
Sehebat apapun kita tidak akan ada yang bisa menghindari takdir. fitrianiyuri.
Selamat membaca... ππππππ
Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya David mengalah untuk membantu Fitri membuat benda aneh itu. Sungguh David tidak mengerti, entah mengidam apa dulu Rachel sampai melahirkan putri seperti Fitri?
"Besok saja, Paman harus kerumah sakit, bnyak pasien Paman yang harus dioperasi. Mintalah bantuan pada Yoshua dan Yoel". Ucap David berusaha menolak dan bernegosiasi barangkali, bisa besok. Sebab jadwal operasinya sangat padat hari ini.
"Jangan banyak alasan Paman, aku sudah meminta Dokter Zoe mengantikan tugasmu. Jadi sekarang cepatlah bantu aku". Sanggah Fitri.
"Ayo Kak Yos, Kak Yoel". Ajak Fitri.
"Bibi, aku pinjam kedua putramu dulu ya. Nanti aku kembali kan". Celetuk Fitri. Ucapannya berhasil membuat mereka mengangangga. Memang nya mereka barang yang bisa dipinjam lalu dikembalikan? David sampai menggeleng kepala.
"Iya sayang". Senyum Athala yang tak pernah pudar dari wajar cantiknya.
"Ck, Honey kenapa kau izinkan? Memangnya putra kita barang apa?". Gerutu David.
"Aku tidak meminta izin padamu Paman. Jadi berhenti mengerutu lebih baik kita segera melakukan nya". Pekik Fitri langsung berjalan meninggalkan David yang terlihat kesal. Sedangkan Yoshua dan Yoel mengekor dari belakang. Sementara Athala terkekeh melihat wajah kesal suaminya.
Mereka pun masuk kedalam ruang lab David."Kak Yos, lihat ini". Fitri menunjukkan sebuah alat yang baru dia rancang. Yoshua melihat dan mengangguk tanda mengerti.
"Untuk apa sebenarnya benda-benda ini?". Tanya Yoshua sambil membantu Fitri membuat bahan-bahannya. Sementara Yoel mengerjakan bagiannya, dan David memilih pergi kerumah sakit dia sudah berhasil membujuk gadis itu untuk tidak ikut membuat benda aneh yang bisa menghancurkan satu Negara itu.
"Nanti, aku jelaskan Kak". Senyum Fitri masih serius dengan pekerjaannya.
Yoshua yang melihat senyum itu, menjadi salah tingkah. Bagaimana tidak, saat tersenyum gigi ginsul gadis itu terlihat sangat manis.
Mereka bertiga pun serius melakukan tugasnya. Meskipun awalnya Yoshua da Yoel sempat bingung, tapi lama kelamaan mereka mengerti. Memang kedua pria tampan ini memiliki profesi yang sama yaitu, dokter peracik obat.
Mereka pun menyelesaikannya dengan baik.
"Bagaimana Fit?". Tanya Yoel tersenyum puaa dengan karya mereka.
"Hmmm, lumayan". Sahut Fitri yang langsung membuat Yoel kesal dengan tanggapan gadis itu.
"Yang penting bisa menghancurkan bangunan jelek itu". Seloroh Fitri lagi.
__ADS_1
"Hmmm, sepertinya bisa". Sambung Yoshua tersenyum.
Fitri menatap Yoshua dan tersenyum lebar pada pria itu "Terima kasih Kak Yosh". Senyum Fitri semanis mungkin.
"Fit". Tanya Yoshua khawatir saat melihat darah keluar dari hidung gadis itu.
"Ada apa Kak?". Tanya Fitri heran.
"Hidungmu?". Tunjuk Yoshua. Sontak Fitri langsung memegang hidungnya dan merasakan darah mengalir.
Yoel dan Yoshua panik bukan main. Yoel segera mengambil kapas menghentikan darah yang mengalir.
"Ayo duduk". Yoel menuntun Fitri duduk disofa ruangan lab David.
Yoshua segera mengambil steleskop untuk memeriksa keadaan Fitri. Ia sangat terkejut mendapati beberapa bintik ditangan Fitri.
"Fitri, apa sebenarnya yang terjadi?". Tanya Yoshua. Sementara Yoel masih berusaha menghentikan darah yang mengalir.
