
Harta dan kemewahan tak menjamin kebahagiaan. Bila tidak tahu cara bersyukur.
SELAMAT MEMBACA...
Diruang operasi. David, Yoshua dan Yoel serta beberapa dokter lainnya tengah berjuang menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil.
"Dok, jantung pasien melemah". Ucap dokter yang lainnya.
"Percepat aliran detak jantungnya". Perintah David.
"Baik Dok". Sahut sang dokter.
"Dad, dia kembali kritis". Timpal Yoshua.
"Kita harus bekerja lebih keras lagi". Sambung Yoel
Mereka pun melanjutkan operasi besar yang memakan waktu hampir 10 jam itu. Keringat bercucuran didahi para dokter, suasan tampak semakin tegang, sementara gadis itu tak menunjukkan reaksi sama sekali.
Tit tit tit tit
"Dok, jantung pasien berhenti berdetak". Ucap Dokter Zoe.
"Cepat ambilkan CPR". Teriak David panik.
Yoshua dan Yoel tak kalah panik. Tidak, gadis itu harus selamat apapun yang terjadi mereka akan melakukan apapun untuk Fitri.
"Come on Girl, come on". Ucap David air mata berjatuhan dipipi pria paruh baya itu.
"Apa kau tidak rindu berdebat dengan Paman mu yang tampan ini? Paman ingin mengajakmu membuat bom nuklir, kita akan ledakkan Markas Black Glorified itu". Celetuk David sambil terkekeh tapi air mata berjatuhan.
Melihat David yang seperti tak fokus, Yoshua ambil alih dia merebut CPR itu dari tangan David dan berulang kali menekan dan menekannya.
Tit tit tit tit
Garis lurus terpampang dilayar monitor. Mesin itu seketika berhenti berbunyi.
"Dok, kita kehilangan dia". Ucap Dokter Zoe menunjuk kearah layar monitor.
__ADS_1
"Tidak". Teriak Yoel.
Yoel merebut kembali CPR itu ditangan Yoshua. Yoshua sedari tadi diam mematung seluruh tubuh nya membeku.
"Fitri bangun, bangun Fit...". Teriak Yoel "Kau belum memberikan hadiah pada Kakak, Kakak sudah berhasil membuat bom itu untukmu. Ayo bangun, kau masih punya hutang pada Kakak". Teriak Yoel menguncang tubuh Fitri yang sudah kaku. Yoel memeluk tubuh itu. Tubuh gadis munggil yang sudah ia anggap adik kandungnya sendiri, gadis yang banyak membuatnya tertawa.
Yoshua dan David masih membeku ditempatnya. Kedua pria itu masih belum sadar dari rasa terkejutnya. Hanya air mata yang luruh dipipi mereka. Yoel tak berhenti menguncang tubuh Fitri, berharap gadis itu akan merespon ucapan dan panggilannya.
Diruang rawat, seorang pria paruh baya tengah memaki-maki tiga orang gadis yang hanya bisa menunduk.
"Kalian benar-benar keterlaluan, teganya kalian melakukan itu pada Fitri". Bentak Phillip pada Luna, Dea dan Pearce.
"Kalian pikir, Sam dan Sean akan diam melihat kalian menjebak putrinya, hah?". Bentak Phillip "Kalian bisa lihat bagaimana kejamnya Fillipo dan Sean saat Michael menyakiti Fitri, mereka berdua membunuh tanpa belas kasihan. Apa kalian pikir itu tidak berlaku untuk kalian, hah?". Sentak Phillip dengan mata memerah.
"Maaf Dad". Ucap Pearce hanya bisa menunduk.
"Daddy tidak habis pikir denganmu Pearce. Bukankah kau tahu jika Kakakmu mencintai gadis itu? Kau tahu bukan Kakakmu adalah orang yang tidak suka jika miliknya diusik orang lain. Apa kau tidak memikirkan hal itu, hah?". Philip mencengkram dagu Pearce dengan kasar.
"Awww". Pekik Pearce.
"Diamm!!". Bentak Phillip pada Piranda. Sontak Piranda langsung membisu mendengar Philip membentaknya untuk pertama kali.
"Dengar Pearce, kau telah membangun kan harimau yang sedang tidur! Bersiaplah menerima hukuman dari Kakakmu". Philip mengentakkan dagu Pearce dengan kasar. Pearce merintih kesakitan sambil menangis penuh penyesalan. Dia telah memasukkan dirinya kedalam kandang singa.
