
**Laki-laki akan memperlakukan wanitanya dengan baik, karena baginya wanita itu adalah bagian dari hidupnya. Terlihat posesif dan cemburu, bukan berarti tidak percaya pada wanita, hanya saja ia tak rela jika miliknya disentuh orang lain...
SELAMAT MEMBACA**....
Fillipo, menunggu diruang tamu Mansion mewah keluarga Ranlet Flint. Duduk dengan ketiga pria yang menatapnya tajam. Fillipo menghela nafas kasar lalu menghembuskannya. Tatapan tiga pria kembar itu masuk kedalam Indra penglihatannya. Filipo bergidik ngeri.
"Ingat jangan kau apa-apa kan adikku. Kau hanya boleh memeluk dan mengenggam tangannya, jika lebih dari itu makan tangan dan jarimu akan ku jadikan santapan San". Ancam Zean menatap tajam kearah pria yang terlihat duduk tenang.
"Kau harus mengembalikannya dengan keadaan utuh, jangan sampai kurang satu pun. Jika itu terjadi bersiaplah kepalamu akan kujadikan bahan pencobaan senjataku". Ancam Zaen juga sinis kearah Fillipo.
"Ya, dengar itu Fillipo. Kami tidak main-main". Sambung Sean menatap tajam juga kearah Fillipo.
Sejujurnya ketiga pria itu cemburu pada Fillipo saat pria itu datang kerumah mengajak Fitri menemui kedua orangtuanya, Philip dan Piranda.
Fillipo menggelleng kan kepala melihat tingkah posessif ketiga pria kembar itu. Jika dulu saingannya Dhanny dan Lucas, sekarang malah ketiga pria yang wajahnya mirip itu malah jadi ancaman terbesar untuknya.
"Kalian ini, seperti tidak percaya padaku saja". Gerutu Fillipo kesal "Tenanglah, aku sangat mencintainya! Jangankan merusaknya melihatnya lecek sedikit saja membuat dadaku sesak". Jelas Fillipo dengan wajah malas dan kesal menatap ketiga pria itu.
Zean, Sean dan Zaen senang mendengar ucapan Fillipo. Meskipun tak bisa dipungkiri jika mereka takkan siap melepas Fitri untuk Fillipo. Tapi demi kebahagiaan adiknya ketiga kembar itu akan mengorbankan perasaan mereka agar adik tercinta nya merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Didalam kamarnya, Fitri tengah dirias oleh MUA yang dipanggil oleh Fillipo. Meskipun menolak, pria dingin itu tetap saja memaksanya dengan berbagai alasan. Fitri hanya bisa mengalah dari pada berdebat.
MUA itu tersenyum, menatap wajah cantik Fitri. Sesuai dengan permintaan Fillipo untuk dandanan yang pas dan tidak berlebihan. Dandanan natural membuat gadis itu semakin cantik.
Gaun berwarna ungu muda, dengan panjang selutut dan lengan sampai siku. Lehernya terlihat tertutup, dan dibagian pinggang nya terdapat beberapa hiasan mutiara yang melingkar rapih.
Fitri mengerai rambut panjangnya. Dikepala nya terdapat dua jepit rambut mutiara berwarna pink muda, menambah kesan imut dan menggemaskan.
"Nona, cantik sekali". Puji sang MUA dengan mata berbinar-binar. MUA tersebut sampai tak berkedip, jika saja dia bukan wanita sudah pasti ia akan jatuh cinta pada gadis itu.
Fitri hanya tersenyum mendengar pujian MUA padanya. Sebenarnya ia cukup kesal pada Fillipo, karena semua diatur oleh pria itu. Bahkan gaun pun dipilihkan oleh Fillipo, gaun sederhana yang tidak boleh seksi. Fillipo tidak rela jika bagian tubuh indah Fitri dilihat oleh pria lain.
Fitri turun menaiki lift, tas slepang bergantung dibahunya. High heels setinggi dua belas sentimeter membuat tubuh rampingnya menjulang tinggi.
Fitri melangkah menghampiri keempat pria yang tengah asyik mengobrol itu. Entah membahas apa, terlihat begitu serius.
