
Kehilangan tak kan menunggu kau siap atau tidak, dia akan datang secara tiba-tiba. Sadar atau tidak, suka atau tidak dia akan tetap datang menghampirimu. Siapkan hatimu, agar mengikhlaskan sesuatu yang tidak Tuhan takdirkan.
SELAMAT MEMBACA...
Rumah sakit John Hoplinks Hospital, Baltimore's Amerika Serikat. Semua orang terlihat sangat panik, para dokter terbaik di rumah sakit tersebut dikerahkan untuk menangani Keluarga Ranlet Flint yang terluka parah.
Sementara didalam ruang operasi, seorang gadis terbaring lemah dengan wajah pucat tanpa darah, badan kaku, serta tangan dan kaki yang sudah hampir membiru.
"Tidak ada cara lain Dad, selain melakukan operasi". Saran Yoshua, matanya sudah berkaca-kaca menatap gadis yang terbaring itu "Dia juga kehabisan darah, kita harus secepatnya transfusi darah". Lanjut Yoshua
"Tapi Son, itu sangat berbahaya. Kemungkinan berhasilnya operasi ini sangatlah kecil". David menghela nafas kasar, ia benar-benar merasa tidak sanggup menatap gadis itu.
"Kita harus melakukannya Dad". Tegas Yoshua "Yoshua yakin, kita pasti bisa". Ucap Yoshua meyakinkan David sambil menepuk pundak Daddy nya.
"Iya Dad, kita akan berjuang bersama". Timpal Yoel juga. Meski pun Yoel sendiri tidak yakin apakah operasi ini akan berjalan dengan lancar atau malah sebaliknya.
"Baik, kalian persiapkan semuanya. Daddy akan menemui Paman Sam dan Sean". Serah David menyetujui pendapat kedua putranya.
"Baik Dad". Yoshua dan Yoel segera melakukan apa yang diperintahkan oleh David.
Sementara David keluar menemui Sam dan Sean.
"David bagaimana keadaan putriku? Dia baik-baik saja kan?". Cecar Sam
Disana ada Sean, Fillipo, Zean dan Zaen serta Pedrosa. Keenam pria berbeda usia itu menantikan jawaban David.
David menghembuskan nafas kasar, rasanya belum sanggup untuk menjelaskan nya pada keenam pria itu "Kita harus melakukan operasi". Tandas David.
"Kalau begitu lakukan". Suruh Sam dan Pedrosa bersamaan. Lalu kedua pria itu saling tatap dan membuang muka bersamaan.
David menatap keenam pria itu "Kemungkinan berhasil operasi ini hanya 10%". Lirih David.
Deg
"Apa maksudmu David?". Sentak Sam "Apa maksudmu yang 10% itu? Apa kemungkinan besar operasinya akan gagal?". Bentak Sam.
"Hanya itu yang bisa kita lakukan Sam". Jawab David juga membentak Sam "Tidak ada cara lain, jika kita tidak melakukan operasi, kita akan kehilangan dia". Jelas David air mata luruh dipelupuk mata pria paruh baya itu.
__ADS_1
Deg
"Jika begitu lakukan". Potong Pedrosa dengan yakin.
"Apa maksudmu Pedrosa? Ini sama saja kalian ingin membunuh putriku!!". Teriak Sam menarik kerah baju Pedrosa.
"Dengar kan aku Sam!! Yang dibilang David itu benar, hanya ini cara satu-satunya. Kita harus percaya bahwa Fitri bisa melewati ini". Bentak Pedrosa tak kalah keras.
"Aku setuju". Sambung Sean "Kita harus yakin, bahwa gadis ajaib itu pasti bisa melewati semua ini. Dia kuat". Lanjut Sean lagi dengan penuh keyakinan.
"Dad, kita harus cepat. Fitri kekurangan banyak darah". Teriak Yoshua sambil berlari kearah mereka "Golongan darahnya O-, ini golongan darah langka. Aku sudah menghubungi pihak bank darah, tapi mereka kehabisan darah ini. Karena memang stok nya sangat sedikit". Lanjut Yoshua.
"Apa ada yang golongan darah O-?". Tanya Yoshua menatap pria-pria itu.
"Ambil darahku. Golongan darahku O-". Ucap Pedrosa maju mendekati Yoshua.
"Ya sudah kalau begitu ayo". Ajak David beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Sam dan yang lainnya.
