuh yang lainnya.
__ADS_1
“Homer”.
“Iya Tuan”. Homer mendekat dan siap menerima perintah dari Tuan-nya.
“Lempar mereka ke bara api. Pastikan panasnya seribu kali lebih panas dari biasanya. Jangan biarkan darah mereka tersisa, habisi sampai menjadi abu”. Tintah Myron.
“Baik Tuan”.
Segera Homer dan para anggota lainnya menyeret keempat pria itu. Meski memberontak tetap saja pria-pria itu tak bisa melawan karena tenaga mereka sudah habis dan lemah.
“Ampuni kami Tuan”. Teriak mereka
“Ampuni kami Tuan”.
“Ampuni kami Tuan”.
Teriakkan memohon ampun terdengar begitu jelas. Bukannya terenyuh Myron malah menulikan telinganya. Dia merasa tidak pantas memberikan kesempatan pada penghianat. Penghianat jika diberi ampun akan tetap berkhianat, jadi untuk apa?
Homer dan yang lain nya melempar pria-pria itu kedalam bara api yang sudah dipanaskan. Begitulah Myron jika dia sudah bosan membunuh dengan darah maka dia akan melempar tawanannya didalam bara api yang menyala-nyala. Dia menciptakan neraka sendiri setelah Tuhan. Dia tidak peduli siapa yang harus dia siksa, selama orang itu berkhianat dan menyakiti dirinya maka nereka buatannya adalah tempat istirahat terakhir.
“Arghhhhhhhhhhh”.
“Argghhhhhhhhhh”.
“Arghhhhhhhhhh”.
“Arghhhhhhhhhh”.
Teriakan-teriakkan kesakitan terdengar begitu menyedihkan. Sungguh mereka menyesal telah berhianat pada pria bernama Myron. Tak ada pengampunan jika sudah ketahuan yang ada hanya penyiksaan dan rintihan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Bersambung....
__ADS_1
LoveUsomuch ❤️