
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zevanya dan Lucy keluar dari jet pribadi yang baru saja mendarat diwilayah timur. Lagi-lagi Lucy hanya bisa menghela nafas berat. Dia sudah terlanjur mengikuti kegilaan Zevanya. Menyesal juga dia tidak pulang duluan bersama Kakak nya dan yang lain.
"Hai Paman jombloku". Suara Zevanya menggema saat dia masuk kedalam gedung mewah yang dijadikan Markas serta teman tinggal Arthur.
Arthur langsung berjingkrak kaget, bahkan kopi yang hendak dia minum sedikit tertumpah mengenai celananya.
"Tidak bisakah kau memanggil dengan lembut?". Gerutu Arthur sambil mengelap celananya yang sedikit basah.
"Maaf Paman, aku mengagetkanku ya?". Ujar Zevanya menampilkan wajah imutnya.
Arthur memalingkan wajah nya. Sialnya dia selalu mudah luluh ketika melihat wajah menggemaskan keponakkan laknatnya itu.
"Ada apa kau kesini?". Tanya Arthur ketus.
"Selamat siang Paman Arthur". Sapa Lucy.
"Siang juga Lucy". Jawab Arthur ramah. Lucy dan Zevanya jauh berbeda. Jika Lucy gadis yang lemah lembut dan juga ramah, maka berbanding terbaik dengan Zevanya yang bar-bar dan berisik bukan main.
"Jangan ketus begitu Paman. Nanti cepat Tuan". Ejek Zevanya. Dia langsung mengambil gelas bekas minuman Arthur dan menyeruput isinya "Ahhh segar". Ucap Zevanya kembali meletakkan gelas itu.
Arthur dan Lucy berjingkrak kaget karena Zevanya langsung meminum minuman itu "Kau tidak jijik bekas minuman Paman?". Tanya Arthur heran. Sangat langka seorang gadis mau satu cangkir dengan pria paruh baya sepertinya.
"Memang nya kenapa? Apa Paman makan usus manusia? Tidak 'kan, Paman sama seperti Daddy. Jadi untuk apa aku jijik pada Daddy ku sendiri". Senyum Zevanya menjawab sambil mengedipkan matanya.
Hati Arthur menghangat. Seandainya dia menikah dan memiliki seorang putri seperti Zevanya, pastilah dia akan menjadi seorang Ayah paling bahagia.
"Kau ini". Arthur mengacak rambut Zevanya dengan gemes "Sini peluk Paman". Zevanya menurut. Arthur tidak tahu saja jika Zevanya sudah jinak begitu, pasti ada maunya.
"Terima kasih ya". Arthur mengelus kepala Zevanya dengan sayang. Sementara Lucy tersenyum simpul menyaksikan bayi besar yang selalu bisa membuat orang lain luluh dengan sikap menggemaskannya.
"Sama-sama Paman jomblo". Arthur mengendus kesal "Paman, apa boleh kau menolongku?". Pinta Zevanya. Tidak lupa jurus andalan puppy eyes.
__ADS_1
Arthur berdecik kesal. Dia lupa siapa Zevanya, jika sudah manja dan berbicara baik-baik pasti ada maunya.
"Apa?". Ketus Arthur tapi dia masih memeluk Zevanya.
Zevanya melepaskan pelukkanya. Dia menatap Lucy sambil tersenyum devil. Lucy bergedik ngeri, dia sudah bisa menebak jika Kakak sepupunya itu pasti menginginkan sesuatu. Kali ini Lucy tidak akan bisa mengelak lagi.
"Nanti akan kuberi tahu. Paman dan Cycy harus menolongku". Ujar Zevanya "Paman, apa kau tak ada niat memberi tamu mu ini makan? Aku sangat ini memakan kebab". Sindir Zevanya sambil mengelus perutnya. Padahal sebelum terbang mereka sudah makan di villa Mars.
"Kenapa tidak minta langsung? Tidak perlu menyindir". Omel Arthur. Zevanya hanya menampilkan deretan gigi susulannya.
"Ayo". Ajak Arthur.
"Ayo Cycy". Ajak Zevanya.
