Antara Dokter & Mafia

Antara Dokter & Mafia
Bab 139.


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA....


Mars baru saja keluar dari ruang kerjanya, setelah membahas tentang penjagaan yang ketat dipulau itu. Karena Mars sudah tahu jika Fillipo dan yang lainnya akan segera datang ke pulau terpencil miliknya.


"Siapkan samua nya Arthur, jika mereka menyerang langsung ledakkan saja bom nya". Perintah Mars.


"Apa kau yakin?". Tanya Arthur "Bukankah jika pulau ini meledak kita semua akan mati bersama?". Timpal Arthur lagi.


"Itu lebih baik, dari pada kau mati sendirian". Ketus Mars menjawab pertanyaan Arthur.


"Ck, kau selalu berbicara begitu". Gerutu Arthur "Lalu bagaimana dengan gadis itu?". Tanya Arthur lagi.


Mars terdiam dan bingung apa yang harus dia lakukan "Biarkan saja dia tinggal disini sampai dia pulih, setelah itu baru kita ajak dia bekerjasama". Sahut Mars yang mencoba menutupi perasaan.


"Baiklah, aku istirahat dulu. Kau tahu kan semalam aku tidak tidur". Arthur sambil menguap.


"Terserah padamu". Mars mellengang pergi dari sana.


Mars segera menuju meja makan melihat semua makanan sudah tertata rapih dimeja makan.


"Tuan, Nyonya tidak mau makan bahkan sudah dari kemarin". Lapor salah satu pelayan.


"Baik, aku akan menemuinya". Mars beranjak dari meja makan tanpa menyentuh makanan itu.


Mars berjalan menuju taman, karena dia tahu bahwa Ibu nya selalu berada disana kecuali malam.


Langkah Mars terhenti, saat melihat Fitri duduk disamping Ibu nya. Mars mendekat, dia bingung bagaimana gadis ini bisa dekat dengan Ibunya? Dan wanita paruh baya itu tidak sama sekali memberontak atau menggila. Biasanya siapa saja yang mendekatinya akan diserang secara membabi buta, kecuali oleh Mars sendiri. Beberapa pelayan pernah menjadi korban Ibunya.


"Aku tahu kau terluka Bi, sama aku juga. Aku tahu kau kehilangan, sama aku juga. Aku bahkan kehilangan tiga orang sekaligus dalam hidup ku, tapi aku beryukur karena Tuhan mempertemukanku dengan keluarga kandungku. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan dalam hidupku, setelah sekian lama hidup sendiri akhirnya aku dipertemukan dengan keluarga kandungku". Fitri mengelus lengan wanita paruh baya itu yang sedari tadi betah menatapnya.


"Apa Bibi tidak kasihan pada Tuan Mars? Tuan Mars sangat terpukul dengan keadaan Bibi. Apa Bibi tidak lihat betapa menderitanya dia? Dia kehilangan Ayahnya ditambah Ibu nya yang selalu meratapi kepergian Ayahnya, kau tahu Bi? Dia sangat terluka dan bahkan patah berkali-kali". Ucap Fitri "Saat kehilangan seseorang yang dicintai, menangis boleh malah harus, tapi ingatlah Bi jangan sampai meratap. Meratap takkan membuat yang mati hidup lagi, yang pergi datang kembali, yang hilang muncul lagi. Hidup akan selalu begini". Fitri mengusap air mata yang terjatuh dipipi Ibu Mars.


"Keluarkan semuanya Bi, jangan ditahan. Aku tidak bisa membantumu keluar dari perasaan itu, tapi setidaknya dengan bercerita padaku semua beban yang ada dipundakmu bisa sedikit lega". Ucap Fitri.


"Hiks, hiks, hiks".

__ADS_1


Fitri merengkuh tubuh wanita paruh baya itu untuk masuk kedalam pelukkan nya. Wanita itu memeluk Fitri dengan erat, menumpahkan segala rasa sakitnya, yang dia derita selama 25 tahun lamanya. Sejak 25 tahun silam, wanita itu terkurung dalam rasa kehilangan dan bahkan pernah gila dan depresi panjang.


"Menangislah Bi". Fitri mengelus punggung wanita itu.


"Hiks, hiks, hiks".


Tangis wanita itu semakin pecah, bahkan terdengar begitu rintih, dan menyayat hati. Air mata Fitri sampai jatuh, merasakan betapa terlukanya wanita ini.