"Tidak ada Kak, aku hanya kelelahan saja". Sahut Fitri masih menahan
"Fitri, jawab jangan bohong?". Cecar Yoshua tidak puas. Ia yakin bahwa gadis ini menderita penyakit yang cukup serius.
Yoshua dan Yoel saling melihat satu sama lain sebelum mengiyakan ucapan Fitri. Akhirnya mereka mengangguk.
"Aku mendengar kanker otak stadiun lanjut". Jawab Fitri santai dan tanpa beban. Ia sudah lelah menangisi takdirnya, jadi untuk apa lagi ia bersedih dengan keadaannya.
Yoshua dan Yoel bagai tersambar petir mendengar ucapan Fitri. Bahkan darah mereka serasa berhenti mengalir. Bagaimana mungkin gadis ini menceritakannya dengan santai tanpa beban. Seakan bukan sesuatu yang berbahaya.
Fitru menatap adik kakak yang diam tak bergeming itu. Dia menghela nafas kasar "Sudah Kak tidak perlu terkejut sampai begitu. Aku tidak akan mati cepat, sebelum tugas-tugasku selesai". Sahut Fitri santai, dia membersihkan darah yang mengalir dihidungnya.
"Tolong rahasiakan ini Kak". Pinta Fitri sambil berdiri.
"Terima kasih sudah membantuku Kak, aku akan pulang. Nanti akan kukirimkan hadiah untuk Kakak berdua". Seru Fitri memasukkan alat yang baru saja mereka buat.
Fitri kembali tersenyum "Aku pamit Kak". Ucap Fitri meninggalkan kedua pria yang masih mematung itu.
Sementara David, baru saja keluar dari ruangannya. Sudah tiga hari sejak Fitri meminta nya membuat bom dan snipper itu, ia tak pernah bertemu gadis berisik itu. Ada kerinduan dihati David, tentu dari dulu dia sangat ingin memiliki anak perempuan tapi bagaimana takdir Tuhan tak memberinya.
__ADS_1
Drt drt drt
Ponsel David berbunyi. David segera mengambil benda pipih itu dari saku jas dokternya. Ke mengerjitkan dahinya melihat nomor tak dikenal itu.
"Siapa?". Gumamnya.
David pun menekan tombol hijau, barang kali itu.
"Hallo Paman, ini aku Fitri. Kau dimana Paman? Cepatlah datang ke Jerman Daddyku tertembak oleh Park. Jika kau lambat maka Daddyku tidak bisa diselamatkan. Aku beri Paman waktu sepuluh jam, dan aku sudah menyuruh orang menyemput Paman pakai jet milik Daddy". Celoteh suara diseberang sana.
David berjingkrak kaget tanpa ditanya dia sudah tahu siapa suara itu.
"Apa yang terjadi? Apa kau ingin membunuh Paman dalam waktu sepuluh jam sudah sampai disana? Kau pikir Paman ini punya Jin yang bisa menghilang?". Protes David.
"Apa yang terjadi pada Sam, kenapa dia bisa tertembak??". Cecar David lagi panik dan khawatir tentu nya.
"Aku tidak menyuruhmu bertanya Paman. Aku menyuruhmu datang kesini. Jadi simpan semua pertanyaan mu itu karena aku tidak akan menjawabnya". Timpal Fitri kesal.
"Tapi...".
Tut Tut Tut
Belum David menjawab sambungan telpon telah mati. David mengendus kesal.
"Dasar gadis laknat. Bisa-bisa nya dia menyuruhku datang dalam waktu sepuluh jam. Benar-benar gila". Gerutu David lagi.
Meskipun mengomel David tetap mengikuti perintah gadis itu, jet pribadi yang sudah ditugaskan menjemputnya pun menunggu di Bandara Internasional Amerika. David langsung saja check in dan masuk kedalam pesawat.
Flashback off.
BERSAMBUNG......
***Tidak bosan-bosannya mengingatkan untuk meninggalkan jejak ya guys.
cerita ini inspirasi author sendiri ya, jika ada kesamaan nama, tempat dan karakter mohon sekira nya bijak dalam memahami bahwa novel ini hanyalah cerita saja sebagai hiburan semata...
terima kasih.
__ADS_1
love u allβ€οΈ***