Mereka menuju meja makan. Zevanya bergelut manja dilengan Arthur. Dia seperti bocah berusia lima tahun yang sedang bermanja-manja pada Ayahnya. Lucy dan Arthur tersenyum menggeleng sekaligus gemes. Zevanya membuat siapa saja yang melihatnya ingin sekali mengigit gadis itu. Dia juga terlihat seperti gadis belasan tahun wajahnya yang baby face atau awet muda. Membuatnya terlihat seumuran dengan Lucy padahal lebih tua dua tahun.
"Silahkan Tuan dan Nona". Ujar kepala pelayan kepada mereka bertiga.
"Terima kasih Bik". Ucap Zevanya dan Lucy bersamaan.
Arthur mengangguk dengan senyum. Dipuji oleh gadis itu membuat hatinya senang. Meski setelah ini dia pasti akan dibuat kesal lagi.
"Ayo Paman, Cycy. Jangan malu-malu. Ambil saja mana yang kalian mau". Seru Zevanya sambil menyuap makanannya.
Benarkan? Arthur pasti dibuat kesal.
"Ck, yang tuan rumah itu Paman. Harusnya Paman yang berbicara begitu". Protes Arthur.
"Jangan lupa Paman, wilayah ini milik Grandfa Pedrosa ku, jadi milikku juga". Sahut Zevanya dengan mulut yang penuh makanan. Hal itu membuatnya menggemaskan.
"Kenapa dia menggemaskan sekali?". Batin Arthur.
Mereka makan dengan lahap. Jika Zevanya fokus makan. Maka tidak dengan Arthur dan Lucy. Mereka malah tak bernafsu mendengar celotehan Zevanya yang seperti musik DJ. Sepanjang makan Zevanya terus saja berbicara sambil menyuap makanan.
__ADS_1
"Apa kosa kata diotak mu sangat banyak?". Sindir Arthur setengah kesal. Dia jadi tidak berselera dan malah fokus mendengarkan ucapan gadis itu.
"Jangan berbicara saat makan Paman". Sanggah Zevanya.
"Ckkkkkk".
Lucy menggeleng sambil menahan tawa. Jika kemarin Dean yang selalu kesal sekarang giliran Arthur yang kesal setengah mati.
Setelah selesai makan. Ketiga orang itu berkumpul diruang rahasia milik Arthur. Ruang rahasia yang dulu sering Pedrosa gunakan sebagai penyimpanan senjatanya. Kini juga masih Arthur gunakan untuk memuseumkan senjata api Pedrosa dan Fitri yang berumur puluhan tahun itu.
Arthur dan Lucy dibuat tercenggang dengan penjelasan Zevanya. Mereka berdua saling melihat tak percaya.
"Jadi apa yang kita lakukan untuk menyelamatkan Bielle?". Tanya Arthur.
"Membuat ini". Zevanya menunjuk layar laptopnya "Ini adalah penawar racun yang bisa membunuh racun di tubuh Gebe. Aku butuh bantuan kalian berdua membuatnya".
"Bagaimana caranya Kak?". Tanya Lucy menyambung.
"Kau bertanya padaku?". Seru Zevanya dengan wajah polosnya.
"Ck, pada siapa lagi?". Ketus Lucy.
"Ya siapa tahu pada Paman jomblo ini". Zevanya cekikian melihat wajah kesal Arthur. Dia malah fokus pada benda pintar dipangkuan nya "Lihat, ini ramuan yang harus kita larutkan untuk membuat obat penawar itu". Lucy dan Arthur manggut-manggut paham.
"Okeehhh, ayo Paman. Cycy". Zevanya meletakkan laptopnya.
"Sekarang?".
"Bukan. Lima tahun lagi". Ketus Zevanya "Ya sekarang lah masa lima tahun lagi". Ketus Zevanya berjalan duluan.
Mereka menuju ruang lab milik Pedrosa. Ruangan yang dulu sering digunakan Pedrosa untuk melarutkan pelurunya dengan racun. Tempat itu terlihat masih rapih dan memang terawat dengan baik. Arthur selalu merawat tempat-tempat yang dijaga dengan baik oleh Pedrosa.
Bersambung...
__ADS_1
LoveUsomuch ❤️