"Tuan, Kakak".
Keempat pria itu langsung beralih menatap Fitri. Mereka melonggo dan mengangga dengan mulut terbuka lebar. Bahkan tanpa sadar keempatnya berdiri secara bersamaan. Mata mereka tak berkedip, menatap ukiran indah Tuhan didepannya.
Gaun yang sangat pas ditubuh munggil itu. Ditambah senyuman manis yang menampilkan gigi ginsul Fitri, jangan lupakan tai lalat yang berdiri rapih didekat bibirnya.
"Tuan, Kakak". Panggil Fitri sekali lagi heran melihat keempat pria itu menatap nya tak berkedip.
"Hmmmmmmmmmm". Fillipo berdehem berusaha menetral kan detak jantungnya.
"Cece-nya Kakak benar-benar cantik". Sean menghampiri Fitri dan memeluk gadis itu sambil mengusap kepala Fitri dengan sayang. Fitri membalas pelukkan Sean.
__ADS_1
Zean dan Zaen tak mau kalah mereka juga memeluk Fitri bersamaan. Mereka berempat saling memeluk erat. Seakan tak rela jika Fitri pergi bersama Fillipo.
"Dedek, jaga diri baik-baik ya". Pesan Zean "Ingat jangan jauh-jauh dari Fillipo". Tegas Zean lagi sambil mengelus kepala Fitri.
Mereka bertiga melepaskan pelukkannya pada sang adik tercinta.
"Ayo sayang". Fillipo merangkul pinggang ramping Fitri dengan posessif. Ada rasa iri dihati Fillipo saat melihat mereka begitu menyanyangi Fitri. Hal yang tidak pernah ia lakukan pada Pearce. Walau pun Fillipo menyanyangi Pearce tapi dia tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya seperti mereka.
"Cih, kau jangan berani macam-macam pada adikku". Ancam Zaen geram melihat Fillipo. Sok posesif pada adiknya.
"Ehh, tidak perlu meragukan cintaku. Aku takkan membiarkan seekor nyamuk pun hinggap ditubuhnya". Celetuk Fillipo.
Fitri hanya bisa menggelleng kepala sambil tersenyum, melihat perdebatan keempat pria tampan yang didepannya. Sudah biasa bagi Fitri menyaksikan perdebatan tak berunfaedah itu hanya untuk merebut dirinya.
"Kakak, Fitri berangkatnya". Pamit Fitri mencium punggung tangan ketiga Kakak nya secara bergantian.
"Iya sayang hati-hati. Kakak akan tunggu Fitri disini". Senyum Zaen.
"Cece hati-hati". Pesan Sean juga.
"Dedek, jangan lupa jaga diri baik-baik". Sambil melirik Fillipo dengan kesal.
Fitri lagi-lagi hanya tersenyum. Sungguh Kakak-kakak nya ini begitu overprotektif padanya.
Fillipo dan Fitri pun segera menuju mobil, tentunya diikuti oleh ketiga pria kembar itu. Fillipo mengendus kesal saat ketiga pria itu mengekor dibelakang mereka, tapi Fillipo tak peduli ia menggenggam tangan Fitri dengan erat dan seakan tak ingin ia lepaskan.
"Jalan Leo....". Perintahnya.
"Baik Tuan". Leo menjalankan mobilnya meninggalkan Mansion mewah Ranlet Flint.
Sepanjang jalan, Fitri tak berhenti berceloteh selalu saja gadis itu menemukan topik pembicaraan untuk menghidupkan suasana.
"Kapan kau akan berhenti memanggilku Tuan?". Tanya Fillipo memutas bola matanya malas "Aku kekasihmu sayang, bukan majikkanmu. Kau sudah bukan sekretaris ku lagi!". Protes Fillipo dengan wajah cemberut nya.
Fitri terkekeh "Baiklah". Fitri mengalah "Lalu aku harus memanggilmu apa?". Fitri menautkan kedua alisnya.
"Terserah apa saja! Asal jangan Tuan, kau panggil Fillipo juga tidak apa, atau sayang". Goda Fillipo.