Fitri merasakan bajunya basah karena air mata wanita paruh baya itu. Wanita itu semakin erat memeluk Fitri, seolah pelukkan itu adalah pelukkan ternyaman yang pernah dia rasakan. Sangat nyaman, sampai membuatnya tak ingin melepaskan Fitri.


Mars berdiri mematung dibelakang kedua wanita beda usia itu, Mars tak dapat berkata apa-apa. Lidahnya terasa kelu.


"Siapa sebenarnya dirimu? Bagaimana mungkin Ibu yang selama ini kuanggap bisu, bisa begitu mudah merespon ucapanmu? Gadis kecil terima kasih. Kau telah mengembalikan Ibu ku?". Batin Mars


Setelah puas menangis, Fitri melepaskan pelukkan wanita itu lalu mengusap pipinya dengan lembut.


"Terima kasih Nak". Lirih wanita itu yang masih terisak.


"Tidak perlu berterima kasih Bi". Senyum Fitri "Panggil aku Fitri, gadis baik, imut, menggemaskan dan jangan lupa aku juga jenius Bi". Celetuk Fitri, membuat wanita itu terkekeh "Apa Bibi merasa lebih baik?". Tanya Fitri lembut.


Fitri tersenyum hangat "Ibu". Ucap Fitri.


Kembali wanita itu memeluk Fitri, dengan isak tangis yang kembali pecah


"Sttt, Ibu jangan menangis lagi". Fitri melepaskan pelukkan nya dan menyeka air mata wanita paruh baya itu.


Wanita itu tersenyum hangat menatap Fitri. Wajahnya yang muram selama 25 tahun itu, kini kembali cerah dengan senyum menggembang.


"Kau sangat cantik. Apa kau kekasih putra Ibu?". Tanya wanita itu penuh harap.


"Apa putramu mau pada gadis kecil sepertiku Bu?". Kekeh Fitri "Bukankah sekarang dia Kakakku?". Timpal Fitri lagi, wanita itu tertawa dengan ucapan Fitri.


"Iya, Ibu hampir lupa bahwa sekarang kau putri Ibu. Tapi jika bersedia menjadi menantu Ibu juga tidak apa-apa, Ibu akan jauh lebih senang". Goda wanita paruh baya itu.


"Sayangnya Bu, Fitri bukan tulang rusuk putra Ibu". Canda Fitri dan mereka berdua kembali tertawa.

__ADS_1


"Ibu".


Kedua wanita itu menoleh kebelakang.


"Nak".


"Ibu".


Glepppppp


Mars memeluk Ibunya dengan isakkan tangis.


"Bu, hiks". Tangis Mars pecah. Mars tak peduli lagi untuk menangis, bahkan dia menurunkan ego nya yang malu didepan Fitri.


"Maafkan Ibu Nak". Ucap wanita itu memeluk Mars dan mengelus punggung putranya.


"Tidak Bu, Ibu tidak salah! Mars yang tidak bisa menjadi putra yang baik untuk Ibu".


"Sttttt, jangan bicara begitu Nak. Kau adalah putra terbaik Ibu" Wanita itu melepaskan pelukkannya lalu menghapus air mata Mars.


"Terima kasih sudah menjaga Ibu. Maaf membiarkanmu tumbuh tanpa kasih sayang Ibu". Lirih wanita itu.


"Tidak Bu. Ibu tidak perlu minta maaf. Mars bahagia, akhirnya Mars bisa memeluk Ibu kembali seperti waktu Mars kecil". Ibu dan anak itu melepaskan semua kerinduan selama 25 tahun ini. Keduanya bahkan tak malu menangis didepan Fitri yang menatap keduanya dengan senyum.


Wanita itu lalu menoleh kearah Fitri. Tatapannya hangat pada gadis cantik dan imut itu.


"Terima kasih Nak". Senyumnya.


"Terima kasih". Timpal Mars.


"Tidak perlu berterima kasih padaku Bu, Kak Mars". Balas Fitri.


Mars tertegun saat Fitri memanggilnya Kakak. Entah kenapa hatinya begitu bahagia, awalnya dia membenci gadis ini dan ingin melenyapkannya karena sudah membuat rencananya gagal untuk menghancurkan perusahaan Sean. Tapi kini tatapan gadis itu membuat hatinya nyaman tenang dan damai


Mars sengaja menghindari Fitri, sejak obrolan mereka ditaman kemarin. Mars merasa malu bertemu Fitri, karena mengetahui masa lalunya. Bahkan Mars meragukan rencananya untuk memanfaatkan Fitri membuat senjata api dan membalaskan dendam nya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2