Pedrosa mendonorkan darahnya untuk putri angkat kesayangan. Sebelumnya pria itu harus melakukan beberapa tes untuk memastikan kesehatannya.
"Tidak, aku tidak mau kehilangan Shellena Dad. Dia segalanya untukku. Dia nafas ku Dad...". Teriak Sean, tangannya memukul dinding hingga mengeluarkan darah.
Sam mendekati putranya dan memeluknya "Kita harus yakin, bahwa dia akan bertahan untuk kita. Kita harus kuat Sean demi Shellena. Dia gadis kuat dan hebat, kita tidak boleh lemah.... ". Lirih Sam memeluk putranya
Sean membalas pelukkan Sam "Sean takut Dad, Sean tidak bisa tanpa Shellena. Sean sayang Shellena. Dia segalanya untuk Sean Dad, hiks". Tangis Sean pecah
Mereka berdua saling bertangisan dan memeluk erat.
Fillipo, pria itu masih tersungkur dilantai. Ia memeluk kedua lututnya. Sambil menjabak rambutnya dengan kasar, air mata berjatuhan dipipi tampan nya. Bahkan luka ditubuh dan tangannya sudah tidak dipedulikan pria itu.
"Fitri kumohon, bertahanlah sayang. Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu, berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan ku padamu. Aku tidak sanggup harus terpisah dan jauh dari kamu. Aku mencintaimu, hiks". Fillipo menelungkupkan wajahnya dilkedua lututnya. Tangannya melingkar memeluk lututnya. Pria itu tampak kacau dan tak berdaya. Hatinya takut dan sangat takut. Fillipo merasa gagal menjadi seorang lelaki, harus nya dia yang menyelamatkan Fitri bukan justru sebaliknya.
"Argghhhh". Fillipo memukul kepalanya. Merasakan bagaimana perasaan takut dan bersalah itu. Dia tidak akan pernah bisa sanggup jika kehilangan gadis itu untuk yang kedua kalinya.
Zean dan Zaen masih terdiam sambil menunduk. Kedua pria ini seperti kompak, bahkan wajah kedua nya juga tanpa ekspresi yang sulit ditebak.
Sam mendekat pada dua, pria itu.
__ADS_1
"Zean, Zaen". Panggil Sam mendekati kedua pria itu. Sean mengikuti dibelakangnya. Wajah Sean dan Sam, terlihat begitu frustasi.
Zean dan Zaen mengangkat kepalanya menatap pria yang memanggil mereka itu.
"Iya Paman". Sahut kedua nya serentak.
Mata Sam berkaca-kaca "Aku yakin kalian adalah putraku, saudara kembar Sean". Sontak ucapan Sam membuat ketiga pria berwajah mirip itu melihat kearahnya.
"Maksud Daddy?". Tanya Sean tak mengerti. Memang Sean akui wajah kedua pria didepannya ini memang mirip tapi bukan berarti mereka kembar kan?
"Nanti Pedrosa akan menjelaskannya, dia yang memisahkan kita". Ucap Sam.
"Sean, sebaiknya obati lukamu". Suruh Sam "Kita jangan terlihat lemah didepan Fitri. Kita harus kuat". Sam menepuk pundak putranya.
Sean menurut dan berjalan menghampiri Fillipo.
"Po, ayo kita obati luka kita dulu". Ajak Sean membangunkan Fillipo.
Fillipo mengangkat pandangannya "Aku...". Ucapan Fillipo tak tembus.
"Kita harus kuat Po. Demi Shellena". Tandas Sean.
Akhirnya Fillipo berdiri dan mengangguk. Mereka berdua sama-sama masuk kedalam ruang perawatan untuk mengobati luka ditangan dan kaki mereka. Kedua pria itu sama-sama rapuh, sama-sama takut dan sama-sama tidak sanggup jika terjadi sesuatu pada Fitri. Bagi mereka Fitri adalah segalanya dan segala sesuatunya tetap Fitri. Gadis itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun, dan apapun yang terjadi mereka akan membuat Fitri tetap bernafas, bahkan jika harus menentang Sang Pencipta nyawa, kedua pria dingin itu tetap akan membuat Fitri bernafas.
**Bersambung.....
Apakah operasinya akan lancar? Apakah Fitri akan bertahan?
Apakah Sean, Zean dan Zaen saudara kembar?
Nantikan diepisode berikutnya.
Yuk ikuti kisah mereka.
GBU.....
LoveUall....Muachhhhhhhh**
__ADS_1