"Mana bisa aku hanya memanggil namamu. Usia kita terpaut 12 tahun, bagaimana jika aku memanggilmu dengan Kak Popo saja?". Sumringgah diwajah Fitri.
"Ya ya terserah padamu, asal kau bahagia". Fillipo menarik pinggang Fitri untuk lebih dekat dengannya. Tangan Fillipo mengelus wajah lembut nan mulus milik Fitri.
"Huffh, aku seperti obat nyamuk saja. Nasib, nasib beginilah kalau jomblo". Batin Leo menyaksikan keromantisan dua orang yang tengah kasmaran itu.
"Kau tahu tidak? Saat Dokter mengatakan jantungmu berdetak, aku merasa seluruh tubuhku mati rasa! Aku menangis dan berteriak memanggil namamu. Rasanya aku tak sanggup hidup jika benar dirimu pergi meninggalkanku". Lirih Fillipo mengelus wajah mulus itu.
Fitri mendongrakkan kepalanya menatap wajah tampan yang tengah mengelus wajahnya. Fitri tersenyum wajah itu benar-benar membuatnya hilang kendali.
__ADS_1
"Aku tidak akan mati, sebelum tugasku selesai". Senyum Fitri.
"Janji tidak akan meninggalkanku?". Fillipo mengaitkan jari kelingking nya ke jari kelingking Fitri.
"Janji". Fitri menyambut nya dengan antusias.
Fillipo menyenderkan kepala Fitri didada bidangnya. Fillipo masih tak percaya jika gadis ini benar-benar ada dihidupnya. Betapa Fillipo merasakan kehampaan saat Fitri menghilang dan menghindari nya. Waja ketakutan itu seakan membuat Fillipo tak bisa berkutip apapun selain rasa bersalah.
Mobil mewah itu memasuki halaman Mansion mewah Fillipo. Fillipo turun dan membuka pintu untuk sang kekasih. Fillipo tak mengizinkan Leo membuka pintu mobil untuk Fitri. Cukup ia bersaing dengan tiga pria kembar yang menyebalkan dan Fillipo tidak mau jika harus kembali bersaing dengan assistennya Leo.
"Hati-hati sayang". Fillipo mengenggam tangan Fitri. Satu tangannya melindungi kepala Fitri supaya tidak terantuk.
Mereka sudah disambut oleh Philip dan Piranda didepan pintu masuk Mansion.
Piranda tersenyum bahagia melihat dua sejoli itu, terlihat begitu serasi. Yang satu tampan dan yang satu cantik. Meskipun usia mereka terpaut sangat jauh, tapi wajah mereka tak bisa dipungkiri bahwa mereka layak disebut couple goals.
"Selamat datang sayang". Piranda menyambut Fitri dengan hangat. Fitri membalas pelukkan Piranda dengan senyuman manis.
"Terima kasih Mom". Balas Fitri
"Selamat datang ya Nak". Philip merentangkan tangannya untuk memeluk Fitri.
Belum sampai Fitri menyambut pelukkan Philip sudah ditarik oleh sang pria pencemburu itu, siapa lagi kalau bukan Fillipo.
"Don't touch my mine Dad". Pekik Fillipo menarik Fitri dalam pelukkan nya.
"Astaga Son". Kesal Philip.
"Dad, sudah punya Mommy. Fitri punya Fillipo, jadi Dad tidak boleh menyentuh". Tegas Fillipo tangannya merangkul pinggang gadis itu dengan posessif.
Fitri dan Piranda menggelengkan kepala melihat Ayah dan anak itu. Kedua nya sama saja, tidak ada bedanya.
"Cih, kau benar-benar". Geram Fillipo.
Fillipo tak mengubris ia tidak akan rela miliknya disentuh orang lain. Tapi dia tidak bisa melawan Sean, Zaen dan Zean, bisa-bisa dirinya dicoret sebagai calon adik ipar.
**Bersambung......
Author auto baperðŸ˜
Kisah cinta author gak semanis itu lho🙃
Pacar author mah gak pernah perhatian begitu huhuhuhu......
Yuk ikuti kisah mereka.....
GBU...
__ADS_1
LOVEUALL**....