"Mom". Renggek Pearce. Piranda hanya diam, dan jujur dia juga kecewa dengan perbuatan putrinya.
Lucas dan Alexander menatap Luna dengan tajam, sementara Mouth memeluk putrinya dengan erat. Mouth takut jika suami dan putranya akan menyakiti Luna seperti Phillip menyakiti Pearce.
"Apa yang ada dipikiranmu Luna?". Tanya Alexander dingin, tatapanya terlihat sangat kecewa. Bagaimana putri yang sudah ia didik dengan kasih sayang itu tega menjebak seseorang.
"Maafkan Luna Dad". Lirih Luna dalam pelukkan Mouth.
"Kau telah membuatku kecewa Luna". Sentak Alexander "Kau tahu, siapa Fitri? Kau tahu siapa Sam? Kau tahu siapa Sean?". Tanya Alexander dengan mata berkaca-kaca, merasa gagal mendidik putri nya itu.
"Mereka adalah orang yang akan membalas seribu kali lipat orang yang telah menyakiti orang yang mereka sayang, dan Fitri adalah kesayangan mereka". Ucap Alexander kecewa, ia memilih pergi meluapkan emosinya dari pada menyakiti putrinya.
"Kakak kecewa padamu Luna". Tatap Lucas "Kakak tahu kau iri padanya, tapi tidak harus melakukan hal ini. Kau telah membuat Kakak merasa gagal". Lucas juga pergi meninggalkan Luna dan Mouth yang masih saling berpelukkan.
__ADS_1
"Mom, maafkan Luna". Ucap Luna dengan tangis.
Mouth membelai rambut putrinya "Iya sayang, jangan menangis lagi. Berjanji lah untuk tidak melakukan nya lagi". Mouth mengecup pucuk kepala putrinya. Bagaimana pun seorang Ibu takkan tega melihat putrinya menangis meskipun salah.
Tidak jauh beda dengan Dhanny, Dion dan Diandra. Ketiga orang ini tampak menampilkan wajah dengan ekspresi berbeda-beda.
Dhanny menatap Dea dengan tatapan marah, kecewa dan sedih. Entah apa yang ada dipikiran adiknya itu.
"Maafkan Dea Kak, Mom, Dad". Ucap Dea memegang tangan ketiga orang itu secara bergantian "Dea hanya merasa Fitri merebut semua yang Dea punya. Merebut kasih sayang kalian, merebut kasih sayang Kak Dhanny. Dea iri pada Fitri". Isak Dea bersujud dikaki ketiga orang itu.
"Kecewa tidak bisa dibeli dengan kata maaf Dea". Tegas Dhanny "Kau tahu bukan bahwa Fitri sahabatmu dan dia juga orang yang Kakak cintai, walau pun dia tidak mencintai Kakak, Kakak akan tetap mencintainya". Ucap Dhanny.
"Kak buka mata Kakak, gadis ****** itu tidak pantas mendapatkan cinta Kakak". Teriak Dea.
"Cukup Dea". Bentak Dion.
Plakkkkkkkk
Satu tamparan mendarat dipipi Dea.
"Kau tidak tahu dia siapa? Jangan mengatakan dia ******, jika kau masih ingin melihat dunia ini". Sentak Dion dengan emosi, lalu pergi dari hadapan mereka.
"Iri mu tidak bermutu Dea. Setelah apa yang kau lakukan, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan, kau malah kehilangan kepercayaan yang selama ini keluarga banggakan". Timpal Dhanny melenggang pergi meninggalkan Dea dan Diandra.
Diandra hanya terdiam, ia menatap putrinya dengan intens. Ia paham perasaan Dea, tapi tidak harus melakukan hal yang salah dengan menjebak seseorang.
Philip, Alexander dan Dion merasa gagal menjadi orangtua. Padahal mereka menyangi mereka dengan penuh kasih sayang, memberikan apa yang mereka minta. Memanjakan mereka dengan kemewahan namun justru hal itu membuat mereka memilih jalan yang salah. Ada rasa menyesal dihati ketiga pria paruh baya itu, harusnya mereka bisa membawa putri mereka ke jalan yang benar tapi kenyataannya justru kasih sayang yang mereka berikan membuat mereka besar hati.
**Bersambung.....
Fitri tidak selamat?
Apa yang akan terjadi dengan Fillipo dan Sean saat menyadari orang yang mereka sayang terbaring kaku dengan wajah pucat?
GBU.....
LoveUall❤️**
__ADS_1